Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Drama Menunda Kehamilan


__ADS_3

Adam keluar dari kamarnya dengan langkah yang tergesa-gesa. Sintia dan Surya yang sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa ke acara akad besok melihat Adam dengan heran.


"Adam,kamu mau kemana?" Tanya Sintia penasaran


"Mau ke rumah Nesa ma" Jawab Adam cepat


"Apa! Tidak-tidak. Kembali ke kamar mu. Besok itu sudah acara akad. Kamu mestinya harus bersiap" Omel Sintia


"Aku sudah siap semuanya ma. Sekarang aku ingin bertemu dengannya. Aku bisa mati dengan aturan konyol mama" Bantah Adam


"Kamu ada-ada saja Adam. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Besok dan seterusnya kamu akan selalu bersama Nesa" Tegur Sintia lagi


"Tidak bisa ma. Aku janji hanya sebentar" Adam akhirnya memohon


"Tapi ini sudah sore"


"Memangnya kenapa? Sudah lah ma jika mama terus saja berbicara,waktu ku semakin sedikit. Aku berangkat dulu" Gerutu Adam


"Kamu akan pergi sendiri?"


"Iya"


"Tidak-tidak. Mama akan menyuruh Bian untuk menemani kamu. Mama takut terjadi apa-apa. Orang yang mau menikah itu banyak cobaan nya Adam" Ucap Sintia cemas


"Oke baiklah. Yang penting aku bisa bertemu dengan Nesa hari ini"


Sekretaris Bian yang ikut membantu segala persiapan pernikahan akhirnya menemani Adam ke rumah Nesa.


"Sudahlah ma. Jangan terlalu cemas. Mama tahu sendiri kan jika Adam sudah berkehendak,dia akan berkeras kepala" Surya menghampiri Sintia dan menenangkannya


"Iya pa"


Adam memberikan kunci mobilnya pada Sekretaris Bian,lalu duduk di samping kemudi.


"Maaf Tuan,boleh saya tanya sesuatu?" Ujar Sekretaris Bian sambil fokus menyetir mobilnya


"Hm.."


"Apa nona Sabrina di undang ke pernikahan anda?" Ragu-ragu Sekretaris Bian bertanya


"Untuk apa aku mengundangnya? Aku hanya mengundang orang tuanya saja" Jawab Adam acuh


Sekretaris Bian yang hanya terdiam membuat Adam agak terusik untuk bertanya.


"Memangnya kenapa kamu menanyakannya?"


"Tidak Tuan. Hanya sekedar bertanya saja" Jawabnya bohong


"Apa kamu menyukainya?" Tebak Adam akhirnya


"Bukan hal yang istimewa jika hanya sekedar suka. Lagi pula saya pernah berjanji tidak akan memikirkan kehidupan pribadi saya sebelum anda bahagia"


"Baguslah kalau begitu" Jawab Adam acuh


Tak lama kemudian mereka sampai. Halaman rumah Nesa sudah di dekorasi dengan indah sebagai tempat akad. Gunawan dan beberapa orang disana terlihat sedang berbincang santai. Urat kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya.


"Adam,ada apa datang kesini?" Tanya Gunawan yang agak terkejut dengan kemunculan Adam

__ADS_1


"Tidak boleh ya pa?" Tanya Adam sambil mencium punggung tangan Gunawan


"Tidak. Papa hanya terkejut saja"


"Nesa ada di dalam pa?"


"Iya. Masuklah"


"Terimakasih pa"


"Selamat sore Tuan Gunawan" Sapa Sekretaris Bian


"Selamat sore Sekretaris Bian. Silahkan duduk" Gunawan membawa Sekretaris Bian untuk ikut bergabung disana


"Sayang" Suara Adam yang tiba-tiba membuat Nesa dan Widia terkesiap


"Adam,kenapa kamu datang kesini? Kalian kan sedang menjalani pingitan?" Tanya Widia heran


"Maaf ma tapi aku ingin sekali bertemu dengan Nesa" Jawab Adam sambil mencium tangan Widia


"Kamu ya. Tidak bisa bersabar sedikit saja" Ucap Widia lagi dengan kecewa


Tiba-tiba saja Adam memeluk Nesa tanpa peduli dengan keberadaan Widia dan segala ocehannya.


"Sayang,aku sangat merindukan mu"


Kemesraan mereka membuat Widia hanya membisu.


"Sayang,malu ada mama" Dengan perlahan Nesa mengurai pelukan Adam


Widia tidak beranjak dari sana. Memperhatikan kelakuan calon menantunya itu. Adam dan Nesa pun akhirnya duduk.


"Kalian sedang membicarakan apa tadi?" Tanya Adam kemudian


"Tadi itu Nesa berkonsultasi dengan mama tentang kehamilan. Nesa juga meminta pil kontrasepsi tapi mama tolak karena jika ingin menunda kehamilan,harus dibicarakan juga dengan kamu sebagai calon suaminya" Jawab Widia berterus terang


"Apa! Benar begitu sayang?" Tanya Adam dengan agak terkejut


Nesa mengangguk membenarkan.


"Kenapa harus menunda kehamilan?"


"Mama ke dapur dulu ya,mama akan buatkan kamu minum" Widia memotong


"Iya ma. Terimakasih"


Widia sudah tidak ada disana,jadi Adam bisa berbicara dengan Nesa empat mata.


"Sayang. Kamu bisa menjawab pertanyaan ku yang tadi kan?" Adam bertanya dengan serius


"Aku bingung"


"Bingung kenapa? Apa kamu tidak suka jika mengandung anak ku?"


"Tidak,bukan seperti itu"


"Lantas?" Adam menatap wajah Nesa dengan intens

__ADS_1


"Sayang,wajah mu membuat aku takut. Jangan menatap ku seperti itu" Nesa menutup wajahnya dengan kedua tangan


"Aku pernah mengatakan jika tidak boleh ada rahasia di antara kita,tapi kenapa dengan beraninya kamu meminta pil kontrasepsi pada mama tanpa sepengetahuan ku?" Adam mulai tersulut


"Apa kamu marah?"


"Aku tidak berhak marah karena aku belum mendengar penjelasan mu. Sekarang katakan yang sejujurnya" Pinta Adam lagi


"Aku hanya merasa aku belum siap untuk hamil di usia ku saat ini" Jawabnya jujur


"Apa kamu juga belum siap menikah?" Tanya Adam dengan tatapan menyelidik


"Kalau menikah tentu saja aku ingin"


"Kamu ingin menikah dengan ku tapi kamu tidak ingin mengandung anak ku. Kalau begitu tidak usah hamil saja untuk selamanya" Ucap Adam dengan nanar


"Sayang,jangan marah. Aku benar-benar minta maaf" Nesa mencegah Adam yang hendak melangkah pergi


"Apa tujuan pernikahan jika bukan karena ingin memiliki keturunan" Adam masih berdiri membelakangi Nesa


"Aku mohon duduk lah. Kita bicarakan lagi ini baik-baik" Ucap Nesa dengan nada yang bergetar karena tangis


Adam menghelas nafas dan membuangnya pelan seolah dia sedang mengatur emosinya. Setelah itu,Adam duduk kembali di tempatnya yang semula.


"Kemarilah" Pinta Adam akhirnya


Nesa pun ikut duduk sambil mengusap air matanya.


"Sepertinya kamu masih meragukan ku. Apa saat kamu hamil nanti aku tidak akan memperhatikan mu? Apa aku akan mengabaikan mu? Apa aku akan membiarkan mu berjuang seorang diri?"


Nesa menggeleng dengan cepat tanpa diketahui oleh Adam.


"Apa dengan hamil,aku akan melarang mu untuk bekerja? Kamu bahkan bisa tetap mengejar impian mu setelah mempunyai anak nanti. Aku tidak akan membuat mu lelah mengurus anak ku ,aku bisa membayar baby sister. Kamu bisa tetap menikmati masa muda mu dan melakukan apa pun yang kamu ingin kan" Adam kembali mencecarnya


Tanpa terasa airmata Nesa semakin deras membanjiri pipinya. Tanpa bisa berkata-kata juga,Nesa langsung memeluk Adam sambil terisak tangis.


"Maafkan aku" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Nesa


"Kamu benar-benar tidak ingin mengandung anak ku. Aku sangat sakit mengetahui hal itu" Ucap Adam sedih


"Tidak. Tolong jangan lanjutkan lagi" Nesa mengurai pelukannya dan menyentuh bibir Adam


"Kamu membuat ku kecewa. Bagaimana jika mama menuruti keinginan mu untuk memberikan pil itu,pasti kamu sudah meminumnya secara sembunyi-sembunyi dan aku tidak akan pernah tahu"


"Sayang,aku mohon. Jangan sejauh itu menuduh ku. Aku meminta pil itu pada mama hanya untuk berjaga-jaga. Tentu aku akan membicarakan dulu dengan kamu. Jika kamu tidak menyetujuinya aku tidak mungkin meminumnya" Nesa berusaha menjelaskan


"Apa perkataan kamu bisa aku percaya"


"Apa aku terlihat berbohong?" Lirih Nesa


Melihat wajah Nesa yang memelas membuat hati Adam luluh. Adam mencium bibir Nesa,lalu memeluknya.


"Berikan aku anak dulu. Setelah itu kamu boleh menundanya"


Nesa mengangguk dalam pelukan Adam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2