
Seperti biasa Adam sedang sibuk diruang kerjanya. Banyak berkas yang harus dia tanda tangani. Disela-sela kesibukannya, tanpa sadar ada sesuatu yang sedang mengganggu konsentrasinya. Adam memikirkan pernikahannya yang gagal. Bukan karena dia tidak jadi menikah dengan gadis pilihan papanya,tapi karena dirinya merasa terhina. Adam merasa harga dirinya sedang dipermainkan dan yang lebih parah lagi dia hampir saja kehilangan nyawa papanya. Adam sangat geram. Tanpa sadar dia meremas kertas yang harusnya dia tanda tangani dan melemparnya ke lantai.
Sekretaris Bian yang melihatnya menjadi bingung. Masalah apa yamg sedang dihadapi bosnya itu sehingga membuatnya tampak marah.
"Tuan Adam baik-baik saja?" Tanya Sekretaris Bian akhirnya
Melihat Adam tidak merespon ucapannya,akhirnya Sekretaris Bian bertanya lagi.
"Apa yang membuat Tuan Adam terlihat begitu marah?"
"Baru sekarang ini ada seorang perempuan yang sudah berani mempermainkan perasaanku" Ucap Adam dengan penuh amarah
Sekretaris Bian terlihat semakin bingung.
"*Siapa perempuan yang dimaksud Tuan Adam? A*pa selama ini Tuan Adam memiliki kekasih dan kekasihnya itu pergi meninggalkannya?"
"Bahkan dia hampir saja membuat nyawa papa melayang" Sambung Adam
"Oh ternyata perempuan yang dimaksud adalah perempuan yang dijodohkan Tuan Surya. Tuan Adam masih memikirkan pernikahannya yang batal" Sekretaris Bian akhirnya mengerti
"Kenapa kau diam saja Bian?" Sergah Adam membuat Sekretaris Bian kaget
"Ma-maaf Tuan,saya hanya sedang fokus mendengarkan" Jawab Sekretaris Bian dengan terbata
"Apa Tuan Adam sungguh ingin menikah dengan gadis itu?" Tanya Sekretaris Bian tiba-tiba
Adam menatap Sekretaris Bian dengan tatapan tajam.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu itu Bian?" Bentak Adam
Sekretaris Bian kembali dibuat bingung karena sepertinya dia sudah salah paham.
"Maaf jika saya salah bicara tuan" Ucap Sekretaris Bian meminta maaf
"Apa Tuan Adam dendam dengan gadis itu?" Sekretaris Bian akhirnya mengganti pertanyaannya
"Hah buat apa aku dendam? Hanya akan mengotori pikiranku saja. Aku bahkan tidak ingin ada urusan apa-apa lagi dengan keluarganya" Jawab Adam lantang
__ADS_1
"Aku hanya merasa terhina. Secara tidak langsung dia sudah menolakku. Memangnya dia itu siapa?" Ujar Adam dengan kalimat yang menampakkan sisi arogannya
"Kalau Tuan mau,saya akan membawa gadis itu ke hadapan Tuan Adam hari ini juga" Ucap sekretaris Bian dengan penuh keyakinan
"Jika aku memang mau sudah dari kemarin-kemarin aku menyeretnya dengan tanganku sendiri. Itu pekerjaan yang sangat mudah bagiku" Jawab Adam dengan sombongnya
"Lalu hukuman apa yang ingin anda berikan pada gadis itu Tuan?" Sekretaris Bian bertanya lagi
"Tidak. Aku tidak akan memberikan hukuman apapun. Biarkan saja dia sekarang merasa menang. Tapi jika suatu saat aku bertemu dengannya, aku tidak akan pernah mengampuninya" Jawab Adam sambil mengepalkan kedua tangannya
Sekretaris Bian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa apa yang dikatakan Adam itu terdengar aneh. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Adam. Dia terlihat sangat marah tapi tak mau melakukan apapun pada gadis itu.
"Aku sudah cukup puas telah mengusir orangtuanya di rumah sakit waktu itu. Mereka tidak akan berani lagi datang ke rumah menemui papaku" Ucapnya lagi dengan senyum menyeringai
"Ya baik Tuan" Sekretaris Bian mengiyakan saja apa yang Adam katakan. Toh tugas dia memang hanya mendukung Adam dan melakukan apa saja yang dia perintahkan
Sepulang dari kantor Adam langsung menyegarkan diri di kamar mandi. Lalu Pak Ngah datang membawa nampan berisi segelas teh hijau seperti biasa.
"Apa Tuan Adam ingin makan malam di kamar?" Tanya Pak Ngah
"Tidak,aku akan turun sebentar lagi" Jawab Adam
Tak lama kemudian Adam turun dari kamarnya menuju meja makan,tapi tak tampak Surya dan Sintia disana.
"Papa dan mama dimana?" Tanya Adam pada Pak Ngah yang sedang menyiapkan beberapa menu makan malam untuk Adam
"Tadi Nyonya Sintia meminta makan malamnya diantar ke kamar. Sepertinya Tuan dan Nyonya akan makan malam di kamar" Jawab Pak Ngah
Adam menikmati makan malamnya dalam suasana hening seorang diri. Setelah selesai menyantap makanannya,Adam mendorong kursinya kebelakang untuk meninggalkan meja makan. Tapi tiba-tiba Surya datang menghampirinya.
"Papa belum tidur?" Tanya Adam
"Kemarilah,papa ingin bicara" Surya membimbing Adam untuk mengikutinya ke ruang tengah
Adam terlihat diam menunggu Surya memulai pembicaraan.
"Kamu masih marah dengan kejadian tempo hari?" Tanya Surya
__ADS_1
Adam mengernyitkan dahinya masih tidak mengerti.
"Papa harap kamu tidak membenci keluarga Gunawan" Ucap Surya
"Sudahlah pa Aku tidak ingin membahas itu lagi. Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan mereka pada keluarga kita. Terutama gadis itu" Ujar Adam sambil tersenyum sumbang
"Tidak Adam,bukan salah mereka. Ini salah papa yang terlalu egois memaksakan kehendak papa tanpa memberi kalian kesempatan untuk saling mengenal" Balas Surya menanggapi
"Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah mengampuni gadis itu dan Aku harap papa tidak akan meneruskan perjodohan itu lagi" Ucap Adam tegas
"Aku janji akan memenuhi permintaan papa untuk segera menikah tapi bukan dengan dia. Aku akan segera membawa gadis pilihanku kesini. Aku bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari dia" Ucap Adam meyakinkan Surya. Walaupun dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya
"Papa tidak usah memikirkan kebahagiaanku. Papa jaga kesehatan papa saja" Tambah Adam
Tiba-tiba segurat kekhawatiran muncul dalam hati Surya. Haruskah dia mengubur impiannya untuk menjadikan Nesa sebagai menantunya. Untuk saat ini Surya akan bungkam sampai dia mendapat kabar lagi dari Gunawan mengenai Nesa.
Dihari berikutnya,Sekretaris Bian masuk keruangan Adam dengan membawa sebuah undangan ditangannya. Sekretaris Bian menghampiri Adam yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Menyadari kehadiran Sekretaris Bian, Adam menghentikan kegiatannya.
"Apa yang kau bawa itu Bian" Tanya Adam sambil melihat sebuah undangan di tangan Sekretaris Bian
"Ini undangan pesta dari Tuan Anton" Jawab Sekretaris Bian sambil menyodorkan undangan itu pada Adam
"Pesta?" Adam membuka undangan yang berwarna cokelat itu
"Tuan Anton mengadakan sebuah pesta untuk merayakan hari ulang tahun pernikahannya tuan" Jawab sekretaris bian menjelaskan
"Dibali?" Tanya Adam memastikan sambil membaca isi undangan
"Benar Tuan"
"Apa aku harus hadir?" Tanya Adam lagi
"Sepertinya anda harus hadir Tuan. Karena seperti yang anda ketahui,Tuan Anton adalah salah satu pemegang saham terbesar di Nusantara Group. Jika anda tidak hadir itu akan mempengaruhi reputasi anda dimata Tuan Anton" Jawab Sekretaris Bian menyarankan
"Saya lihat minggu ini anda tidak ada meeting penting dan pekerjaan anda disini masih bisa diwakilkan. Jadi tidak masalah jika anda hadir" Sekretaris Bian menambahkan
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan hadir" Jawab Adam setuju
Bersambung...