
Adam agak kesal menunggu tamunya karena tidak kunjung datang. Sesekali Adam melihat jam tangannya sambil mendengus kesal. Sekretaris Bian pun ikut khawatir melihat Adam yang mulai kehabisan kesabaran.
Tiba-tiba saja Sekretaris Bian mempunyai sebuah ide untuk mengembalikan mood Adam yang sudah terlanjur jelek.
"Anda mendapatkan kado apa dari nona Nesa tuan?" Tanya Sekretaris Bian dengan tujuan ingin mengalihkan perhatian Adam
"Kado?" Adam mengerutkan kening sambil menoleh pada Sekretaris Bian
"Iya kado. Hari ini kan hari ulang tahun anda tuan" Ujar Sekretaris Bian memberitahu Adam yang sepertinya tidak mengingat hari kelahirannya
Adam melihat kalender di atas mejanya sambil mengingat-ingat.
"Iya kau benar. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 32 tahun" Adam baru menyadarinya
"Apa nona Nesa tidak memberikan anda sebuah kejutan?" Tanyanya lagi
Adam mulai berpikir. Tidak mungkin Nesa tidak mengingat hari ulang tahunnya. Dan tidak mungkin juga Nesa tidak memberikannya sebuah kado di hari spesialnya. Bagaimana jika saat ini Nesa sedang merencanakan sebuah kejutan untuknya di rumah tapi dia malah tidak ada disana. Nesa pasti sangat sedih dan kecewa. Adam pun mulai cemas memikirkan hal itu.
Akhirnya Adam memutuskan untuk pulang karena tidak ingin istrinya sedih jika saja apa yang dipikirkannya tadi memanglah benar. Selama ini Adam memang cuek dan tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya karena menurutnya itu bukanlah hal yang penting. Tapi dia harus sadar jika saat ini dia sudah memiliki istri yang pastinya akan selalu mengingat hari-hari spesial dalam hidupnya.
Adam beranjak dari tempatnya dengan tergesa-gesa.
"Anda mau kemana Tuan?" Tanya Sekretaris Bian akhirnya
"Pulang" Jawab Adam singkat dan cepat
"Tapi bagaimana dengan tamunya?" Sekretaris Bian terlihat panik
"Kau saja yang mewakilinya" Ucap Adam dengan entengnya
"Tapi mereka ingin bertemu dengan anda langsung" Sekretaris Bian berusaha mencegah Adam agar tidak pulang
Adam mengabaikan ucapan Sekretarisnya itu. Kakinya terus melangkah pergi. Sekretaris Bian pun tidak tinggal diam dan mengejar Adam.
"Anda akan kehilangan milyaran rupiah jika membuat mereka kecewa karena tidak bisa bertemu dengan anda tuan"
"Aku tidak peduli. Istriku lebih penting" Ucap Adam dengan nada yang lebih tegas
Sekretaris Bian pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia agak menyesal karena niatnya untuk menahan Adam di kantor,justru membuat Adam pergi. Mau tidak mau Sekretaris Bian harus memikirkan sebuah alasan untuk dia katakan pada tamunya nanti.
Adam melajukan mobilnya dengan cepat. Adam juga menelfon Nesa berulang kali tapi Nesa tidak menjawabnya. Adam tidak tahu jika orang yang sedang dicemaskannya justru setia menunggunya pulang sambil mempersiapkan kejutan untuknya.
__ADS_1
Saat Adam memasuki rumah,suasana rumah sudah tampak sepi. Adam langsung menuju ke kamarnya dan berharap Nesa sudah tidur saja. Adam tidak peduli dengan kejutan dan apapun itu. Yang terpenting dia tidak membuat Nesa sedih lagi.
Adam agak heran melihat suasana kamar dalam keadaan gelap dan hanya diterangi oleh beberapa api kecil yang sepertinya berasal dari sebuah lilin.
"Sayang... kamu ada di dalam?" Panggil Adam sambil melangkah pelan
Nesa pun menyalakan lilin yang ada di kue,lalu mengambil kuenya dan mencari keberadaan Adam disana. Adam menyalakan lampu kamar bersaaman dengan Nesa yang sudah ada di hadapannya.
"Selamat ulang tahun suamiku" Ucap Nesa tiba-tiba
Adam pun tersenyum sambil melipat tangannya di dada. Untung saja Sekretaris Bian mengingatkan hari ulang tahunnya tadi,jadi Adam tidak begitu terkejut dibuatnya.
"Terimakasih sayang" Adam meniup lilinnya,lalu mencium kening Nesa
"Maaf aku salah pesan kue" Ucap Nesa
"Apanya yang salah? Bukankah semua kue ulang tahun wujudnya seperti ini" Balas Adam menanggapi
"Tapi kamu kan tidak suka manis" Ucapnya lagi dengan raut wajah sedih
"Tapi malam ini aku mendadak ingin makan makanan manis" Balas Adam seolah ingin menghargai usaha Nesa dan tidak ingin membuatnya sedih. Adam pun mengambil kuenya dari tangan Nesa
Sambil memperhatikan Adam yang sedang menikmati kuenya,Nesa mengambil buket bunga dan kotak kado yang sudah dia siapkan.
"Bunga mawar merah untuk suamiku juga" Nesa memberikan buket bunga itu pada Adam
Adam menghela nafas sambil tersenyum cerah.
"Sekali lagi terimakasih banyak istriku" Adam mengambil bunganya
"Sayang,kamu lupa membuat harapan ya?" Tanya Nesa selanjutnya
"Tidak. Tadi sebelum aku meniup lilinnya,aku sudah mengutarakan harapanku dalam hati" Jawab Adam
"Apa aku boleh tahu apa keinginan kamu?" Tanya Nesa sambil mengedipkan matanya
"Tentu boleh"
"Apa?" Nesa tampak antusias ingin mendengarkan harapan Adam
Adam menaruh bunga yang ada di tangannya,lalu menyentuh perut Nesa.
__ADS_1
"Aku ingin kamu segera hamil lagi sayang. Aku mempunyai segalanya tapi rasanya hidupku kurang sempurna tanpa seorang anak" Ucap Adam dengan raut wajah yang penuh harap
Nesa sangat bahagia,disaat Adam mengutarakan harapannya itu,Nesa bisa langsung mengabulkannya. Nesa yang aslinya memang gampang tersentuh,akhirnya menangis juga.
"Sayang,kenapa menangis? Aku akan bersabar menunggu kehadiran anak kita. Tidak usah bersedih" Adam menyeka airmata Nesa
"Aku tidak sedih sayang tapi aku sangat bahagia. Ini kado terakhir untuk kamu" Nesa memberikan kotak kecil yang dia sembunyikan di tangannya
"Ini apa?" Tanya Adam sambil menatap benda itu
"Apa yang aku berikan ini lebih mahal dari apapun yang ada di dunia" Ucap Nesa dengan suara yang terisak
Adam pun sangat penasaran dan segera membukanya.
"Sayang..." Adam terperangah melihat dua garis merah yang ada di tespeck. Tentu Adam tahu dengan benda itu dan arti dari dua garis merah yang ada disana
"Kamu hamil?" Tanya Adam seolah tak percaya
Nesa mengangguk mengiyakan sambil menyeka airmatanya yang masih menetes.
"Lalu apa ini maksudnya?" Adam memegang hasil USG Nesa dan mempertanyakan maksud dari gambar disana karena Adam tidak mengerti
Nesa memeluk Adam dengan tiba-tiba sambil terus menangis haru.
"Itu hasil USG ku sayang. Kita akan mempunyai anak kembar 3" Ucap Nesa
Adam pun kembali terperangah dibuatnya. Adam benar-benar merasa surprise mendengarnya.
"Sayang,kamu tidak sedang bercanda kan?" Adam kembali memastikan agar kebahagiaannya benar-benar nyata
"Untuk apa aku bercanda. Aku serius. Kita akan mempunyai anak kembar. Mama sudah memeriksanya" Nesa mengurai pelukannya sambil merangkum wajah Adam
"Aku akan mempunyai 3 anak sekaligus" Adam kembali menatap hasil USG Nesa dengan perasaan yang mengharu biru
Adam memasukkan lagi benda-benda itu ke dalam kotak lalu menarik tubuh Nesa ke dalam pelukannya.
"Terimakasih banyak. Aku sangat bahagia" Adam juga menghujani wajah Nesa dengan ciuman
Adam tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Keinginannya terkabul dalam sekejab mata itu rasanya luar biasa sekali. Bahkan ini rasanya lebih mendebarkan daripada saat papanya memberikan jabatan tertinggi di perusahaan. Bisa dikatakan ini hari yang paling membahagiakan dalam hidup Adam.
Bersambung...
__ADS_1