Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Menjadi Sosok Yang Berbeda


__ADS_3

Adam mengambil kursi dan duduk di samping brankar Nesa. Lalu Adam menatapnya dengan wajah datar. Nesa tahu Adam sedang kecewa saat ini. Tangan Nesa terulur dan menggenggam jemari Adam. Tangis Nesa kembali pecah seolah tak kuasa menatap wajah suaminya itu lebih lama lagi.


"Kenapa menangis?" Tanya Adam akhirnya


"Aku minta maaf. Aku membuat mu kecewa" Jawab Nesa dalam isaknya


"Kenapa harus minta maaf? Nukankah kejadian ini juga tidak kamu inginkan?" Adam bertanya dengan kalimat ambigu


"Aku benar-benar tidak tahu jika aku sedang hamil. Aku sangat menikmati kebersamaan kita,percintaan kita setiap malam. Aku sangat bahagia hingga aku tidak menyadari jika aku sudah lama tidak mendapatkan menstruasi ku. Maafkan kebodohanku" Ujar Nesa mengutuk dirinya sendiri. Tangannya terus saja menggenggam jemari Adam


Selama Nesa meluapkan segala rasa bersalahnya,Adam terus saja memperhatikan wajah Nesa. Nesa benar-benar sedih dan menyesal dengan apa yang menimpanya. Untuk sesaat hati Adam luluh dengan tangisan Nesa.


"Aku memang sangat sedih dan kecewa,apalagi aku melihat sendiri janin itu di depan mata ku. Tapi aku tidak marah pada kamu" Ujar Adam mencoba untuk tidak menyalahkan Nesa sambil mengusap airmata Nesa yang jatuh di pipinya


"Aku gagal memenuhi harapan kamu" Ujar Nesa lagi dengan raut wajah penuh penyesalan


"Tidak apa-apa. Kita masih bisa mencobanya lagi bukan?" Adam sedikit bercanda sambil berusaha tersenyum walaupun hatinya terasa kelu


Spontan saja Nesa juga ikut tertawa haru dengan ucapan Adam.


"Bisakah kamu memelukku?" Pinta Nesa kemudian


Adam berpindah tempat duduk tepat di samping Nesa,lalu memeluknya.


"Aku sangat bersyukur karena mempunyai suami sebaik kamu" Ucap Nesa dalam pelukan Adam. Perasaannya jauh lebih tenang saat memeluk tubuh suaminya itu. Nesa sangat membutuhkan Adam disaat-saat seperti ini


Adam hanya mampu terdiam. Perasaannya masih saja tak menentu. Mulutnya bisa saja berkata ikhlas menerima takdirnya tapi hatinya justru menolak. Adam belum benar-benar ikhlas dengan apa yang menimpanya. Kehilangan calon anak yang selama ini dia nanti-nantikan. Sungguh sakit rasanya.


"Dokter Resa mengatakan, kamu sudah bisa pulang sore ini" Ucap Adam sambil mengurai pelukannya


"Ya. Aku ingin cepat pulang. Aku ingin beristirahat di kamar kita saja" Balas Nesa menanggapi sambil merebahkan kepalanya di bahu Adam


"Apa kamu akan pergi ke kantor hari ini?" Tanyanya kemudian


"Kamu bicara apa? Mana mungkin aku pergi ke kantor saat istri ku terbaring di rumah sakit. Aku sendiri bahkan sangat tidak berselera untuk bekerja" Jawab Adam dengan lembut


"Kalau begitu kamu bisa menemaniku seharian ini?" Tanya Nesa seolah ingin terus bermanja-manja dengan Adam


Adam mengangguk pertanda mengiyakan kemauan Nesa.


"Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar untuk menghubungi Bian" Adam mengusap pipi Nesa dan bangkit dari duduknya


"Sayang..." Panggil Nesa

__ADS_1


"Ya..."


"Cepat kembali"


Adam mengedipkan matanya dan sedikit mengangguk.


Baru saja Adam mengambil ponsel di saku celananya dan belum mendial nomor kontak Sekretaris Bian,orang yang ingin dihubunginya itu sudah menelfonnya lebih dulu.


"Hallo Tuan Adam.." Sapa Sekretaris Bian


"Hm..."


"Barusan Tuan Surya menghubungi saya. Saya turut bersedih dengan musibah yang nona Nesa alami" Ujar Sekretaris Bian


"Aku tidak ke kantor hari ini. Batalkan semua meetingku" Perintah Adam tanpa menanggapi ucapan Sekretaris Bian


"Baik tuan"


Adam pun langsung memutus sambungan telfonnya dan menaruh lagi ponselnya di saku celana.


Adam masuk lagi ke dalam dan melihat sarapan yang disediakan pihak rumah sakit masih utuh tak tersentuh disana. Adam mengambil bubur dengan sayur dan ayam itu lalu menyuapi Nesa.


"Buka mulut" Adam menyodorkan sesendok bubur di depan mulut Nesa


Nesa tertegun sesaat sambil menatap wajah tampan Adam sebelum akhirnya mulutnya terbuka dan menerima suapan dari Adam.


Setelah makan beberapa suapan,Nesa mengambil alih sendoknya dan menyuapi Adam balik.


"Aku tidak lapar,kamu habiskan saja makanannya" Tolak Adam dengan lembut


"Apa kamu tidak mau lagi makan dari bekas mulutku?" Tanya Nesa dengan memasang wajah melas seolah bertujuan untuk merayu Adam


Mau tidak mau Adam membuka mulut dan menerima suapan dari Nesa. Wajah sayu Nesa selalu membuat hati Adam luluh begitu saja.


"Terimakasih sudah menjagaku. Kamu pasti lelah sudah menemaniku sejak tadi" Ucap Nesa disela-sela makannya


"Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami" Balas Adam dengan kalimat yang membuat Nesa kembali merasa haru


Setelah makanan habis,Adam mengambilkan segelas air dan membimbing Nesa untuk minum.


"Apa mau aku kupaskan buah juga?" Tanya Adam yang melihat buah juga tersedia disana


"Tidak. Aku sudah kenyang" Jawab Nesa sambil menatap Adam dengan tatapan penuh arti

__ADS_1


Entah kenapa Nesa merasa ada yang beda dengan sikap Adam. Walaupun dia menunjukkan perhatiannya dan terlihat baik-baik saja tapi Nesa merasa yang Adam tampakkan bukanlah sikap dia yang sebenarnya. Adam yang suka menggodanya,Adam yang selalu ingin bermesraan dengannya dimanapun dan apapun keadaannya,tidak Nesa temukan sekarang. Apa mungkin Adam hanya berpura-pura baik untuk menutupi rasa kecewanya?


Dengan takut-takut akhirnya Nesa memberanikan diri untuk bertanya karena ingin memuaskan rasa penasarannya.


"Sayang,apa ada yang sedang kamu tutupi dari aku?"


Adam menakutkan kedua alisnya,berusaha mencoba mengerti dengan pertanyaan Nesa.


"Memangnya apa yang aku tutupi dari istriku sendiri?" Adam malah bertanya balik seolah ingin mengubur kecurigaan Nesa


"Kamu menutupi kemarahan kamu padaku?" Tanya Nesa lagi berterus terang


"Sudahlah. Tidak usah memikirkan yang aneh-aneh" Adam berdalih seolah tidak ingin menjawab pertanyaan Nesa


"Aku lebih suka melihatmu marah daripada nanti akhirnya kamu bersikap dingin terhadapku" Komentar Nesa dengan wajah yang ditekuk


"Aku tidak akan seperti itu" Balas Adam singkat


"Benarkah kamu tidak sedang berbohong?" Nesa mendekatkan wajahnya pada wajah Adam,kemudian Nesa menatap mata Adam dengan intens


"Jangan usil" Adam menarik hidung Nesa tiba-tiba sambil tersenyum manis


Nesa menjadi bingung dibuatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Adam mengambilnya,lalu melihat pesan masuk disana.


"Ada pesan dari Dea" Ucap Adam memberitahu


"Buka saja" Pinta Nesa


"Dia ingin datang kesini untuk menjengukmu"


"Katakan saja aku sudah mau pulang. Jadi tidak usah menjengukku kesini" Pinta Nesa lagi


Adam pun membalas pesan Dea seperti yang Nesa katakan tadi. Adam menaruh lagi ponsel Nesa setelah pesan berhasil terkirim.


"Kamu bisa mengajaknya untuk datang ke rumah saja" Ujar Adam kemudian


"Memangnya boleh?" Tanya Nesa heran


"Memangnya suami kamu ini jahat ya sampai-sampai tidak memperbolehkan teman kamu untuk datang ke rumah" Seloroh Adam


"Tidak. Suamiku sangat baik,seperti malaikat" Nesa membalas gurauan Adam dan kembali memeluknya


Nesa berusaha menepis kecurigaannya walaupun suaminya itu berubah menjadi sosok yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa pencet like 😔


__ADS_2