Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Saling Memaafkan


__ADS_3

Setelah cukup lama bermain-main di pantai,tiba-tiba saja tubuh Nesa menggigil. Adam menjadi panik dibuatnya.


"Tuh kan aku bilang apa,lanjutkan besok lagi. Kita ke hotel sekarang" Adam menegur dengan tegas sambil merangkul tubuh Nesa dan membawanya keluar dari pantai


"Aku tidak apa-apa. Hanya kedinginan saja" Ucap Nesa dengan tubuh yang gemetar


"Iya jika dibiarkan kamu bisa sakit" Protes Adam lagi


Tidak tega melihat Nesa berjalan ringkih,akhirnya Adam menggendong Nesa di punggungnya.


"Kamu tahu,jika kamu menggendongku seperti ini aku jadi teringat dengan taman berbukit. Sudah lama kita tidak kesana" Ucap Nesa mengenang masa-masa indahnya saat Adam mengajaknya malam-malam ke sebuah taman yang berbukit dan waktu itu Adam menyebutnya dengan kencan tengah malam


"Kamu ingin kesana lagi?" Tanya Adam kemudian


Nesa mengangguk.


"Apa kamu akan menggendongku lagi saat menaiki bukit?" Tanya Nesa


"Tentu saja" Jawab Adam sambil terus melangkahkan kakinya dengan pelan. Beban tubuh Nesa membuatnya tidak bisa berjalan dengan cepat


Nesa merasa hangat berada di atas punggung Adam. Hingga menggigil yang dia rasakan tadi lenyap seketika.


"Apa seharian ini kamu tidak mandi?" Tanya Nesa tiba-tiba


"Aku bau ya?" Adam bertanya balik seolah mengerti maksud perkataan Nesa


"Sedikit" Jawab Nesa sambil tertawa kecil


"Aku memang tidak sempat mandi seharian ini. Tadi aku pulang cepat dari kantor karena aku ingin segera menemui mu di rumah dan meminta maaf tapi kamu malah tidak ada. Aku bingung mencarimu,makanya aku belum sempat mandi dan mengganti pakaianku. Kamu lihat saja,bajuku masih yang tadi pagi" Adam menjawab sambil bercerita


"Ah iya. Aku baru sadar" Kata Nesa


Adam dan Nesa terlihat bahagia hingga tanpa sadar mereka sudah berada di kamar hotel yang dipesan Nesa sebelumnya. Mereka pun akhirnya mandi bersama-sama.


Adam sedikit tertegun melihat banyaknya paper bag di atas kasur dan masih lengkap dengan isinya. Adam pun akhirnya bertanya


"Kamu menghabiskan uangku untuk membeli barang-barang mahal ini?" Adam melihat satu persatu isi dari tas itu


"Iya. Karena aku tidak membawa baju. Apa kamu keberatan jika aku menggunakan uangmu?" Jawab Nesa sambil bertanya


"Tentu saja tidak,tapi aneh saja" Adam menaikkan sedikit alisnya sambil menghela nafas


"Aneh bagaimana?" Tanya Nesa penasaran


"Bukannya kamu tidak suka berbelanja? Apalagi sebanyak ini" Adam bertanya balik


"Sepertinya kamu belum tahu kebiasaan burukku ya!" Seru Nesa sambil tertawa kecil

__ADS_1


"Kebiasaan buruk?" Adam mengulangi


"Jika aku sedang kesal atau sedih,aku akan melampiaskannya dengan berbelanja" Jawab Nesa dengan raut wajah senang


"Oh ya? Kalau begitu sepertinya kamu harus sering-sering kesal" Ucap Adam dengan kalimat yang mengundang tanya


"Kenapa begitu?" Tanya Nesa bingung


"Karena kamu jarang sekali berbelanja. Selama aku memberikan kartuku,kamu hanya menggunakannya beberapa kali saja" Jawab Adam dengan santainya


"Apa kamu suka dengan perempuan yang suka menghabiskan uang suaminya?" Tanya Nesa sambil berseloroh


"Aku tidak peduli jika itu perempuan lain. Aku hanya menyukai istriku sendiri dan apapun kekurangannya" Jawab Adam sambil melingkarkan tangannya di pinggang Nesa


"Jadi kamu tidak keberatan jika aku sering-sering belanja banyak seperti ini?" Tanya Nesa lagi memastikan


"Iya" Adam mencium pipi Nesa


"Kamu tidak takut jika nanti kamu jatuh bangkrut?" Gurau Nesa lagi


"Aku tidak akan bangkrut. Apa kamu belum tahu berapa kekayaan suamimu ini?" Adam mulai bertingkah jahil. Tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh Nesa


"Mana aku tahu. Aku juga tidak tertarik untuk mengetahuinya" Nesa mendorong dada Adam dengan pelan


"Benarkah?" Adam membaringkan tubuh Nesa di atas kasur hingga Nesa tak berdaya dalam kungkungan Adam


"Kamu benar-benar membuat aku ingin..." Adam menyingkap gaun tidur Nesa dan meraba pahanya


"Kita belum boleh melakukannya" Ucap Nesa cepat


"Tenanglah aku tidak lupa. Aku hanya ingin memberi stempel kepemilikan disini,disini dan disini" Adam menunjuk-nunjuk bagian titik-titik sensitif Nesa


Adam membuka tali gaun tidur Nesa hingga dada Nesa terlihat seluruhnya. Adam mulai melancarkan aksinya dengan menciumi tubuh Nesa. Cukup lama mereka bergumul sampai akhirnya tubuh Nesa dipenuhi dengan tanda merah yang Adam sebut sebagai stempel kepemilikan.


"Aku sangat mengantuk. Aku ingin tidur" Ucap Nesa sambil memakai kembali gaun tidurnya


"Aku juga lelah. Tidurlah" Balas Adam sambil membelai rambut Nesa


"Kamu tidak membawa baju?" Nesa baru sadar jika Adam hanya memakai jubah handuk yang disediakan pihak hotel


"Mana sempat aku membawa baju. Aku buru-buru kesini untuk menyusulmu" Jawab Adam


"Baiklah. Besok aku akan membelikanmu baju" Ucap Nesa akhirnya


Adam tersenyum penuh arti. Diraihnya wajah Nesa untuk bersandar di bahunya.


"Kenapa kamu baik sekali?" Adam mencium pucuk kepala Nesa

__ADS_1


"Jika aku tidak baik,aku tidak bisa memikat hatimu" Nesa menjawabnya dengan candaan


"Apa kamu sangat mencintaiku?" Tanya Adam dengan serius


"Apa hal itu masih perlu dipertanyakan lagi?" Nesa malah bertanya balik seolah pertanyaan Adam tidak perlu dia jawab


"Kadang aku heran saja,aku selalu membuatmu sedih tapi kamu justru memaafkan semua kesalahan-kesalahanku dengan mudahnya" Ucap Adam


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Yang jelas aku tidak pernah bisa benar-benar membencimu,seperti yang pernah aku ucapkan dulu" Jawab Nesa


"Mungkin juga karena aku begitu sangat mencintaimu. Benar kata pepatah cinta itu memaafkan" Nesa menambahkan


"Iya harusnya aku tidak meragukan hal itu" Adam mendekap tubuh Nesa


"Yang harus dipertanyakan itu justru cinta kamu" Ucap Nesa dengan sebal


"Kenapa begitu?" Adam agak melonggarkan pelukannya sambil menatap wajah Nesa


"Karena kamu selalu saja membuatku sedih" Jawab Nesa dengan wajah yang cemberut


"Aku juga sangat mencintaimu sayang tapi aku ini manusia biasa yang juga bisa marah dan kecewa. Jika aku tidak mencintaimu,mungkin saat itu aku tidak akan mengajakmu kembali dan aku akan tetap berada dalam kebencian. Jadi kamu tidak perlu meragukannya lagi" Jawab Adam


"Tapi kata-katamu yang terakhir itu membuatku sangat sedih" Sanggah Nesa


"Aku benar-benar minta maaf. Kamu mengusirku itu juga rasanya sangat sakit hingga aku tidak bisa menahan emosiku dan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku"


"Berjanjilah tidak akan kabur seperti ini lagi jika kita ada masalah. Kamu tidak ingin aku gila karena mencarimu kan?" Sambung Adam sambil menarik hidung Nesa pelan


"Iya aku janji. Aku juga minta maaf karena aku belum bisa mewujudkan keinginan kamu" Nesa kembali memeluk tubuh Adam


"Aku rasa 4 bulan itu bukan waktu yang lama untuk menunggu sebuah anugerah terindah dalam hidupku" Ucap Adam menanggapi


"Itu berarti kamu tidak boleh berhubungan denganku selama 4 bulan" Balas Nesa dengan tujuan ingin mengerjai Adam


"Benarkah seperti itu?" Adam menunjukkan reaksi yang serius


"Tentu saja. Jika aku menggunakan pil kontrasepsi itu akan semakin memperlama kehamilan" Jawab Nesa sambil menahan tawa tanpa terlihat oleh Adam


"Lalu aku harus bagaimana? Ayolah sayang jangan bercanda. Tidak melakukannya selama beberapa hari saja aku sudah sangat stress apalagi sampai 4 bulan" Adam tampak frustasi


"Mana aku tahu!" Ucap Nesa ringan sambil tertawa renyah


"Kamu ingin mengerjaiku ya" Adam menatap wajah Nesa sambil memicingkan matanya


"Dasar laki-laki" Maki Nesa sambil mmemukul lengan Adam


Adam pun menggelitik pinggang Nesa sampai Nesa terkikik geli. Mereka saling bergumul lagi hingga mereka lupa dengan kantuk dan lelah yang dirasakannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2