Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Murka


__ADS_3

Nesa masih tergugu disana. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi melihat kedatangan Adam yang tiba-tiba. Apalagi dia datang bukan hanya dengan Sekretaris Bian tapi juga membawa dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar.


Nesa sangat ketakutan saat jarak mereka semakin dekat. Hingga tanpa sadar dia menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung Firman,seolah dia sedang ingin mencari perlindungan disana.


"Bukankah kemarin aku sudah memperingatkanmu agar kamu menjauhinya? ap kamu sudah lupa?" Ucap Adam dengan sangat marah sambil menatap Firman dengan tatapan tajam


"Mungkin anda yang lupa Tuan Adam. Bukankah saya juga mengatakan jika saya tidak akan pernah melakukannya" Firman menjawab dengan lantang


"Jika begitu jangan salahkan saya jika saya kembali memperingatkan anda dengan cara kasar" Balas Adam dengan nada yang menekan


Tanpa banyak bicara lagi,Adam menarik tangan Nesa dengan kasar hingga Nesa terpekik dan membuat Firman tersulut emosi.


"Jaga sikap anda Tuan Adam. Tidak seharusnya anda bersikap kasar terhadap perempuan" Firman membentak sambil berusaha melepaskan tangan Nesa dari cengkraman Adam


Adam menoleh pada dua pengawalnya sambil memberikan sebuah isyarat dengan gerakan kepalanya. Dengan sigap dua pengawal tersebut langsung mendekat kearah Firman. Satunya memegangi tangan Firman dan satunya lagi memukul tubuh Firman.


"Mas Firman..." Teriak Nesa dengan wajah yang sangat terkejut


"Bian,kamu kemasi barang-barang Nesa didalam dan segera bawa ke mobil" Perintah Adam tanpa memperdulikan apa yang terjadi disana


"Beri dia pelajaran" Perintahnya lagi pada dua pengawalnya


Adam melangkah pergi sesaat setelah memberi perintah sambil terus mencengkram tangan Nesa dengan kuat.


"Lepaskan mas Firman,jangan sakiti dia" Nesa berteriak lagi sambil berusaha memberontak


Adam yang sudah gelap mata,sama sekali tidak menghiraukan rengekan Nesa. Nesa menangis histeris melihat Firman yang dipukuli oleh pengawal Adam tanpa belas kasih. Firman tak berdaya di tangan kedua pengawal tersebut.


"Tolong lepaskan mas Firman" Pinta Nesa sekali lagi sambil berteriak tapi dengan nada memohon


Nesa tidak bisa berbuat apa-apa. Adam sudah membawanya masuk ke dalam mobil. Nesa hanya bisa menatap Firman dari kejauhan dengan perasaan bersalah. Kemudian Sekretaris Bian menyusul dengan membawa barang-barang Nesa dan menyerahkan tas kecil milik Nesa. Lalu Sekretaris Bian duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan vila.


"Bian,hentikan mobilnya. Tolong selamatkan mas Firman,dia bisa terluka" Nesa terlihat sangat panik dan kebingungan


Seperti halnya Adam,Sekretaris Bian sama sekali tidak memperdulikannya.

__ADS_1


"Kamu jahat. Kamu sudah menyakitinya" Bentak Nesa pada Adam sambil memukul-mukul lengan Adam


Adam bergeming. Tatapannya lurus ke depan tanpa terusik dengan pukulan Nesa dan tanpa menoleh sedikit pun pada Nesa. Wajahnya terlihat sangat emosional. Dia ingin meluapkan kemarahannya tapi dia masih berusaha memendamnya.


"Kita kemana Tuan?" Tanya Sekretaris Bian kemudian


"Apartemen" Jawab Adam singkat dengan suara berat seolah dia sedang menahan amarahnya


"Baik Tuan"


"Aku tidak mau ke Apartemenmu. Turunkan aku disini" Nesa menarik-narik pegangan pintu mobil sambil menggedornya


Tidak ada tanggapan. Adam maupun Sekretaris Bian masih setia dengan mode diamnya. Nesa meraung-raung sendirian.


Ditengah kebingungannya,tiba-tiba saja idenya muncul. Dia segera meraih tasnya dan mencari ponselnya disana. Banyak panggilan dari Dea disana tapi berbagai macam pertanyaan dia singkirkan dulu. Ada yang lebih penting sekarang. Dengan cepat dia mengirim sebuah pesan pada Dea.


'Tolong segera ke vila ku sekarang juga. Mas Firman disana sedang terluka. Cepat bantu mas Firman' Pesan terkirim


Belum sempat dia menerima balasan pesannya pada Dea,Adam sudah merampas ponselnya begitu saja. Dengan cepat ponsel itu sudah berada di tangan Adam.


"Siapa yang kamu mintai bantuan? Peduli sekali kamu pada dia?" Sergah Adam


"Bukan urusan kamu" Bentak Nesa


"Percuma. Mungkin dia sekarang sudah sekarat" Adam menyeringai


"Kalian semua jahat. Kalian semua tidak lebih dari seorang kriminal" Nesa memaki sambil terus terisak


Nesa membeku membayangkan keadaan Firman saat ini. Nesa berharap Dea segera membaca pesannya dan segera menolong Firman. Nesa terus saja menangis hingga dia sesegukan. Tak terasa mobil Adam tiba di Apartemennya.


Adam turun dan membuka pintu mobil sebelahnya. Adam menarik tangan Nesa dengan paksa,membawanya masuk ke dalam Apartemennya.


Adam menekan kunci tombol digital dan menyentaknya dengan kasar. Adam menyeret Nesa masuk ke dalam kamarnya,lalu mengunci pintu.


"Katakan,apa yang kamu lakukan di puncak bersama Firman?" Tanya Adam dengan amarah yang sudah memuncak

__ADS_1


"Apa hak kamu untuk mengetahuinya? apapun yang aku lakukan dan sedang dekat dengan siapapun aku saat ini,itu sudah bukan urusan kamu lagi. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" Nesa kembali mempertegas tentang status hubungan mereka


"Aku tanya sekali lagi. Apa yang kalian lakukan di puncak?" Adam menarik dagu Nesa dan menengadahkan wajah Nesa ke wajahnya


Nesa menatap Adam dengan tajam. Nesa terlihat sangat marah,tentu Nesa juga kecewa. Kemudian niat untuk membalas sikap Adam terlintas dibenaknya.


"Kita berada disana sudah dari kemarin dan hanya berdua saja. Jadi bisa kamu tebak sendiri apa saja yang sudah kita lakukan" Ucap Nesa dengan mata melebar


Adam semakin terbakar cemburu. Adam murka dengan pengakuan Nesa. Adam memperkuat cengkeramannya dengan nafas yang memburu.


"Katakan dengan jelas apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya Adam lagi dengan mata terpejam seolah dia masih ingin menahan segala amarahnya


"Kita melakukan semuanya. Bahkan kita sudah melakukan apa yang belum pernah aku dan kamu lakukan dulu" Jawab Nesa bohong


Adam semakin murka. Dadanya bergemuruh dengan hebat hingga dia merasakan sesak. Kecemburuannya membutakan hatinya,Adam tidak bisa berpikir dengan jernih. Tiba-tiba saja Adam membuka seluruh pakaiannya dan polos didepan Nesa.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Nesa terkejut


"Tentu saja aku ingin membuktikan ucapanmu" Jawab Adam sambil menarik lengan Nesa


Nesa menggeleng dengan cepat. Terlihat dengan jelas jika saat ini Nesa sedang panik dan ketakutan.


"Aku tidak akan percaya sebelum membuktikannya langsung" Ucap Adam lagi


Dengan cepat Adam menarik paksa baju yang dipakai Nesa. Nesa memberontak tapi tenaganya kalah kuat. Adam melucuit satu persatu baju Nesa dengan kasar hingga ada bagian baju Nesa yang sampai sobek disana. Mereka sampai tergeletak dilantai karena Nesa terus melawan.


Setelah bersusah payah membuka baju Nesa,akhirnya usaha Adam berhasil dan tubuh Nesa polos tanpa sehelai pun pakaian. Setelah itu Adam membopong tubuh polos Nesa ke atas kasur. Nesa yang sudah berada dalam kungkungan Adam kembali memberontak dengan memukul-mukul dada Adam dan berusaha mendorongnya dengan sekuat tenaga. Tapi percuma saja,tenaganya kalah kuat. Tubuh Adam sama sekali tidak bereaksi,justru cengkeramannya semakin kuat.


"Tolong lepaskan aku" Nesa memohon sambil menangis


"Kamu sudah membuatku sangat marah" Ucap Adam yang tak bergerak sedikit pun diatas tubuh Nesa


"Tolong jangan lakukan ini" Pinta Nesa lagi dengan memelas


"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua ucapanmu"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2