
Para pengasuh panti mengeluarkan semua mainan yang dibawa Nesa dari dalam mobil.
"Terimakasih banyak sudah menyempatkan datang" Ucap ibu kepala panti
"Sama-sama bu"
Ibu panti memandang penasaran ke arah Adam.
"Dia siapa?" Tanya ibu panti ingin memuaskan rasa penasarannya
"Saya calon suaminya Nesa" Adam mengulurkan tangan sebelum sempat Nesa memperkenalkan
Ibu panti menjabat tangan Adam dengan senyuman hangat.
"Mari silahkan masuk" Ibu panti membimbing mereka untuk masuk
Setelah berbincang-bincang sebentar,Nesa beralibi karena melihat raut wajah Adam yang sedang tidak enak di pandang sedari tadi.
"Maaf bu saya ada urusan lain. Saya akan kesini lagi di lain waktu" Ucap Nesa berpamitan
"Baiklah. Sekali lagi terimakasih sudah membuat anak-anak tertawa senang hari ini" Balas ibu panti sambil tersenyum
Adam diam seribu bahasa. Hanya mengikuti apa yang dilakukan Nesa. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan panti.
"Apa kamu sedang marah?" Tanya Nesa dengan pelan
"Tidak" Adam berusaha menahan sesuatu yang sedang bergejolak di dadanya
"Tapi wajah mu sangat tidak enak dilihat" Nesa tidak yakin dengan jawaban singkat Adam
"Aku hanya lapar saja" Bohong Adam
"Kebetulan di dekat sini ada warung sate langgananku"
"Apa? warung?" Adam agak kaget mendengar kata warung. Tempat yang belum pernah dia datangi
"Iya warung. Kenapa?"
"Ayolah aku masih mampu mengajak mu makan di restoran" Ujar Adam keberatan
"Tapi aku maunya makan sate di warung langganan ku" Nesa merengek seperti anak kecil
Mau tidak mau Adam menghentikan mobilnya di warung yang Nesa maksud. Walaupun wajahnya ditekuk, Adam akhirnya mengikuti Nesa masuk ke dalam warung. Adam agak risih dengan banyaknya pengunjung disana.
"Tempat ini panas. Dan lihat, aku tidak bisa makan di tengah banyaknya orang seperti ini" Ujar Adam tidak suka
"Ini warung sate paling enak. Sudah jelas penikmatnya juga banyak. Dulu semasa aku kuliah,aku sering makan disini. Masak kamu tidak tahu sih ada sate se enak ini?" Gerutu Nesa
"Tidak. Sejak aku menamatkan sekolah menengah ku,papa mengirim ku ke luar negri untuk kuliah disana. Lagi pula kurang kerjaan apa aku mengurusi hal yang tak penting. Ini pertama kalinya aku makan di warung seperti ini" Sifat sombongnya mulai menyeruak
"Ih sombong sekali" Nesa melirik tajam ke arah Adam
"Apa kita harus makan disini? Kenapa tidak dibawa pulang saja? bagaimana jika rekan bisnisku atau malah bawahanku di kantor lewat dan melihat ku makan di pinggir jalan seperti ini" Mulut Adam berceloteh kemana-mana
"Astaga kamu masih saja memikirkan image mu. Sudahlah tidak ada yang mengenalimu disini. Ayo cepat makan" Omel Nesa
"Aku tidak berselera. Kau saja" Adam memasang wajah malas
"Kamu harus melakukannya untukku,sebagai bentuk pembuktian mu" Nesa mengeluarkan senjata pamungkasnya
__ADS_1
"Kau,keras kepala sekali" Akhir nya Adam melahap satenya dengan sangat terpaksa
Nesa tersenyum puas karena berhasil mengerjai Adam.
"Satenya enak kan?"
"Hm"
Setelah selesai makan,Adam agak terkejut dengan harga yang dia bayar untuk 2 porsi sate dan 2 gelas es jeruk.
"Apa tidak salah?"
"Apanya yang salah?"
"Harga satenya hanya 50 ribu saja untuk 2 orang?" Tanya Adam tidak percaya
"Kamu ini lucu sekali" Nesa terkekeh
"Apanya yang lucu?" Wajahnya berubah bingung
"Tidak pernah makan di pinggir jalan sih" Nesa tidak peduli dengan Adam yang masih terheran-heran disana. Masuk ke dalam mobil lebih dulu
Nesa kembali tertawa keras di dalam mobil.
"Apa kamu akan tertawa terus seperti ini? kamu bahkan belum mengatakan hal apa yang sedang kamu tertawai"
"Apa sebelumnya kamu tidak pernah makan sate?" Tanya Nesa disela tawanya
"Tentu saja pernah tapi bukan di tempat seperti itu" Jawab Adam ketus
"Di restoran mahal ya"
"Hm"
"Tentu saja beda karena tempatnya nyaman dan makanannya lebih higienis" Adam menimpali
"Tapi rasanya lebih enak yang mana?" Tanya Nesa sambil mencibikkan bibirnya
"Lebih enak yang di warung tadi" Jujur Adam
"Tuh kan. Kamu mengakuinya juga kalau satenya memang enak. Kenapa tadi tidak sekalian saja ya dibungkus untuk papa dan mama mu?" Ujar Nesa tanpa menoleh pada Adam. Seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri
"Jangan aneh-aneh"
Nesa kembali tergelak. Adam memandang ke arah Nesa. Entah kenapa rona kebahagiaan terpancar di hatinya dengan hanya melihat tawa dari mulut Nesa.
Saat suasana kembali hening,tiba-tiba saja Nesa mendesah sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Adam cemas
"Perutku sakit" Jawab Nesa
"Pasti karena makan sate yang tadi" Adam mengutuk kesal
"Tidak. Selama ini aku tidak pernah merasakan sakit perut setelah makan sate itu" Balas Nesa sambil mendesis
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba sakit perut seperti ini? kita langsung saja ke rumah sakit" Adam menjadi panik melihat wajah Nesa yang sedang menahan sakit
"Tidak perlu. Sudah biasa seperti ini" Nesa menolak
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Sepertinya aku akan mendapatkan tamu bulanan ku" Jawab Nesa tanpa malu
"Tamu bulanan?" Ulang Adam
Nesa mengangguk pelan.
"Aku tidak mengerti"
"Iya datang bulan atau menstruasi. Apa kamu sudah mengerti?" Nesa memperjelas dengan lebih dari satu kata
"Kenapa kamu begitu yakin jika sakit mu itu karena ingin datang bulan?" Adam kembali meminta penjelasan
"Karena sakitnya beda dan aku sudah merasakannya setiap bulan" Jawab Nesa dengan yakin
"Apa rasanya memang sakit?" Tanya Adam dengan polosnya
"Tiap perempuan akan merasakan gejala yang berbeda. Kalau aku pasti merasakan sakit perut sebelumnya sampai sehari setelah mendapatkannya" Nesa menjelaskan
"Apa tidak ada obat untuk menghilangkan rasa sakitnya?"
"Ada"
"Kalau begitu kita ke apotik sekarang" Adam mempercepat laju kendarannya
Setelah menemukan apotik yang dimaksud,Adam menepikan mobilnya.
"Kamu disini saja. Aku yang akan membelinya" Ucap Adam dengan penuh perhatian
"Kamu yakin?"
"Iya. Cepat katakan apa nama obatnya" Pinta Adam
Nesa mengambil ponselnya dan menulis nama obat yang dia maksud disana. Lalu Nesa menyodorkan benda itu pada Adam. Dengan relanya,Adam turun dari mobil dan masuk ke dalam apotik untuk membeli obat yang Nesa butuhkan.
Adam kembali tidak hanya membawa obat tapi lengkap dengan air mineralnya. Kebetulan apotiknya bersebelahan dengan mini market.
Setelah meminum obat,Adam mengatur posisi kursi mobil agar Nesa bisa merebahkan tubuhnya.
"Terimakasih" Ucap Nesa dengan lembut. Agaknya Nesa sudah tersentuh dengan perhatian yang Adam berikan.
Adam membalas senyum sambil menatap Nesa dalam-dalam.
"Kenapa malah senyum-senyum? apa karena perutnya sudah tidak sakit lagi?" Tanya Adam penasaran
"Aku sangat senang"
"Karena...?"
"Karena setidaknya aku tidak harus hamil di luar nikah" Entah apa yang ada di pikirannya,tiba-tiba saja wajah Nesa berubah menjadi sedih
Adam mengernyitkan dahinya seolah meminta penjelasan pada Nesa.
"Jika aku datang bulan,itu berarti aku tidak hamil" Lirih Nesa sambil memalingkan wajahnya
"Maafkan aku" Ucap Adam dengan perasaan yang mendalam sambil mengusap kepala Nesa. Segurat penyesalan itu kembali menggores hati Adam.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like,komen nya. Terimakasih 😊