
Setelah kondisi perusahaan cukup stabil,Adam kembali lagi ke Jakarta. Adam menghubungi Nesa untuk sekalian menjemputnya di rumah sakit karena sore hari biasanya Nesa sudah pulang. Adam tidak memberitahu Nesa jika hari ini dia sudah kembali. Adam ingin memberi kejutan pada perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Sayang,kamu ada dimana?" Tanya Adam melalui sambungan telfonnya
"Aku masih di rumah sakit dan sedang bersiap untuk pulang" Jawab Nesa
"Aku jemput kamu ya" Ucap Adam surprise
"Apa? Menjemputku di rumah sakit? Memangnya kamu ada dimana sayang?" Nesa sedikit terkejut
"Aku baru saja tiba di Jakarta,dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjemput mu disana" Jawab Adam
"Sayang kenapa tidak memberitahuku jika hari ini kamu sudah kembali? Aku kan bisa menjemputmu di Bandara" Tegur Nesa
"Aku ingin memberimu kejutan sayang" Jawab Adam
"Baiklah aku tunggu" Balas Nesa yang terdengar kegirangan itu
Nesa menunggu Adam di halaman rumah sakit. Setelah melihat mobil mewah Adam melintas didepannya,buru-buru Nesa mendekat dan masuk ke dalam mobil. Mengambil tempat duduk dibelakang kemudi dimana Adam juga duduk disana. Nesa langsung berhambur mendekap tubuh kekar Adam.
"Aku sangat merindukanmu" Ucap Nesa dengan perasaan haru
"Aku juga sangat merindukanmu" Adam membalas pelukan Nesa dengan sangat erat sambil mencium keningnya tanpa peduli dengan keberadaan Sekretaris Bian dan sopirnya di depan
Sekretaris Bian jengah. Lagi-lagi dia harus menonton kemesraan mereka di depan matanya.
"Bagaimana keadaanmu? Dan bagaimana kondisi perusahaan sekarang?" Tanya Nesa ingin tahu
"Seperti yang kamu lihat sayang,aku baik-baik saja. Dan perusahaan juga sudah mulai stabil" Jawab Adam
"Syukurlah..." Balasnya lega
"Kamu sendiri bagaimana selama tidak ada aku disini? Kamu tidak menduakan aku kan sayang?" Entah itu pertanyaan yang serius atau hanya sekedar candaan saja,yang jelas hanya Adam yang tahu
"Jangan bicara yang tidak-tidak sayang. Bagaimana mungkin aku bisa menduakan kamu,sedangkan setiap hari aku selalu merindukan kamu" Balas Nesa sambil mencebik
Adam tertawa sopan.
"Iya sayang,aku percaya" Ucapnya kemudian
Sepanjang perjalanan mereka saling memeluk dan belum mau melepas satu sama lain. Seolah mereka tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama. Nesa terus saja memandangi wajah Adam dengan raut wajah yang ceria.
"Kenapa?" Tanya Adam lembut
__ADS_1
Nesa menggeleng sambil tersenyum.
"Apa aku semakin tampan?" Selorohnya sambil menyentuh rahangnya
Nesa kembali tersenyum.
"Aku hanya terlampau bahagia" Bisik Nesa ditelinga Adam
"Sabarlah,kita akan melepas rindu di apartemen" Bisik Adam juga dengan nada sensual seolah sedang ingin menggoda Nesa
Spontan saja Nesa mencubit perut Adam hingga membuatnya tertawa geli. Nesa pun menenggelamkan kepalanya di dada Adam.
Setengah jam kemudian,mereka tiba di apartemen.
"Buka pintunya sayang" Pinta Adam pada Nesa
Nesa menoleh dengan raut wajah bingung.
"Tanggal jadian kita" Ucap Adam kemudian
Nesa terlihat sedang berpikir keras mengingat tanggal itu. Tanggal dimana Adam mengungkapkan perasaanya pada Nesa dan Nesa langsung menerimanya tanpa syarat apapun.
"Jangan bilang kamu sudah lupa dengan tanggal jadian kita" Ucap Adam dengan nada yang lebih tinggi
Cukup lama Adam menunggu,kesabaran Adam mulai pecah. Saat Adam akan menekan tombolnya,tiba-tiba Nesa menepis tangan Adam.
"Aku mengingatnya" Dengan cepat Nesa menekan kunci tombol digital menggunakan tanggal jadian mereka dan pintu berhasil terbuka. Hampir saja Nesa membuat Adam kesal. Nesa tidak begitu mengingat tanggalnya. Dia hanya ingat bulannya saja
Adam menggendong Nesa dengan tiba-tiba. Nesa terkejut mendapat perlakuan Adam yang tidak biasa.
"Sayang kamu mau apa? Turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri" Sergah Nesa
"Diamlah. Kamu milikku sekarang" Nesa pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Adam
Adam kemudian menjatuhkan tubuh Nesa di atas tempat tidur. Adam membuka Jaket yang dipakainya,lalu mengunci tubuh Nesa yang mungil.
"Sayang..." Nesa mengusap lembut dada bidang Adam hingga membuat Adam merasakan glenyer aneh disekujur tubuhnya
Didetik berikutnya,Adam mengecup bibir Nesa berulang kali.
"Kamu sangat merindukanku bukan?" Adam memandang Nesa dengan nafas yang memburu
Nesa hanya mengangguk pelan. Tapi setelah itu,Nesa membalas perlakuan Adam dengan menciumnya juga. Tanpa bisa dibendungnya lagi,mereka saling melepas rindu dengan bercumbu satu sama lain. Mereka saling bergumul sampai-sampai pakaian Nesa sudah terbuka sebagian.
__ADS_1
"Apa aku boleh melakukan apapun terhadapmu?" Tanya Adam kemudian setelah puas menjelajahi tubuh Nesa
"Enak saja. Nikahi aku dulu,baru kamu bebas melakukan apapun terhadapku" Sergah Nesa sambil memukul lengan Adam dengan agak keras
Adam tergelak.
"Tenanglah sayang,aku hanya bercanda. Aku tidak akan lupa dengan prinsipku. Aku tidak akan menyentuhnya sebelum kamu sah menjadi istriku"
"Baiklah,sudah cukup main-mainnya. Sebaiknya sekarang kita mandi saja,karena aku juga sudah mulai gerah" Nesa mendorong tubuh Adam
Nesa turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Setelah melakukan ritual mandinya,Nesa mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Kemudian Adam mendekat, memeluk Nesa dari belakang dan mencium lehernya.
"Sayang,tunggulah disana. Jika kamu memelukku seperti ini,aku tidak bisa mengeringkan rambutku" Pinta Nesa pura-pura sebal
"Biar aku bantu mengeringkan rambutmu" Adam mengambil hair dryer yang dipegang Nesa dan mulai menggunakan alat itu pada rambut Nesa sampai rambutnya kering.
"Darimana kamu mendapatkan rambut seindah ini?" Adam memainkan rambut Nesa dan menarik pelan ujung rambutnya yang memiliki ikal menggantung itu
"Apa kamu begitu menyukai rambutku?" Bukannya menjawab,Nesa malah balik bertanya
"Yang membuat aku jatuh hati padamu itu karena rambutmu sayang"
"Hanya karena rambutku saja?" Nesa mencibikkan bibirnya sebal
Adam tertawa melihat raut wajah Nesa yang terlihat menggemaskan itu.
"Tentu saja tidak" Adam menarik pipi Nesa dengan lembut
"Aku ingin memiliki anak perempuan dengan rambut seperti ini nanti" Wajah Adam tiba-tiba berubah menjadi serius
"Anak?" Nesa tercengang
"Iya,anak. Kenapa?"
"Apa itu artinya,kamu ingin segera memiliki anak dariku?" Tanya Nesa memperjelas
"Iya tentu saja. Apa kamu lupa dengan janjiku? Bukankah aku berjanji sekembalinya aku dari singapura,aku akan menemui orang tuamu untuk melamar" Adam memeluk Nesa dengan perasaan yang sangat dalam
Nesa masih tercenung dalam pelukan Adam. Nesa tidak begitu masalah jika harus menikah dalam waktu dekat tapi yang jadi beban pikirannya saat ini adalah,bagaimana cara dia memberitahu perihal hubungannya dengan Adam. Apalagi papa dan mamanya tidak mengenal Adam. Dan sekarang,untuk pertama kalinya Adam akan datang ke rumahnya dengan tujuan melamar. Nesa khawatir dengan respon orang tuanya nanti.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like,komennya. Terimakasih 😊