Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Tidak Ada Yang Harus Dicemaskan


__ADS_3

Masih tenggelam dalam suasana keharuan yang tercipta,Adam maupun Nesa terus saja saling memeluk satu sama lain. Malam ini seolah menjadi malam yang paling mengesankan bagi mereka berdua,terutama Adam.


"Sayang,apa tidak sebaiknya kamu mengganti bajumu dulu?" Tanya Nesa akhirnya karena memang sejak datang tadi,Adam belum melepas apapun yang ada di tubuhnya


"Sebentar lagi. Aku masih ingin seperti ini" Jawab Adam masih memeluk Nesa sambil mengelus-elus perut Nesa yang masih rata


"Mereka masih terlalu kecil. Mereka belum bisa bereaksi saat kamu menyentuhnya" Ucap Nesa yang dia maksudkan pada bayi kembar yang ada di dalam perutnya


"Aku hanya ingin menyentuhnya saja karena aku belum bisa melihat mereka" Balas Adam


"Jika kamu ingin melihatnya,bulan depan kamu bisa mengantarku untuk memeriksakannya lagi" Kata Nesa


"Tentu saja. Selama kamu hamil aku tidak akan pernah melewatkan jadwal pemeriksaannya. Aku akan selalu menemani kamu" Ucap Adam bersungguh-sungguh


Nesa tersenyum bahagia mendengarnya.


"Tidak sia-sia aku meninggalkan kantor tadi" Ucap Adam setengah bergumam


"Apa...? Kamu meninggalkan tamunya?" Nesa mendengarnya sayup-sayup


"Tidak. Aku meninggalkan kantor,bukan tamunya. Karena kelamaan menunggu,akhirnya aku pulang saja. Aku mengkhawatirkan kamu" Kilah Adam


"Sayang,jika tamunya jadi datang bagaimana?" Tanya Nesa bernada protes


"Aku tidak peduli sayang" Jawab Adam santai


"Tapi sayang,apa itu akan berpengaruh pada perusahaan?" Tanya Nesa lagi dengan agak khawatir


"Aku hanya akan kehilangan beberapa uangku" Jawab Adam dengan entengnya


"Berapa nominalnya?" Nesa agak terkejut


"Sudahlah sayang. Istriku jauh lebih penting. Dan ternyata memang tidak sia-sia kan aku meninggalkan kantor tadi" Sangkal Adam


"Lalu dimana Sekretaris Bian saat ini?"


"Masih ada di kantor"


"Semoga saja Sekretaris Bian bisa meyakinkan tamunya agar tidak membatalkan kerja sama kalian" Ucap Nesa berharap dengan suara yang agak lirih


Sesaat setelah itu,ponsel Adam bergetar. Adam mengambil ponsel yang Ada dalam saku celananya dan membuka sebuah pesan yang ternyata dari Sekretaris Bian. Adam membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.


"Sayang,pesan dari siapa?" Tanya Nesa ingin tahu

__ADS_1


"Bian"


"Apa isi pesannya?"


"Doa mu terkabul sayang. Bian berhasil meyakinkan klien walaupun mereka tidak bertemu langsung denganku" Ucap Adam sambil tersenyum senang


"Itu berarti mereka jadi bekerja sama dengan perusahaan mu sayang?" Nesa tampak antusias


"Iya. Sepertinya anak ini membawa keberuntungan sayang" Adam kembali mengelus perut Nesa sambil menciumnya sekilas


Nesa pun bernafas dengan lega.


"Sekarang cepatlah ganti bajumu dan segera tidur. Aku sudah mengantuk" Pinta Nesa kemudian


"Tapi malam ini rasanya aku tidak ingin tidur" Tolak Adam sambil mendekatkan wajahnya pada Nesa


"Lalu,kamu mau melakukan apa kalau tidak tidur semalaman?" Tanya Nesa heran


"Aku ingin menyapa anak-anak kita" Bisik Adam sambil tersenyum menggoda


"Tapi sayang...?" Nesa seolah sudah mengerti maksud perkataan Adam dengan segala tingkah polanya


"Aku akan melakukannya dengan pelan" Adam membuka kancing jasnya dan menanggalkannya satu persatu


Pagi harinya saat Nesa terbangun dari tidurnya,Nesa agak terkejut melihat noda darah yang ada di sprei. Merasa Adam harus mengetahui hal itu,akhirnya Nesa berniat untuk memberitahu Adam.


"Sayang..." Nesa membangunkan Adam dengan mengguncang tubuhnya dengan pelan


Adam membuka matanya perlahan sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Ada apa?" Tanya Adam masih dengan suara seraknya. Lalu Adam mengganti posisinya ke posisi duduk


"A-aku berdarah" Jawab Nesa dengan terbata


Adam tersentak dan melihat noda darah Nesa yang ada di sprei. Seketika itu juga Adam merasa dejavu. Belum hilang traumanya saat melihat darah berceceran di lantai waktu Nesa mengalami keguguran. Dan sekarang Adam harus melihat lagi darah yang keluar dari tubuh Nesa. Adam sangat ketakutan,terlebih saat ini Nesa sedang mengandung buah hatinya.


"Apa kamu keguguran lagi?" Adam tampak panik


"Tidak. Ini hanya flek. Tapi mungkin saja ini menandakan jika kondisi rahimku tidak sedang baik-baik saja" Jawab Nesa


"Telfon mama. Kita ke rumah sakit sekarang" Pinta Adam dengan tegas. Sepertinya dia tidak ingin ambil resiko. Adam tidak ingin jika sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan


"I-iya" Melihat Adam panik,Nesa pun akhirnya juga ikut ketakutan.

__ADS_1


Setelah menelfon Widia dan mengganti pakaiannya,mereka langsung bergegas ke rumah sakit. Adam terus saja menampakkan wajah cemasnya,sedangkan Nesa hanya mengelus-elus perutnya sambil berdoa dalam hati agar kehamilannya baik-baik saja. Nesa tidak ingin membuat Adam kembali kecewa.


Nesa yang juga seorang dokter merasa lebih tenang dibanding Adam. Nesa tahu itu hanya darah flek yang tidak perlu dicemaskannya secara berlebihan. Apalagi ini kali pertamanya Nesa mengalami flek dan tidak disertai dengan gejala yang lainnya.


"Sayang tidak usah terlalu cemas. Anak kita pasti baik-baik saja" Ucap Nesa yang ingin menghibur Adam agar pikirannya sedikit tenang


"Aku tidak akan tenang sebelum mendengar penjelasan langsung dari mama" Balas Adam


"Oke sebentar lagi kita sampai. Mama pasti sudah ada di rumah sakit" Ucap Nesa lagi


Tak lama kemudian mereka tiba juga di rumah sakit. Setelah sampai di ruangan Widia,dokter spesialis obgyn itu langsung memeriksa janin Nesa menggunakan pemeriksaan USG. Adam memperhatikan gambar yang tampil di layar dengan intens walaupun dia sendiri tidak begitu mengerti.


"Kondisi bayi kalian baik-baik saja. Letak plasenta juga normal. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Ucap Widia memaparkan hasil pemeriksaannya


Widia duduk di kursinya. Nesa dan Adam pun juga ikut duduk di depan meja Widia.


"Tapi kenapa Nesa berdarah ma?" Tanya Adam yang sedari tadi paling cemas dengan keadaan Nesa


"Apa sebelumnya kalian melakukan hubungan badan?" Widia bertanya balik


"Iya ma" Jawab Nesa jujur


Sedangkan Adam tampak mengerutkan keningnya seolah meminta penjelasan dari pertanyaan Widia.


Widia menghela nafas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Adam tadi.


"Kemungkinan Nesa mengalami iritasi serviks. Saat hamil muda,serviks akan lebih sensitif dan rentan mengalami iritasi. Itu dapat disebabkan oleh infeksi atau berhubungan **** saat hamil"


"Jadi selama Nesa hamil,kami tidak boleh melakukan hubungan suami istri ma?" Tanya Adam dengan raut wajah putus asa


Widia tertawa kecil melihat raut wajah Adam yang menurutnya sangat berlebihan.


"Tenanglah Adam. Kamu masih bisa menggauli istrimu tapi frekuensinya maksimal 3 kali dalam seminggu" Jawab Widia di sela-sela tawanya


"Sampai Nesa melahirkan nanti ma?" Tanya Adam lagi dengan polosnya


Nesa juga ikut tertawa akhirnya.


"Tidak sayang. Selama trimester pertama saja. Iya kan ma?" Ucap Nesa sambil menoleh pada Widia


"Iya benar Adam. Sampai usia kehamilan Nesa memasuki bulan ke 4" Widia memperjelas


Adam pun menghela nafas lega sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Wajahnya yang sedari tadi juga tegang,akhirnya kembali rileks. Adam senang karena bayinya tidak apa-apa dan dia masih bisa menggauli Nesa walaupun jumlahnya dibatasi. Tidak ada yang harus dicemaskannya lagi sekarang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2