
Dengan berat hati,akhirnya Dea mengantarkan dokumen itu ke ruangan direktur yang berada di lantai paling atas.
Beberapa menit kemudian sampailah Dea di depan pintu ruangan direktur. Dea membeku dengan tangan yang gemetar. Untuk pertama kalinya Dea akan bertemu dengan bos perusahaan yang katanya dingin itu.
Setelah beberapa kali menghela nafas panjang akhirnya Dea memberanikan diri mengetuk pintu ruangan.
"Masuk" Suara dari dalam ruangan terdengar mempersilahkan Dea untuk masuk
Dengan sangat pelan dan hati-hati Dea membuka pintu,lalu masuk. Langkah Dea berhenti setelah sampai di depan meja kerja Adam. Dea juga terlihat membungkukkan badannya pada Sekretaris Bian yang berdiri di samping Adam.
Dea semakin gugup,tangannya berkeringat. Dea seperti berhadapan dengan guru BP yang killer waktu di sekolah dulu. Sedangkan orang yang di hadapannya terlihat sibuk dengan beberapa kertas di tangannya.
"Ma-maaf Tuan,saya diminta staff administrasi untuk mengantarkan dokumen yang sudah difotocopy ini" Ucap Dea
Adam mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk karena sedang fokus memeriksa beberapa dokumen penting.
Dea terperangah melihat ketampanan Adam. Hingga tanpa sadar Dea menelan salivanya karena takjub. Ternyata apa yang didengarnya selama ini,jika bosnya memiliki wajah yang tampan itu memang benar adanya.
"Bian,siapa dia?" Adam bertanya pada Sekretaris Bian karena belum pernah melihat Dea sebelumnya. Wajah Dea masih asing di mata Adam.
"Dia mahasiswi magang Tuan" Jawab Sekretaris Bian
"Apa keperluanmu datang kesini?" Tanya Adam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang bisa diputar-putar itu
"Saya diminta staff administrasi untuk mengantarkan dokumen ini Tuan" Jawab Dea. Sepertinya Adam terlalu fokus hingga tidak bisa mendengar apa yang Dea sampaikan tadi
Dea menyodorkan dokumen itu pada Adam dengan tangan yang masih gemetar. Tapi apa yang dilakukannya membuat Adam menatapnya dengan tatapan tajam. Dea pun menundukkan wajahnya karena takut. Dalam hati Dea bertanya-tanya,kesalahan apa yang sudah dibuatnya hingga bosnya itu menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Letakkan saja dokumen itu di meja dan kau boleh pergi" Perintah Adam kemudian
Dengan sedikit gugup Dea langsung meletakkan apa yang sedari tadi dipegangnya itu di meja Adam. Dea akhirnya mengerti,ternyata dia sudah lancang menyodorkan dokumen itu langsung di hadapan Adam.
Setelah menaruh dokumen itu di meja, Dea segera undur diri meninggalkan ruangan Adam.
Dea mangatur nafas untuk menormalkan pernafasannya yang sedari tadi terasa sesak. Dea merasa lega karena berhasil mengantarkan dokumen itu. Dea berharap tidak akan bertemu lagi dengan sang direktur. Walaupun wajahnya sangat tampan tapi berhadapan langsung dengan direktur itu membuat jantung Dea seakan mau copot saja. Sungguh merepotkan menurut Dea.
__ADS_1
...----------------...
Hari berikutnya Dea bangun kesiangan. Dia terlonjak kaget melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Astaga kenapa aku bisa bangun kesiangan" Dea mengomel pada dirinya sendiri
Secepat kilat Dea pergi ke kamar mandi. 10 menit kemudian Dea keluar dari kamar mandi dengan wajah yang agak kacau. Dea segera mengambil pakaian kantornya dan memakainya. Dea sampai kesulitan memasang sepatunya karena terlalu terburu-buru.
Dea keluar dari kamar dengan langkah cepat.
"Sarapan dulu Dea" Ibunya menyapa
"Tidak sempat bu. Aku sudah sangat telat. Kenapa ibu tidak membangunkanku sih" Gerutu Dea sambil berlalu begitu saja tanpa menghiraukan ibunya.
Dea melajukan mobilnya dengan cepat. Dea takut mendapatkan teguran dari atasannya. Apalagi jika sampai direktur sendiri yang melihatnya datang terlambat,habislah dia. Tapi mana mungkin bos perusahaan menangani langsung karyawan yang datang terlambat,kurang kerjaan apa! Sepanjang perjalanan Dea bermain-main dengan pemikirannya sendiri.
Dea akhirnya sampai. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam gedung.
Tapi karena langkah Dea yang terburu-buru,sambil melihat jam di tangannya,Dea akhirnya menubruk seseorang di depan pintu lobby
Dea jatuh tersungkur,sedangkan orang yg ditubruknya terlihat baik-baik saja. Sepertinya Dea menubruk seseorang yang bertubuh kekar sehingga dia kalah kuat dan akhirnya dia sendiri yang jatuh.
"Ma-maaf saya...." Dea bangun dan merapikan penampilannya. Kemudian dia menoleh kearah seseorang yang sedang berdiri di hadapannya
Dea menutup mulutnya yang menganga karena terkejut melihat siapa yang sedang ditubruknya. Seketika itu juga wajahnya menjadi pucat pasi.
"Tuan Adam" Gumam Dea
Adam menatap Dea dengan tatapan tajam sambil merapikan jasnya.
"Kamu mahasiswi magang yang kemarin mengantarkan dokumen ke ruang kerjaku?" Tanya Adam dengan wajah kesal
"I-iya Tuan" Dea menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah kesal Adam
"Apa kau datang terlambat hari ini?" Tanya Adam lagi
__ADS_1
"Iya Tuan. Saya bangun kesiangan,dan akhirnya saya terlambat datang ke kantor" Jawab Dea cepat
"Kalau kau masih betah magang disini, segera perbaiki sikapmu karena perusahaanku tidak pernah memperkerjakan karyawan yang tidak disiplin. Apa kamu mengerti?" Gertak Adam. kalimat Adam kali ini terdengar seperti sebuah ancaman bagi Dea
"Saya mengerti Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi" Jawab Dea sambil menyesali perbuatannya
Adam pun berlalu meninggalkan Dea.
"Jaga sikap anda nona" Sekretaris Bian menimpali
Kemudian Sekretaris Bian menyusul Adam memasuki ruangan tanpa memperdulikan Dea yang sudah membuka mulutnya untuk menanggapi ucapannya.
"Mimpi apa aku semalam. Kenapa aku bisa seceroboh ini. Baru kemarin aku bertemu direktur dan membuat sedikit kesalahan,tapi sekarang aku malah membuat ulah lagi hingga direktur marah dan menegurku" Dea menggerutuki kebodohannya sendiri
Di ruang kerja Adam.
"Bian tolong katakan pada papa,aku menerima tawarannya untuk menikah dengan gadis pilihannya" Ujar Adam
Setelah semalaman berpikir akhirnya Adam memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Walaupun Adam belum begitu yakin dengan keputusannya,tapi mengingat kesehatan papanya yang tidak begitu baik akhirnya Adam memilih untuk menurut saja.
Adam tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Surya sehingga mau tidak mau Adam harus menikah tanpa cinta dengan wanita yang sama sekali belum dikenalnya.
Dan untuk selanjutnya akan seperti apa kehidupan rumah tangganya,nanti akan Adam pikirkan lagi. Yang terpenting saat ini, Adam bisa memenuhi keinginan papanya dulu.
Sekretaris Bian masih diam mematung mendengar perintah Adam. Dia memang sudah mengetahui rencana perjodohan itu tapi Sekretaris Bian tidak menyangka jika Adam akan menerimanya begitu saja.
"Apa kau mendengar perintahku Bian?" Sergah Adam
"Ba-baik Tuan. Akan segera saya sampaikan pada Tuan Surya" Sekretaris Bian menjawab dengan nada terbata karena suara Adam mengagetkannya
"Malam ini aku tidak akan pulang kerumah. Untuk sementara waktu aku akan tinggal di apartemenku" Ucap Adam lagi
"Kau langsung kerumah saja temui papa,biar sopir yang mengantarku ke apartemen. Dan suruh papa mengatur sendiri tanggal pernikahannya. Aku akan menurut saja" Sambung Adam
"Baik Tuan" Jawab Sekretaris Bian
__ADS_1
Bersambung...