
"Tadi Tuan Adam datang kesini. Sepertinya dia sudah mengetahui dari awal tentang keberadaanku dan Nesa disini hingga dia membawa serta dua pengawalnya. Jelas saja dia marah dan cemburu melihat kebersamaan kami dan akhirnya dia memerintah anak buahnya untuk memukuliku seperti ini" Ujar Firman bercerita sambil menyungging sebuah senyuman yang terlihat dibuat-buat
"Lalu Nesa...?" Tanya Dea
"Tentu saja Nesa dibawanya" Jawab Firman
Dea menatap Firman dengan tatapan rasa iba. Kemudian tanpa sadar otak Dea menghubungkan peristiwa yang terjadi tadi di rumahnya dengan peristiwa yang terjadi saat ini. Ternyata inilah jawabannya kenapa Adam datang ke rumahnya dan menanyakan keberadaan Nesa.
"Pantas saja tadi Tuan Adam datang menemuiku dan bertanya tentang keberadaan Nesa" Ucap Dea menanggapi
"Kamu datang kesini,apa Nesa yang menyuruhmu?" Tanya Firman kemudian
"Iya. Tadi Nesa mengirim pesan dan memberitahuku tentang apa yang terjadi disini. Saat aku menelfonnya,malah tidak ada jawaban" Jawab Dea
"Mungkin Tuan Adam sudah merampas ponselnya saat mengetahui dia mengirim sebuah pesan untukmu" Komentar Firman
"Lalu apa yang terjadi dengan Nesa saat ini ya?" Tanya Dea dengan nada yang agak khawatir
"Entahlah. Aku harap Nesa baik-baik saja" Jawab Firman gamang
"Ya aku juga berharap seperti itu. Dia pasti baik-baik saja karena setauku Tuan Adam sangat mencintainya. Dia tidak mungkin menyakiti Nesa"
"Eh tunggu. Aku sampai lupa bertanya,kenapa Tuan Adam sampai menyusulnya kesini? mereka kan sudah putus?" Tanya Dea heran
"Jawabannya mudah sekali. Tentu saja karena dia masih mencintainya. Mungkin setelah ini dia akan mengajak Nesa untuk kembali bersama" Jawab Firman dengan raut wajah sedih
"Kalau begitu sebaiknya mas Firman beristirahat. Ini sudah dini hari. Kita tidak mungkin pulang malam ini apalagi dengan kondisi mas Firman yang seperti ini" Dea hendak pergi tapi Firman menahan tangan Dea
"Kamu mau kemana?" Tanya Firman kemudian
"A-aku akan tidur di kamar yang lain" Dea menjawab dengan cepat. Wajahnya terlihat gugup sambil melihat tangannya yang sedang digenggam oleh Firman
"Terimakasih banyak" Ucap Firman sekali lagi sambil tersenyum tipis
"Sama-sama" Dea pun keluar dari kamar yang di tempati Firman dengan mata yang berbinar. Entah kenapa dia sangat senang malam ini bisa membantu Firman, apalagi tadi Firman sempat menyentuh tangannya
...----------------...
Nesa menggeliat di balik selimut di iringi dengan rintihan yang keluar dari mulutnya. Nesa membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Nampaknya hari sudah pagi tapi kemana Adam? dia tidak melihatnya. Nesa bangun dan duduk bersandar di tempat tidur. Nesa kembali merintih karena dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Mungkin inilah akibat dari perlawanannya semalam. Terlebih dia juga masih merasakan perih di bagian intimnya.
Nesa mengambil sebuah cermin kecil yang ada di atas nakas dan memantulkan dirinya di cermin itu. Dia melihat wajahnya yang aneh. Mata dan bibirnya terlihat bengkak. Lalu dia membuka selimutnya dan mengarahkan cermin itu. Matanya membeliak melihat tanda merah dimana-mana.
__ADS_1
Nesa mendengar pintu kamar ada yang membuka. Cepat-cepat dia menaruh cermin di tempat semula dan kembali menutupi tubuhnya yang masih polos dengan selimut.
"Sudah bangun?" Tanya Adam dengan membawa nampan di tangannya dan mendekat ke arah Nesa
Adam duduk di tepian tempat tidur,tepat di depan Nesa. Nesa membuang muka dan bersikap acuh.
"Aku sudah membawakanmu sarapan. Makanlah" Ujar Adam dengan wajah tanpa dosa
"Aku tidak lapar" Jawab Nesa ketus
"Ini sudah pagi. Tidak mungkin kamu tidak lapar. Makanlah" Pinta Adam
"Aku tidak mau makan" Jawabnya lagi masih membuang muka dan enggan menatap Adam
"Tapi kamu harus makan. Aku suapi" Adam terkesan memaksa tapi masih dengan suara pelan
"Setelah kejadian semalam,kamu masih bisa bersikap seperti ini?" Tanya Nesa dengan kesal
"Lalu aku harus bersikap seperti apa?" Adam bertanya balik
"Tentu aku menyesal dan aku pasti akan bertanggung jawab atas perbuatanku semalam" Sambung Adam
Nesa masih diam tak merespon.
"Kamu sudah menyakitinya" Ujar Nesa sambil menatap wajah Adam dengan raut wajah kecewa
"Kamu masih memikirkannya?" Adam terlihat agak kesal sambil menghela nafasnya
"Mas Firman tidak bersalah. Aku yang mengajaknya. Harusnya kamu suruh pengawalmu itu untuk memukulku,bukan dia" Nesa terlihat emosional
"Kamu bicara apa? mana mungkin aku melakukan itu terhadapmu. Aku hanya tidak suka kamu dekat dengan dia" Balas Adam sambil memalingkan wajahnya
"Tapi tetap saja tindakanmu itu salah. Lagipula bukan hak mu lagi untuk mencampuri semua urusanku. Aku bukan siapa-siapa kamu lagi" Ujar Nesa dengan tegas
"Tapi aku masih mencintaimu. Kamu mengerti apa tidak sih?" Adam mulai tersulut
"Lihatlah. Kamu selalu saja menghadapi semua permasalahan dengan amarah" Komentar Nesa
"Aku tidak ingin berdebat. Cepat makan" Pinta Adam sekali lagi
"Aku ingin pulang" Ucap Nesa tiba-tiba
__ADS_1
"Kamu tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti itu. Lihatlah wajahmu?"
"Ini semua kan karena ulah mu" Sungut Nesa
"Tapi aku harus bekerja" Nesa beralasan
"Aku sudah menelfon direktur rumah sakit untuk meminta ijin kamu tidak bisa masuk hari ini" Nesa menatap Adam dengan bingung
"Kebetulan aku mengenal direktur rumah sakit" Ucap Adam seolah sudah mengerti apa yang akan Nesa tanyakan
"Tapi papa dan mama pasti cemas mencariku karena aku berjanji akan pulang hari ini" Nesa berkilah lagi
"Sudahlah Nesa mereka tidak akan cemas karena mereka tahu aku menyusulmu. Mereka pasti akan berpikir kamu aman bersamaku" Ucap Adam menanggapi membuat Nesa tidak bisa beralasan lagi
"Sekarang makanlah" Adam memotong roti panggang yang di bawanya tadi dan menyodorkannya di depan mulut Nesa.
Nesa agak terkejut melihat buku-buku jari tangan Adam yang terluka. Tapi sebisa mungkin Nesa berusaha untuk tidak terpancing rasa iba. Luka di tangannya tidak sebanding dengan luka di hatinya saat ini.
Nesa kesal. Nesa mengambil roti yang di pegang Adam dengan tangannya dan langsung memakannya tanpa alat makan. Nesa mengunyah roti itu dengan cepat.
"Hati-hati. Nanti kamu bisa tersedak" Adam menegur Nesa dengan pelan
Nesa tidak peduli. Nesa terus saja menggigit dan mengunyah roti tersebut dengan cepat dan menghabiskannya dengan sangat terpaksa.
"Aku sudah menghabiskan sarapanku. Sekarang aku ingin mandi" Nesa turun dari tempat tidur dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya
"Aauuww" Tiba-tiba Nesa terpekik sambil memegangi bagian intimnya
"Kenapa?" Tanya Adam panik
"Sakit" Nesa meringis
"Aku bantu kamu ke kamar mandi" Adam hendak menggendong tubuh Nesa tapi Nesa mencegahnya
"Tidak perlu. Aku masih bisa jalan sendiri" Tolak Nesa
"Diamlah. Bisa kan tidak membantah" Ucap Adam dengan tegas. Adam membopong tubuh Nesa ke dalam kamar mandi.
Walaupun kata-katanya tajam setajam tatapannya tapi itulah sebuah bentuk tanggung jawab Adam pada Nesa.
Bersambung....
__ADS_1
Tetap like,komennya ya. author suka sedih kalau gak nglike 😥 ( Maksa ) 😁
Happy reading ❤