
Hari ini Nesa bersikap acuh pada Adam. Sampai Adam selesai mandi pun dia masih bermalas malasan di atas tempat tidur. Adam agak sedikit heran dengan sikap Nesa.
"Kamu kenapa?" Tanya Adam pada Nesa yang sedang sibuk memainkan ponselnya
"Memangnya aku kenapa? Apa aku kelihatan seperti orang sakit?" Nesa bertanya balik dengan nada bicara yang agak ketus
"Hari ini kamu tidak menyiapkan baju kerja ku?" Tanya Adam lagi
"Aku sangat lelah. Tidak apa-apa kan jika kamu mengambilnya sendiri hari ini?" Balas Nesa dengan malas
"Iya aku bisa mengambilnya sendiri" Ucap Adam tanpa protes
Adam semakin bingung. Adam menuju lemari untuk mengambil sendiri baju kantornya. Sambil terus memperhatikan Nesa,Adam memakai bajunya satu persatu. Nesa tak sedikit pun menoleh padanya. Masih sibuk dengan ponselnya. Akhirnya Adam terusik untuk bertanya lagi.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan ponsel mu?"
"Tidak ada" Singkat Nesa
"Kamu marah padaku?" Tanya Adam akhirnya
"Tidak" Nesa menjawab singkat sekali lagi
"Aku minta maaf. Semalam aku benar-benar lelah. Tidak usah berpikir yang tidak-tidak lagi" Ucap Adam sambil membelai rambut Nesa
Nesa bercedak dalam hati.
"Kamu berkata seperti itu untuk menutupi semuanya. Katakan saja jika kamu masih menyalahkan aku atas kejadian itu" Nesa menatap Adam dengan tatapan sendu
"Aku berangkat dulu. Tidak usah menungguku karena..." Adam akhirnya berpamitan
"Karena kamu akan pulang malam. Ya aku sudah tahu" Nesa memotong dan meneruskan kalimat Adam dengan nada bicara yang terlihat marah
Adam tidak menanggapi. Lalu Adam hendak mencium kening Nesa tapi Nesa malah melengos dan membuang muka ke arah lain. Antara ingin marah dan sedih,akhirnya airmata itu menetes juga.
"Kamu tidak percaya padaku?" Tanya Adam seolah mengerti arti dibalik sikap Nesa
"Pergi" Nesa mengusir Adam. Bibirnya bergetar karena tangis. Adam agak terkejut sambil mengerutkan kening. Dengan pelan Adam menarik dagu Nesa untuk menghadapnya
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Adam
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa menangis" Nesa menepis tangan Adam
"Kamu berpikir apa tentangku? bukankah selama ini aku bersikap baik terhadap mu?" Tanya Adam dengan intonasi tinggi
"Aku bilang pergi" Nesa mengusir Adam sekali lagi. Nesa sudah sangat malas dengan kepura-puraan Adam selama ini
"Nesa...kamu benar-benar memancing emosiku ya" Adam membentak Nesa balik
"Lalu apa mau kamu?" Nesa terdengar menantang Adam
Adam menghela nafas sambil memejamkan matanya. Dia berusaha agar dia tidak sampai membentak Nesa lagi. Tapi selanjutnya,Adam justru mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk di hati Nesa
"Daripada kamu marah-marah,sebaiknya kamu belajar memahami diri kamu sendiri agar jika kamu hamil lagi nanti,kamu tidak akan ceroboh lagi" Kekecewaan yang Adam pendam selama ini akhirnya meluap begitu saja
Kata-kata Adam memekakkan telinga Nesa. Terjawab sudah apa yang selama ini ingin diketahui Nesa. Adam pergi begitu saja membawa serta amarahnya yang tadi sempat tumpah.
Nesa masih bergeming. Tentu Nesa merasa kecewa dan sakit hati. Nesa semakin yakin untuk pergi jauh sementara waktu. Dengan begitu Nesa berharap Adam akan sadar dengan kesalahannya.
Nesa keluar dari rumah secara terang-terangan. Dia tak akan ambil pusing jika kepergiannya nanti akan diketahui oleh papa dan mamanya Adam.
"Kamu mau kemana?" Tanya Surya kemudian
"Nesa mau pergi pa" Jawab Nesa dengan wajah kesal
"Pergi bagaimana maksud kamu? Duduk dulu,dan jelaskan pada papa" Surya agak terkejut sambil menuntun Nesa untuk duduk di ruang tamu
"Kamu bertengkar dengan Adam?" Tanya Surya dengan serius
Nesa menjawabnya dengan anggukan.
"Apa pertengkaran kalian masih tentang keguguran yang kamu alami?" Tanya Surya lagi
Nesa kembali mengangguk.
"Pantas saja tadi Adam langsung pergi tanpa sarapan terlebih dulu. Wajahnya juga terlihat sangat marah" Ucap Surya memberitahu
__ADS_1
"Dia menyalahkan aku pa atas keguguran yang aku alami. Aku tidak mungkin dengan sengaja membunuh anakku sendiri. Aku memang tidak menyadari jika aku hamil" Nesa menjelaskan pada Surya dengan sungguh-sungguh
"Mungkin dia hanya kecewa dengan takdir Nesa. Dan kekecewaannya itu secara tidak sengaja sudah mempengaruhi sikapnya terhadap kamu" Surya menanggapi dengan kalimat yang mudah untuk diterima dengan akal
"Aku tidak tahu pa. Yang jelas aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus pergi" Perkataan Surya tidak bisa membuat hati Nesa luluh begitu saja
"Kembali ke kamar. Biar papa yang akan bicara dengan Adam nanti" Pinta Surya dengan tegas
"Percuma papa bicara. Aku saja sudah lelah untuk berdebat dengannya. Keputusan aku sudah bulat. Aku harus pergi untuk sementara waktu" Nesa bersikeras
"Adam pasti mencari mu" Surya berusaha mencegah kepergian Nesa
"Dia tidak akan mencariku pa. Dia sudah tidak peduli lagi sama aku" Bantah Nesa
"Tidak mungkin Adam tidak peduli dengan istrinya sendiri. Kalian itu hanya sama-sama emosi. Jika tidak ada yang mengalah,maka persoalan kalian tidak bisa diselesaikan dengan baik" Ucap Surya lagi menasehati
"Selama ini aku merasa aku sudah menjadi istri yang baik. Walaupun sikapnya berubah,aku masih berusaha melayaninya dengan baik. Tapi aku tidak bisa diperlakukan terus menerus seperti ini. Aku kecewa pa" Nesa menatap Surya dengan tatapan sendu
"Papa mengerti tapi kamu akan pergi kemana?" Tanya Surya khawatir
"Aku..." Nesa terlihat bingung mencari jawabannya
"Aku akan menginap di rumah papa dalam beberapa hari ini" Jawab Nesa akhirnya walaupun bukan kesana tujuan Nesa yang sebenarnya
"Jika kamu tetap bersikeras,papa tidak bisa menghalangi. Papa akan coba bicara dengan Adam nanti" Surya akhirnya pasrah dengan keputusan Nesa
"Aku pamit pa" Nesa mencium tangan Surya,lalu pergi
Nesa memesan taksi online. Dia tidak membawa mobil sendiri karena dia akan pergi ke Bandara untuk melakukan penerbangan dengan tujuan ke Bali. Tempat yang belakangan ini ingin sekali dia kunjungi. Tempat dimana awal perkenalannya dengan Adam.
Nesa merasa sedikit bersalah pada Surya karena sudah membohonginya. Tidak mungkin dia pergi ke rumah papanya karena Nesa tidak ingin melibatkan orang tuanya atas masalah yang sedang menimpanya. Tidak pantas rasanya jika sudah menikah tapi masih mengeluh pada orangtua.
Di perusahaan,Adam tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Adam terus saja memikirkan pertengkarannya dengan Nesa tadi pagi. Adam menarik rambutnya ke belakang,lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia sadar,sikapnya sudah keterlaluan. Dia bahkan sangat menyesali perkataan yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya. Dia sudah memaki Nesa,mengatainya ceroboh. Adam menghela nafas karena dadanya sudah mulai sesak.Adam tidak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Nesa saat ini. Tapi penyesalan Adam mungkin saja sudah terlambat karena Nesa sudah pergi untuk sementara waktu.
Bersambung....
__ADS_1
Walaupun cinta mereka begitu besar tapi mereka juga manusia biasa yang bisa marah dan kecewa. Karena cinta tidak melulu tentang kemesraan. Justru pertengkaran bisa lebih memperkuat cinta seseorang. Yang aneh itu jika dalam hubungan tidak pernah ada pertengkaran.