
Dengan perlahan,Nesa menarik tangannya dari genggaman Adam sambil memalingkan wajah menatap ke arah lain. Nesa bingung harus meresponnya seperti apa.
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi yakinlah kalau aku benar-benar serius dengan ucapanku. Aku bahkan sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu. Dan aku semakin yakin dengan perasaanku setelah kita menghabiskan waktu bersama dalam dua hari terkahir ini. Dan sekarang aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi" Terang Adam panjang lebar
"Apa kata-katamu bisa aku percaya?" Tanya Nesa memastikan ucapan Adam
Adam menarik dagu Nesa sehingga tatapan mereka bertemu.
"Lihatlah aku Nesa. Apa mataku terlihat berbohong?" Tanya Adam dengan raut wajah serius
Nesa menatap mata Adam dalam-dalam,tidak ada guratan kebohongan disana. Mata itu benar-benar tulus sedang menatapnya sekarang dengan penuh pengharapan.
Nesa menundukkan wajahnya tidak mampu menatapnya lagi.
"Aku bingung harus menjawab apa" Balas Nesa bimbang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya
"Bukankah selama ini kamu juga sangat nyaman berada didekatku? Kamu bahkan mengatakan jika kamu sangat bahagia ketika bersamaku" Adam berusaha meyakinka Nesa
Nesa menyadari semua yang dikatakan Adam itu memanglah benar. Nesa tidak bisa berbohong pada perasaannya sendiri jika saat ini,dia juga sangat menginginkan Adam.
"Baiklah Nesa. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Maaf jika aku terkesan memaksamu tadi" Ucap Adam putus asa sambil berbalik badan dan berlalu meninggalkan Nesa
Tapi tiba-tiba saja Nesa berhambur ke arah Adam dan memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku Mas. Untuk sesaat,aku sempat meragukanmu tapi aku juga tidak bisa berbohong pada perasaanku sendiri. Aku juga sangat mencintaimu,bahkan aku sangat takut kehilanganmu" Ucap Nesa sambil terus mengeratkan pelukannya
Adam menghelas nafasnya dan tersenyum bahagia. Kemudian Adam berbalik dan menghadap Nesa.
"Benarkah yang aku dengar ini?" Tanya Adam sambil merangkum wajah Nesa dengan kedua tangannya
Nesa mengangguk pelan.
"Itu berarti kamu bersedia menjadi kekasihku?" Tanya Adam memastikan
"Aku bersedia" Jawab Nesa tanpa ragu
Adam memeluk Nesa kembali dengan sangat erat dan semakin dalam seolah tidak ingin melepasnya walaupun hanya sedetik. Setelah cukup lama berpelukan,mereka saling melepas dan kembali saling tatap. Perasaan yang kian membuncah tidak bisa dikendalikannya lagi hingga Adam mengangkat dagu Nesa dan memagut bibirnya dengan segenap perasaan yang ada.
Nesa membeliakkan matanya mendapatkan ciuman dari Adam yang tiba-tiba. Sedangkan Adam terus saja memagut bibir Nesa tanpa ada tanda-tanda untuk melepasnya. Nesa terlihat kaku tidak membalas pagutan bibir Adam karena ini ciuman pertama Nesa.
Setelah beberapa saat,Adam menghentikan ciumannya. Nesa masih diam seribu bahasa tak mampu mengucapkan kata-kata saking terkejutnya.
"Apa kamu marah?" Bisik Adam ditelinga Nesa dengan masih merangkul tubuhnya
"Ti-tidak" Nesa gugup hingga tidak bisa berkata-kata dengan benar
__ADS_1
"Apa boleh aku mengulanginya sekali lagi?" Goda Adam yang sudah diselimuti gairah
Tanpa menunggu jawaban Nesa,Adam langsung saja mendaratkan bibirnya di bibir Nesa. Dilumatnya bibir Nesa sambil sesekali memberikan gigitan-gigitan kecil disana. Adam semakin memperdalam ciumannya dan lebih lama dari ciuman sebelumnya. Setelah mereka sama-sama kehabisan nafas,Adam menyudahi aksinya. Bersamaan dengan itu juga Nesa memeluk Adam sangat erat dengan nafas yang terengah.
"Mas Adam" Ucap Nesa dengan lembut
"Apa?" Balas Adam dengan nada yang tak kalah lembutnya
"Aku malu" Nesa menenggelamkan kepalanya di dada Adam
"Malu kenapa?" Tanya Adam
"Ini ciuman pertamaku" Jawab Nesa dengan polosnya
"Iya aku tahu itu" Adam mengusap lembut kepala Nesa sambil tersenyum
"Terimakasih sudah menjadikanku orang pertama yang menyentuh bibirmu" Ucap Adam sambil mengecup pucuk kepala Nesa
"Apa mas Adam mau berjanji?" Tanya Nesa kemudian
"Berjanji untuk apa?" Adam bertanya sebelum menjawabnya
"Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi nanti" Pinta Nesa dengan segenap perasaannya
"Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin memilikimu sampai akhir" Ucap Adam tanpa ragu
"Terimakasih. Aku juga sangat mencintaimu" Balas Nesa bersungguh-sungguh
"Apa masih ingin tetap seperti ini?" Seloroh Adam
Bukannya melepas,Nesa malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa kamu sudah lelah memelukku?" Tanya Nesa menanggapi
"Tidak. Kamu bisa memelukku sampai puas" Jawab Adam dengan nada yang menggoda
Setelah cukup lama,Nesa mengurai pelukannya.
"Pulanglah bersamaku besok. Aku khawatir meninggalkanmu sendiri disini. Saat ini kamu sudah menjadi kekasihkukekasihku, jadi aku merasa bertanggung jawab atas kamu" Pinta Adam kemudian
"Baiklah aku akan pulang bersamamu besok" Jawab Nesa menyanggupi
"Terimakasih. Sekretarisku akan mengurus keberangkatan kita besok" Ucap Adam
Tiba-tiba orang yang sedang dibicarakan mengetuk pintu kamar Adam. Lalu Adam membukakan pintu.
__ADS_1
Sekretais Bian masuk dan terkejut setelah melihat Nesa yang juga berada disana.
"Ada apa Bian?" Tanya Adam
"Maaf Tuan,saya hanya ingin memastikan apa kita jadi pulang besok?" Tanya Sekretaris Bian sambil sesekali melirik kearah Nesa
"Iya kita akan kembali besok" Jawab Adam
"Baik Tuan. Saya akan siapkan tiket penerbangannya"
"Nesa berikan kartu identitasmu biar sekalian Bian yang akan mengurus tiketmu juga" Pinta Adam
Dengan cepat Nesa mengambilnya di dalam tas yang tergeletak dikasur dan memberikannya pada Sekretaris Bian.
"Siapkan juga tiket penerbangan untuk kekasihku" Ucap Adam tanpa malu
Sekretaris Bian masih tak percaya. Bos yang selama ini selalu dingin pada semua perempuan,sekarang tiba-tiba saja dia mengaku gadis yang berdiri disampingnya itu sebagai kekasihnya.
"Nesa,perkenalkan ini Bian sekretarisku" Ucap Adam memperkenalkan
"Nesa" Dengan cepat Nesa mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis pada Sekretaris Bian
"Saya Bian nona. Sekretaris Tuan Adam" Sekretaris Bian menjabat tangan Nesa
"Senang bisa berkenalan dengan anda Sekretaris Bian" Ucap Nesa lembut
"Terimakasih nona" Balas Sekretaris Bian sambil tersenyum
"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kamu katakan cepatlah kembali ke kamarmu Bian" Pinta Adam seolah ingin mengusir Sekretaris Bian
Sepertinya Adam laki-laki yang sangat pencemburu hingga dia tampak tidak rela melihat Nesa menyentuh tangan Sekretaris Bian.
"Ba-baik Tuan" Sekretaris Bian agak terbata karena kedapatan memandangi wajah Nesa
Setelah Sekretaris Bian menghilang dibalik pintu,Nesa terusik untuk bertanya pada Adam karena penasaran.
"Dia sekretarismu? Apa kamu seorang bos? Aku bahkan belum tahu apa pekerjaanmu"
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri" Ucap Adam ringan sambil tertawa kecil
"Mas,kamu curang" Protes Nesa sambil mencubit pinggang Adam
"Untuk sementara kamu bisa menduga-duganya dulu karena aku tidak tertarik untuk mengatakannya" Adam semakin mengeraskan tawanya hingga membuat Nesa berwajah masam.
Bersambung...
__ADS_1