Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Saling Melepas Rindu


__ADS_3

Nesa merangkum wajah Adam dengan kedua tangannya sambil menatapnya tak percaya. Ketika dirinya sudah berputus asa,keajaiban itu datang tanpa dia duga-duga. Tak terasa Nesa kembali berlinang air mata. Tapi kali ini bukan air mata sedih,melainkan air mata kebahagiaan.


"Apa tidak lelah menangis terus?" Adam mengusap pipi Nesa yang basah


Nesa bergeming. Ditatapnya lagi wajah Adam dengan raut wajah yang sulit di jelaskan.


"Tidak mau memeluk ku?" Adam merentangkan tangannya sambil tersenyum


Nesa tidak bisa lagi menahan segala kerinduannya,menjatuhkan tubuhnya di dada Adam hingga tubuh Adam agak terhempas ke belakang. Mereka berpelukan sangat erat dan cukup lama.


Setelah itu Nesa mengurai pelukannya dan menghujani wajah Adam dengan ciuman. Kemudian Nesa membuka satu persatu kancing kemeja Adam sampai baju itu terlepas dari tubuhnya. Nesa memberikan kecupan-kecupan disana. Mulai dari leher,dada bahkan ketiak Adam juga tak luput dari ciumannya.


"Aku merindukan aroma tubuh kamu sayang" Nesa belum menghentikan cumbuannya hingga membuat Adam nampak tertegun.


"Sayang,sepertinya kamu benar-benar merindukan ku ya?"


"Kamu membuatku hampir mati. Aku sangat membenci mu karena kamu tidak mau bangun" Gerutu Nesa,menghentikan ciumannya


"Aku tahu,setiap hari kamu menangis di hadapan ku. Kamu berusaha mengajak ku untuk berbicara. Aku mendengar dan aku juga merasakannya. Tapi tubuh ku tidak bisa aku gerakkan. Aku tidak bisa mengusap air mata mu. Mulut ku juga tidak bisa berkata-kata" Ucap Adam sambil merangkum wajah Nesa


"Aku minta maaf. Aku sangat takut kehilangan mu. Aku..."


"Sssttt...." Adam menempelkan telunjuknya di bibir Nesa


"Kamu sudah banyak berbicara. Kamu juga sudah banyak menangis. Sekarang izinkan aku untuk menebus semuanya"


Adam mengecup bibir Nesa dengan sangat mesra,lalu memagutnya. Nesa mengalungkan tangannya di leher Adam. Merasakan setiap cumbuan Adam. Bibir Mereka saling bertautan,mereka saling membalas ciuman mereka satu sama lain.


"Kamu memakai baju ku?" Tanya Adam sambil membuka kancing baju Nesa dan melucutinya


"Iya. Itu karena aku sangat merindukan mu" Nesa membiarkan apa yang Adam lakukan hingga tubuhnya menjadi polos.


"Lakukan apa saja yang kamu mau. Aku tidak akan marah lagi" Ucap Nesa sambil memejamkan matanya


"Benarkah?" Jari-jari tangan Adam mulai menjelajah di leher Nesa


Adam memberikan kecupan-kecupan disana. Setelah itu Adam membaringkan tubuh Nesa dan tangannya mulai bergerak kemana-mana.


Beberapa saat kemudian,Adam menghentikan cumbuannya dan duduk membelakangi Nesa. Sontak saja Nesa memeluk Adam dari belakang.


"Jangan hentikan. Aku masih merindukan mu. Aku masih menginginkannya. Kita masih bisa melakukan lebih dari ini" Peluk Nesa. Karena rindu yang teramat dalam,Nesa jadi kehilangan kewarasannya dan lupa dengan prinsipnya sendiri


Sedangkan Adam melepaskan pelukan Nesa dengan pelan,lalu berbalik badan dan menatap Nesa.


"Tidak sekarang sayang. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" Adam mengusap lembut pipi Nesa


Nesa sempat tertegun sebentar tapi kemudian kepalanya mengangguk pelan.


"Terimakasih atas cinta yang begitu tulus yang kamu berikan untuk ku" Ucap Adam lagi


Nesa terbawa perasaan dan kembali memeluk Adam.

__ADS_1


"Jangan lakukan hal bodoh lagi. Aku benar-benar bisa mati" Ucapnya dalam pelukan Adam


"Apa aku harus celaka dulu,agar kamu menyadarinya" Sarkas Adam


"Tidak. Jangan pernah berkata seperti itu" Nesa mengusal wajahnya di dada Adam


"Katakan. Dimana kamu simpan surat perjanjiannya?" Tanya Adam kemudian


"Memangnya kenapa?" Nesa bertanya balik sambil menatap wajah Adam


"Tentu saja kamu harus segera menandatanganinya. Apa masih harus dengan syarat?"


"Tidak. Aku tidak butuh surat perjanjian itu dan aku juga tidak akan memberikan mu syarat apa pun" Jawab Nesa


Adam tampak menghela nafas sambil tersenyum.


"Rupanya Nesa ku sudah kembali. Nesa yang manis,Nesa yang lembut,Nesa yang penuh perhatian dan kasih sayang. Nesa yang aku kenal di Bali. Yang tidak sengaja melempar botol kaleng ke kepala ku" Adam menggombal sambil tertawa kecil


"Sayang..." Nesa sedikit terharu dengan candaan Adam


"Apa perlu kita pergi k Bali untuk mengenang awal pertemuan kita dulu"


"Rasanya aku tidak menginginkan apa pun saat ini. Aku hanya menginginkan kamu"


"Tapi sepertinya seru juga jika kita pergi ke Bali sebelum kita sibuk mempersiapkan pernikahan kita"


"Sayang,apa dokter Handoko tidak mengatakan apa pun? Apa kamu benar-benar sudah sehat?" Tanya Nesa agak khawatir


"Sayang jangan bercanda. Matahari belum terbit. Sebaiknya kamu beristirahat. Aku masih mencemaskan keadaan mu"


"Aku ingin tidur tapi di pelukan mu"


"Aku pakai baju ku dulu ya"


"Tidak usah" Adam membaringkan tubuh Nesa. Lalu membaringkan tubuhnya sendiri sambil memeluk Nesa


"Sayang apa boleh aku bertanya sesuatu?"


"Mau bertanya apa?" Adam memainkan ujung rambut Nesa seperti yang sering dia lakukan dulu


"Siapa Sabrina?" Tanya Nesa sambil mendongakkan wajahnya pada Adam


"Sabrina? Apa dia datang ke rumah sakit waktu aku koma?"


"Iya. Sepertinya dia sangat peduli pada mu?"


"Hanya teman"


"Apa kamu juga menyukainya?"


"Tidak"

__ADS_1


"Benarkah? Bukankah dia gadis yang sangat cantik?"


"Sayang aku tidak suka ada orang lain dalam obrolan kita"


"Tapi aku cemburu. Sedekat apa hubungan kamu dengan Sabrina?"


"Benarkah kamu cemburu?"


"Sayang jawab. Dia lebih cantik dari ku kan?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah memperhatikan wajahnya"


"Ah bohong"


"Sayang jika kamu tidak berhenti berbicara,aku akan membungkam mulut mu"


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu menjelaskan"


"Apa yang harus aku jelaskan?"


"Sabrina? Apa dia sering datang ke kantor mu? Dan sejak kapan kamu mengenalnya? Kenapa aku tidak pernah tahu jika kamu mempunyai teman wanita?"


Bukannya menjawab,Adam malah membungkam mulut Nesa dengan mulutnya.


"Jawab dulu" Nesa malah melepaskan ciuman Adam


"Sayang,kenapa kamu keras kepala sekali sih?"


"Aku sangat cemburu"


"Tidak ada alasan untuk kamu cemburu. Aku tidak memiliki cerita apa pun dengannya. Aku hanya malas saja untuk membahasnya karena aku memang tidak menyukainya"


"Apa sudah lama kamu mengenalnya?"


"Aku mengenalnya pada waktu yang sama dengan pertemuan pertama kita. Kamu masih ingat kan,waktu itu aku menghadiri sebuah pesta di Bali dan pesta itu adalah pestanya tuan Anton,papanya Sabrina. Lalu Tuan Anton memperkenalkan aku dengannya"


"Setelah itu?"


"Setelah itu beberapa kali kita sempat bertemu dan sepertinya dia memang mencoba untuk mendekati ku. Tapi hanya sebatas itu saja,aku juga tidak peduli"


"Itu berarti dia menginginkan mu sayang"


"Ya mungkin saja"


"Kamu hanya milik ku sayang. Tidak boleh ada yang mendekati mu,termasuk Sabrina" Nesa memeluk Adam dengan manja


"Iya sayang. Tidak usah membahasnya lagi. Aku ingin kita saling melepas rindu" Adam mengecup kening Nesa dan kembali memeluknya


Adam dan Nesa terjebak dalam obrolan yang panjang sebelum akhirnya mereka sama-sama tenggelam dalam mimpi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2