
Perutnya yang terasa lapar membuat Nesa terbangun dari tidur. Nesa tampak menarik nafas lega saat melihat ke sisi kanan,Adam masih ada disana dan sedang tertidur pulas. Ketika melihat penunjuk waktu di ponselnya,Nesa agak terkejut karena ternyata hari sudah siang.
"Pantas saja perutku sangat lapar"
Tidak ingin mengganggu tidur Adam,Nesa turun dari kasur sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Kemudian Nesa mengambil bajunya yang teronggok di lantai dan segera memakainya.
Nesa pergi ke dapur untuk melihat isi kulkas tapi Nesa harus kecewa karena ternyata tidak ada apa pun yang bisa ia makan. Untuk menghilangkan rasa laparnya,Nesa menuangkan susu ke dalam gelas dan menenggaknya sampai tandas.
Tadinya Nesa berpikir akan memesan makanan lewat pesan antar tapi dia urungkan karena dia ingin memasak makanan sehat untuk Adam. Jika pergi sendiri ke supermarket itu tidak mungkin. Nesa khawatir Adam akan bangun dan mencarinya. Tiba-tiba saja Nesa teringat dengan Sekretaris Bian dan mencoba menghubunginya.
Nesa mendial nomor kontak Sekretaris Bian dan tersambung.
"Iya nona,ada yang bisa saya bantu?" Orang yang di ujung sana langsung menjawab telfonnya
"Apa kamu sedang sibuk?" Tanya Nesa
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Bisa minta tolong pergi ke supermarket tidak? Aku ingin memasak makan siang untuk mas Adam tapi tidak ada apa-apa disini"
"Bisa nona. Akan segera saya antarkan apa yang anda inginkan ke...?"
"Ke apartemennya mas Adam" Nesa menginterupsi
"Iya saya sudah tahu nona"
"Hah...?"
"Karena semalam saya yang mengantar Tuan Adam kesana" Sekretaris Bian menjelaskan seolah sudah mengerti apa yang akan Nesa tanyakan selanjutnya
"Oh oke baiklah. Aku tunggu" Nesa memutus sambungan telfonnya
Sembari menunggu Sekretaris Bian datang,Nesa menyalakan tv di ruang tamu sambil duduk santai disana. Sesekali Nesa juga mengecek Adam yang sedang tidur di kamar. Belum lama menunggu,pintu sudah ada yang mengetuk. Sekretaris Bian datang membawa belanjaan yang Nesa pesan tadi. Nesa mempersilahkan Sekretaris Bian masuk.
"Bagaimana keadaan Tuan Adam nona?" Tanya Sekretaris Bian sambil menyerahkan barang belanjaannya pada Nesa
"Mas Adam baik-baik saja tapi dia masih tidur" Jawabnya santai
"Saya sangat senang akhirnya Tuan Adam bisa sadar dari koma" Ujar Sekretaris Bian lagi
"Terimakasih"
"Ngomong-ngomong Kenapa cepat sekali? Memangnya kamu belanja dimana?" Tanya Nesa agak heran
"Di supermarket dekat apartemen"
"Memangnya waktu aku menelfon mu tadi,kamu ada dimana?" Tanya Nesa ingin tahu
"Di apartemen saya nona"
__ADS_1
"Disini juga?" Tebak Nesa
"Iya. Kamar saya ada di sebelah kamar ini"
"Apa?" Nesa agak terkejut karena dia tidak pernah tahu dimana Sekretaris Bian tinggal
"Kenapa nona?"
"Tidak. Aku baru tahu jika kamu tinggal disini juga"
"Apa kamu tidak pergi ke kantor?" Tanyanya kemudian
"Rencananya setelah ini saya akan ke kantor. Karena jadwal hari ini agak longgar jadi saya bisa ke kantor siang hari"
"Oh..."
"Kalau begitu saya pergi dulu nona. Sampaikan salam saya pada Tuan Adam" Sekretaris Bian berpamitan
"Baik. Terimakasih banyak atas bantuannya" Balas Nesa sambil tersenyum
"Tidak perlu sungkan nona. Jika anda butuh sesuatu,hubungi saja saya" Ucapnya lagi dengan sopan
"Oke" Nesa menjawab singkat. Sekretaris Bian pun pergi dari apartemen Adam
Nesa mengikat rambutnya dan membawa belanjaan tadi ke dapur. Setelah membersihkan semua bahan-bahan,Nesa mulai memasaknya. Sebenarnya Nesa belum terlalu sering memasak makanan yang agak berat seorang diri,kalau pun dia memasak di rumahnya tentu saja semua bahan-bahan sudah disiapkan oleh pelayan hingga tangan Nesa tak perlu kotor-kotor untuk membersihkan bahan yang akan dimasak. Yang sering Nesa masak itu hanyalah makanan yang instan-instan saja.
Saking semangatnya,tangan Nesa sampai tergores pisau saat memotong sayuran. Nesa menyalakan kran dan mengguyur lukanya dibawah air. Setelah itu Nesa mengambil plaster luka dan membalut lukanya.
"Tidurnya nyenyak sekali ya?" Tanya Nesa
"Sudah jam berapa?" Adam bertanya balik dengan suara yang sedikit serak
"Sudah jam satu siang" Jawab Nesa sambil menatap wajah Adam
"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajah ku?" Adam menyadari Nesa sedang menatapnya
"Aku sempat cemas tadi, karena kamu tidurnya lama sekali" Ucap Nesa dengan nada yang sedikit khawatir
"Kamu takut aku koma lagi?" Tanya Adam sambil mengulas senyum
"Ya. Tentu saja. Koma yang kamu alami membuat ku trauma" Jawab Nesa sambil merebahkan kepalanya di dada Adam
"Tidak usah cemas" Ucap Adam sembari membelai rambut Nesa
"Sayang" Nesa mengangkat wajahnya dan menatap Adam lagi
"Apa?" Balas Adam dengan lembut
"Tidak apa-apa. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Yang jelas aku sangat bahagia saat ini" Ujar Nesa dengan perasaan haru
__ADS_1
"Aku pun begitu"
"Apa kamu belum mandi?" Tanya Adam kemudian
"Memangnya kenapa? Apa badan ku bau?" Nesa bertanya balik sambil mencium badannya sendiri
"Tidak juga. Tapi sepertinya kamu habis melakukan suatu pekerjaan" Jawab Adam sambil menggenggam tangan Nesa
"Ah iya aku sampai lupa. Aku sudah memasak makan siang untuk kita berdua"
"Apa karena memasak tangan mu sampai seperti ini?" Adam mendapatkan jari Nesa terbalut plaster saat menyentuh tangannya
Nesa hanya mengangguk mengiyakan.
"Lain kali tidak usah memasak lagi. Kita bisa memesannya dari luar" Protes Adam
"Tapi jika nanti aku sudah jadi istri mu,aku akan sering-sering memasak bukan?" Komentar Nesa
"Kenapa begitu?" Tanya Adam tidak mengerti
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan waktu itu,kamu hanya mau makan masakan ku. Kamu tidak mau dimasak oleh pelayan"
"Apa kamu mempercayainya?"
"Tentu saja" Jawabnya yakin
"Aku hanya bercanda. Tidak lucu jika istri seorang direktur tangannya menjadi kasar dan terlihat seperti pelayan di rumahnya sendiri" Ujar Adam agak protes
"Aku pikir kamu serius sayang. Tapi aku tidak keberatan jika harus memasak untuk kamu setiap hari" Nesa menanggapi
"Kamu bisa gombal juga ya" Adam menarik dagu Nesa
"Aku tidak gombal"
"Tapi mana sempat kamu memasak untuk ku setiap hari,kamu pasti sibuk di rumah sakit nanti. Lagi pula jika kamu yang memasak,untuk apa aku membayar pelayan di rumah" Gerutu Adam
"Ya kamu benar juga"
"Aku sudah lapar. Tapi kita mandi dulu. Baru setelah itu kita makan" Ucap Adam tiba-tiba sambil turun dari kasur
Setelah menyelesaikan ritual mandinya. Mereka pergi ke meja makan untuk makan siang.
"Apa kamu yang membeli ini semua?" Tanya Adam yang melihat menu di meja makan lebih dari satu macam
"Tidak. Aku tadi menyuruh Sekretaris Bian" Jawab Nesa sambil menarik kursi dan duduk disana
"Bian datang kesini?" Tanya Adam lagi
"Iya"
__ADS_1
Setelah makan siang,mereka memutuskan tetap berada di apartemen dan menghabiskan waktu bersama. Bagi mereka tidak ada kata cukup untuk saling melepas rindu setelah cukup lama tidak saling bercengkrama.
Bersambung...