Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Ini Ujian


__ADS_3

Adam segera kembali lagi ke rumah sakit setelah Sintia menelfon dan memberitahu jika Nesa sudah sadar dan dokter juga sudah memeriksa kondisinya.


Sebelum masuk ke dalam,Adam bertemu dengan papa dan mamanya di parkiran.


"Adam sebenarnya apa yang kamu lakukan di rumah? Kenapa tadi kamu terlihat buru-buru?" Tanya Sintia penasaran


Adam terdiam sesaat sambil menghembuskan nafas pelan.


"Aku menguburkan janin yang keluar dari tubuh Nesa ma" Jawab Adam dengan raut wajah sedih


"Jadi benar,Nesa keguguran?" Tanya Sintia dengan memasang wajah yang tak kalah sedihnya


Adam mengangguk pelan.


"Kenapa Nesa tidak memberitahu kita jika dia sedang hamil" Sintia tampak kecewa


"Mungkin saja Nesa juga tidak tahu ma jika dirinya sedang hamil,apalagi selama ini dia memang terlihat baik-baik saja" Surya tampak menetralkan suasana


"Apa Nesa sendirian disana?" Tanya Adam akhirnya


"Di dalam ada papa dan mamanya Nesa. Sebaiknya kamu temui dokter terlebih dulu untuk mengetahui penyebab pastinya" Ucap Surya sambil mengelus pundak puteranya itu


"Apa dokter tidak mengatakan sesuatu pada papa dan mama?" Tanyanya lagi


"Tidak. Tapi dia sudah mengambil sampel darah Nesa dan sudah melakukan pemerikasaan yang lain juga. Dia ingin mengatakan langsung pada kamu terkait hasilnya" Jawab Sintia


"Dokter Resa menunggu kamu di ruang kerjanya" Surya menimpali


"Kalau begitu aku masuk dulu pa" Adam hendak pergi tapi Surya mencegahnya


"Adam,apa pun kenyataannya nanti bicarakanlah baik-baik,jangan pakai emosi. Papa yakin Nesa juga sangat terpukul dengan kejadian ini. Hadapi setiap permasalahan dalam rumah tangga kamu dengan kepala dingin" Pesan Surya


"Iya pa" Lirih Adam


Saran dari papanya memanglah benar tapi kejadian ini tentu membuat Adam sangat emosional. Bagaimana tidak,dia baru saja kehilangan calon buah hatinya yang selama ini dia harapkan. Yang lebih mirisnya lagi,Adam tidak mengetahui kehamilan istrinya itu.


Adam berjalan menuju ruangan dokter Resa. Dokter Resa yang terlihat sudah menunggunya,mempersilahkan Adam untuk duduk.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" Tanya Adam mengawali perbincangannya dengan dokter Resa


"Kondisinya baik-baik saja Tuan. Dokter Nesa juga tidak harus menjalani tindakan kuret karena hasil pemeriksaan USG nya tadi,dirahimnya sudah tidak ada lagi sisa-sisa jaringan. Itu berarti dokter Nesa mengalami keguguran lengkap. Apa tadi ada janin yang keluar dalam kondisi yang masih utuh?" Dokter Resa memberi penjelasan sambil bertanya pada Adam


"Iya dokter,janinnya utuh. Janin itu juga sudah mempunyai bentuk yang lengkap tapi saya sudah menguburnya" Jawab Adam


"Maaf,berapa usia pernikahan anda dengan dokter Nesa,Tuan?" Tanya dokter Resa lagi


"Kira-kira tiga bulanan dokter" Jawabnya sambil terlihat berpikir


"Apa setelah menikah dokter Nesa pernah menstruasi?" Pertanyaan dokter Resa kali ini terdengar agak risih di telinga Adam


"Sepertinya tidak karena setelah menikah kami aktif berhubungan" Jawab Adam tanpa malu


"Kalau begitu,kemungkinan usia janinnya sudah menginjak 12 minggu" Dokter Resa memperkirakan usia janin Nesa


"Lalu apa yang menyebabkan istri saya mengalami keguguran?" Adam kembali bertanya dengan rasa ingin tahu yang cukup besar


"Leher rahim dokter Nesa lemah,Tuan. Itu lah kenapa janin tidak bisa bertahan dan luruh keluar" Jawab dokter Resa menurut hasil pemeriksaannya


"Anda yakin dengan hasil pemeriksaan anda?" Tanya Adam seolah tak percaya


"Saya yakin itu lah penyebabnya. Karena dari tes darahnya,tidak ada kelainan genetik yang menyebabkan embrionya gagal berkembang. Tidak ada penyakit-penyakit menyertai juga di tubuh dokter Nesa yang dapat membuat janin keguguran. Apa anda paham dengan penjelasan saya tuan Adam?" Dokter Resa berusaha menjawab dengan detail dan berharap Adam akan puas dengan jawabannya


Adam tidak menanggapi dengan perkataan,melainkan dengan anggukan kepala. Adam sedikit lega,setidaknya Nesa keguguran bukan karena unsur kesengajaan seperti dugaannya. Sungguh jahat sekali dia sempat berpikir jika Nesa sengaja membunuh bayinya. Dalam hati,Adam mengutuk kebodohannya sendiri.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan lagi Tuan Adam?" Tanya dokter Resa akhirnya


"Iya"


"Silahkan"


"Apa wanita yang sedang hamil bisa terlihat baik-baik saja dan tidak mengalami keluhan apapun pada tubuhnya seperti mual dan muntah?" Adam kembali mencecarnya


"Tentu saja bisa. Setiap wanita akan mengalami keluhan yang berbeda-beda dengan kehamilannya. Ada yang mengalami keluhan ringan hingga berat,bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami perubahan apapun pada tubuhnya. Seperti yang anda tanyakan barusan" Terang dokter Nesa


"Itu artinya wanita yang tidak mengalami keluhan apa pun bisa tidak menyadari jika dirinya sedang hamil?" Adam memastikan

__ADS_1


"Benar Tuan"


Adam kembali bernafas dengan lega.


"Tapi Tuan,setiap perempuan akan mengalami menstruasi setiap bulannya. Nah jika dia tidak mendapatkan menstruasi lebih dari sebulan,Apa mungkin dia tidak mencurigai jika dirinya sedang hamil? Kecuali jika dia juga tidak memperhatikan siklus menstruasinya atau lupa" Ujar dokter Resa sambil tersenyum tipis


Perkataan dokter Resa membuat Adam kembali diselimuti pikiran buruk. Mungkinkah karena sibuk bekerja,Nesa sampai lupa dan tidak memperhatikan kapan harusnya dia menstruasi? Rasanya tidak mungkin, apalagi dia sudah menikah. Adam kembali bimbang. Dia harus bertanya langsung pada Nesa untuk mendapatkan jawaban pastinya.


"Kapan istri saya bisa dibawa pulang,dokter?" Tanya Adam kemudian


"Jika tidak ada keluhan lagi,hari ini juga sudah bisa dibawa pulang. Nanti saya akan resepkan obat agar tidak terjadi infeksi" Jawab dokter Resa


"Baik dokter"


"Satu lagi tuan Adam. Jika ingin hamil lagi sebaiknya anda harus menunggu selama 4 bulan sampai kondisi rahimnya benar-benar pulih" Saran dokter Resa di akhir perbincangannya


"Ya. Terimakasih atas penjelasannya dokter. Saya permisi dulu"


"Silahkan"


Adam keluar dari ruangan dokter Resa dengan perasaan yang tak menentu. Perbincangannya dengan dokter Resa tadi cukup menguras waktunya. Adam harus segera kembali ke ruangan dimana Nesa dirawat. Bagaimana pun juga dia sangat khawatir dengan kondisi istri yang dicintainya itu.


Masih tampak papa dan mama Nesa disana. Adam berusaha menetralkan suasana hatinya. Setelah mencium tangan mertuanya itu,Adam berdiri di samping Nesa yang terlihat sedang habis menangis.


"Tenanglah,semuanya akan baik-baik saja" Ucap Adam berusaha tidak menampakkan kegalauan hatinya sambil mengusap kening Nesa


"Adam,mama dan papa turut sedih. Nesa tidak mengetahui jika dirinya hamil. Nesa sangat syok dan terpukul. Mama juga sangat terkejut dengan kejadian ini" Ujar Widia dengan raut wajah sendu


"Kalian harus ikhlas. Ini ujian untuk kalian berdua. Kalian masih bisa mempunyai anak lagi,jadi tidak usah berlama-lama larut dalam kesedihan" Gunawan juga ikut bersuara. Menenangkan mereka berdua


"Ya pa,ma. Terimakasih banyak sudah menjenguk" Balas Adam menanggapi dengan wajah yang terlihat tidak bersemangat


"Dan maaf kami harus pulang dulu karena papa dan mama ada pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan" Ujar Widia lagi berpamitan


"Iya ma. Hati-hati"


Gunawan dan Widia akhirnya pulang seolah ingin memberikan kesempatan pada anak dan menantunya itu untuk berbicara berdua saja dan saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2