
"Benarkah kamu akan menjadikanku sebagai istrimu?" Tanya Nesa dengan wajah sendu. Merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya membuat Nesa menjadi cengeng
"Bukankah sebuah hubungan yang serius akan berakhir pada pernikahan? Kecuali jika kamu menganggap hubungan kita ini hanya main-main" Ujar Adam
"Tidak sayang,aku sangat serius. Aku hanya terharu" Jawab Nesa cepat
"Aku ini sudah dewasa sayang. Aku juga ingin menikah dan memiliki anak. Sekarang aku sudah menemukan wanita yang aku cintai,jadi mau tunggu apalagi? Aku hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan orangtuamu nanti" Lagi-lagi ucapan Adam membuat hati Nesa semakin tersentuh. Nesa tidak mampu melukis kebahagiaannya dengan kata-kata
Lalu tanpa sadar Nesa merangkul Adam dan menyandarkan kepalanya dipundak Adam.
"Aku sangat bahagia mendengarnya sayang. Terimakasih" Ucapnya lirih
Adam menyentuh pucuk kepala Nesa dengan senyum yang mengembang.
"Sayang,berikan aku nomor rekeningmu" Pinta Adam tiba-tiba
"Untuk apa?" Tanya Nesa
"Aku akan menyuruh Bian untuk mentransfer sejumlah uang" Jawab Adam
"Untuk...?" Tanya Nesa yang sudah tampak bingung
"Untuk kamu membeli segala kebutuhanmu sayang" Jawab Adam ringan
"Tidak,tidak. Aku tidak membutuhkannya" Tolak Nesa dengan tegas
"Apa kamu akan membalas ketulusanku dengan uang?" Nesa menangkap lain maksud baik Adam
"Bukan begitu sayang. Aku harap kamu tidak tersinggung. Aku hanya ingin berbagi apa yang menjadi milikku sama kamu" Ujar Adam dengan nada yang melembut
"Bukankah semua wanita suka shopping ? Goda Adam
"Iya itu wanita lain sayang tapi tidak dengan wanitamu. Aku bahkan tidak suka berlama-lama berada di mall. Jadi kamu tidak perlu memberikanku sejumlah uang" Komentar Nesa kemudian
"Ya sudah kalau begitu,aku akan buatkan kartu rekening khusus untuk kamu" Adam bersikukuh
"Tapi sayang...?" Lagi-lagi Nesa berusaha ingin menolak
"Aku tidak suka dibantah sayang" Ucap Adam tegas
Nesa menghela nafasnya pasrah.
Tiba-tiba Sekretaris Bian masuk ke ruangan Adam.
"Ada apa bian?" Tanya Adam
__ADS_1
"Maaf Tuan,saya hanya ingin mengingatkan kalau sebentar lagi anda ada meeting dengan para senior perusahaan" Ujar Sekretaris Bian yang masih berdiri di depan Adam tanpa terusik dengan keberadaan Nesa disana
"Baiklah,kamu boleh keluar sekarang" Jawab Adam seolah tidak ingin diganggu
"Baik Tuan,saya permisi" Balas Sekretaris Bian sambil membungkuk hormat
Sekretaris Bian keluar dan menghilang di balik pintu.
"Sayang,sepertinya aku sudah harus pulang" Ucap Nesa pengertian
"Kamu tidak boleh pulang sebelum menciumku sayang" Ujar Adam sambil tersenyum nakal
"Sayang apa belum puas untuk yang tadi?" Balas Nesa jengkel
"Aku tidak akan pernah puas untuk menciummu sayang" Tak henti-hentinya Adam menggoda Nesa
Dengan cepat Nesa mengecup bibir Adam sekali lagi. Tapi saat akan melepasnya,Adam malah menahan tengkuk Nesa dan menciumnya balik sampai Nesa kesulitan bernafas. Adam menyudahi aksinya dan mengusap lembut bibir Nesa yang basah.
"Biar aku antar sampai bawah" Ucap Adam kemudian
Setelah sampai di lantai dasar,Nesa tidak sengaja melihat Dea yang terlihat kerepotan membawa setumpukan kertas di tangannya. Saat akan berteriak untuk memanggilnya,Nesa tersadar jika tempatnya berdiri itu adalah kantor Adam dan dia tidak bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Tapi kemudian Dea juga melihat Nesa saat jarak mereka sudah dekat.
"Sayang,apa boleh aku menyapa sahabatku sebentar?" Tanya Nesa
"Siapa?" Adam menoleh kearah Dea yang sudah berhenti di depan Nesa
"Jadi mahasiswi magang ini temanmu?" Tanya Adam sambil menatap Dea
Dea langsung menunduk tidak berani menatapnya balik.
"Iya sayang,dia Dea sahabatku" Jawab Nesa
Dea tidak menyangka,Nesa benar-benar menemui Adam di kantornya. Dan Adam juga tidak canggung membawa Nesa ke dalam kantornya. Apalagi sekarang mereka saling memanggil dengan sebutan sayang. Sepertinya Nesa memang berhasil membuat bosnya yang dingin itu bertekuk lutut di hadapannya. Dan sekarang Dea hanya seperti obat nyamuk yang harus menonton kemesraan mereka. Dea menghela nafasnya dan membuangnya pelan. Entah kenapa Dea masih sulit untuk percaya mengetahui kenyataan ini.
"Dea apa kamu sudah makan siang?" Tanya Nesa tanpa peduli dengan Adam yang ada disebelahnya
"Su-sudah Nesa" jawab Dea ragu-ragu sambil melihat ke arah Adam dengan gugup
"Kenapa kamu gugup?" Tanya Nesa lagi
"Sayang,jangan menatap Dea seperti itu. Kamu membuatnya takut" Nesa beralih memandang Adam yang sedang menatap Dea dengan tatapan tajam
"Sayang dia mahasiswi magang disini. Walaupun dia ini temanmu,tapi aku harus tetap bersikap profesional. Aku tidak pernah bersikap pilih kasih pada semua karyawanku" Komentar Adam
Mendengar hal itu,Nesa jadi malu karena apa yang diucapkan Adam itu memanglah benar. Nesa akhirnya tidak berani menyapa Dea lebih lama lagi.
__ADS_1
"Kembalilah bekerja. Bukankah waktu jam makan siang sudah habis" Perintah Adam pada Dea
"Ba-baik Tuan" Jawab Dea dengan terbata
"Aku kembali bekerja dulu Nesa" Ucap Dea sambil berlalu
Nesa merasa tidak enak hati pada Dea. Berada di depan Adam membuat Dea tidak bisa berbicara akrab dengannya. Nesa merasa seperti orang asing di depan Dea
Adam melangkahkan kakinya lagi mengantar Nesa sampai keluar halaman gedung. Alex yang sedari tadi menunggu akhirnya mendekat melihat Nesa keluar dari gedung.
"Sayang siapa dia?" Tanya Adam dengan raut wajah tidak suka
"Dia sopirku sayang" Jawab Nesa
"Apa kita akan pulang sekarang nona?" Tanya Alex sambil menggerakkan ekor matanya pada Adam
"Iya Alex. Kamu tunggu di mobil dulu" Pinta Nesa
"Baik nona" Alex pun berlalu menuju tempat mobilnya terparkir
Adam terus saja menatap Alex dengan raut wajah tidak suka sampai Alex hilang dari pandangannya.
"Sayang,apa kamu baik-baik saja?" Nesa bingung melihat ekspresi Adam yang terlihat sedang kesal
"Apa tidak bisa kamu mengganti sopirmu dengan yang lebih tua dan jelek sayang?" Ucap Adam dengan sarkas
"Kenapa harus diganti sayang? Dia sudah lama bekerja untuk keluargaku" Tanya Nesa
"Tapi sopirmu hampir menyaingiku sayang" Adam merasa tersaingi dengan ketampanan Alex yang memliki wajah blasteran
Nesa tertawa dengan agak keras.
"Jadi kamu sedang cemburu pada Alex?" Tanya Nesa disela-sela tawanya
Adam tidak meresponya,menatap Nesa dengan wajah datar.
"Sayang,sudahlah. Kamu tidak patut untuk cemburu pada Alex" Ucap Nesa lembut sambil mengelus pundak Adam
Karena mobilnya sudah berada dihadapannya,akhirnya Nesa berpamitan pada Adam.
"Hati-hati sayang. Nanti sampai rumah kabari aku" Pinta Adam
Nesa mengangguk pelan dan tersenyum pada Adam sebelum akhirnya Nesa masuk ke dalam mobil.
Adam terus saja menatap mobil yang Nesa tumpangi dengan tatapan tajam. Kelintannya rasa cemburu Adam akan terus berlanjut pada Alex.
__ADS_1
Bersambung....