
"Apa semalam kamu menginap disini Nesa?" Tanya Sintia curiga
Seketika mulut Nesa menjadi kaku. Dia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya karena seorang perempuan memang tidak pantas bermalam bersama laki-laki dalam satu rumah tanpa adanya ikatan pernikahan.
Melihat wajah Nesa yang terlihat bingung,akhirnya Adam berinisiatif untuk menjawabnya.
"Iya ma. Mulai kemarin Nesa ada disini dan merawatku sampai sembuh. Tadinya Nesa sudah ingin pulang tapi aku melarangnya karena aku masih membutuhkannya,jadi akhirnya Nesa menginap disini semalam" Jawab Adam
Nesa bisa sedikit bernafas dengan lega karena Adam masih mempunyai rasa tanggung jawab dan menyelamatkan nama baiknya di depan mamanya.
Adam menoleh ke arah Nesa sambil tersenyum dan mengedipkan matanya seolah Adam ingin mengatakan pada Nesa jika semuanya akan baik-baik saja.
Sintia hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa menyanggah ucapan Adam.
"Adam,apa kamu sudah sarapan? Kalau belum biar mama yang akan membuatkan sarapan untukmu" Ujar Sintia perhatian
"Tidak usah ma,tadi Nesa sudah membuatnya dan karena mama datang kami lupa untuk memakannya" Jawab Adam
"Kalau begitu cepat habiskan sarapanmu,nanti kamu bisa terlambat pergi ke kantor" Sintia menegur
Entah kenapa berada disamping Sintia,Nesa merasa tersaingi. Sintia sangat perhatian sekali sama Adam. Nesa merasa perhatian yang selama ini dia berikan pada Adam tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kasih sayang Sintia pada puteranya.
Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke meja makan untuk sarapan.
"Maaf,sarapannya hanya ada dua mangkok. Tante Sintia bisa makan punyaku. Aku bisa membuatnya lagi nanti" Setelah lama bungkam akhirnya Nesa memberanikan diri untuk berbicara
Sintia terlihat menghela nafasnya dan menatap ke arah Nesa.
"Buatlah sekarang,kami akan menunggu. Tidak etis juga jika hanya aku dan Adam yang makan,sedangkan kamu hanya melihatnya" Perintah Sintia membuat Nesa merasa terpojok
Dengan cepat Nesa pergi ke dapur dan membuat satu oatmeal lagi untuk dirinya sendiri. Tak butuh waktu lama akhirnya oatmeal yang Nesa buat sudah jadi dan siap untuk dimakan.
Nesa mengambil bangku disebelah Adam dan akhirnya mereka bertiga sarapan bersama-sama.
Adam maupun Sintia menghabiskan sarapannya dalam suasana hening. Tidak ada yang berbicara karena aturan dalam keluarga Adam memang ada larangan berbicara pada saat di meja makan. Nesa merasa pergerakannya jadi terbatas,tidak bisa leluasa berbicara pada Adam karena hadirnya Sintia.
__ADS_1
"Nesa,biarkan Adam pergi ke kantor terlebih dahulu. Kamu bisa pulang bersama tante nanti" Ucap Sintia yang sudah menyelesaikan sarapannya
"Baik tante" Jawab Nesa pelan
Karena merasa tidak nyaman dengan perutnya,Sintia pergi ke kamar mandi bersamaan dengan Adam yang hendak pergi ke kantor.
"Sayang.." Panggil Nesa dengan raut wajah gelisah seolah tidak ingin Adam meninggalkannya berdua saja bersama Sintia di apartemen
"Tenanglah sayang,tidak usah cemas begitu. Mama orangnya baik kok" Ucap Adam lembut seolah ingin menenangkan Nesa. Adam mengerti dengan kegelisahan yang Nesa rasakan
"Kamu ngobrol-ngobrol dulu sama mama disni biar tidak merasa canggung nanti jika bertemu lagi" Pinta Adam menyarankan
"Baiklah. Aku akan sangat merindukanmu" Balas Nesa dengan manja
Adam memeluk Nesa sesaat dan mengecup keningnya sebelum akhirnya Adam menghilang dibalik pintu. Tak disangka-sangka ternyata Sintia melihat pemandangan romantis itu dibalik pintu kamar Adam.
"Nesa..." Suara Sintia mengagetkan Nesa
"Iya tante" Jawab Nesa
Nesa menurut dan duduk di sofa disamping Sintia.
"Nesa,sudah sejauh apa hubungan kamu dengan Adam?" Pertanyaan Sintia terdengar gamblang tanpa basa basi
"Maksud tante?"
"Kalau tante lihat hubungan kalian sudah sangat dekat. Bahkan kamu menginap disini semalam. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa kan semalam?" Tanya Sintia curiga
Nesa mulai mengerti kemana arah pembicaraan Sintia,tapi tidak mungkin juga kan dia menceritakan semua yang terjadi semalam pada Sintia. Nesa diam tidak berani menjawabnya. Nesa hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu.
"Nesa..." Nesa mengangkat wajahnya perlahan
"Bibirmu yang bengkak itu sudah menjawab semua pertanyaan tante" Sebenarnya Sintia sudah menyadarinya waktu pertama melihat Nesa tadi tapi Sintia tidak mungkin menanyakannya di depan Adam
Sontak saja Nesa refleks menyentuh bibirnya yang masih bengkak karena ulah Adam semalam. Nesa benar-benar malu tak berani lagi melanjutkan obrolannya dengan Sintia. Ingin rasanya dia menggali lubang sedalam-dalamnya dan bersembunyi di sana.
__ADS_1
"Maafkan aku jika tante merasa tidak nyaman dan harus mengetahui ini semua. Tidak seharusnya semua itu terjadi. Aku sadar perbuatanku memang salah" Ucap Nesa dengan nada menyesal
"Kenapa harus minta maaf. Kalian melakukannya karena kalian saling mencintai bukan?" Sintia terlihat tersenyum pada Nesa
Sintia menggeser duduknya,merapat pada Nesa. Nesa semakin gugup dan bingung,apa yang akan Sintia lakukan.
"Sekarang jawablah dengan jujur,apa hubungan kalian sudah sampai pada hubungan suami istri?" Tanya Sintia setengah berbisik pada Nesa
"Tidak,tidak. kami belum melakukannya" Jawab Nesa cepat
"Syukurlah karena ternyata Adam masih bisa menahan diri" Sintia terlihat sedang menghela nafasnya
Nesa semakin malu dan ingin segera mengakhiri pembicaraan yang tidak penting ini.
"Apa kamu benar-benar mencintai Adam?" Tanya Sintia untuk lebih meyakinkan pengamatannya tadi
"Nesa sangat mencintai mas Adam" Jawab Nesa dengan yakin
"Iya tante tahu itu. Tante bisa melihat dari mata kamu dan cara kamu memperlakukan Adam" Balas Sintia
"Apa kamu mau berjanji satu hal Nesa?"
"Janji apa?" Lirih Nesa
"Berjanjilah tidak akan membuat Adam kecewa. Karena tante bisa melihat kalau Adam juga sangat mencintai kamu. Adam sangat bahagia jika bersama kamu. Tadinya dia sangat dingin pada semua perempuan tapi kamu bisa mencairkan gunung es yang selama ini ada dihatinya. Kamu perempuan pertama buat Adam dan tentu saja dia sudah banyak menggantungkan harapannya pada kamu. Adam tidak akan melepasmu begitu saja walau apa yang terjadi" Jawab Sintia dengan panjang lebar
Nesa berpikir jika Sintia saat ini sedang memberi restu atas hubungannya dengan Adam. Sintia bahkan memintanya untuk berjanji.
"Nesa tidak bisa berjanji untuk tidak pernah membuatnya kecewa karena Nesa juga mempunyai kekurangan. Nesa tidak mungkin selalu menjadi orang yang sempurna tapi Nesa akan berusaha dan Nesa akan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Mas Adam juga laki-laki pertama buat Nesa,dan mas Adam juga laki-laki pertama yang mendapatkan semuanya dari diri Nesa. Aku harap tante bisa mengerti" Balas Nesa dengan kalimat yang panjang juga
"Jawaban yang bagus Nesa tapi apa kamu sanggup tetap berada disisi Adam dengan segala kekurangannya juga?" Tanya Sintia lagi
Nesa menatap Sintia,mencoba mencerna lagi ucapannya. Nesa takut salah menangkap maksud dari pertanyaan Sintia. Nesa terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawabnya.
Bersambung...
__ADS_1