
Mereka ber empat pun larut ke dalam obrolan panjang mereka hingga tanpa sadar malam sudah larut. Gunawan dan Widia akhirnya berpamitan pulang. Sedangkan Surya dan Sintia memilih menginap di rumah sakit menemani Nesa disana.
Pagi-pagi sekali Nesa pulang untuk mandi dan mengganti pakaiannya,tapi tak lama kemudian Nesa kembali lagi ke rumah sakit bersamaan dengan dokter Handoko yang sedang memeriksa kondisi Adam.
"Bagaimana kondisi mas Adam,dokter?" Tanya Nesa
"Iya dokter. Apa ada perkembangan?" Sintia menimpali
"Denyut jantung tuan Adam sudah teratur Nyonya. Saya akan mencoba melepas alat bantu pernafasannya dan saya akan memberikan obat penopang denyut jantung. Nanti kita lihat lagi bagaimana reaksi tubuhnya" Ujar dokter Handoko menjelaskan kondisi Adam
"Baik dokter. Lakukan apa saja yang terbaik menurut Anda. Anda tentunya lebih paham soal itu" Sintia menanggapi
Setelah itu seperti biasa dokter Handoko menyuntikkan nutrisi dan obat-obatan pada selang infus Adam.
Setelah dokter Handoko meninggalkan ruangan,Nesa membersihkan tubuh Adam dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Nesa mengelap tubuh Adam dengan sangat pelan dan hati-hati.
Saat mengelap dada Adam,tiba-tiba Nesa flashback dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat Adam sakit dan Nesa menemaninya di apartemen. Waktu itu Nesa melakukan hal yang sama dan betapa malunya saat Nesa kedapatan menyentuh dada Adam sambil menatapnya dengan takjub. Nesa juga ingat saat Adam menggodanya untuk menyentuh dadanya sampai puas.
Tanpa sadar tangan Nesa berhenti dari kegiatannya dan tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Tapi sejurus kemudian,senyuman itu tampak memudar dari bibir mungilnya. Nesa harus melihat kenyataan jika saat ini Adam sedang koma,bukan sakit biasa.
Setelah selesai membersihkan tubuh Adam,Nesa menyisir rambut dan menyemprotkan parfum miliknya di tubuh Adam. Nesa juga mengolesi bibir Adam dengan olive oil agar bibir Adam tidak kering.
"Kamu sangat tampan sayang" Nesa menatap wajah Adam sambil tersenyum
Sintia yang memperhatikan apa yang dilakukan Nesa hanya tersenyum haru. Sintia merasa sangat beruntung ada sosok perempuan yang begitu sangat mencintai puteranya.
Pagi menjelang siang direktur rumah sakit datang menjenguk Adam.
"Selamat siang Nyonya. Selamat siang dokter Nesa" Sapa direktur
"Selamat siang direktur" Balas Sintia dan Nesa bersamaan
"Maaf baru sempat menjenguk. Karena akhir-akhir ini saya sangat sibuk dengan urusan rumah sakit" Ucap direktur
"Tidak apa-apa" Sintia membalas singkat
"Bagaimana kondisi tuan Adam?" Tanya direktur kemudian
"Direktur bisa melihatnya sendiri. Kondisinya masih koma" Jawab Sintia dengan raut wajah yang agak putus asa
"Saya turut prihatin Nyonya. Semoga tuan Adam cepat sadar" Ujar direktur bersimpati
"Terimakasih" Lirih Sintia
__ADS_1
Setelah melihat kondisi Adam dan berbincang-bincang cukup lama dengan Sintia,akhirnya direktur pamit undur diri. Sesaat setelah direktur keluar dari ruangan Adam,Nesa menyusulnya.
"Maaf direktur,apa kita bisa berbicara sebentar?" Nesa menghentikan langkah kaki sang direktur
Direktur menautkan kedua alisnya sebelum akhirnya menjawab.
"Baiklah" Direktur duduk di kursi koridor rumah sakit dan Nesa mengikuti
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya dokter Nesa?" Tanya direktur
"Saya ingin menanyakan sesuatu" Jawab Nesa
"Silahkan" Direktur memberi kesempatan pada Nesa untuk berbicara
"Saya diterima bekerja di rumah sakit ini,apa karena bantuan mas Adam?" Tanya Nesa to the point
"Sepertinya tidak dokter. Anda di terima bekerja di rumah sakit ini murni karena usaha anda sendiri. Saya justru baru mengetahui jika anda adalah orang yang sangat di cintai tuan Adam setelah kemarin Nyonya Sintia meminta cuti untuk anda" Jawab direktur dengan jujur
"Jadi status saya sebagai dokter di rumah sakit ini tidak ada hubungannya dengan mas Adam,selaku pemilik rumah sakit?" Tanyanya lagi ingin memastikan
"Tidak ada dokter. Beberapa waktu yang lalu hanya Sekretarisnya tuan Adam yang menghubungi saya. Dia meminta agar identitas pemilik rumah sakit di rahasiakan dari semua petugas rumah sakit yang baru. Tapi beliau sama sekali tidak menyebut-nyebut nama anda" Direktur kembali menjelaskan
"Apa? jadi Sekretaris Bian meminta direktur untuk merahasiakan identitas pemilik rumah sakit. Pantas saja selama ini aku tidak pernah mengetahui siapa nama pemiliknya. Ini pasti atas perintah mas Adam"
"Ah iya silahkan. Terimakasih banyak atas waktunya" Balas Nesa sambil tersenyum
"Sama-sama" Direktur pun berlalu meninggalkan Nesa yang masih terduduk disana
Sore harinya Sekretaris Bian datang.
"Maaf Nyonya saya baru sempat menjenguk tuan Adam lagi karena pekerjaan di kantor sangat banyak. Semenjak tuan Adam koma,saya yang menghandle semua pekerjaannya" Ujar Sekretaris Bian sambil sedikit menundukkan kepalanya
"Bagaimana keadaan perusahaan sejak Adam tidak bekerja?"
"Perusahaan baik-baik saja Nyonya. Sejauh ini masih bisa saya tangani sendiri" Jawab Sekretaris Bian
"Baguslah. Selama Adam koma,Kami percayakan perusahaan pada kamu"
"Baik Nyonya"
Tak lama kemudian,pintu kamar ada yang mengetuk. Sekretaris Bian membukakan pintu dan dia agak terkejut melihat siapa yang datang.
"Anda datang disaat yang tidak tepat nona" Sekretaris Bian memandang Sabrina dengan tajam
__ADS_1
"Apa boleh aku masuk?" Ucap Sabrina yang masih berada di ambang pintu
"Siapa Bian?" Tanya Nesa yang melihat gelagat tak biasa dari Sekretaris Bian
Sekretaris Bian pun membiarkan Sabrina masuk. Sintia dan Nesa pun berdiri melihat tamunya yang ternyata seorang perempuan cantik. Nesa menatap Sabrina dengan penuh tanda tanya karena wajah Sabrina sama sekali tidak ia kenali. Sedangkan Sabrina memandang tajam ke arah Nesa. Sepertinya dia juga penasaran dengan kehadiran Nesa disana.
"Kamu siapa?" Tanya Sintia
"Ini nona Sabrina Nyonya. Anak dari rekan bisnis tuan Adam" Saat mulut Sabrina sudah bersiap untuk menjawab,justru Sekretaris Bian mendahului
"Perkenalkan saya Sabrina. Temannya mas Adam" Tangan Sabrina terulur pada Sintia
"Saya mamanya Adam" Sintia membalas uluran tangan Sabrina
Senyum Sabrina merekah tatkala dia mengetahui jika wanita yang ada di hadapannya itu adalah mamanya Adam.
Lalu Sabrina kembali mengulurkan tangannya pada Nesa.
"Nesa" Menjabat tangan Sabrina sambil tersenyum
"Apa kamu adiknya mas Adam?" Tanya Sabrina penasaran
"Bukan" Jawab Nesa singkat
"Nona Nesa adalah calon istri tuan Adam" Ucap Sekretaris Bian dengan lantang
Sabrina yang mendengarnya membuat telinganya serasa panas. Wajahnya menjadi pias dan tiba-tiba saja Sabrina menjadi tidak bersemangat. Tapi dengan cepat Sabrina berhasil menguasai dirinya hingga mereka yang melihatnya tidak dapat membaca ekspresi wajahnya.
"Apa boleh saya melihat mas Adam?" Tanya Sabrina tiba-tiba sambil meletakkan barang yang dia bawa di meja,yaitu sebuah keranjang yang berisi buah-buahan.
"Ya silahkan" Kata Sintia
"Mari saya antar nona" Sekretaris Bian membimbing Sabrina ke kamar Adam
"Kasihan sekali mas Adam. Aku baru tahu dari papa tadi jika Nusantara Group sudah beberapa hari ini kehilangan pemimpinnya" Ujar Sabrina memasang wajah sedih
"Iya,sudah tiga hari tuan Adam mengalami koma" Ujar Sekretaris Bian sambil memandang ke arah Sabrina
Sabrina juga memandang ke arah Sekretaris Bian hingga akhirnya mereka saling tatap.
"Setelah ini kau harus menjelaskan semuanya Sekretaris Bian" Sepertinya Sabrina akan meminta penjelasan pada Sekretaris Bian terkait dengan sosok Nesa disana
Bersambung....
__ADS_1