Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Memantapkan Hati


__ADS_3

Sudah sampai di rumah besar Adam tapi Nesa terlihat masih enggan untuk keluar dari mobil.


"Kenapa?" Tanya Adam yang melihat Nesa sedang gelisah


"Apa papa dan mama mu ada di rumah?" Nesa bertanya balik


"Tentu saja. Mereka sudah menunggu mu" Jawabnya yakin


"Apa? menunggu ku?"


"Ya. Aku membawa mu kesini karena mereka yang minta"


"Jadi jika mereka tidak meminta,kamu tidak akan membawa ku kesini?" Tanya Nesa menyindir


"Tidak juga. Sudahlah jangan bicara lagi. Ayo kita masuk" Adam keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Nesa


"Bagaimana jika mereka bertanya yang macam-macam?" Nesa menarik tangan Adam saat Adam akan masuk ke dalam rumah


"Mereka tidak akan bertanya yang macam-macam. Mereka hanya akan bertanya satu macam" Jawab Adam dengan kalimat yang mengundang tanya


"Apa itu?" Nesa penasaran


"Kamu akan tahu sendiri nanti" Adam melanjutkan langkah kakinya,sedangkan Nesa masih tak bergerak dari tempatnya berdiri


Adam menoleh ke belakang sambil menghela nafas,lalu menghampiri Nesa lagi.


"Dulu waktu kamu meminta maaf pada papa ku,kamu sangat berani tapi kenapa sekarang malah tidak bersemangat seperti ini?" Tanya Adam pelan sambil merangkum wajah Nesa


"Tentu saja beda" Jawab Nesa sambil merengut


"Apanya yang beda?"


"Dulu aku datang kesini dengan amarah tapi saat ini...?"


"Saat ini kamu datang sebagai calon menantu" Adam memotong sambil tersenyum menggoda


"Sok tahu" Maki Nesa


"Kalau dengan marah bisa membuat mu berani,anggap saja sekarang kamu sedang marah padaku" Adam menarik tangan Nesa dan membawanya masuk


"Tentu saja aku sedang marah pada mu saat ini" Gumam Nesa


Menyadari kedatangan Adam dan Nesa,Surya dan Sintia langsung menyambut. Dengan menerbitkan sebuah senyuman di bibirnya,Nesa mencium punggung tangan Surya dan Sintia secara bergantian.


"Sudah lama ya kita tidak bertemu" Sintia memulai pembicaraan

__ADS_1


Nesa tersenyum dan masih terlihat malu-malu.


"Anggap saja rumah sendiri. Tidak usah sungkan" Surya menimpali


"Kalian dari mana? Bukankah tadi kamu pergi dari rumah saat hari masih pagi Adam dan ini sudah sore" Tanya Sintia menoleh pada Adam


"Kami baru saja dari panti" Nesa yang menjawab


"Panti asuhan yang kamu donaturi?" Tanya Surya


"Iya om" Nesa terlihat bingung,dari mana Surya tahu tentang dirinya yang menjadi donatur di panti asuhan tapi Nesa malas untuk menanyakannya karena bukan hal yang penting baginya


"Ma,Pa lanjutkan nanti saja. Karena sepertinya Nesa harus mandi dulu" Ucap Adam


"Tapi aku tidak membawa baju ganti" Nesa setengah berbisik pada Adam sambil melototinya


"Sayang,kamu mandi saja dulu di kamar ku. Aku akan keluar sebentar untuk membeli baju ganti untuk mu" Balas Adam dengan mesranya


"Mulai" Nesa memandang jengah ke arah Adam


Sintia dan Surya hanya tersenyum simpul melihat kemesraan yang Adam tunjukkan pada Nesa.


"Ya sudah Adam,kamu antarkan dulu Nesa ke kamar mu" Ujar Surya kemudian


"Iya pa" Adam membimbing Nesa menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas


"Seperti hotel saja" Gumam Nesa


"Kenapa?" Adam melihat ocehan yang tertahan di dalam mulut Nesa


"Tidak"


"Kamar mandinya ada disini" Adam membuka satu pintu lagi yang berada di sudut kamarnya


"Iya"


"Aku keluar sebentar. Kamu mau aku belikan baju berapa stel?" Tanya Adam sambil mengulum senyuman


"Memangnya aku akan disini untuk berapa hari? satu saja cukup" Gerutu Nesa


"Baiklah"


Nesa masuk ke dalam kamar mandi setelah Adam menutup pintu kamar. Nesa mengisi bathup dengan air dan menambahkan sabur cair ke dalamnya,lalu mengaduknya hingga menimbulkan tumpukan busa disana. Nesa menanggalkan seluruh pakaiannya dan berendam.


Beberapa saat kemudian Adam datang dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Nesa yang hanya mengenakan handuk bersikap biasa dan tak bereaksi yang berlebihan.

__ADS_1


"Kenapa hanya memakai handuk? nanti kamu bisa masuk angin" Adam menghampiri Nesa yang duduk di kasur


Nesa diam tidak menanggapi. Hanya menatap Adam sambil tersenyum tipis membuat hati Adam meleleh. Tanpa sadar,Adam semakin mendekatkan wajahnya pada Nesa dan mencium bibir Nesa dengan pelan. Nesa tak menolak tapi juga tidak membalas ciuman Adam.


"Kamu hanya milikku. Tidak ada yang bisa memiliki mu selain aku" Ujar Adam dengan emosional


"Keluar lah. Aku akan memakai baju ku dulu" Pinta Nesa sambil mengusap bibirnya yang basah karena ciuman Adam tadi


"Aku mandi saja" Adam beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar mandi


Dengan cepat Nesa memakai baju yang sudah Adam bawa tadi.


Tak lama kemudian Adam keluar dari kamar mandi dengan memegang handuk kecil di tangannya. Mengeringkan rambutnya dari sisa air yang masih menetes.


"Kenapa dia terlihat tampan sekali sih" Nesa memelototi wajah Adam,lalu pandangannya turun ke dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu dan... Nesa menutupi wajahnya sendiri sambil berpaling ke arah lain. Nesa tak kuasa untuk menatapnya lebih lama lagi.


"Kenapa?" Adam tertawa kecil melihat tingkah Nesa


"Tidak"


"Kamu boleh menyentuh bagian yang mana saja. Tidak usah malu" Ujar Adam sambil tersenyum nakal


"Aku tunggu diluar" Nesa turun dari kasur dan terlihat salah tingkah


Adam berusaha keras untuk menahan tawanya.


Setelah itu mereka turun dan melakukan makan malam bersama Surya dan Sintia. Setelah selesai makan malam,mereka semua duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Adam duduk merapat di sebelah Nesa.


"Bagaimana sakit perutnya,sudah tidak kambuh lagi? Bisik Adam di telinga Nesa


"Tidak" Nesa menjawab singkat sambil menoleh pada Surya dan Sintia. Nesa agak risih dengan sikap Adam di depan papa dan mamanya


"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? kalian sudah sedekat ini,tidak baik jika tidak segera menikah" Ujar Sintia tiba-tiba


"Iya benar. Tunggu apa lagi? kalian kan sudah saling menerima satu sama lain" Surya menambahkan


"Bagaimana Adam?" Tanya Sintia kemudian


"Adam siap menikah kapan saja ma. Tinggal tunggu kesiapan dari Nesa saja" Jawab Adam dengan santainya


"Kamu bagaimana Nesa? kami tahu kamu masih sangat muda dan mempunyai banyak impian tapi menikah tidak akan membuat impian kamu hancur begitu saja. Kamu masih bisa mengejar semua impian mu. Adam pasti tidak keberatan untuk itu. Umur Adam sudah cukup untuk membina keluarga. Apa kalian tidak ingin segera memberikan kami seorang cucu?" Perkataan Sintia mencengangkan dan membuat Nesa bingung harus menanggapinya seperti apa


"Setelah kejadian yang kemarin,Nesa tidak ingin terburu-buru untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius. Nesa masih ingin memantapkan hati dan ingin mengenal mas Adam lebih jauh lagi" Setelah cukup lama diam akhirnya Nesa membuka suara,menanggapi pertanyaan Sintia dengan yakin walaupun wajahnya sedikit tertunduk


Sintia dan Surya memasang wajah datar. Entah mereka menerima atau menolak keputusan Nesa tapi Sintia maupun Surya tidak bertanya lagi setelah itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2