
Beberapa hari setelah itu,kehidupan mereka berjalan normal lagi. Adam maupun Nesa sudah kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Pernikahan juga sudah dibicarakan antara ke dua belah pihak keluarga. Mereka sudah melakukan pertemuan,tanggal pernikahan juga sudah di tentukan karena Adam dan Nesa sepakat untuk melaksanakan pernikahan mereka dalam waktu dekat.
Semua keperluan pernikahan sudah mulai dipersiapkan. Gaun pengantin dan cincin kawin sudah dipesan. Undangan pernikahan pun sudah mulai dicetak. Mereka memilih konsep outdoor sebagai tempat akad. Sedangkan resepsi akan dilaksanakan di hotel mewah berbintang.
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Pernikahan sudah semakin dekat. Orang-orang yang terlibat dalam pernikahan mereka juga semakin sibuk.
"Sayang,semua undangan sudah disebar. Tinggal undangan Dea dan mas Firman saja yang belum di antar" Ucap Nesa yang sedang duduk dipangkuan Adam
"Kamu mengundangnya juga?" Tanya Adam sambil menggerakkan jari-jarinya menjelajah di leher Nesa
"Iya. Dea kan sahabat ku. Tidak mungkin tidak aku undang" Protes Nesa
"Bukan Dea,tapi..."
"Sayang,jangan katakan jika kamu masih cemburu pada mas Firman. Kita sudah mau menikah" Nesa langsung menyambar sebelum Adam menyelesaikan kalimatnya
"Apa hubungannya belum menikah dan sudah menikah. Cemburu ya tetap saja cemburu"
"Apa itu artinya kamu melarangku untuk mengundang mas Firman?" Tanya Nesa dengan wajah yang cemberut
"Tidak. Sepertinya bagus juga jika dia menjadi saksi hari bahagia kita,sekaligus hari kekalahannya" Jawab Adam dengan sarkas
Nesa agak tertegun sebentar,ternyata Adam masih saja menganggap Firman sebagai rivalnya.
"Kalau begitu aku yang akan mengantar sendiri undangan mereka" Ucap Nesa kemudian
"Tidak sendiri. Tapi denganku" Balas Adam
"Oke baiklah" Ucap Nesa jengah
"Sekarang berikan aku ciuman disini" Pinta Adam sambil menunjuk pada bibirnya sendiri
Tanpa membantah,Nesa langsung mengecup bibir Adam dengan cepat
"Sayang,ini kantor. Jika Sekretaris Bian tiba-tiba saja masuk bagaimana?" Ujar Nesa
"Dia sedang ada pekerjaan di luar kantor" Jawab Adam sembari menggerakkan tangannya di beberapa bagian tubuh Nesa
Ketika hari menjelang sore,mereka pergi ke cafe Firman untuk mengantarkan undangan. Sesampainya di cafe,Nesa merasa senang karena ada Dea disana.
"Dea,kamu disini juga?" Sapa Nesa tiba-tiba hingga membuat Dea sedikit kaget
"Hey,kamu kesini sama siapa?" Tanya Dea yang belum mengetahui keberadaan Adam karena Adam memang belum turun dari mobil
"Aku datang kesini dengan mas Adam" Jawab Nesa sambil menoleh ke arah luar
"Dia tidak ikut turun?" Tanya Dea lagi
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi. Masih terima telfon dari rekannya" Jawab Nesa sambil mengulas senyum
"Oh iya kamu sedang apa disini dan mana mas Firman?" Tanya Nesa kemudian
"Aku sedang mengantarkan kue-kue pesanan mas Firman. Dan dia masih ada di belakang"
"Mimpi apa aku semalam,kedatangan tamu istimewa" Firman tiba-tiba saja muncul dan bergabung dengan mereka
"Mas Firman" Entah kenapa wajah Nesa tiba-tiba saja berubah saat melihat Firman
"Kamu apa kabar?" Tanya Firman bersikap biasa
"Aku baik-baik saja" Jawab Nesa sambil menatap wajah Firman. Jelas terlihat jika ada sesuatu yang tersirat dibalik tatapannya. Entah karena Nesa masih merasa bersalah pada Firman atau dia merasa sedih karena tidak bisa sedekat dulu dengan Firman
"Aku dengar-dengar kamu akan menikah dalam waktu dekat?" Tanya Firman lagi. Raut wajah Firman yang seolah juga ikut berbahagia justru begitu menusuk di hati Nesa. Bagaimana pun juga Firman orang yang berjasa karena disaat-saat terburuknya,Firman lah yang selalu ada di sampingnya.
"Iya" Nesa menjawab pendek
"Sayang,apa kamu sudah memberikan undangannya?" Tanya Adam tiba-tiba
Mereka bertiga sontak saja menoleh pada Adam secara bersamaan,membuat suasana sedikit tegang.
"Oh iya,Ini undangan untuk kalian berdua" Nesa menyodorkan sebuah undangan pada Dea dan Firman
"Terimakasih. Kami pasti datang" Ucap Dea
"Kabar saya sangat baik Tuan Firman. Saya harap anda bersedia datang ke acara bahagia kita" Jawab Adam sambil merangkul bahu Nesa. Tatapannya masih saja tajam membuat Nesa merasa risih dengan sikapnya
"Kami pasti datang" Balas Firman sambil berusaha tersenyum
Tidak ingin suasana menjadi memanas,Nesa akhirnya memilih untuk pergi dari sana walaupun sebenarnya dia masih sangat ingin berbicara lebih lama lagi dengan Dea dan Firman,apalagi dalam waktu dekat dia akan menjadi istri Adam yang otomatis ruang geraknya akan semakin terbatas. Tapi kehadiran Adam disana membuatnya tak bisa leluasa untuk mengobrol bersama Dea juga Firman.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu" Ucap Nesa akhirnya
"Ya baiklah" Balas Dea seolah mengerti dengan apa yang Nesa rasakan
"Apa tidak ingin minum-minum dulu?" Tanya Firman basa-basi
"Tidak Tuan Firman. Karena setelah ini kami masih ada urusan lain" Tolak Adam
"Oke mungkin lain kali jika kalian ada waktu,silahkan mampir kesini lagi" Ujar Firman menanggapi
"Saya harap juga begitu" Balas Adam
"Lain kali pasti kami mampir" Nesa menimpali sambil tersenyum pada Firman
Mereka pun meninggalkan cafe.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Nesa tidak berbicara lagi pada Adam,sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Adam yang mendapatkan Nesa sedang gelisah
"Tidak ada" Jawabnya singkat
"Wajah mu berubah setelah bertemu dia" Ujar Adam curiga
"Tidak sayang,aku tidak memikirkan dia. Aku hanya lelah saja mempersiapkan pernikahan kita" Nesa beralibi
"Lelah? bukankah semua keperluan pernikahan kita sudah kita pasrahkan pada WO?" Tanya Adam tidak percaya
"Sudahlah. Aku benar-benar tidak apa-apa. Tidak usah cemas"
"Kita akan menikah tapi kamu masih tidak terbuka dengan ku" Sanggah Adam
"Maafkan aku sayang. Aku selalu saja membuat mu marah" Ucap Nesa sambil menyentuh lengan Adam
"Lalu kenapa kamu terlihat murung tadi?"
"Apa setelah menikah nanti,kamu akan melarang ku untuk bertemu dengan mas Firman?" Tanya Nesa berterus terang
"Benar kan,karena dia kamu jadi mengabaikan ku. Kenapa jika menyangkut soal dia kamu terlihat emosional" Balas Adam kesal
"Please jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya bertanya dan kamu hanya tinggal menjawabnya saja. Aku ingin menjadi istri yang baik,jadi aku akan menuruti apa pun perintah kamu nanti" Nesa berusaha memberi penjelasan pada Adam
"Aku tidak akan melarang mu untuk berteman dengan dia. Tapi kamu hanya boleh bertemu dengannya jika hanya ada keperluan saja dan itu atas seizin aku" Jawab Adam kemudian
"Terimakasih. Apa boleh hentikan mobilnya sebentar?"
Tak mampu membantah,Adam menurut saja permintaan Nesa. Menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu tiba-tiba saja Nesa mencium pipi Adam dalam waktu yang cukup lama
"Sekali lagi Terimakasih" Ucapnya lagi
"Apa dia lebih penting dari ku?" Tanya Adam sambil menoleh pada Nesa
Nesa menggeleng dengan cepat.
"Tapi aku merasa kamu begitu peduli dengannya. Sedangkan aku hanya kamu anggap sebagai Tuan besar yang hanya kamu takuti saja" Ucap Adam kecewa
"Tidak. Kamu lebih penting dari segalanya. Harus berapa ribu kali aku katakan jika aku mencintai mu" Ucap Nesa dengan wajah sendu. Kali ini matanya sedikit mengembun
Adam yang melihat wajah sedih Nesa tampak sedikit menyesal dan berkata "Katakan setiap hari. Aku tidak akan pernah bosan mendengarnya"
Bersambung....
Gak bosen tapi capek 😂
__ADS_1