Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Peri Cantik


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Bi Minah masuk ke dalam kamar Nesa karena tadi Nesa memintanya untuk memijat tubuhnya. Selain sebagai pelayan,bi Minah juga mempunyai keahlian memijat.


Nesa menanggalkan seluruh pakaiannya,hanya menyisakan ****** ******** saja dan berbaring di tempat tidur. Dengan sangat pelan dan hati-hati bi Minah mulai memijat tubuh mulus Nesa.


"Enak sekali bi. Sudah lama bibi tidak memijatku"


"Non Nesa saja yang terlalu sibuk. Jika bibi diminta untuk memijat,pasti akan bibi lakukan"


"Oh ya non. Laki-laki tampan yang sering kesini itu siapa? kekasihnya non Nesa ya?" Tanya bi Minah sambil tersenyum


"Dia itu yang papa jodohkan denganku beberapa bulan yang lalu bi" Jawab Nesa berterus terang


"Loh kok aneh toh. Bukannya waktu itu non Nesa kabur dari rumah karena menolak dijodohkan?" Tanya bi Minah lagi dengan bingung


"Iya tapi waktu aku kabur,aku malah bertemu dengannya dan kami saling jatuh cinta"


"Oalah...lucu ya" bi Minah tertawa kecil


"Ya kadang takdir memang selucu itu bi"


"Tapi siapa yang menolak jika calonnya setampan itu. Sangat cocok untuk jadi suami non Nesa. Kenapa tidak segera menikah saja kalau sudah saling cocok?"


"Jika aku menikah,bibi tidak akan bertemu denganku lagi" Ucap Nesa menakut-nakuti


"Kenapa begitu non? memangnya non Nesa akan dibawa kemana?"


"Kalau sudah menikah ya pasti ikut suami lah bi"


"Kalau begitu bibi tidak rela jika non Nesa cepat-cepat menikah. Non Nesa sudah bibi asuh dari bayi"


Nesa menahan tawa karena berhasil mengerjai bi Minah. Tanpa mereka sadari,ada orang yang mendengarkan obrolan mereka daritadi. Bi Minah agak terkejut saat melihat Adam berdiri di depan pintu yang tidak di tutup.


Dengan sangat pelan Adam melangkah masuk dan memberi isyarat pada bi Minah untuk keluar dari kamar Nesa. Bi Minah mengangguk walaupun dia terlihat agak ragu.


"Bi kenapa tidak dilanjutkan? Aku hampir saja terlelap nih" Tanya Nesa yang sudah tidak merasakan sentuhan tangan bi Minah di punggungnya


Adam duduk di tepian tempat tidur dan memijat punggung Nesa dengan nakal. Nesa membuka matanya dengan raut wajah bingung. Tentu saja sentuhan yang dirasakannya sudah beda. Dengan cepat Nesa membalikkan wajahnya dan terlonjak kaget melihat Adam disana.


"Kau sangat tidak sopan" Nesa memaki sambil mengambil selimut dan menutupi tubuhnya yang polos


"Kenapa masih terkejut saja. Aku sudah melihat semuanya. Aku mengetahui setiap inci tubuhmu,termasuk tanda lahir yang ada di...?" Ucap Adam bernada sensual


"Hentikan. Memalukan sekali" Nesa memotong


"Lebih enak mana,pijatanku apa pijatan pelayan yang tadi?" Tanya Adam sambil mengerlingkan matanya


"Cepat keluar. Aku ingin memakai pakaianku dulu" Pinta Nesa dengan sedikit bentakan


"Aku tidak akan kemana-mana. Aku ingin melihatmu berganti pakaian" Bukannya keluar,Adam malah menutup pintu dan menguncinya.


"Dia memang sudah benar-benar gila"

__ADS_1


"Kamu mau apa?"


"Ini hari libur. Aku ingin bersantai saja di kamar mu ini" Dengan santainya Adam merebahkan tubuhnya di sofa


"Apa kamu bertemu dengan papa dan mama? kenapa mereka membiarkan mu masuk ke kamar ku begitu saja?" Gerutu Nesa


"Mereka sedang bersantai di luar. Tentu saja mereka mengijinkan. Aku kan calon suami mu" Jawab Adam dengan percaya dirinya


"Jangan banyak bicara. Cepat mandi dan dandan yang cantik" Perintah Adam kemudian


"Kau mau mengajakku kemana lagi?"


"Kerumah ku" Jawab Adam cepat


"Aku tidak bisa. Aku ada janji dengan ibu panti untuk mengunjungi anak-anak hari ini" Tolak Nesa


"Kalau begitu aku ikut. Baru setelah itu kita ke rumah. Cepatlah mandi,kau tenang saja aku tidak akan mengintip" Ucap Adam sambil memejamkan matanya


Beberapa saat kemudian


"Kamu tidur?" Nesa mengguncang tubuh Adam yang masih berbaring di sofa


Adam membuka matanya dan melihat Nesa yang sudah berdandan rapi.


"Kamar mu nyaman sekali. Aku sampai terlelap" Adam menggeliat


"Cepatlah. Anak-anak panti pasti sudah menunggu" Ajak Nesa yang keluar lebih dulu dari kamarnya


Setelah berpamitan pada Gunawan dan Widia,mereka pun berangkat ke panti.


"Hah?"


"Aku ingin membeli mainan untuk anak-anak panti"


"Kenapa tidak membawa makanan saja?" Saran Adam


"Aku sudah sering membawakannya. Tapi kalau mainan,mereka jarang mendapatkannya"


"Baiklah"


Mereka sampai di toko mainan. Mainan yang Nesa beli cukup banyak dan lengkap untuk anak laki-laki dan perempuan. Saat akan membayar mainan yang dibelinya,Adam lebih dulu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.


"Aku saja yang bayar"


Nesa tidak mencegah apa yang dilakukan Adam karena tidak mungkin juga dia berdebat di depan kasir.


Setelah itu,para pelayan toko membawa mainan-mainan itu masuk ke dalam mobil hingga mobil Adam penuh dengan mainan.


"Maaf. Mobil mahal mu aku gunakan untuk mengangkut mainan" Ujar Nesa sambil menahan tawa


"Apa kamu senang?"


"Tentu saja"

__ADS_1


"Kalau begitu lakukan apa saja yang kamu sukai"


"Apa kamu tidak keberatan?"


"Tidak"


Setelah sampai di panti,Nesa turun dari mobil dengan wajah yang ceria. Anak-anak yang sedang bermain di halaman panti,berhambur ke arah Nesa.


"Peri cantik" Panggil anak-anak itu secara bersamaan


"Kenapa mereka memanggil mu peri cantik?" Tanya Adam yang sudah berada di samping Nesa


"Tanyakan saja pada anak-anak ini karena mereka yang memberi julukan itu"


"Hai adik-adik,kenapa kalian memanggil dia dengan peri cantik?" Tanya Adam sambil berjongkok di depan tubuh kecil mereka


"Karena hatinya baik dan wajahnya sangat cantik. Seperti peri" Jawab salah satu dari mereka dengan gaya polosnya


Adam terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Oh iya peri cantik,om tampan kok tidak ikut?" Tanya anak yang lain


Nesa agak membeliakkan matanya mendapat pertanyaan itu. Adam pasti akan bertanya siapa yang dimaksud om tampan oleh anak-anak. Benar saja,Adam menatap Nesa sambil memicingkan matanya.


"Om tampan tidak ikut sayang. Sekarang yang menemani peri cantik adalah om ini" Jawab Nesa sambil menunjuk pada Adam


"Tapi om ini lebih tampan" Ujar anak itu dengan senyum yang mengembang


Adam membalas senyum walaupun matanya masih memandang tajam ke arah Nesa.


"Kalian mau hadiah tidak?" Nesa berusaha menghindari tatapan Adam dengan kembali berbincang dengan anak-anak


"Mau mau" Anak-anak itu tampak antusias


"Hadiahnya ada di mobil. Kalian panggil dulu ibu panti ya,biar ibu panti yang mengambilnya" Anak-anak itu langsung berlarian ke dalam panti diiringi dengan tawa riang


"Jelaskan padaku. Siapa yang mereka sebut om tampan tadi?" Tanya Adam dengan tegas


"Aku rasa kamu sudah bisa menebaknya" Jawab Nesa santai


"Firman?"


"Iya" Nesa tidak membantah


Tidak puas dengan jawaban singkat Nesa,Adam kembali mencecarnya.


"Dia sering menemanimu kesini?"


"Aku tidak ingin memperpanjang. Karena jika aku meladeni pertanyaan mu,sudah bisa dipastikan seperti apa reaksimu nanti"


"Aku hanya bertanya. Aku juga tidak ingin ribut"


Ibu panti datang sebelum suasana kembali mencair.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2