
Adam terdiam beberapa saat. Dia sedang berpikir untuk mencari alasan agar Surya tidak mendesaknya lagi. Tidak mungkin dalam waktu dekat dia menikah. Calonnya saja belum ada, lantas dia mau menikah dengan siapa?
"Aku bukannya tidak mau menikah tapi aku belum menemukan wanita yang cocok. Lagipula permintaan papa itu sungguhlah aneh. Aku belum memiliki calon tapi sudah menyuruhku untuk menikah dalam waktu dekat" Adam berkilah akhirnya
"Jadi kalau calonnya ada,kamu setuju untuk menikah dalam waktu dekat?" Tanya Surya
"Tentu saja" Adam menjawab cepat karena dia ingin segera mengakhiri pembicaraan yang menurutnya tidak penting. Tapi siapa sangka jawabannya justru bagai senjata makan tuan
"Kalau begitu,sepertinya kamu harus menerima calon dari papa" Ucap Surya gamblang
"Apa...?" Adam kaget. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Adam mencoba mencerna lagi ucapan Surya. Apakah sekarang ini papanya sedang merencanakan semacam perjodohan untuknya?
"Maksud papa apa?" Adam bertanya untuk memastikan dugaannya
"Sebenarnya papa sudah menjodohkan kamu dengan anak sahabat papa. Waktu itu kalian masih kecil dan papa lihat dia semakin tumbuh menjadi gadis yang baik. Jadi papa melanjutkan rencana yang sudah papa buat. Dia pantas untuk kamu" Ucap Surya akhirnya menyampaikan rencana perjodohannya
"Dia juga cantik dan pintar. Tidak usah khawatir" Sambung Surya untuk lebih meyakinkan Adam
"Papa tidak sedang mengibul kan?" Tanya Adam masih tak percaya
"Tentu saja tidak" Jawab Surya
Adam tersenyum sumbang.
"Papa tunggu jawaban kamu. Tapi papa yakin kamu tidak akan membuat jantung papa berhenti berdetak" Ancam Surya. Dia menggunakan senjata terakhirnya untuk membujuk Adam
Adam membeku. Dia baru saja ingat kalau papanya beberapa bulan yang lalu dilarikan ke rumah sakit karena terkena serangan jantung. Tapi untung saja nyawanya masih tertolong. Dan rupanya saat ini papanya memanfaatkan kondisi kesehatannya itu untuk membujuknya.
__ADS_1
"Sungguh konyol,ini benar-benar konyol" Gumam Adam
Adam tidak bertanya lebih lanjut tentang rencana konyol papanya. Adam masih terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Adam memilih pergi ke kamar untuk mengistirahatkan diri dan menenangkan pikirannya.
Adam mencoba memejamkan matanya untuk tidur tapi tidak bisa. Sepertinya obrolannya dengan Surya tadi sudah benar-benar mengganggu pikirannya. Sebenarnya Adam memang ingin menikah tapi tidak dengan cara dijodohkan juga.
Adam mengacak-ngacak rambutnya kesal. Wajahnya semakin tidak enak dilihat. Selama ini dia tidak pernah goyah karena sebuah permasalahan. Bahkan masalah besar yang terjadi di Perusahaan sekalipun selalu bisa dia atasi. Tapi entah kenapa kali ini dia merasa masalahnya sangat berbeda. Dia menjadi emosional dan sangat sensitif jika menyangkut soal kehidupan pribadinya.
Adam membalikkan badannya mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Tapi tiba-tiba saja sosok gadis yang sudah dua kali mencuri perhatiannya melintas dipikirannya.
Beberapa waktu yang lalu Adam melihatnya untuk yang pertama kalinya. Apa yang dilakukannya waktu itu membuat Adam takjub. Dan kemarin Adam melihatnya lagi untuk yang kedua kalinya. Lagi lagi sikap gadis itu membuat Adam kembali memuji kebaikannya. Semua orang bisa melakukan hal yang sama seperti yang gadis itu lakukan tapi Adam melihat gadis itu mempunyai hati yang tulus. Kecantikannya dengan rambut ikal yang menggantung juga membuat Adam tak berhenti untuk memikirkannya. Padahal selama ini wanita-wanita yang mencoba mendekatinya juga tak kalah cantik tapi sedikitpun tidak membuat hati Adam tersentuh.
"Gadis cantik dan baik hati" Batin Adam
"Apakah gadis yang akan papa jodohkan denganku,secantik dan sebaik gadis itu!" Gumam-gumam Adam
Adam tersenyum sambil membayangkan wajah cantiknya yang tak bisa lepas dari pikirannya saat ini. Tapi secepat kilat ekspresi Adam berubah saat teringat rencana perjodohan papanya tadi. Adam mendengus kesal. Adam menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya hingga akhirnya Adam terlelap.
Gunawan duduk termangu dikursi taman belakang rumahnya. Tak terlihat senyuman di wajahnya. Gunawan gelisah mencari cara untuk memberitahu Nesa tentang rencana perjodohannya. Beberapa kali gunawan menghela nafasnya dan membuangnya kasar.
"Apa ada masalah yang serius pa?" Suara Widia mengagetkan Gunawan. Ternyata Widia sudah daritadi memperhatikan kegelisahan Gunawan dari kejauhan
"Tidak ada ma. Hanya saja...." Gunawan tidak langsung melanjutkan kalimatnya. Dia tampak ragu untuk memberitahu Widia
Widia duduk disebelah suaminya itu. Menunggu Gunawan untuk melanjutkan kalimatnya.
"Papa hanya memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya pada Nesa" Gunawan melanjutkan ucapannya
__ADS_1
Widia menautkan kedua alisnya. Dia terlihat bingung dan tidak mengerti apa maksud perkataan Gunawan
"Maksud papa apa? papa ingin menyampaikan apa pada Nesa?" Tanya Widia penasaran
"Apa mama masih ingat dengan rencana perjodohan yang aku buat dengan mas Surya dulu?" Tanya Gunawan
Widia tertegun. Tentu saja dia mengingatnya tapi yang membuatnya kaget,karena ternyata rencana mereka akan berlanjut. Dulu Widia pikir itu hanya gurauan semata.
"Tentu mama ingat pa. Apa papa serius ingin melanjutkan rencana perjodohan itu dan Apa mas Surya sudah membicarakan lebih lanjut mengenai hal itu?"
"Sudah ma. Mas Surya benar-benar serius ingin menikahkan puteranya dengan puteri kita. Mas Surya menyukai Nesa,dan menurut dia hanya Nesa gadis yang tepat untuk mendampingi puternya" Ujar Surya
"Mas Surya juga berjanji akan segera memberitahu Adam. Atau bahkan saat ini mas Surya sudah mengatakannya pada Adam" Sambung Gunawan
Widia masih fokus mendengarkan tanpa berkomentar apa-apa.
"Sekarang masalahnya papa bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Nesa. Menurut mama bagaimana?" Gunawan meminta pendapat istrinya itu
Widia menghela nafas panjang sambil terlihat berpikir.
"Mama sungguh tidak berkeberatan selama Nesa mau dan Adam bisa membuat Nesa bahagia. Mengingat selama ini keluarga mas Surya baik. Tapi bagaimana jika Nesa menolak dan tidak bisa menerimanya? Sedangkan mas Surya tetap kekeh dengan keinginannya. Itu hanya akan membuat Nesa sedih. Dan mama takut akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan" Widia mengkhawatirkan kemungkinan terburuknya
"Bukan hanya mas Surya tapi papa juga ingin mereka menikah. Tidak ada alasan untuk papa menolak laki-laki seperti Adam" Gunawan juga mengharapkan Adam menjadi menantunya
"Nesa pasti akan sangat beruntung bisa menjadi istri Adam. Nesa memang masih muda tapi cara berpikir dia sudah dewasa. Tidak usah terlalu mengkhawatirkannya" Tambah Surya menenangkan Widia
"Ya sudah,papa cari waktu yang tepat saja untuk memberitahu Nesa" Ucap Widia pasrah
__ADS_1
Dalam hatinya,Widia ingin menolak perjodohan itu karena Widia tidak yakin jika Nesa akan menerimanya. Widia sangat tahu kalau Nesa masih ingin melanjutkan kuliahnya ke program spesialis. Widia juga sangat tahu kalau Nesa tidak punya keinginan untuk menikah di usia muda. Apalagi dengan cara dijodohkan.
Bersambung....