
Nesa mengemudikan mobilnya dengan cepat. Dia takut saja jika Adam sudah datang ke rumahnya dengan tiba-tiba. Apalagi sekarang Adam sudah mempunyai akses bebas keluar masuk ke dalam rumahnya. Papa dan mamanya selalu menyambutnya dengan hangat tanpa pernah menanyakan status hubungan mereka.
Nesa tiba di rumah. Tidak ada siapapun disana. Ini belum waktunya makan malam. Mungkin papa dan mamanya masih ada di kamar atau mungkin saja keduanya belum kembali dari kesibukannya. Entah lah pekerjaan mereka tidak memiliki jadwal yang tentu.
Nesa melangkah masuk ke dalam kamar. Menatap ponselnya,belum ada panggilan atau pesan lagi dari Adam. Dia merebahkan tubuhnya sejenak sambil memejamkan matanya. Jika saja ponselnya tidak berbunyi,mungkin saja dia sudah terlelap. Di lihatnya sebuah pesan masuk,dari Dea. Dea mengajaknya bertemu besok.
"Sudah jam berapa ini" Nesa melihat penunjuk waktu di ponselnya
Nesa beranjak dengan mata yang membulat. Dia segera melakukan ritual mandinya. Tak berapa lama Nesa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
Dengan masih menggunakan jubah handuknya,Nesa memilih-milih gaun yang cocok untuk dipakainya malam ini.
"Tunggu,dia akan mengajakku kemana?" Nesa agak kerepotan memilih gaun karena dia sendiri tidak tahu Adam akan mengajaknya kemana.
"Tidak lucu jika salah costum" Nesa bergumam sambil menutup lagi lemari nya
Nesa mendudukkan tubuhnya di sofa dan terlihat sedang berpikir.
"Sangat menyita waktu. Tidak mungkin juga kan sampai menunggunya datang baru aku bersiap" Nesa membuka lagi lemari nya dan memilih gaun malam dengan asal
Dipakainya sebuah gaun polos selutut berwarna putih gading dengan aksen mutiara dibagian bawah dadanya. Kemudian Nesa duduk di meja riasnya dan mengaplikasikan make up tipis berwarna nude pada wajahnya. Lalu dia menyisir rambutnya dan menarik kedua sisinya ke belakang dengan jepit rambut berbentuk pita yang berwarna senada dengan gaunnya dan ukurannya tidak terlalu besar.
Nesa menyudahi kegiatannya bersamaan dengan ponselnya yang berdering.
"Mau berapa lama lagi kamu akan berdandan. Aku sudah daritadi menunggu. Cepat turun" Adam langsung memutus sambungan telfon nya
"Kebiasaan" Gerutu Nesa
Dengan cepat Nesa memakai high heelsnya dan mengambil tas,lalu dia turun dari kamarnya. Nesa melihat Adam sudah duduk di ruang tamu dengan memakai setelan jas berwarna hitam.
"Sepertinya aku tidak salah costum"
Adam tak berkedip saat melihat Nesa mendekat ke arahnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Nesa dengan memasang wajah sebal dengan harapan agar Adam tidak tertarik padanya malam ini
"Kadar kecantikan mu semakin bertambah dengan wajah masam mu itu" Alih-alih tidak tertarik,justru Adam semakin menggila
"Sejak kapan dia menjadi gila seperti ini"
"Sepertinya kamu akan mempunyai julukan baru"
"Oh iya,apa itu?" Tanya Adam sok antusias
__ADS_1
"Tukang gombal"
Bukannya kesal,Adam malah tertawa renyah.
Adam menjemput Nesa menggunakan mobil Porsche berwarna putih. Jangan ditanya berapa koleksi mobil yang ada di rumahnya. Karena Adam memang suka dengan mobil sport.
Adam membuka pintu mobil dan mempersilahkan Nesa untuk masuk. Nesa tertegun sesaat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang tak menentu.
"Kamu sengaja ya berdandan sangat cantik seperti ini untuk ku" Adam menggoda Nesa sambil fokus menyetir
"Aku berdandan bukan untuk kamu tapi untuk diriku sendiri" Balas Nesa ketus
Adam terlihat sedang menahan tawa hingga mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Mereka masuk ke dalam restoran dan sudah ada pelayan yang menyambutnya disana. Nesa agak heran melihat ke sekeliling karena restoran tersebut tampak sepi tak ada satu pun pengunjung.
"Kenapa melamun? aku sudah booking restoran ini untuk beberapa jam ke depan" Ujar Adam seolah bisa membaca isi kepala Nesa
Adam menggandeng tangan Nesa dan membimbingnya menuju lantai atas. Nesa sedikit terhipnotis dengan mata yang membulat sempurna saat melihat ruangan yang sudah disulap se romantis mungkin.
"Ini ada acara apa? ulang tahunku masih beberapa bulan lagi" Nesa masih terperangah menatap seluruh ruangan yang di dekorasi serba putih dengan banyak bunga mawar putih di sudut-sudut ruangan.
"Aku hanya ingin makan malam romantis dengan mu" Adam menarik kursi dan memberi isyarat pada Nesa untuk duduk
Kemudian pelayan tadi datang membawa hidangan makan malam untuk mereka. Makan malam semakin romantis dengan adanya lilin di meja. Mereka pun menyantap hidangannya sambil saling menatap dengan mesra.
"Sepertinya aku berhasil" Ucap Adam disela-sela kegiatan makannya
"Wajah mu tidak terlihat kesal lagi" Adam tersenyum ceria pada Nesa
Nesa menghentikan makannya dengan pandangan yang agak meredup.
"Kenapa kamu melakukan ini semua?" Tanya Nesa dengan wajah yang tertunduk
"Haruskah kamu bertanya lagi? Bukannya kamu sendiri yang meminta ku untuk membuktikan kesungguhan ku? ini lah salah satu bentuk pembuktian ku" Jawab Adam dengan semangat
Nesa terlihat enggan untuk menanggapi. Nesa memilih melanjutkan makannya sampai habis. Setelah Adam juga menghabiskan makan malamnya,Adam mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya,lalu membuka dan mengambil isinya. Adam mendekat ke arah Nesa dan melingkarkan benda itu di lehernya.
Nesa terkesiap dan spontan saja menyentuh benda itu. Sebuah kalung emas putih dengan liontin inisial A. Ya Adam seolah ingin menegaskan jika Nesa hanyalah miliknya dengan memberikan kalung yang berliontin inisial namanya.
"Maaf sudah merusak kalung mu waktu itu dan ini sebagai gantinya" Bisik Adam dibelakang telinga Nesa
Nesa tak mampu berkata-kata. Nesa juga tidak menyangkal setiap kebahagiaan yang saat ini dia rasakan. Lalu Adam menarik tangan Nesa dan membimbingnya menuju pada sebuah benda besar yang di tutup kain putih di sudut ruangan. Nesa membeliakkan matanya saat Adam membuka penutupnya.
"Piano"
__ADS_1
"Iya. Malam ini kamu harus memainkannya khusus untuk aku"
"Tidak" Nesa hendak melangkah pergi tapi Adam mencegahnya
"Sebenarnya waktu itu aku sangat cemburu melihat mu bermain piano dan berbincang secara eksklusif dengan Tuan Daniel. Dia sangat beruntung mendapatkan kesempatan itu dan malam ini kamu harus membayarnya" Ujar Adam sambil berseloroh
"Kamu menonton acara ku waktu itu?"
Adam mengangguk pelan dan mengambil kursi untuk bersiap menonton permainan piano Nesa.
"Apa aku harus bernyanyi juga?" Tanya Nesa lagi
"Tentu saja"
Nesa duduk dibelakang piano dan jemarinya mulai menekan tuts demi tuts piano hingga menimbulkan suara yang sangat indah. Nesa melanjutkan permainan pianonya sambil menyanyikan sebuah lagu.
*Aku masih menunggu mu
Aku masih menanti mu
Masih selalu diri mu dan masih tentangmu...
Tapi aku punya waktu
Karena ku tak mau ragu
Buktikan depan mataku
Cintamu padaku...
Aku butuh kepastian
Kejelasan hubungan kita
Aku mau semestinya
Kau dan aku jadi satu*...
Nesa sangat menjiwai lagunya. Entah karena lagu itu mewakili perasaannya saat ini atau hanya sekedar suka saja. Yang jelas Adam dibuat tak berkedip melihatnya. Adam terbawa oleh suasana hingga tanpa sadar dia mendekat dan memeluk Nesa dari belakang.
Nesa terhenyak dan berdiri dari duduknya. Mereka saling tatap hingga akhirnya Adam tak kuasa untuk memeluk Nesa sekali lagi. Kemudian Adam sedikit mengurai pelukannya. Lalu menurunkan kepalanya dan mencium bibir Nesa dengan sangat mesra. Tapi tiba-tiba saja Nesa mendorong tubuh Adam dengan pelan.
"Jangan berlebihan. Pembuktianmu tidak akan berakhir malam ini" Ucap Nesa membelakangi Adam
__ADS_1
"Iya aku tahu" Adam tersenyum tipis sambil mengulum bibirnya
Bersambung...