
"Kenapa wajah mu terlihat tegang sekali. Aku hanya bercanda" Ucap Sabrina sambil tertawa
"Sejak kapan kamu suka bercanda?" Balas Sekretaris Bian. Masih dengan wajah datarnya
"Ah sudahlah,ucapan ku yang tadi tidak usah di ambil hati" Ucapnya lagi dengan ringannya
"Bagaimana bisa ucapan yang terlanjur aku dengar tidak aku masukkan ke dalam hati" Protes Sekretaris Bian
"Kamu menganggap ucapanku serius?" Tanya Sabrina menanggapi
"Harusnya aku yang bertanya,apa ucapan mu yang tadi itu serius?" Sekretaris Bian mengembalikan pertanyaan Sabrina
"Aku permisi dulu. Aku ingin mencari papa ku" Ucap Sabrina dengan tiba-tiba sambil beranjak dari sana seolah memang sengaja ingin menghindari Sekretaris Bian
"Kau belum menjawabnya" Sekretaris Bian menahan pergelangan tangan Sabrina
Sabrina menatap Sekretaris Bian dan berkata
"Ya,aku serius dengan ucapan ku. Aku permisi dulu,kamu tidak perlu menjawabnya" Jawab Sabrina tanpa basa basi
"Tunggu" Sekretaris Bian menghentikan langkah Sabrina
"Bisakah kita bertukar nomor telfon?" Tanyanya kemudian
Sabrina agak terkejut saat Sekretaris Bian menyodorkan ponselnya untuk meminta nomor kontaknya. Tapi kemudian Sabrina mengetik nomornya di ponsel Sekretaris Bian.
"Terimakasih. Aku harap kamu sudah tahu apa jawaban ku" Sekretaris Bian pun berlalu meninggalkan Sabrina yang masih terlihat bingung disana
Acara sudah sampai pada puncak. Semua tamu undangan mengekor untuk memberikan ucapan selamat pada Adam dan Nesa.
"Mas Firman tidak ingin memberikan ucapan selamat pada Nesa dan Tuan Adam ?" Tanya Dea pada Firman yang masih tak bergerak dari tempat duduknya
"Entahlah,rasanya aku sangat malas untuk bertegur sapa dengan suaminya itu" Jawab Firman dengan wajah yang agak ditekuk
"Mas Firman tidak boleh seperti itu! Nanti Nesa bisa bersedih jika tidak melihat mas Firman hadir di acara pernikahannya" Protes Dea
Firman bergeming. Masih tak beranjak dari tempat duduknya.
"Apa mas Firman tidak bahagia melihat Nesa menikah?" Tanya Dea kemudian
"Tentu aku bahagia" Jawabnya lemah
"Kalau begitu ayo kita ikut mengantri bersama tamu-tamu yang lain" Ajak Dea
"Ya baiklah" Firman setuju akhirnya
__ADS_1
Setelah mengantri cukup lama,akhirnya Dea dan Firman kebagian juga untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempeli.
Dea yang berada di depan Firman,langsung menjabat tangan Adam sambil memberikan ucapan selamat seperti yang lainnya. Setelah itu Dea berhambur memeluk sahabat terbaiknya itu.
"Selamat ya. Aku juga ikut bahagia. Tuan muda yang dingin itu sekarang sudah sah menjadi milik kamu seutuhnya" Bisik Dea sambil tertawa kecil
"Terimakasih" Balas Nesa sambil mengelus punggung Dea
Setelah beberapa saat saling berpelukan,Dea pun berlalu.
"Selamat Tuan Adam. Semoga anda bahagia" Ucap Firman kemudian sambil mengulurkan tangannya pada Adam
"Terimakasih Tuan Firman. Semoga anda juga mendapatkan kebahagiaan yang lain" Balas Adam dengan bernada sindiran
Firman berusaha berpikir positif dan tersenyum. Firman pun buru-buru enyah dari hadapan Adam.
"Selamat ya. Akhirnya kamu bisa menikah dengan laki-laki yang kamu cintai" Ucap Firman lagi pada wanita yang masih sangat dicintainya itu
Seketika itu juga Nesa langsung memeluk Firman tanpa memikirkan apa reaksi Adam nanti.
"Terimakasih banyak mas Firman" Lirih Nesa dalam pelukan Firman
"Hem..." Adam berdehem seolah memberi kode tidak suka
"Sayang,bukankah tidak baik jika sudah menjadi istri orang tapi masih memeluk laki-laki lain" Ucap Adam sambil tersenyum kecut
"Maaf" Nesa kembali menggandeng tangan Adam
Firman yang merasa sedikit kesal dan malu,akhirnya menyingkir dari sana.
Tamu-tamu yang akan memberikan selamat tampaknya masih banyak,hingga membuat Adam mulai bosan dan ingin segera mengakhiri pestanya. Dilihatnya Papa dan mamanya masih terlihat sibuk menyapa dan mengobrol santai dengan tamu-tamunya.
"Selamat Tuan Adam. Akhirnya Presdir Nusantara Group memiliki Nyonya muda. Semoga Anda selalu bahagia bersama istri anda" Ucap Tuan Anton yang datang bersama dengan puterinya,Sabrina.
"Terimakasih banyak Tuan Anton" Balas Adam
"Selamat juga untuk anda nona. Saya yakin anda wanita terbaik yang dipilih Tuan Adam" Ucapnya juga pada Nesa
"Terimakasih" Balas Nesa singkat
Sabrina yang berjalan di belakang papanya itu,ikut menjabat tangan Adam dan Nesa secara bergantian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya bibirnya saja yang terlihat tersenyum. Setelah itu Sabrina berjalan cepat dan keluar dari gedung megah itu.
Setelah tidak ada lagi yang memberikan selamat,Adam langsung menarik tangan Nesa menuju ke kamar hotel.
"Sayang,kenapa kita harus meninggalkan pesta? Masih banyak tamu-tamu yang belum pulang. Tidak enak kan sama papa dan mama" Gerutu Nesa
__ADS_1
"Biarkan saja. Tamunya sudah pulang semua. Hanya tinggal koleganya papa dan kerabatnya mama saja kan. Jika kita menunggu mereka sampai pulang,kita tidak akan punya waktu malam ini" Komentar Adam
"Tapi sayang,apa kata mereka nanti. Aku benar-benar tidak enak" Gerutu Nesa lagi
"Aku tidak peduli sayang,aku ingin meneruskan yang tadi pagi" Ucap Adam dengan entengnya
Setelah sampai di kamar hotel,Mereka pun membuka pakaian mereka masing-masing berganti pakaian tidur. Tak lupa juga Nesa membersihkan make up yang masih menempel di wajahnya. Setelah itu,mereka kembali menunaikan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri.
"Sayang..."
"Hm..."
"Aku masih tidak menyangka kamu sudah menjadi suami ku" Ucap Nesa
"Kenapa begitu?" Tanya Adam heran
"Ya lucu saja. Dulu aku sempat kabur dari pernikahan kita hingga pernikahan kita menjadi batal tapi pada akhirnya kita melanjutkan pernikahan kita yang gagal"
"Bukan gagal sayang tapi pernikahan kita yang tertunda" Ralat Adam
"Andai saja waktu itu aku tidak kabur dan kita jadi menikah, apa kamu bisa mencintai ku seperti saat ini?"
"Pasti" Jawab Adam yakin
"Kenapa kamu begitu yakin?" Tanya Nesa penasaran
"Karena aku sudah mengagumi mu sejak lama. Jauh sebelum kita bertemu di Bali" Bongkar Adam
"Apa maksud kamu? Aku belum mengerti?"
"Beberapa kali aku melihat kamu sedang membagi-bagikan makanan pada anak jalanan. Tapi aku tidak berani mendekat dan mengajakmu berkenalan. Waktu kita bertemu di Bali sebenarnya aku agak terkejut. Aku tidak menyangka jika gadis cantik dan baik hati yang selama ini aku kagumi dari kejauhan,ada di depan mata ku"
"Benarkah ?" Nesa yang agak terkejut mulai berkaca-kaca
"Ya. Dan kebersamaan kita di Bali waktu itu,semakin memperjelas jika aku sudah jatuh cinta sama kamu" Terang Adam
Nesa sangat terharu dengan cerita Adam sampai akhirnya dia sedikit meneteskan airmatanya. Adam mengusapnya dengan lembut.
"Ini malam bahagia kita. Tidak boleh ada airmata yang jatuh"
"Aku sangat bahagia sayang" Ucap Nesa sambil memeluk Adam
"Aku juga sangat bahagia. Kita memang ditakdirkan untuk berjodoh"
Bersambung....
__ADS_1