Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Sebuah Ide


__ADS_3

Nesa berusaha bangun dan menyiapkan baju kerja Adam. Tak lupa juga dia membuatkan teh hijau untuk Adam dan menaruhnya di atas nakas,menunggu Adam menyelesaikan mandinya. Setelah beberapa saat Adam keluar dari kamar mandi. Adam mengambil kemeja yang sudah Nesa siapkan di atas kasur dan memakainya. Kemudian Nesa mendekat dan mengancingkan baju kemeja Adam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Walaupun suasana hatinya sedang tidak baik,Nesa harus tetap melayani suaminya itu dengan baik seperti pesan papanya sebelum menikah dulu. Adam memperhatikan raut wajah Nesa yang sedang fokus memasang kancing kemejanya. Kemudian Nesa memasang simpul dasi Adam di kerah kemejanya. Terakhir Nesa mengambil jas,dengan sigap Adam merentangkan tangannya dan jas pun terpasang.


"Sekarang suamiku sudah tampan dan siap untuk pergi ke kantor" Puji Nesa sambil merapikan kembali dasi Adam


Saat Nesa hendak berbalik badan,Adam menarik lengan Nesa.


"Terimakasih" Ucap Adam sambil sedikit mengulas senyum


Nes tertegun sesaat sambil menatap wajah Adam,lalu dia menundukkan wajahnya dan melangkah pergi.


"Jangan lupa teh hijaunya diminum" Ucap Nesa kemudian sambil membereskan tempat tidur yang terlihat sedikit berantakan


"Kamu tidak ingin sarapan pagi bersamaku di bawah?" Tanya Adam sambil menyesap teh hijaunya


"Tidak. Kamu saja. Aku bisa sarapan nanti" Tolak Nesa


"Ya sudah aku pergi dulu" Adam melangkahkan kakinya meninggalkan Nesa yang tengah termenung disana


Sepertinya ada yang Adam lupakan hingga membuat Nesa tampak bermuka muram. Nesa menatap ke arah pintu,berharap Adam kembali. Sampai matanya mulai berkaca-kaca,orang yang diharapkan tidak juga muncul.


Saat Nesa sudah berputus asa,tiba-tiba pintu terbuka dan Adam muncul dari sana. Seketika wajah Nesa berubah senang sambil bangkit dari duduknya.


"Aku melupakan sesuatu" Adam mendekat dan mendaratkan ciuman di kening Nesa


Nesa membalasnya dengan memeluk tubuh Adam untuk beberapa saat.


Adam sedikit tertegun Karena sepertinya Nesa mulai merasakan perubahan sikapnya. Sepintar apapun Adam menyembunyikan kekecewaannya,tetap saja tidak akan bisa tertutup dengan sempurna.


"Aku harus pergi. Bian sudah menungguku" Ucap Adam sambil mengurai pelukannya


"Apa nanti kamu akan makan malam di rumah?" Tanya Nesa berharap


"Aku belum tahu. Jika pekerjaanku cepat selesai,aku bisa pulang sore dan makan malam di rumah" Jawab Adam dengan bimbang


Untuk pertama kalinya semenjak menikah,Adam memberikan jawaban tidak pasti. Biasanya Adam selalu usahakan untuk pulang sore. Kali ini sikap Adam menambah keyakinan Nesa jika Adam memang sudah berubah. Bahkan ciuman pagi yang biasa Adam berikan,sempat Adam lupakan tadi.


"Baiklah" Balas Nesa akhirnya dengan raut wajah yang tidak bersemangat


"Jangan lupa obatnya diminum" Ucap Adam mengingatkan sebelum akhirnya dia benar-benar menghilang di balik pintu


Walaupun Adam kembali dan masih sempat memberikan ciumannya,tetap saja Nesa merasa sedih. Nesa bingung harus bersikap seperti apa? Yang jelas dia harus segera hamil lagi untuk membayar kesedihan Adam. Dengan begitu dia bisa mengembalikan keceriaan Adam dan pastinya sikap Adam akan berubah seperti sedia kala.


Pikiran-pikiran seperti itu membuat Nesa kembali bersemangat. Nesa memutuskan untuk menyegarkan dirinya di kamar mandi. Setelah tubuh dan pikirannya kembali segar,terdengar pintu kamar ada yang mengetuk.


Pak Ngah masuk membawa sarapan untuk Nesa.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh pak Ngah membawakan sarapan ku?" Tanya Nesa ingin tahu


"Tuan muda,nona" Jawab pak Ngah


"Oh...Taruh saja disitu" Pinta Nesa menunjuk meja nakas dengan gerakan matanya


Pak Ngah menaruhnya,lalu berpamitan pergi.


"Tunggu pak"


"Iya non"


"Jika nanti ada temanku,bawa saja kesini" Perintah Nesa


"Baik non" Pak Ngah keluar dan menutup pintunya kembali


Saat Nesa menikmati sarapannya,tiba-tiba mama mertuanya masuk.


"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja makanannya" Ucap Sintia saat Nesa hendak menghentikan sarapannya


"Duduk ma. Maaf Nesa sambil makan" Ucap Nesa dengan agak sungkan


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Sintia kemudian


"Aku baik-baik saja" Jawab Nesa sambil mempercepat makannya


Nesa menaruh piring dan menenggak segelas air putih.


"Aku lebih sedih lagi ma. Karena selain anakku meninggal,aku juga harus melihat suamiku kecewa terhadapku" Balas Nesa dengan kalimat yang membuat Sintia merasa tidak enak hati


"Maafkan mama. Mama tidak bermaksud mencampuri masalah rumah tangga kalian" Ucap Sintia dengan agak menyesal


"Aku yang harus minta maaf. Aku sudah mengecewakan banyak orang,termasuk mama dan papa" Balas Nesa sedih,sesedih raut wajahnya saat ini


"Tidak seperti itu Nesa. Mama percaya ini sudah takdir. Mama hanya mengkhawatirkan sikap Adam pada kamu" Ujar Sintia menanggapi


"Mas Adam masih bersikap baik dan perhatian. Tapi aku merasa mas Adam sedang menyalahkan aku dalam musibah ini dan dia berusaha menutupi itu semua dariku" Ucap Nesa berterus terang


"Tidak usah kamu pikirkan. Lambat laun Adam akan kembali ke sikapnya yang semula. Dia begitu,mungkin karena dia masih syok" Sintia mencoba memberi pengertian pada Nesa


"Iya ma. Nesa janji tidak akan bodoh lagi" Ucap Nesa sambil memaki dirinya sendiri


"Ya sudah. Selama kamu tidak bekerja,kamu istirahat saja di rumah. Jika butuh sesuatu katakan saja biar mama yang akan membelinya" Ucap Sintia perhatian


"Terimakasih ma" Nesa menyentuh punggung tangan Sintia


Tak lama setelah Sintia keluar dari kamarnya. Pak Ngah datang lagi tapi kali ini datang bersama Dea. Kemarin Nesa memang meminta Dea untuk datang,setelah mendapatkan ijin dari Adam tentunya. Pak Ngah mengantar Dea hanya sampai pintu. Dengan agak terperangah,Dea masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Tidak usah tercengang begitu. Ayo duduk" Nesa menepuk sofa di sampingnya


"Semua isi di rumah ini membuat aku takjub" Ucap Dea sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa


"Hidupmu sempurna sekali ya. Mendapatkan suami tampan,sangat mencintai kamu,dan kaya raya pula" Ucap Dea lagi


"Tapi kamu tahu Dea aku baru saja kehilangan calon anakku dan itu membuat mas Adam jadi kecewa kepadaku" Ucap Nesa dengan wajah sedih


"Kenapa harus kecewa? Bukankah kamu juga tidak menginginkan hal itu terjadi?" Tanya Dea heran


"Sepertinya dia menyalahkan aku atas kejadian itu karena aku tidak menyadari jika aku hamil" Jawab Nesa dengan dugaannya


"Sebaiknya kamu ajak Tuan Adam untuk berlibur agar pikirannya teralihkan" Saran Dea kemudian


"Berlibur?"


"Iya. Bagaimana jika kamu mengajak dia berlibur ke Bali. Tempat kalian pertama bertemu" Dea memberikan ide


"Ya nanti aku coba" Ucap Nesa dengan agak ragu


"Sudahlah tidak usah bersedih. Kamu masih bisa hamil lagi" Ucap Dea sambil memeluk sahabatnya itu


"Oh iya bagaimana kabarnya mas Firman?" Tanya Nesa tiba-tiba


"Mas Firman baik-baik saja. Kenapa? rindu ya?" Seloroh Dea


"Ah ngawur. Aku sudah bersuami. Rinduku hanya untuk suamiku,tidak untuk laki-laki lain" Gerutu Nesa


"Iya-iya aku hanya bercanda"


"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan mas Firman?" Tanya Nesa lagi


"Hanya sebatas teman dekat saja. Mas Firman susah move on dari kamu" Jawab Dea dengan memasang wajah kesal


Nesa yang melihatnya justru tergelak tawa.


"Harusnya kamu senang. Jika dia susah move on itu berarti dia orang yang setia"


"Kenapa aku harus senang? Aku kan bukan kekasihnya" Ucap Dea sambil memanyunkan bibirnya


"Maksudku,jika suatu saat nanti dia sudah jatuh cinta sama kamu,dia juga akan sulit melupakan kamu. Dia akan setia sama kamu" Nesa menjelaskan


"Ya ya. Semoga saja"


Cukup lama mereka mengobrol santai. Nesa sedikit lupa dengan kesedihannya karena kehadiran Dea. Nesa akan membicarakan dengan Adam tentang ide dari Dea. Ide untuk mengajaknya berlibur.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2