
"Nesa sanggup bertahan dengan segala kekurangan mas Adam tapi satu hal yang tidak bisa membuat Nesa bertahan yaitu penghianatan" Jawab Nesa kemudian
"Itu yang tante maksud Nesa. Menjadi pasangan hidup Adam tidaklah semudah yang kamu bayangkan. Banyak perempuan yang mengejarnya. Ada juga yang sampai melamar ke rumah tapi Adam tidak pernah menanggapinya. Dan semua perempuan itu bukanlah perempuan sembarangan. Beberapa merupakan anak dari rekan bisnis kami.
Mungkin didepan kami,mereka menerima penolakan tanpa menimbulkan masalah tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan. Bisa saja ada yang sakit hati dan menaruh dendam" Tiba-tiba ada kegetiran dalam hati Nesa. Benarkah sesulit itu untuk tetap bertahan disisi Adam
"Tante tidak bermaksud untuk menakut-nakutimu. Tante bicara fakta dan tante menyampaikan ini agar kedepannya kamu tidak banyak salah paham pada Adam. Apa kamu mengerti Nesa ?" Tanya Sintia dengan nada yang lebih tegas
Nesa mengangguk walaupun sebenarnya dia belum sepenuhnya mengerti dengan ucapan Sintia.
"Apa kamu juga sudah tahu dengan kekurangan Adam yang lain? Apa selama ini belum nampak sifat jeleknya?" Tanyanya lagi
Nesa menggeleng dengan cepat. Nesa tidak begitu fokus lagi mendengar ocehan Sintia. Yang saat ini Nesa rasakan hanyalah kekhawatiran. Nesa tidak ingin jika suatu saat nanti ada yang mencoba merusak hubungannya dengan Adam.
"Jika Adam mencintai seseorang dia akan sangat posesif Nesa..! Adam akan merasa jika kamu adalah milik dia seutuhnya tanpa boleh ada yang menyentuh dan mengganggunya. Jadi jika suatu saat Adam mengekangmu atau cemburu berlebihan, kamu jangan terkejut" Lagi-lagi ucapan Sintia membuat kecemasan Nesa semakin bertambah
"Adam juga tidak suka dengan perempuan yang manja. Jadi mengertilah dengan segala kesibukannya karena dia sangat pekerja keras" Sambung Sintia
Nesa suka dicemburui tapi jika berlebihan tentu tidak baik juga. Pantas saja kemarin dia sangat tidak suka melihat Alex dan menyuruhnya untuk mengganti dengan sopir yang baru. Nesa pikir Adam hanya bercanda saja tapi ternyata itulah sifat aslinya yang mulai nampak ke permukaan.
"Jika Nesa berada diposisi seperti itu,apa yang harus Nesa lakukan?" Tanya Nesa ingin meminta sedikit saran pada Sintia sebagai ibunya Adam
"Jika sifat jeleknya mulai kelihatan,tetaplah bersikap tenang dan jangan memancing emosinya. Intinya Adam tidak suka dibantah. Dia lebih suka sama perempuan penurut" Saran Sintia
Nesa menghela nafasnya dalam-dalam dan membuangnya pelan seolah dadanya terasa sesak mengetahui kenyataan itu. Sepertinya Nesa memang harus siap dengan segala kemungkinan buruk dan harus berjuang agar tetap betahan disisi Adam.
"Baik tante. Terimakasih banyak atas nasehat-nasehatnya. Nesa akan selalu mengingat saran dari tante" Jawab Nesa akhirnya
__ADS_1
"Kamu pasti gadis yang istimewa Nesa..! Dari sekian banyak perempuan yang mencoba mendekatinya,kamu lah yang berhasil meluluhkan hatinya. Jika kamu bukan gadis yang baik,Adam tidak mungkin bisa jatuh hati" Ujar Sintia lagi
Nesa merasa sangat tersanjung mendengar Sintia sedang memujinya. Nesa berpikir jika Sintia adalah sosok ibu yang hangat dan sangat terbuka,jauh dari bayangan awalnya yang dia pikir galak.
"Terimakasih banyak tante sudah menerima Nesa dengan baik" Ucap Nesa tulus
Sintia tersenyum tipis dan mengusap bahu Nesa.
"Sepertinya tante harus pulang dulu. Kamu ingin tetap berada disini menunggu Adam atau ikut pulang bersama tante?" Tanya Sintia sambil menawarkan diri
"Tentu saja Nesa akan pulang,tapi Nesa tidak bisa ikut bersama tante karena Nesa membawa mobil sendiri" Jawab Nesa
"Hm baiklah" Balas Sintia
Akhirnya mereka keluar dari apartemen Adam bersama-sama,dan pulang mengendarai mobil yang berbeda.
Nesa tidak bisa memejamkan matanya karena cemas dan gelisah. Ucapan Sintia masih berputar-putar diotaknya. Kekhawatirannya memuncak saat Nesa mencoba menghubungi Adam berkali-kali tapi tak ada jawaban. Ingin rasanya Nesa memeluk Adam saat ini juga untuk mengusir rasa cemasnya. Nesa mencoba menghubungi Adam satu kali lagi dan hasilnya tetap nihil,tidak juga mendapat jawaban. Nesa menjatuhkan dirinya diatas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Segala pikiran buruk pun mulai menyerangnya.
Tak lama kemudian,orang yang sedang dirindukannya muncul juga melalui deringan ponselnya. Dengan gerakan cepat Nesa menggeser layar ponselnya.
"Sayang,kamu belum tidur? Maaf seharian ini aku sibuk sekali dan baru bisa menghubungimu" Suara seseorang di seberang sana terdengar sedang meminta maaf dan menjelaskan
"Sesibuk apa sampai-sampai tidak sempat menghubungiku?" Tanya Nesa sambil terisak
"Sayang sepertinya kamu sedang menangis! Aku tidak apa-apa,aku sudah ada di rumah. Tidak usah cemas" Jawab Adam
"Aku sangat merindukanmu. Aku ingin memelukmu saat ini juga" Ucap Nesa dengan manjanya
__ADS_1
Entah Adam akan memenuhi keinginannya atau tidak yang jelas Nesa memang sangat merindukan Adam saat ini.
"Sayang,terakhir kita bertemu itu tadi pagi. Bisakah kamu menahannya sampai besok? Kamu bisa menemuiku di kantor" Jawab Adam seolah keberatan
"Aku tidak mau. Aku maunya sekarang" Nesa bersikeras
"Tapi sayang ini sudah malam?" Bujuk Adam masih dengan nada lembutnya
"Ya sudah kalau tidak mau tidak apa-apa" Balas Nesa sedih. Nesa memutus sambungan telfonnya secara sepihak dan kembali menangis sejadi-jadinya. Ucapan Sintia benar-benar sudah memperngaruhniya dan merubah sikapnya
Ditengah isaknya,Nesa tiba-tiba saja teringat dengan kata-kata Sintia tadi,jika Adam tidak menyukai perempuan yg manja. Lalu cepat-cepat Nesa mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Adam lagi. Jantung Nesa berdebar-debar karena sampai panggilan yang ketiga Adam tidak juga mengangkatnya. Nesa benar-benar sangat cemas. Nesa berpikir Adam sudah marah dan tidak mau berbicara dengannya. Nesa melempar ponselnya dengan putus asa.
Tapi kemudian,ponselnya berdering lagi. Nesa meraih benda itu dengan perasaan yang tak menentu.
"Ada apa?" Suara Adam terdengar berbeda dari yang sebelumnya
"Sayang,apa kamu marah? Kamu tidak langsung mengangkat telfonku tadi?" Tanya Nesa dengan lembut
"Aku sedang mandi. Tadi waktu aku menelfonmu,bahkan aku belum sempat mengganti pakaianku" Jawab Adam dengan agak ketus
Seketika itu juga perasaan bersalah memenuhi relung hati Nesa. Rasa cemas berlebihan membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Sungguh jauh dari sifatnya selama ini. Nesa tidak pernah bersikap manja,pada orangtuanya sekalipun. Nesa menggerutuki kebodohannya sendiri.
"Apa kamu marah dengan sikapku yang tadi?" Tanya Nesa
"Aku tidak marah. Aku hanya sedih,karena sepertinya kamu tidak benar-benar mencintaiku" Jawab Adam sinis
Nesa menggeleng dengan cepat. Dia tidak menyangka jika kecorobohannya akan membuat Adam meragukan cintanya.Nesa sangat menyesal sudah mencemaskan Adam secara berlebihan.
__ADS_1
Bersambung...