Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Wedding Day


__ADS_3

Hari yang telah di nanti-nantikan telah tiba. Hari dimana Adam akan mengucap ikrar suci di depan penghulu. Hari dimana akan menjadi hari paling bahagia bagi mereka berdua. Hari dimana mereka akan menjalani kehidupan baru yang dinamakan pernikahan.


Adam bangun dari tidur dengan bibir yang tersungging lebar. Tampak jelas rona bahagia di wajahnya. Perempuan yang selama ini dia cintai akan menjadi istrinya. Adam membuka jendela kamarnya dan menghirup udara disana dalam-dalam.


"Adam,apa kamu sudah mandi?" Sintia tiba-tiba masuk ke kamar Adam


"Sebentar lagi ma" Jawabnya senang


"Kami tunggu kamu di bawah ya" Ucap Sintia kemudian


"Iya"


Saat Sintia keluar dari kamar,buru-buru Adam masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan tubuh dan muka bantalnya agar lebih segar. Setelah itu Adam mengambil baju pengantinnya yang sudah tergantung rapi dan memakainya.


Sementara di tempat lain. Nesa yang sudah selesai dirias sedari tadi tampak cantik dengan riasan yang tidak terlalu mencolok. Kebaya putih yang membalut tubuhnya membuatnya semakin terlihat anggun.


Nesa memantulkan dirinya lagi di depan cermin. Dia menatap dirinya sendiri,masih tidak menyangka dengan takdir yang sudah tergaris untuknya. Laki-laki yang dia cintai,yang sebentar lagi akan menjadi suaminya adalah laki-laki pilihan papanya yang dijodohkan dengannya beberapa waktu yang lalu. Dan sehari sebelum pernikahan,dia tinggal kabur begitu saja.


Aku pernah berusaha lari tapi takdir membawa ku pada pertemuan kita dengan caranya sendiri ~Nesa Mazaya~


"Mama belum percaya jika puteri mama satu-satunya akan menikah secepat ini" Widia membuyarkan lamunan Nesa


Widia tampak bersedih melihat puteri kesayangannya akan segera meninggalkannya. Ya menikah,artinya sudah terlepas dari tanggung jawab orang tuanya.


"Kenapa mama sedih ? Apa mama tidak suka melihat aku menikah dengan mas Adam?" Tanya Nesa sambil merangkul tubuh Widia


"Bukan begitu sayang. Mama bahagia kamu menikah dengan Adam. Yang membuat mama sedih itu karena sebentar lagi kamu bukan lagi tanggung jawab papa dan mama" Jawab Widia


"Tapi selamanya aku akan jadi anak papa dan mama" Sahut Nesa


"Ya. Jika Adam berani menyakiti kamu,mama sendiri yang akan membawa kamu kembali lagi ke rumah ini" Ucap Widia dengan tegas

__ADS_1


"Mama tidak usah cemas. Mas Adam tidak akan melakukan itu" Balasnya yakin


Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Acara akan di mulai sebentar lagi.


"Sayang,keluarga Adam sudah datang. Ayo kita turun" Gunawan menghampiri Nesa ke dalam kamarnya


"Iya pa,sebentar lagi kami akan turun" Ucap Widia


Nesa memantulkan dirinya sekali lagi di depan cermin.


"Sempurna. Puteri mama sangat cantik. Adam pasti tidak bisa berdekip saat melihatmu nanti" Seloroh Widia sambil merapikan kembali kebaya yang dipakai Nesa


Nesa menuju halaman rumah dan duduk di samping Adam. Mereka saling tatap sambil tersenyum manis. Mereka juga sangat serasi dengan gaun pengantin yang berwarna senada. Tamu undangan yang tidak begitu banyak karena memang hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja juga sudah memenuhi halaman.


Penghulu juga sudah siap,duduk di depan mereka. Penghulu tampak sedang membimbing Adam dan dengan lantangnya Adam mengucapkan ijab kabul dengan lancar.


Ada yang bergetar di dalam sana saat Adam mengucapkan kalimat keramat itu. Adam menatap wajah Nesa dengan perasaan haru. Tidak ia sangka jika pada akhirnya dia akan sampai pada titik ini.


Acara akad berlangsung dengan singkat. Karena tidak ingin merasa lelah di acara resepsi yang akan di gelar nanti malam,Adam maupun Nesa memilih beristirahat di kamar.


Adam membuka bajunya dan hanya menyisakan kaos ********** saja. Sedangkan Nesa yang sudah membersihkan seluruh riasannya di bantu oleh perias tadi terlihat kerepotan membuka baju kebayanya.


"Biar aku bantu" Adam membuka kancing kebaya Nesa yang ada di bagian punggungnya


Saat seluruh pakaian Nesa sudah terlepas,Adam memeluknya dari belakang sambil mencium pundak Nesa.


"Sayang jangan lakukan sekarang. Masih ada acara resepsi nanti malam" Nesa berusaha menolak


"Memangnya kenapa? Kita sudah sah sebagai suami istri. Aku bebas melakukan apa pun terhadapmu" Protes Adam


Nesa pun tidak bisa menolak keinginan Adam. Mereka pun larut dalam suasana hangat yang mereka ciptakan.

__ADS_1


"Aku sangat lemas. Aku seperti kehilangan seluruh tenaga ku" Keluhnya sesaat setelahnya


"Kita mandi saja. Sebentar lagi kita harus bersiap menuju hotel tempat resepsi" Pinta Adam akhirnya


Setelah membersihkan tubuhnya,mereka langsung menuju hotel bersama dengan keluarga. Disana mereka kembali di rias tapi baju yang mereka kenakan lebih santai dan bergaya modern.


Waktu sudah sampai pada acara. Semua tamu-tamu mulai memenuhi ruangan. Di acara resepsi tamu yang di undang lebih banyak karena tamu-tamu berasal dari teman-teman Nesa dan rekan bisnis nya Adam termasuk para petinggi Nusantara Group. Acara demi acara sudah dilaksanakan. Tamu-tamu yang hadir menikmati hidangan yang sudah tersedia disana ditemani dengan alunan musik dan suara merdu dari penyanyi yang mengisi acara.


Adam dan Nesa tampak santai menikmati pesta mereka. Jika semua tamu undangan terlihat sangat bahagia,lain halnya dengan Firman dan Sabrina. Mereka terlihat seperti dua orang yang sedang patah hati malam ini.


Firman tampak tidak semangat mengikuti acaranya. Sesekali dia salah merespon saat Dea mengajaknya untuk berbicara. Walau pun Firman sudah berusaha ikhlas melepas Nesa tapi tetap saja dia masih sulit menerima kenyataan yang dia saksikan sendiri malam ini. Dea bisa menangkap apa yang sedang Firman rasakan tapi dia berusaha tidak peduli dan tidak bertanya apa pun pada Firman.


Sedangkan Sabrina yang menemani papanya hanya duduk di pojokan mulai dari awal acara. Sabrina menenggak minumannya sambil menatap kedua mempelai dari kejauhan dengan tatapan kecewa.


"Sepertinya kamu satu-satunya orang yang tidak menikmati pestanya" Suara Sekretaris Bian membuyarkan lamunan Sabrina


Sabrina menoleh dan hanya tersenyum miring.


"Boleh aku duduk disini?" Tanya Sekretaris Bian kemudian


Sabrina masih bungkam. Hanya kepalanya saja yang terlihat mengangguk.


"Apa kamu sedang patah hati?" Sekretaris Bian bertanya jahil


"Apa! Patah hati? Itu tidak pernah ada dalam kamus hidup ku" Jawab Sabrina sambil tersenyum sinis


"Baguslah kalau begitu. Sangat disayangkan jika perempuan seperti mu harus merasakan yang namanya patah hati karena kamu bisa mendapatkan laki-laki mana pun yang kamu inginkan"


"Termasuk kamu?" Tanya Sabrina cepat.


Entah pertanyaan itu karena reaksi spontan dari Sabrina atau memang berasal dari hatinya. Yang jelas pertanyaan Sabrina membuat Sekretaris Bian agak salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2