
"Hati dan tubuh ini sudah sepenuhnya milikmu. Kamu mengambilnya sebelum ikrar suci itu terucap dari mulut kamu" Nesa bergumam dibawah guyuran air yang membasahi seluruh tubuhnya
Nesa menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan mata yang terpejam. Tapi tiba-tiba saja matanya terbuka,wajahnya menjadi sedih dan matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak boleh mengingat kejadian itu lagi" Nesa mematikan shower dan bergegas dari sana. Lalu dia mengambil handuknya
Setelah mengeringkan rambut,Nesa mengambil baju formal dari dalam lemari dan segera memakainya. Tentu saja pagi ini dia harus ke rumah sakit untuk kembali melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter.
Nesa melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya. Walaupun pagi ini senyumannya belum tampak di wajah manisnya tapi semangatnya tidak boleh ikut surut.
Dengan pelan Nesa membuka pintu ruang kerjanya dan mendekat ke arah meja. Nesa agak menautkan kedua alisnya melihat benda asing disana. Sebuah buket bunga mawar putih yang masih segar dan kotak kecil berbentuk love yang entah apa isinya. Nesa meletakkan tasnya di meja dan duduk di kursinya.
Nesa mengambil buket bunga yang berisi mawar putih tersebut dan mencium wanginya tanpa mencari tahu dulu siapa pengirimnya.
"Bunga kesukaanku" Nesa tersenyum ceria
Nesa melihat ada sebuah kartu ucapan disana. Nesa membuka dan membaca tulisan dalam kartu itu.
'Bunganya sangat cantik tapi tak secantik pemiliknya'
Nesa menaruh lagi bunga itu dengan wajah yang ditekuk. Tentu Nesa mengenal tulisan tangan siapa yang ada dalam kartu ucapan tersebut. Tapi darimana dia tahu bunga kesukaanku? dulu sewaktu berpacaran saja,dia tidak pernah memberikan ku bunga? pertanyaan itu muncul di kepala Nesa.
Lalu perhatiannya beralih pada sebuah kotak kecil berwarna pink dengan bentuk love yang di hias dengan simpul tali berbentuk pita di luar nya. Nesa menarik simpul pita dan membukanya. Kotak itu berisi potongan-potongan cokelat yang juga berbentuk love. Yang membuat Nesa agak terenyuh adalah tulisan yang ada di atas cokelat itu.
'You are my only love'
Untuk sesaat Nesa tersentuh dengan segala keromantisan yang Adam ciptakan pagi ini tapi sejurus kemudian,dia tersenyum kecut. Masih sangat membekas dalam ingatan Nesa rentetan kejadian di vila sampai kejadian yang tak pernah dia duga-duga di apartemen.
Saat Nesa ingin menutup kembali kotak cokelat itu,dia menemukan kartu ucapan yang sama di balik tutupnya. Di bacanya lagi pesan yang tertulis dalam kartu itu.
'Cokelat dipercaya mampu memperbaiki mood seseorang menjadi lebih baik'
Nesa tampak tersenyum miring setelah membaca tulisan dalam kartu tersebut. Kemudian ponselnya berdering. Nesa mengambilnya dari dalam tas. Melihat nama si pemanggil membuat Nesa sangat malas untuk menjawabnya.
Dengan terpaksa Nesa menggeser layar ponselnya dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh si pemanggil.
"Kamu sudah menerimanya?" Tanya Adam to the point
"Iya" Nesa menjawab pendek
"Apa kamu suka?" Tanyanya lagi
"Biasa saja" Jawab Nesa acuh
__ADS_1
"Sepertinya kamu belum memakan cokelat nya ya?" Tanya Adam sambil tertawa kecil
"Memang belum" Nesa masih menjawab dengan malas
"Pantas saja" Ujar Adam menimbulkan tanda tanya
"Kenapa?" Tanya Nesa kemudian
"Kamu habiskan dulu cokelat nya,nanti aku telfon lagi" Pinta Adam
"Tidak sempat. Aku harus segera memeriksa pasien-pasienku" Balas Nesa ketus
"Sayang,kamu tahu kan aku tidak suka dibantah" Ujar Adam dengan mesra
Nesa memutus sambungan telfon nya begitu saja. Jika dia tidak mengikuti kemauannya,sudah bisa dipastikan Adam akan mengganggu nya terus. Nesa membuka lagi kotak cokelat itu dan memakannya satu biji. Rasanya memang sangat enak. Cokelat juga kesukaan Nesa.
Tak lama kemudian,ponselnya kembali berdering. Dengan cepat Nesa mengangkat panggilan itu.
"Aku sudah memakannya. Apa kamu puas?" Ujar Nesa sebal
"Benarkah?" Tanya Adam pura-pura tidak percaya
"Apa kamu tidak percaya? kenapa tidak sekalian saja kamu pasang cctv di ruang kerjaku" Ujar Nesa dengan kalimat sindiran
Adam terdengar sedang tertawa renyah disana.
"Kalau begitu apa boleh aku bekerja sekarang? kamu pasti lebih sibuk kan? lagi pula sejak kapan kamu menjadi orang yang sangat kurang kerjaan seperti ini?" Ujar Nesa dengan sarkas
"Andai saja aku ada disitu,pasti aku sudah menarik hidungmu" Bukannya menjawab,Adam malah melempar sebuah candaan. Adam kembali terkekeh
"Sudahlah. Tidak lucu" Balas Nesa dengan wajah datar
"Oke baiklah karena seharian ini aku sangat sibuk,aku tidak akan menggaggumu lagi. Tapi nanti malam aku akan menjemput mu"
"Kamu mau mengajak ku kemana?" Tanya Nesa penasaran
"Tidak perlu banyak bertanya. Kamu hanya cukup berdandan cantik saja" Jawab Adam tegas
"Tapi..."
"Tidak boleh membantah"
"Oke. Lakukan apa saja sesuka kamu" Balas Nesa jengah
__ADS_1
Nesa masih sedikit lega,setidaknya dia masih ada waktu untuk menemui Firman sore nanti. Sebelumnya Nesa memang sudah berencana ingin menemuinya karena belum lega rasanya jika tidak melihat kondisi Firman secara langsung.
Tak terasa hari sudah sore. Nesa keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa. Dia tidak mempunyai banyak waktu,dia harus segera menemui Firman sebelum petang.
Sesampainya di rumah Firman,Nesa langsung mengetuk pintu rumahnya dan tak berapa lama pintu dibuka.
"Nesa" Firman agak terkejut melihat Nesa datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu
Nesa menatap Firman dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Silahkan masuk" Ucap Firman
Nesa melangkah masuk tanpa berkata-kata. Lalu dia menatap Firman lagi dengan raut wajah sedih.
"Ada apa?" Tanya Firman pelan
Bukannya menjawab,Nesa malah berhambur ke arah Firman dan memeluknya.
"Maafkan aku" Hanya kalimat itu yang berhasil lolos dari mulut Nesa
"Kenapa harus minta maaf?" Tanya Firman seolah tidak terjadi apa-apa
"Karena aku mas Firman jadi terluka"
"Sudahlah tidak usah merasa bersalah seperti ini. Bukan salah kamu" Firman melonggarkan pelukan Nesa
"Bagaimana hubungan kamu dengan Tuan Adam? apa kalian sudah kembali menjadi sepasang kekasih?" Tanya Firman kemudian
"Tidak. Aku masih kecewa dengan sikapnya" Jawab Nesa sambil memalingkan wajahnya
"Bagaimana keadaan mas Firman?" Tanya Nesa tiba-tiba seolah ingin mengalihkan pembicaraan
"Aku sudah baik-baik saja. Tadi aku sudah kembali bekerja" Jawab Firman di iringi dengan senyuman
"Syukurlah" Lirih Nesa
"Aku juga senang melihatmu baik-baik saja. Tuan Adam tidak menyakitimu" Firman mengelus kepala Nesa
Nesa kembali memeluk Firman hingga tanpa sadar air mata nya tumpah. Untuk ke sekian kalinya Nesa sangat terharu dengan kelembutan sikap Firman. Dia juga ingin sekali berbagi kesedihan dengan Firman tapi tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang sudah terjadi.
"Mas Firman baik sekali. Aku minta maaf jika setelah ini aku akan jarang bertemu dengan mas Firman. Aku hanya tidak ingin mas Firman terluka lagi" Ucap Nesa sedih
"Tidak apa-apa. Aku mengerti dan aku juga tidak ingin menjadi penghalang hubungan kalian. Mungkin ini jalan yang terbaik" Balas Firman berusaha untuk ikhlas
__ADS_1
"Terimakasih" Nesa semakin larut dalam tangis
Bersambung...