
Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak di pikirkannya lagi bahaya yang akan mengancam nyawanya. Terlihat dengan jelas jika saat ini Adam sangat emosional. Dia hanya berusaha menahannya saja agar emosinya itu tidak tumpah di depan Nesa tadi. Itu lah alasannya kenapa Adam buru-buru meninggalkan Nesa di cafe.
Apa yang terjadi tadi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Adam berharap dengan pengorbanan yang sudah dia lakukan,Nesa akan menerimanya begitu saja tapi ternyata Adam salah. Nesa masih mengajukan syarat yang memberatkannya. Hatinya seolah teriris. Jalan untuk bersatu dengan Nesa kembali menemukan hambatan.
Adam menatap jalanan dengan pikiran gelap. Mengemudi mobilnya dengan asal sambil terus menambahkan kecepatannya,hingga mobilnya hilang kendali dan menabrak pembatas jalan. Mobil Adam terguling dan terseret beberapa meter. Adam terluka parah di kepalanya. Dengan setengah sadar sambil menahan sakit,Adam masih sempat menyebut satu nama yaitu "Nesa..." Dan setelah itu kesadarannya benar-benar hilang sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian ambulance datang dan membawa tubuh Adam yang sudah tak berdaya. Darah segar terus mengalir di kepalanya. Suara sirine ambulance meraung-raung di sepanjang jalan. Adam sedang berjuang antara hidup dan mati.
Adam di larikan ke rumah sakit keluarga,dimana Nesa juga bekerja. Sintia dan Surya yang tadi dihubungi oleh pihak ke polisian langsung menyusul ke rumah sakit. Mereka berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan dimana Adam sedang di tangani. Adam harus menjalani operasi karena luka yang serius di kepalanya.
Setelah beberapa jam menunggu,dokter Handoko yang menangani operasi Adam keluar dari ruangan itu. Wajah dokter seakan mengisyaratkan jika kondisi Adam tidak bisa dibilang baik-baik saja.
"Bagaimana kondisi putera saya dokter?" Sintia bertanya dengan bibir yang bergetar
"Tuan Adam sudah selesai di operasi nyonya tapi...?" Wajah dokter sedikit tertunduk sambil menggelengkan kepalanya
"Tapi kenapa?" Tanya Surya
"Tuan Adam koma" Dengan berat hati dokter Handoko mengatakan kondisi Adam yang sebenarnya
"Apa?" Sintia hampir saja ambruk karena tubuhnya tiba-tiba melemas,untung saja Surya langsung sigap mendekapnya
"Sampai kapan Adam akan koma?" Tanya Surya dengan getir
"Saya tidak bisa memastikan Tuan. Kita doakan saja agar Tuan Adam segera sadar" Jawab dokter Handoko dengan gamang
"Tapi Adam masih bisa sembuh kan?" Tanya Sintia dengan nada yang agak melemah
"Kemungkinan itu selalu ada Nyonya. Maaf Nyonya apa tuan Adam mempunyai seorang kekasih?" Tanya dokter Handoko kemudian
"Iya"
"Sebaiknya anda memanggilnya kesini,orang yang di cintainya akan sangat membantu kesembuhannya. Tuan Adam memang sedang koma tapi dia bisa mendengar dan merasakan kehadiran orang-orang yang ada di dekatnya. Saya harap kekasih tuan Adam bisa membawa semangat untuknya agar tuan Adam bisa melewati masa kristisnya" Ujar dokter menjelaskan sambil memberi saran pada Sintia dan Surya
__ADS_1
"Baik dokter. Akan saya lakukan saran dari anda" Balas Surya
"Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap dokter Handoko
"Terimakasih" Balas Surya dan Sintia bersamaan
Sepeninggalnya dokter Handoko,Surya dan Sintia masuk ke dalam ruangan Adam. Sintia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah melihat Adam terbaring lemah tak berdaya. Banyak selang yang terpasang di tubuhnya. Sebagai seorang ibu,hati Sintia tentu sangat terguncang menyaksikan putera semata wayangnya sedang berjuang untuk hidup.
"Tenangkan diri mu ma. Adam pasti sembuh" Ujar Surya menenangkan sambil mengelus bahu Sintia dengan lembut
"Mama tidak tega melihat Adam seperti ini pa" Sintia duduk di samping Adam dengan terisak sambil menggenggam tangan Adam
"Adam anak yang kuat ma. Dari kecil dia jarang sekali sakit. Papa yakin,dalam waktu dekat dia akan segera sadar" Surya terlihat lebih tegar daripada Sintia
"Iya pa" Lirih Sintia
"Sebaiknya kita hubungi Nesa sekarang juga ma. Seperti saran dokter Handoko tadi" Ujar Surya lagi
"Oh iya pa. Mama hampir saja lupa" Sintia mengambil ponsel Adam yang dia simpan di dalam tasnya. Tadi pihak kepolisian menyerahkan ponsel Adam pada mereka. Sintia mencari nomor kontak Nesa disana
Panggilan tersambung. Setelah beberapa saat melakukan percakapan yang cukup dramatis dengan Nesa. Sintia memutus sambungan telfon nya dan meletakkan kembali ponsel Adam ke dalam tasnya.
30 menit kemudian Nesa sampai. Dengan langkah setengah berlari Nesa masuk ke ruangan Adam.
"Bagaimana kejadiannya tante? kenapa mas Adam bisa kecelakaan? tadi kami masih bertemu di cafe dan waktu tante menelfon,Nesa baru saja sampai di rumah" Tanya Nesa dengan wajah panik sambil memberitahu tentang pertemuannya bersama Adam tadi
"Tante juga tidak tahu pasti seperti apa kejadiannya. Tadi kalian makan malam bersama? apa yang terakhir Adam katakan pada mu tadi?" Jawab Sintia sambil bertanya
"Ti-tidak ada. Kami hanya makan malam biasa saja" Jawab Nesa bohong
"Lalu bagaimana kondisi mas Adam sekarang?" Nesa menatap wajah Adam sambil meneteskan airmata. Selain Sintia dan Surya,yang sangat sedih dengan kondisi Adam saat ini tentu Nesa.
"Adam koma" Surya menjawab sambil menghela nafasnya dalam-dalam
__ADS_1
"Apa? mas Adam koma?" Nesa membelalakkan matanya dan membekap mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut. Seluruh tubuhnya tiba-tiba lemas seolah kehilangan seluruh tenanganya. Nesa menatap wajah Adam dengan pandangan yang agak meredup. Kakinya tak mampu lagi menjadi penopang hingga akhirnya tubuh Nesa luruh ke lantai.
"Nesa" Sintia dan Surya sama-sama berteriak histeris melihat Nesa yang tiba-tiba pingsan
...----------------...
Nesa membuka matanya dengan perlahan. Ditatapnya langit-langit ruangan dan matanya menyapu ke seluruh ruangan. Pandangannya berhenti saat melihat papa dan mamanya sedang duduk di sebuah sofa. Tiba-tiba saja matanya melebar,Nesa teringat kembali dengan Adam. Nesa terhenyak membuat papa dan mamanya kaget dan langsung berhambur ke arahnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Widia sambil mendekap tubuh Nesa
"Aku harus kembali ma. Mas Adam membutuhkan ku" Ujar Nesa dengan raut wajah sedih
"Tapi tubuh kamu masih lemah. Kamu tadi pingsan" Widia terdengar protes
"Aku baik-baik saja ma. Aku harus menemani mas Adam" Ujar Nesa lagi
"Kalau begitu biar kami yang mengantar. Kita ke ruangan Adam sama-sama" Ucap Gunawan akhirnya
Sesampainya di ruangan Adam,Nesa melihat Surya dan Sintia masih ada disana. Mereka sedang tertidur di sofa dengan wajah lelahnya.
"Papa dan mama pulang saja. Ini sudah larut malam" Pinta Nesa dengan suara pelan karena tidak ingin papa dan mamanya Adam terbangun
"Kamu yakin? apa tidak sebaiknya kamu ikut pulang dengan kami? besok pagi baru kembali lagi,bukankah besok kamu juga harus bekerja?" Ujar Widia menanyakan
"Tidak ma. Nesa tidak bisa tenang sebelum mas Adam sadar" Lirihnya
"Baiklah. Kalau begitu papa dan mama pulang dulu" Ucap Widia akhirnya
Nesa mengangguk pelan.
"Sabar kan diri mu. Adam akan baik-baik saja" Gunawan mengelus punggung Nesa membuatnya tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan kembali berurai airmata
Widia ikut menenangkan nya dengan memeluk Nesa sembari melontarkan untaian kata-kata penyemangat untuk Nesa.
__ADS_1
Bersambung...