
Nesa membeku dengan raut wajah sedih. Nesa teringat lagi pada hubungannya dengan Adam yang sudah berakhir dan dia belum memberitahu Dea akan hal itu.
"Apa Tuan Adam tahu tentang mas Firman?" Tanya Dea kemudian
"Tidak"
"Jika dia tahu,akan seperti apa reaksinya nanti? Tuan Adam pasti akan sangat marah dengan kedekatan kalian" Ujar Dea cemas
"Dia tidak akan marah Dea,karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" Lirih Nesa
"Apa...?" Dea kaget sambil membulatkan matanya dengan sempurna
Belum hilang rasa terkejutnya tentang Firman yang datang tiba-tiba dengan segala macam kejutannya,sekarang ditambah lagi dengan berita putusnya hubungan Nesa dan mantan bosnya itu.
"Kenapa bisa?" Tanya Dea dengan meninggikan suaranya
"Mas Adam ternyata laki-laki yang papa jodohkan denganku waktu itu" Ujar Nesa
"Kenyataan apalagi ini Nesa...!" Seru Dea tak percaya
Dea tertegun untuk beberapa saat.
"Jadi Tuan Adam tidak bisa menerima kenyataan dan dia mengakhiri hubungan kalian?" Tanya Dea ingin memperjelas
"Ya begitulah" Nesa menjawab singkat
"Lalu bagaimana reaksi dari orangtua kalian masing-masing?" Tanya Dea lagi
"Mereka masih sama-sama berharap"
"Jika mereka masih menaruh harapan pada hubungan kalian,itu berarti kalian tidak akan benar-benar berpisah" Komentar Dea
"Entahlah,percuma saja mereka mempunyai harapan setinggi langit jika mas Adam sendiri sudah menutup jalan itu. Aku juga mulai menata hati dan tidak ingin membahasnya lagi" Nesa menanggapi dengan pasrah
"Lalu, mas Firman tahu soal ini?"
Nesa mengangguk dengan wajah sedih.
Dea menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
Sesaat kemudian Firman datag lagi dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dea dan Nesa menoleh secara bersamaan.
"Harusnya mas Firman tidak perlu repot-repot membawanya sendiri" Ujar Dea berusaha mengambil alih nampan yang dipegang Firman
__ADS_1
"Tidak apa-apa,santai saja. Duduklah" Ucap Firman sambil meletakkan nampan itu di atas meja
Dea kembali tercengang dengan sikap Firman dan seketika itu juga perasaan kagum menelusup ke dalam hatinya.
"Oh iya Dea,kamu sudah bekerja apa masih kuliah?" Tanya Firman kemudian
"Masih kuliah mas. Saat ini aku sedang dalam proses penyusunan skripsi" Jawab Dea tanpa mengalihkan pandangannya pada Firman
Firman mengangguk saja,sedangkan Nesa bergeming tak ingin menengahi obrolan mereka.
...----------------...
Adam menggebrak meja. Wajahnya terlihat merah menyala pertanda emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Tangannya mengepal sambil menatap Sekretaris Bian dengan tatapan tajam seolah dia akan melampiaskan kemarahannya pada Sekretaris Bian saat itu juga.
Sekretaris Bian menunduk dengan wajah ketakutan.
"Saya minta maaf Tuan. Saya tidak tahu apa-apa. Kemarin nona Nesa hanya minta untuk bertemu tanpa memberitahu saya apa tujuannya" Sekretaris Bian memohon sambil berusaha menjelaskan
Semalam Nesa menghubungi Sekretaris Bian dan mengajaknya bertemu. Tanpa dia duga ternyata Nesa mengembalikan barang-barang pemberian Adam selama menjadi kekasihnya melalui Sekretaris Bian.
Ternyata niat Nesa disambut dengan amarah oleh Adam. Entah kenapa Adam merasa terhina dengan sikap Nesa tersebut karena pantang bagi Adam menerima kembali barang-barang yang sudah dia berikan pada seseorang.
"Jika Tuan mau,saya akan mengatur pertemuan tuan dengan nona Nesa" Ujar Sekretaris Bian memberikan usul
"Kamu tunggu disini,aku akan segera kembali" Perintah Adam sambil berjalan dengan tergesa-gesa
"Ba-baik Tuan" Sekretaris Bian tidak berani bertanya lagi
Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia memukul setir mobil dan mulutnya meracau tak jelas.
Sesampainya di rumah sakit tempat Nesa bekerja,Adam disambut hangat oleh semua karyawan disana. Mereka langsung berjejer menyambut tamu kehormatannya yang tak lain adalah putera dari sang pemilik rumah sakit.
Setelah melakukan perbincangan singkat dengan resepsionis rumah sakit,Adam langsung menuju ruang kerja Nesa. Tentu mudah bagi Adam untuk menerobos masuk kemanapun yang dia mau karena dialah pemiliknya.
Adam mendapati ruangan Nesa kosong karena sepertinya Nesa sedang memeriksa pasien-pasiennya di ruangan lain. Adam duduk dan menunggunya disana.
Sembari menunggu,Adam memutar pandangannya ke seluruh ruangan. Dilihatnya tiap sudut ruangan yang tampak bersih dan rapi,benar-benar mencerminkan sosok Nesa. Lalu pandangannya berhenti pada sebuah papan nama di atas meja Nesa. Adam mengeja nama tersebut tanpa mengeluarkan suara.
dr. Nesa Mazaya Hilmi
Adam terlihat sedikit menautkan kedua alisnya membaca ejaan terakhir yang tersemat nama Hilmi dibagian paling akhir namanya. Sejauh Adam mengingat,tak pernah sekali pun Nesa menyebut nama Hilmi.
Ya,Hilmi adalah nama belakang papanya yang jarang Nesa sebut.
__ADS_1
"Ah sudahlah,tidak penting" Adam bergumam
Saat ini dirinya memang tak patut lagi untuk penasaran dengan kehidupan Nesa,karena wanita yang pernah dicintainya itu sudah tak lagi penting baginya. Entah itu berasal dari hatinya yang terdalam atau hanya imbas dari kekecewaannya yang sesaat.
Waktu terus bergulir. Nesa membuka pintu ruang kerjanya. Betapa terkejutnya dia mendapatkan Adam sudah duduk disana dengan bersilang kaki.
Adam memandang Nesa dengan wajah tak bersahabatnya. Dalam hati Nesa bertanya-tanya kenapa Adam bisa masuk ke ruang kerjanya begitu saja.
Nesa belum mengetahui tentang pemilik rumah sakit tempat dia bekerja. Nesa bukan tidak mau tahu siapa pemiliknya tapi Sekretaris Bian sudah mengaturnya sedemikian rupa agar si pemilik rumah sakit tidak bocor di telinga Nesa. Sesuai dengan perintah Adam waktu itu.
Nesa berusaha mengendalikan mimik wajahnya. Sebisa mungkin dia bersikap biasa dengan kehadiran Adam disana.
"Anda sangat tidak sopan,masuk ke ruangan orang tanpa izin" Ucap Nesa dengan sinis
Adam berdiri dan mendekat ke arah Nesa.
"Katakan,kenapa kamu mengembalikan semua barang-barang pemberianku?" Tanya Adam tanpa basa basi
"Karena aku sudah tidak berhak menggunakannya lagi" Jawab Nesa gamblang
"Lebih baik kamu membuangnya daripada mengembalikannya lagi padaku" Adam menanggapinya dengan nada menekan sambil menyambar lengan Nesa
"Harusnya anda tidak perlu repot-repot datang kesini Tuan. Anda tinggal membuangnya sendiri jika anda mau" Balas Nesa sambil menarik lengannya kasar dari tangan Adam
"Saya sibuk. Silahkan anda keluar dari ruangan saya" Nesa menjauh dari Adam sambil berpura-pura membereskan barang-barang yang ada di meja kerjanya
"Jika aku ingin tetap disini,kamu mau apa?" Sergah Adam
"Aku bahkan bisa membeli rumah sakit ini dan memecat kamu sekarang juga" Ucap Adam menyombongkan diri
Nesa menoleh pada Adam dan melangkah lebih dekat.
"Iya kamu yang berkuasa. Kamu bisa membeli apapun dengan uang kamu tapi aku tidak takut" Nesa terdengar sedang menantang Adam
Entah kenapa nyali Adam menciut ketika wajahnya sangat dekat dengan wajah Nesa. Hatinya ingin luluh begitu saja tapi sejurus kemudian dia berusaha mengumpulkan kesadarannya lagi dan berhasil menguasai dirinya.
"Aku tidak akan melupakan penghinaan ini" Ujar Adam dengan gusar,lalu membuang muka dan keluar dari ruangan Nesa
Nesa menghela nafasnya dalam-dalam sepeninggalan Adam. Airmatanya ingin saja jatuh tapi sebisa mungkin dia cegah. Dia tidak ingin menangisi Adam lagi. Dia harus menyikapi semua permasalahannya dengan kedewasaan.
Amarah Adam tidak lagi dipedulikannya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah segera menyingkirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Adam untuk mempermudah jalannya melupakan laki-laki yang masih dicintainya itu.
Bersambung...
__ADS_1