
Permainan jet ski selesai. Nesa pun bisa bernafas dengan lega. Setelah berganti pakaian,mereka meninggalkan pantai karena hari sudah semakin terik. Mereka memutuskan pergi mencari restoran untuk makan siang.
Sesekali Nesa melirik kearah Adam yang sedang fokus menyetir. Nesa ingin berbicara tapi seperti sedang ditahannya. Nesa masih terlihat canggung.
"Ada apa Nesa? Katakanlah jika kamu ingin mengatakan sesuatu" Tanya Adam yang menangkap kegelisahan Nesa
"Terimakasih" Hanya kata itu yang mampu Nesa ucapkan. Nesa mulai gugup lagi karena terlalu bahagia
"Terimakasih untuk apa?" Tanya Adam lagi
"Untuk sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya" Jawab Nesa sambil menundukan wajahnya
"Apa kamu senang?" Tanyanya lagi sambil menoleh ke arah Nesa
Nesa mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Sepertinya mas Adam sudah sering melakukannya ya?" Tanya Nesa
"Kamu benar. Aku memang menyukai olahraga yang menantang tapi karena kesibukanku,aku sudah lama tidak melakukannya lagi" Jawab Adam
"Sudah berapa perempuan yang menemani mas Adam bermain jet ski?" Tanya Nesa curiga
Adam tertawa mendengarnya.
"Apa wajahku terlihat seperti seorang playboy?" Tanya Adam balik disela-sela tawanya
"Maaf,aku tidak bermaksud" Ucap Nesa lirih
Entah kenapa Adam senang mendapat pertanyaan seperti itu dari Nesa.
"Kamu perempuan pertama yang menemaniku bermain jet ski" Jawab Adam jujur
Nesa tertegun. Dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja diucapkan Adam.
"Benarkah?" Tanya Nesa masih tidak percaya
"Iya memang itu kenyatannya" Jelas Adam
Nesa merasa hatinya sedang ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran. Ingin sekali dia pergi ke tempat yang sepi dan berteriak sekencang-kencangnya sambil berkata jika saat ini dia sedang bahagia.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Adam tiba-tiba
"Tentu saja" Jawab Nesa yakin
"Berapa umurmu Nesa?"
__ADS_1
"21 tahun"
Adam sedikit terkejut karena jarak umurnya dengan Nesa ternyata terpaut jauh. Kini usia Adam sudah 30 tahun.
"Itu berarti kamu masih kuliah?" Tanya Adam lagi
Nesa menggeleng dengan cepat.
"Jika tidak kuliah itu berarti kamu sudah bekerja?" Lagi-lagi Adam bertanya tapi kali ini disertai dengan rasa penasaran
"Aku tidak kuliah dan juga belum bekerja" Jawab Nesa mengambang
"Lalu? diusiamu sekarang harusnya kamu masih kuliah atau baru saja lulus" Ucap Adam menduga-duga
Nesa tertawa geli melihat ekspesi wajah Adam yang terlihat sangat penasaran tentang kehidupannya.
"Kenapa tertawa?" Tanya Adam yang mulai sedikit kesal
"Apa mas Adam sungguh penasaran dan ingin aku menjawabnya?" Nesa masih terkekeh
"Tentu saja" Jawab Adam
"Baiklah akan aku jawab" Nesa menghentikan tawanya dan mengatur nafas
"Dugaan mas Adam benar. Aku baru saja menyelesaikan pendidikanku dan rencananya sepulang dari sini aku akan melamar kerja" Jawab Nesa akhirnya
Nesa kembali tertawa hingga membuat Adam menjadi bingung.
"Aku tidak bisa melamar kerja di perusahaan manapun itu karena bidangku bukan disitu" Jawaban Nesa masih terdengar mengambang
"Ayolah Nesa jangan bertele-tele seperti itu. Kamu ingin membuatku marah ya" Ucap Adam yang sudah mulai kehabisan kesabarannya
"Aku harus melamar kerja ke rumah sakit, bukan ke perusahaan. Karena aku lulusan dokter" Ucap Nesa jujur
Adam tertegun. Kata dokter terdengar sangat spesial di telinga Adam.
"Aku ingin melanjutkan pendidikanku mengambil program spesialis. Tapi aku harus mempunyai pengalaman kerja dulu di rumah sakit sebagai syarat mendaftar ke program spesialis" Tambah Nesa menjelaskan
Untuk sesaat Adam kembali tertegun sambil terlihat berpikir. Karena yang dia tahu,untuk menjadi seorang dokter itu harus menempuh pendidikan yang tidak sebentar. Sementara usia Nesa saat ini masih 21 tahun.
"Benarkah? diusiamu yang sekarang ini kamu sudah menjadi seorang dokter? Bagaimana bisa?" Tanya Adam seolah tidak percaya
"Aku masuk kuliah saat umurku masih 14 tahun. Mungkin kebanyakan remaja seusiaku waktu itu masih senang bermain-main,sedangkan aku sudah harus fokus belajar dan belajar. Sejak kecil aku memang lebih suka membaca daripada bermain boneka" Nesa tertawa mengingat masa kecilnya karena pada saat itu,dia bahkan menjerit jika melihat boneka
"Lalu waktu itu papa melarangku untuk dekat dengan laki-laki. Sungguh aku tidak keberatan karena aku memang tidak tertarik untuk berpacaran. Tapi sekarang aku justru ingin tahu bagaimana rasanya berpacaran" Ucap Nesa dengan polosnya
__ADS_1
Adam bergeming. Harus dia akui jika saat ini dia semakin mengagumi pribadi Nesa. Selain baik dan cantik,ternyata Nesa juga gadis yang pintar. Gadis idaman semua laki-laki.
"Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai dan bagaimana rasanya mencintai" Nesa menoleh ke arah Adam saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Nesa menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca
"Bolehkah aku bertanya lagi?" Adam yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya kembali membuka suaranya
Nesa menjawabnya dengan anggukan.
"Apakah aku laki-laki pertama yang dekat denganmu?"
"Tidak. Mas Adam laki-laki kedua yang dekat denganku setelah mas Firman" Jawab Nesa jujur
"Siapa Firman?" Ekspresi Adam langsung berubah mendengar Nesa menyebut nama laki-laki lain
"Aku mengenalnya saat aku menjalani penugasan wajibku sebagai dokter internship di Surabaya. Waktu itu mas Firman membawa ibunya yang sudah tak bernyawa ke rumah sakit tempat aku bertugas. Ibunya meninggal karena serangan jantung. Dia benar-benar terpuruk karena ibunya adalah satu-satunya keluarganya yang dia punya. Oleh karena itu,aku bersimpati untuk membantu mas Firman melupakan kesedihannya. Tapi ternyata mas Firman menangkapnya lain. Saat aku akan kembali ke Jakarta mas Firman mengungkapkan perasaannya. Dia mencintaiku" Nesa terdiam sesaat setelah bercerita panjang lebar
"Aku menolaknya karena aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya" Nesa melanjutkan
Adam semakin kagum pada Nesa. Perempuan yang berada bersamanya saat ini adalah perempuan yang tulus menurut Adam.
"Kedekatan aku dengan mas Firman sungguhlah berbeda dengan kedekatan kita saat ini. Aku dekat dengan mas Firman karena keadaan tapi aku dekat denganmu itu karena..." Kalimat Nesa menggantung
"Kenapa tidak diteruskan? Aku sungguh ingin tahu kelanjutannya" Tanya Adam penasaran
"Karena aku menginginkannya" Sambung Nesa sambil menatap Adam dengan tatapan penuh arti
Adam juga tersenyum penuh arti.
"Apa aku perempuan pertama yang dekat dengan mas Adam?" Tanya Nesa balik
"Iya"
"Benarkah laki-laki seperti mas Adam tidak pernah didekati oleh perempuan?" Tanyanya tak percaya
"Yang mencoba untuk dekat banyak tapi aku tidak pernah tertarik untuk mendekatinya balik"
"Kenapa?"
Adam mengangkat kedua bahunya.
"Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk menjadi teman dekatmu. Dan maaf jika aku banyak bertanya" Ucap Adam kemudian
"Tidak apa-apa. Bukankah semalam mas Adam sendiri yang meminta untuk mengenalku lebih jauh lagi. Itu berarti kita harus saling terbuka" Nesa tersenyum pada Adam
Setelah makan siang. Adam dan Nesa kembali lagi ke hotel karena hari sudah sore.
__ADS_1
Bersambung...