Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Mengasingkan Diri


__ADS_3

Sudah satu minggu lebih Nesa meninggalkan rumah dan mengasingkan diri di tempat ini. Tempat dengan sejuta keindahan di dalamnya. Nesa menyewa sebuah hotel di Bali. Hotel yang mempunyai view hamparan pantai biru yang garis pantainya memiliki pasir putih yang begitu halus.


Nesa duduk termenung di bibir pantai. Menatap lurus ke depan seolah pikirannya sedang melayang-layang entah kemana. Semilir angin meniup rambutnya yang tergerai. Nesa menghirupnya dalam-dalam seolah ingin memenuhi rongga dadanya dan membuangnya dengan pelan. Sejenak dia merasa kesedihannya hilang terbawa oleh hembusan angin yang menyejukkan hatinya tapi kesedihan itu dirasakannya lagi seiring angin yang berlalu.


Keindahan pantai tidak bisa membuat kesedihannya lenyap begitu saja. Nesa bingung tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin sekali pulang tapi dia takut menghadapi kenyataan yang ada. Tapi jika tetap berada disini dia hanya akan membuat kecemasan mamanya berkepanjangan. Nesa tertunduk tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika dia pulang nanti.


Akhirnya Nesa memilih kembali ke kamar hotel dan mengaktifkan kembali ponsel yang sudah lama tidak dia gunakan. Dia akan menghubungi mamanya terlebih dahulu. Dia akan mengatakan jika dia baik-baik saja.


Banyak pesan masuk disana tapi Nesa mengabaikannya. Nesa langsung mendial nomor kontak Widia dan panggilan tersambung tapi tidak ada jawaban. Karena sudah 3 kali Nesa menghubunginya tapi tidak juga mendapat jawaban akhirnya Nesa menaruh lagi ponselnya di kasur.


Lalu Nesa pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Nesa buru-buru menyudahi kegiatannya di kamar mandi karena dia mendengar ponselnya berdering. Langsung saja dia menggeser layar ponsel dan menempelkan ditelinganya.


"Nesa... Apa benar ini kamu yang menelfon?" Suara Widia terdegar sangat kegirangan


"Mama" Balas Nesa lirih


"Sayang kamu ada dimana? Biar mama kesana menjemput kamu dan kita akan pulang bersama-sama" Ucap Widia dengan semangat


"Tidak usah ma. Nesa hanya ingin memberitahu mama jika Nesa disini baik-baik saja" Mata Nesa mulai berkaca-kaca mendengar suara mamanya yang selama seminggu ini sangat dia rindukan


"Pulanglah. Papa dan mama sudah tidak marah lagi dan kami janji tidak akan membuatmu sedih lagi" Pinta Widia yang terdengar memohon


"Benarkah papa tidak marah padaku?" Tanya Nesa meyakinkan


"Papa tidak marah. Papa justru sedang mengkhawatirkan keadaanmu sekarang" Jawab Widia bohong karena kenyatannya Gunawan masih kecewa dengan perginya Nesa


"Apa papa dan mama baik-baik saja setelah aku pergi?" Tanya Nesa lagi


"Kamu bicara apa? Tentu saja mama selalu cemas memikirkanmu. Tidak ada orangtua yang baik-baik saja jika hidup berjauhan dengan anaknya apalagi mama tidak tahu kamu ada dimana sekarang" Jawab Widia dengan nada yang bergetar seolah sedang menahan tangis

__ADS_1


"Apa papa juga baik-baik saja?"


"Maksud Nesa,apa om Surya masih baik sama papa setelah kepergian Nesa?" Nesa memperjelas


Widia tidak langsung menjawab. Dia bingung harus menjawab apa. Dia ingin berkata jujur tapi dia khawatir hanya akan menambah beban pikiran Nesa.


"Ma...katakan saja yang sejujurnya. Pasti om Surya membenci papa kan?" Tanya Nesa memaksa


"Kamu sungguh ingin tahu yang sebenarnya?" Widia balik bertanya


"Nesa ingin sekali pulang tapi tentu saja Nesa harus tahu dulu semua yang terjadi disana setelah kepergian Nesa agar tidak terjadi kesalah pahaman nanti" Ucap Nesa


"Setelah kamu pergi,tentu saja pernikahan itu batal" Balas Widia gamblang


"Lalu?" Nesa meminta Widia melanjutkan ceritanya


"Setelah itu om Surya jatuh sakit. Dia terkena serangan jantung sesaat setelah kami memberitahu jika kamu pergi dari rumah"


Nesa sangat terkejut mendengarnya. Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi ruang hatinya.


"Lalu bagaimana keadaan om Surya sekarang?" Tanya Nesa gamang


"Mama belum tahu pasti karena setelah mengantarnya kerumah sakit kami tidak kembali lagi. Kami tidak ingin memperparah keadaan jika kami masih tetap berada disana" Widia tidak benar-benar berkata jujur. Widia tidak memberitahu Nesa jika waktu itu Adam mengusirnya


"Tapi menurut kabar yang beredar om Surya sudah kembali sehat" Tambah Widia akhirnya


Nesa yang mendengarnya merasa sedikit lega,karena tindakannya tidak sampai membuat Surya kehilangan nyawanya.


"Sampai saat ini om Surya belum menghubungi papa?" Tanya Nesa lagi

__ADS_1


"Belum" Singkat Widia


"Om Surya pasti sangat membenci keluarga kita dan tidak mau menjalin hubungan persahabatan lagi dengan papa" Ucap Nesa sedih


"Bukankah harusnya kamu senang? Karena dengan begitu kamu tidak harus melanjutkan pernikahanmu dengan puteranya?" Tanya Widia heran


Ya harusnya dia memang senang karena dengan begitu dia tidak harus berurusan lagi dengan keluarga Surya. Tapi entah kenapa saat ini perasaanya menjadi campur aduk setelah mendengar Surya terkena serangan jantung karena ulahnya.


"Maaf ma Nesa belum bisa pulang. Nesa masih ingin disini" Ucap Nesa tiba-tiba


"Apa mama boleh tahu keberadaan kamu sekarang agar mama bisa sedikit lega. Mama janji tidak akan mengganggumu" Tanya Widia dengan kalimat bujukan


"A-aku...,aku sedang ada di Bali" Nesa agak sedikit ragu untuk menjawabnya


"Baiklah,mama harap kamu tidak berlama-lama disitu dan cepat kembali lagi ke rumah" Pinta Widia. Kali ini jelas terdengar dari nada bicaranya kalau dia sudah jauh lebih tenang dari yang tadi


"Iya ma" Lirih Nesa


"Sudah dulu. Nanti Nesa hubungi lagi" Nesa menutup telfonnya


Nesa terus saja memikirkan apa yang baru saja didengarnya. Nesa tidak menyangka dengan kepergiannya,dia hampir saja membuat seseorang kehilangan nyawanya. Waktu dia memutuskan pergi dari rumah yang dia pikirkan hanya papanya. Dia pikir papanya akan baik-baik saja karena papanya tidak memiliki masalah apapun dengan kesehatannya tapi ternyata dia salah. Dia terlalu egois sampai lupa memikirkan orang lain yang juga akan menerima dampak atas kepergiannya.


Nesa memukul-mukul kepalanya sambil menggerutuki kebodohannya sendiri. Ucapan mamanya memang benar. Harusnya dia senang karena tidak jadi menikah dengan laki-laki yang tidak dia kenal,tapi sekarang dia merasa sangat bersalah. Ingin rasanya dia meminta maaf langsung pada Surya dan keluarganya tapi dia tidak mempunyai keberanian itu. Nesa menjadi semakin takut untuk pulang.


Nesa juga tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya laki-laki yang akan dinikahkan dengannya karena secara tidak langsung dia sudah membuatnya malu. Terlebih papanya sampai harus masuk rumah sakit karena tindakan bodohnya. Ya hari ini Nesa sadar jika tindakannya ini memang bodoh. Nesa sudah membuat kekacauan dan dia juga harus siap menerima apapun konsekuensi dari tindakan bodohnya ini.


Nesa memutuskan untuk lebih lama lagi mengasingkan diri ditempat ini sampai keadannya benar-benar aman. Walaupun dia sendiri tidak yakin setelah pulang nanti dia akan terbebas dari masalah apa tidak. Karena bisa saja kepulangannya justru membawanya pada masalah yang lebih besar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2