
Nesa menggeliat dibalik selimut setelah salah satu pelayan di rumahnya membuka tirai jendela. Pantulan sinar matahari yang masuk ke sela-sela jendela kamarnya menyilaukan matanya hingga mengganggu tidur Nesa. Sambil menguap, perlahan Nesa membuka matanya yang masih terlihat mengantuk.
"Selamat pagi nona. Maaf saya sudah mengganggu tidur non Nesa" Ucap Bi Minah,pelayan paling senior di rumah Gunawan
Bi minah sendiri sudah berkerja dengan Gunawan sejak Nesa masih bayi. Nesa sudah menganggap Bi Minah sebagai ibu keduanya. Sejak bayi,Nesa memang diasuh oleh Bi Minah karena kesibukan Widia waktu itu untuk mengejar impiannya menjadi seorang dokter. Widia harus berangkat pagi disaat Nesa kecil masih tertidur dan pulang malam ketika Nesa sudah tertidur pulas.
"Sudah jam berapa Bi?" Tanya Nesa sambil mengusap-usap matanya
"Jam delapan non" Jawab Bi Minah
"Apa papa dan mama sudah berangkat kerja?" Tanya Nesa lagi
"Belum non. Sepertinya Tuan dan Nyonya akan berangkat agak siangan" Jawab Bi Minah sambil mengambil baju kotor Nesa
"Baiklah. Aku mandi dulu" Nesa beringsut dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi
30 menit kemudian Nesa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Kamarnya sudah tampak rapi. Tadi Bi Minah membersihkan kamar Nesa terlebih dahulu sebelum meninggalkannya.
Nesa mengambil baju rumahan di lemari dan memakainya. Setelah menyisir rambutnya,Nesa keluar dari kamar menuju meja makan.
Di meja makan sudah tampak Widia dan Gunawan sedang menyantap sarapannya.
"Baru bangun sayang?" Sapa Widia
"Iya ma" Nesa mengambil tempat duduknya berhadapan dengan Widia
"Papa tidak pergi ke kantor?" Tanya Nesa pada Gunawan
"Papa ada urusan lain,nanti baru ke kantor setelah jam makan siang" Jawab Gunawan sambil meneguk kopinya
Nesa mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai cokelat,selai kesukaannya. Nesa memotong roti itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Kemudian Nesa mengambil susu cokelat hangat dan meminumnya sampai habis setengah gelas.
"Apa rencana kamu selanjutnya Nesa? kamu kan sudah menyelesaikan fase internship kamu. Apa kamu akan bekerja di rumah sakit atau langsung membuka praktik sendiri?" Tanya Widia sambil mengunyah makanannya
__ADS_1
"Rencananya Nesa ingin lanjut ke program spesialis ma. Nesa ingin seperti mama menjadi dokter spesialis" Jawabnya sambil tersenyum tipis pada Widia
"Ide yang bagus. Itu berarti kamu harus bekerja di rumah sakit dulu selama 1-2 tahun sebagai syarat wajib untuk lanjut ke program spesialis" Widia yang sama-sama dokter sangatlah paham tentang dunia kedokteran
"Iya ma Nesa harus punya pengalaman klinis dulu di rumah sakit paling tidak selama 1 tahun. Tapi Nesa ingin bekerja di rumah sakit sampai 2 tahun" Ujar Nesa menanggapi
"Nesa masih menunggu STR Nesa dulu,mungkin dalam waktu 1-2 bulan sudah keluar. Setelah itu Nesa akan mengajukan lamaran ke rumah sakit" Tambah Nesa
STR (Surat Tanda Registrasi) adalah syarat wajib untuk mendapatkan surat ijin praktik (SIP) dan STR sendiri syarat wajib untuk melamar kerja di rumah sakit.
"Apa tidak cukup dengan hanya menjadi dokter umum saja Nesa?" Gunawan akhirnya berkomentar
"Memangnya kenapa pa? Nesa kan masih muda dan belum berkeluarga" Tanya Nesa heran
Ucapan Gunawan kali ini terdengar tidak setuju dengan jalan yang akan diambilnya.
Gunawan menghentikan sarapannya dan menatap Nesa dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Itu memang benar Nesa. Tapi bagaimana jika dalam waktu dekat ini kamu bertemu dengan jodoh kamu dan kalian menikah" Ujar Gunawan lagi
"Papa hanya tidak mau kamu kesulitan membagi waktu dengan keluarga. Bukankah kamu sudah merasakannya sendiri bagaimana susahnya kuliah di ilmu kedokteran? Sangat menguras waktu dan tenaga bukan?" Tambah Gunawan lagi
Berbeda dengan Widia,Nesa yang mendengar ucapan Gunawan tergelak tawa karena menurut Nesa ucapan papanya itu sangatlah lucu. Belum menikah saja,papanya sudah mengkhawatirkan rumah tangganya. Lagipula Nesa tidak berkeinginan menikah disaat umurnya masih 21 tahun.
"Ah papa bicara apa. Nesa belum siap menikah pa" Jawab Nesa disela tawanya
Widia akhirnya bernafas lega. Nesa ternyata tidak terpancing dengan perkataan Gunawan.
"Sambil menunggu STR kamu keluar, sebaiknya kamu ikut berbagai pelatihan dulu. Itu akan sangat berguna nantinya ketika kamu sudah berkerja di rumah sakit" Widia berusaha mengalihkan pembicaraan
"Iya ma Nesa akan segera mendaftar" Ucap Nesa akhirnya
Gunawan agak berputus asa karena ternyata Nesa menganggap ucapannya hanya sebagai hembusan angin saja. Tapi Gunawan tidak akan mundur. Gunawan akan mencari waktu yang tepat untuk bicara pada Nesa empat mata tanpa ada Widia disampingnya. Dengan begitu dia bisa leluasa mengatakannya tanpa harus menundanya lagi.
__ADS_1
...----------------...
Adam memasuki Gedung Nusantara Group diikuti oleh Sekretaris Bian dibelakangnya. Hari ini Adam berangkat lebih pagi karena ada meeting rutin dengan para pimpinan divisi.
Penampilannya selalu sempurna. Adam memakai kemeja navy dengan setelan jas yang senada membuat para karyawan di kantornya terkesima.
Adam menaiki lift khusus untuk direktur menuju ke ruangan yang akan dijadikan tempat meeting.
Di ruangan meeting terlihat para pimpinan divisi sudah mengisi tempat duduknya masing-masing dan sedang menunggu sang direktur untuk memulai meeting.
Adam mengambil tempat duduknya disusul Sekretaris Bian kemudian yang duduk disamping kursi Adam.
Lalu meeting dimulai. Semua pimpinan divisi memberi laporan rutin tentang performa divisinya pada direktur.
Diakhir acara Adam tersenyum puas. Adam memuji kinerja para pimpinan divisi yang berkerja sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Adam juga memuji bagian divisi pemasaran karena bulan ini perusahaannya mencapai target yang sudah ditetapkan.
Setelah beberapa saat meeting pun selesai. Semua bertepuk tangan. Adam pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan. Semuanya membungkuk hormat. Kemudian satu persatu dari mereka yang ikut meeting juga keluar dari ruangan.
Dilantai yang berbeda masih di Gedung Nusantara Group,Dea sedang sibuk berkutat dengan komputernya. Sebagai mahasiswi magang tentulah pekerjaan Dea lebih banyak dibanding karyawan yang lain.
Lalu salah satu staff administrasi menghampirinya.
"Tolong antarkan dokumen ini keruangan direktur" Pinta Sindi,salah satu staff administrasi disana
Dea sedikit kaget. Dia diminta untuk mengantar dokumen yang sudah difotokopi itu ke ruangan direktur. Itu berarti dia akan berhadapan langsung dengan bos perusahaan yang selama ini diketahuinya sangatlah dingin dan tidak mau berdekatan dengan perempuan.
"Tapi bak sindi,saya..." Dea ingin menolak
"Kami semua sedang sibuk,jadi kau saja yang mengantarnya" Sindi langsung memotong
"Cepatlah,direktur sedang menunggu dokumen itu" Pinta Sindi lagi dengan nada yang lebih tegas seolah tidak ingin dibantah
"Ba-baik bak" Jawab Dea dengan sedikit terbata
__ADS_1
Bersambung....