
Gunawan kembali gelisah. Entah sudah berapa lama dia mondar mandir di kamarnya. Pikirannya kacau. Yang ada dibenaknya saat ini hanyalah segera membujuk Nesa agar dia mau menerima perjodohannya yang pernikahannya akan dilaksanakan tujuh hari lagi.
Setelah keberaniannya terkumpul, Gunawan menemui Nesa di kamarnya. Kesempatan yang bagus menurutnya karena saat ini Widia sedang tidak ada di rumah. Widia belum pulang dari rumah sakit. Jadi dia bisa dengan leluasa untuk membujuk Nesa.
Dengan ragu-ragu,Gunawan mengetuk kamar Nesa.
"Nesa,apa kamu ada di dalam?" Gunawan memanggil dengan nada yang agak keras
Nesa yang sedang bersantai di kamar akhirnya membukakan pintu.
"Apa papa boleh masuk?" Tanya Gunawan
"Iya tentu saja. Papa ingin apa?" Tanya Nesa sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Gunawan pun ikut duduk di samping Nesa
Sekarang Gunawan terlihat bingung. Dia tidak tahu harus memulainya darimana. Setelah lama terdiam,akhirnya dia membuka suaranya.
"Papa ingin bertanya sesuatu" Ucap Gunawan
"Ya.. apa?" Tanya Nesa dengan santai. Nesa belum menaruh curiga apapun pada Gunawan
"Apa selama menjadi anak papa,kamu pernah merasa sedih?" Gunawan memulainya dengan pertanyaan basa basi
"Tidak pernah" Nesa menjawab cepat dan mulai terlihat bingung
"Apa kamu pernah merasa kekurangan materi dan kasih sayang dari papa dan mama?" Gunawan bertanya lagi
"Tidak pernah pa" Masih dengan jawaban yang sama tapi wajahnya semakin terlihat bingung
"Apa papa pernah melakukan kesalahan terhadapmu?" Gunawan tak henti-hentinya bertanya seolah dia ingin memberi Nesa pemanasan terlebih dahulu
"Selama Nesa jadi anak papa,Nesa tidak pernah merasakan yang namanya kesedihan. Papa dan mama memberikan Nesa limpahan kasih sayang dan materi sehingga Nesa tidak pernah merasa kekurangan apapun dalam hidup Nesa. Sampai detik ini pun Nesa merasa belum bisa membalas semua kebaikan papa dan mama. Kalau pun Nesa memberikan seluruh jiwa dan raga Nesa itu rasanya belum sepadan dengan pengorbanan papa dan mama selama ini" Akhirnya Nesa menjawabnya dengan panjang lebar
__ADS_1
"Memangnya kenapa papa bertanya seperti itu?" Tanya Nesa penasaran
Gunawan menghela nafas panjang dan membuangnya pelan.
"Jika papa meminta sesuatu,apa kamu akan mewujudkannya?" Tanya Gunawan sambil menatap Nesa dalam-dalam
"Katakan saja tidak usah sungkan. Jika Nesa mampu pasti akan Nesa lakukan. memangnya papa ingin meminta apa dariku?" Nesa masih terlihat santai,dia belum menaruh rasa curiga dengan permintaan papanya
Gunawan menghela nafasnya sekali lagi dan membuangnya pelan. Gunawan diam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengutarakan tujuannya.
"Papa minta kesediaan kamu untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa" Ujar Gunawan akhirnya
"Apa...?" Nesa sangat terkejut
Seketika itu juga tubuh Nesa memanas. Dia bagai disambar petir yang menghanguskan seluruh tubuhnya. Bibirnya kelu tak mampu berkata apa-apa.
"Papa minta maaf jika permintaan papa sungguh berat untuk kamu penuhi tapi papa lakukan ini semata-mata demi kebahagiaan kamu. Mungkin setelah ini kamu akan memaki papa jahat tapi suatu saat nanti papa yakin kamu akan berterimakasih pada papa. Kamu akan sangat beruntung. Laki-laki yang akan papa nikahkan denganmu bukanlah laki-laki sembarangan. Dia laki-laki hebat dambaan semua wanita" Gunawan terdengar meyakinkan Nesa
"Laki-laki hebat,laki-laki dambaan semua wanita. **A**palah arti itu semua jika aku tidak mencintainya" Nesa tersenyum miris
"Jadi ini alasan papa selama ini melarangku untuk berpacaran?" Tanya Nesa dengan berurai airmata
"Iya. Papa ingin memberikan yang terbaik untuk calon suami kamu" Jawab Gunawan
"Permintaan papa sungguh berat. Aku bahkan belum mengenalnya" Seru Nesa
"Kamu memang tidak mengenalnya tapi kamu pasti kenal denga papanya" Ucap Gunawan yang membuat Nesa penasaran ingin mengetahuinya
"Siapa?" Tanya Nesa sambil terisak
"Om Surya" Jawab Gunawan to the point
__ADS_1
Seketika mata Nesa melebar dengan mulut yang sedikit menganga. Dia tentu tahu dengan Surya karena tidak jarang orang yang sudah dikenalnya lama itu,berkunjung kerumahnya. Jadi selama ini om Surya yang dikenalnya itu adalah ayah dari laki-laki yang akan dinikahkan dengannya. Nesa sungguh sangat terkejut. Ternyata selama ini Surya sering datang kerumahnya karena mempunyai maksud lain.
"Apa papa tidak bisa mengganti permintaan papa? Nesa sungguh tidak sanggup menikah dengan laki-laki yang tidak Nesa cintai" Nesa berusaha menolak
"Kamu bicara apa Nesa,itu hanya masalah waktu. Cinta akan tumbuh di hati kalian seiring berjalannya waktu" Sanggah Gunawan dengan entengnya
"Selama ini papa melarang Nesa pacaran Nesa turuti pa. Tapi kenapa papa juga tega memaksaku menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal" Nesa kembali membantah,kali ini Nesa ingin memberontak
"Sudahlah jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu harus bersiap karena pernikahan akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Mau tidak mau kamu harus menerimanya" Ucap Gunawan tegas. kali ini ucapan Gunawan terdengar jahat ditelinga Nesa
"Tujuh hari lagi?" Nesa kembali dibuat tercengang
"Iya"
"Tapi pa..."
"Apapun bantahan kamu,papa tidak akan merubah keputusan papa" Ucap Gunawan yakin
"Dia laki-laki yang baik nak. Dia juga putera tunggal dari om Surya. Papa yakin dia bisa membahagiakanmu" Ucapnya lagi sambil mengelus punggung Nesa
Gunawan pun meninggalkan Nesa tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara lagi. Sebenarnya Gunawan juga tidak tega melihat Nesa menangis seperti itu. Seumur hidupnya,baru kali ini Gunawan membuat Nesa menangis.
"Suatu saat nanti,papa yakin kamu tidak akan menangis sedih lagi tapi kamu akan menangis bahagia" Gunawan berharap ucapannya akan menjadi kenyataannya suatu saat nanti
Nesa membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia menangis sejadi-jadinya. Nesa belum siap menikah apalagi menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Bagaimapun juga menikah adalah sebuah keputusan besar yang banyak menanggung resiko didalamnya. Apalagi dia tidak ingin menikah ketika dirinya belum siap.
Pantas saja kemarin papanya terdengar keberatan dengan keputusannya untuk melanjutkan pendidikannya. Ternyata perjodohan ini sudah direncanakan papanya dari jauh-jauh hari.
Malam ini sepertinya Nesa tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Nesa ingin berteriak sekencang-kencangnya. Nesa lebih baik kehilangan cita-citanya untuk menjadi dokter spesialis daripada harus menikah dengan laki-laki asing.
Nesa terluka. Yang lebih menyakitkan, pernikahannya akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Keputusan yang sungguh tidak adil bagi Nesa. Keputusan yang gegabah dan terkesan sangat terburu-buru menurutnya. Apalagi dirinya tidak dilibatkan dalam menentukan tanggal pernikahannya. Predikat papa terbaik sedunia yang dia sematkan selama ini seketika lenyap begitu saja. Malam ini papanya berubah menjadi papa paling jahat di dunia.
__ADS_1
Bersambung....