
Akhirnya mereka sampai di restoran yang menyediakan makanan seefood. Sambil menunggu makanannya datang,Firman kembali membuka obrolan tentang Adam. Firman sangat penasaran untuk mengetahui kehidupan Adam lebih jauh lagi.
"Kebetulan sekali ya tadi kita bertemu dengannya di pesta" Ujar Firman tiba-tiba
"Siapa maksud mas Firman?" Tanya Nesa
"Mantan pacarmu itu" Jawab Firman
"Mas Adam?" Tanyanya memastikan
"Iya siapa lagi"
"Tidak heran lah jika orang penting seperti dia juga jadi tamu undangan di pesta mewah itu. Mungkin mempelai laki-lakinya adalah salah satu rekan bisnisnya" Jawab Nesa
"Dia pengusaha?" Tanya Firman kemudian
"Presdir sekaligus pewaris tunggal Nusantara Group. Perusahaannya bergerak dibidang pengolahan makanan" Jawab Nesa menjelaskan
"Oh iya-iya. Siapa yang tak tahu jika sudah menyebut Nusantara Group. Nama perusahaan itu banyak tertera diberbagai macam produk-produk makanan yang merupakan brand terlaris dipasaran" Firman agak surprise mendengarnya
"Ya begitulah. Awalnya aku juga tidak tahu apa pekerjaannya. Aku mengetahuinya setelah beberapa minggu kami berpacaran. Itu pun Dea yang memberitahuku setelah melihat fotonya diponselku,karena dulu Dea magang disana" Ujar Nesa
"Pasti dia sosok laki-laki yang low profile" Tebak Firman
"Iya betul tapi jika ada sesuatu yang membuatnya marah,dia tidak akan segan-segan menggunakan kekuasannya. Barulah kesombongannya akan tampak" Nesa menanggapi
"Laki-laki seperti dia memang akan melakukan itu Nesa! Dia pantas sombong" Firman berkomentar
"Mungkin" Nesa membalasnya dengan malas
"Papamu tidak salah memilihkan jodoh untukmu Nesa"
"Dulu waktu papa menjodohkanku dengannya,aku bahkan tidak tahu siapa namanya" Nesa tersenyum masam saat mengingat kembali kejadian di masa lalunya
"Kadang aku juga heran kenapa papanya sangat ingin menikahkan puteranya denganku,padahal banyak perempuan kelas atas yang mau menikah dengannya" Tambah Nesa
"Semua orangtua menginginkan jodoh yang terbaik untuk anaknya,dan pilihannya itu jatuh pada kamu. Apalagi dia itu bersahabat baik dengan papamu bukan!" Firman menanggapi
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin iya" Balas Nesa sambil mengangkat bahunya
Setelah mengobrol cukup banyak,makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Kerang hijau dengan bumbu asam manis dan cumi bakar dengan bumbu yang sama untuk Firman. Mereka segera menyantap makanannya sesaat setelah pelayan menghidangkannya di meja mereka.
"Kamu memakai kalung pemberianku?" Tanya Firman yang sedang tidak sengaja melihat leher Nesa
"Oh ini,iya" Jawab Nesa sambil menyentuh benda itu
"Kamu baru memakainya? Karena kemarin aku tidak pernah melihatnya" Tanyanya lagi
"Iya,aku baru sempat memakainya lagi" Jawab Nesa
"Kamu tahu tidak kenapa aku memberikan kamu kalung dengan inisial namamu sendiri?"
Nesa menggeleng.
"Itu karena aku ingin kamu selalu menyimpan kalung pemberianku. Jadi jika suatu saat nanti kamu sudah menikah dengan laki-laki lain kamu tetap menyimpannya. Andai saja aku memberikan kalung berinisial namaku pasti kamu akan membuangnya dan tidak akan pernah memakainya"
"Mas Firman bicara apa? Aku tidak akan melakukannya. Aku akan selalu menyimpan kalung ini" Bantah Nesa
Firman mengangguk sambil tersenyum.
Adam masuk kedalam rumah dengan enggan. Dilangkahkan kakinya tanpa semangat. Pesta tadi hanya membuat pikirannya tambah kacau saja.
"Adam" Surya memanggilnya
Adam menoleh dengan malas.
"Papa ingin bicara" Ucap Surya
"Besok saja pa. Aku sangat lelah malam ini" Tolak Adam
"Penting. Setelah ini papa tidak akan mengganggumu lagi" Jelas Surya
Adam mengernyitkan dahi. Karena penasaran,akhirnya Adam menyanggupi.
"Bicaralah" Pinta Adam sambil mendudukkan tubuhnya di sofa kamar
__ADS_1
"Papa ingin bercerita,mungkin sudah saatnya kamu tahu. Setelah ini,papa harap kamu tidak ragu lagi untuk kembali pada Nesa" Ujar Surya
Adam tampak antusias untuk mendengarkannya. Apa yang ingin papanya sampaikan? Nama Nesa disebut,sudah pasti ini ada hubungannya dengan perempuan yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu.
"Waktu itu mamamu harus kehilangan bayi kembarnya saat usia kandungannya menginjak 8 bulan karena kelainan pada plasenta. Mamamu harus menjalani operasi di rumah sakit untuk mengeluarkan bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan. Kamu yang waktu itu masih berusia 3 tahun ikut menemani papa menunggu mama selesai di operasi" Surya memulai ceritanya
"Lalu?" Adam terlihat penasaran dengan kelanjutan ceritanya
"Karena papa terlalu mencemaskan kondisi mamamu,papa jadi lalai menjagamu. Kamu hilang dari pengawasan papa. Waktu itu kamu sedang aktif-aktifnya berjalan" Surya berhenti sejenak sambil mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu
"Kemudian papa mencarimu dengan perasaan khawatir. Papa takut saja jika kamu jatuh karena ruangan tempat mamamu menjalani operasi,itu berada di lantai dua rumah sakit. Dan benar saja,kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi. Papa menemukan kamu tengah digendong seseorang dalam kerumunan disana. Saat papa mendekat,papa melihat wanita muda yang berpakaian dokter dan sedang hamil menjerit kesakitan dibawah tangga dengan kondisi berdarah" Surya menghela nafas panjang dengan raut wajah sendu
"Menurut kesaksian orang yang melihatnya,kamu hampir saja terjatuh dari tangga. Kemudian dokter muda yang tengah hamil itu datang menolongmu,tapi karena panik membuatnya tidak hati-hati dan akhirnya dia kesandung kakinya sendiri. Tubuhnya terguling dari tangga"
"Dan kamu tahu siapa dia?"
Adam tampak bingung sambil menggeleng.
"Dia adalah Widia,mamanya Nesa" Ujar Surya sambil menatap Adam
Seketika mata Adam membulat dengan sempurna. Tentu saja Adam sangat terkejut mendengarnya.
"Bayi yang dikandungnya tidak tertolong. Dokter juga melarangnya untuk hamil lagi dikarenakan rahimnya mengalami kerusakan. Jika tetap memaksa,maka nyawanya akan terancam. Tapi apa kamu tahu Adam? Widia sama sekali tidak menyalahkan papa. Widia orang yang sangat ikhlas menerima takdirnya" Surya melanjutkan ceritanya dengan nada sedih bercampur haru
Tubuh Adam menjadi lemas. Walaupun dia tidak mengingat kejadian itu tapi Adam merasa sangat berhutang budi sekarang.
"Sejak saat itu papa dan mama berusaha menjadi teman mereka. Papa selalu membantu Gunawan untuk memajukan bisnisnya. 5 tahun kemudian,diam-diam Widia hamil tanpa sepengetahuan Gunawan. Widia menjalani kehamilannya dengan resiko tinggi. Saat usia kandungannya baru 7 bulan,Widia tidak bisa melanjutkan kehamilannya. Widia harus mendapatkan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Dokter berhasil mengeluarkan bayinya tapi rahimnya tidak bisa diselamatkan dan harus di angkat. Bayi yang lahir prematur itu adalah Nesa" Seketika wajah Surya tertunduk seolah tidak bisa menahan kesedihannya.
Adam tercengang. Wanita yang akhir-akhir ini sangat dibencinya itu ternyata terlahir sebagai anak tunggal itu karena kelalaian papanya.
"Karena itulah papa ingin sekali menjodohkan kamu dengan Nesa. Nesa tidak bisa memiliki saudara itu karena papa Adam! Papa ingin kamu menjaganya sampai akhir. Hanya itu yang bisa papa lakukan. Kalian sama-sama anak tunggal tapi tentu keadaannya berbeda. Kami tidak memiliki anak lagi itu karena mamamu memang tidak ingin,mamamu trauma setelah kehilangan bayi kembarnya tapi mereka tidak bisa mempunyai anak lagi itu karena kesalahan papa" Surya terlihat memelas
"Segera temui Nesa dan minta maaflah pada keluarganya. Mereka orang yang sangat baik" Pinta surya kemudian sambil menepuk pundak Adam
Surya pun berlalu meninggalkan Adam yang masih tergugu disana. Adam semakin yakin untuk kembali lagi pada Nesa. Sudah saatnya dia membalas semua budi baik keluarganya. Terlepas dari itu karena ternyata dia juga masih sangat mencintai Nesa.
Bersambung....
__ADS_1