Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Kondisi Surya


__ADS_3

Adam masih menunggu dokter yang memeriksa Surya di dalam. Rasa cemas memikirkan papanya dan amarahnya pada Gunawan berkecamuk dalam hatinya menjadi satu.


Lalu dokter keluar dari ruangan dimana Surya diperiksa. Adam dan Sintia semakin panik melihat ekspresi dokter yang terlihat tegang.


"Bagaimana keadaan papa saya dokter? apa papa saya sudah sadar?" Tanya Adam panik


"Kondisi tuan Surya kritis. Kita harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya" Jawab dokter itu dengan serius


Sintia yang mendengarnya semakin histeris. Berbagai macam pikiran buruk mulai merasuki hatinya.


"Sepertinya tadi sebelum Tuan Surya dibawa kesini dia sudah mendapatkan pertolongan pertama dirumah?" Tanya dokter ingin memastikan


"Benar dokter. Teman saya yang memberikan pertolongan" Jawab Sintia sambil terisak


"Syukurlah. Jika tidak maka kemungkinan besar nyawa Tuan Surya tidak bisa diselamatkan" Ucapan dokter membuat Sintia merasa berhutang budi pada Widia


"Lakukan operasinya segera dokter" Pinta Adam menginterupsi sambil memeluk kembali Sintia yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.


"Mama tenang ma,papa akan baik-baik saja" Ucap Adam lirih


Sepertinya Adam tidak peduli dengan apa yang dikatakan dokter tadi. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berterimakasih pada orang yang memberikan pertolongan pertama pada papanya karena jauh dari dalam hatinya,Adam masih geram dengan Gunawan. Jika saja dia bukan orangtua,sudah pasti tadi dia memukulnya habis-habisan. Hatinya yang sedang diselimuti amarah membuat Adam tidak bisa berpikir jernih saat ini.


Beberapa petugas rumah sakit mendorong brankar menuju ruang bedah untuk melakukan tindakan operasi. Terbaring tubuh Surya yang tak berdaya disana.


Operasi sedang berlangsung dan memakan waktu berjam-jam. Adam dan Sintia masih setia menunggu Surya selesai dioperasi.


Setelah operasi selesai,Adam meminta penjelasan dokter terkait kondisi kesehatan papanya. Dokter mengatakan jika operasi Surya berjalan dengan lancar dan dokter akan memeriksanya kembali saat Surya sudah siuman nanti. Adam dan Sintia bernafas dengan lega karena Surya berhasil melewati masa kritisnya.


"Mama pulang saja dulu. Aku yang akan menjaga papa disini. Nanti kalau papa sudah siuman,Aku akan menelfon mama" Pinta Adam pada Sintia yang terlihat lelah


"Baiklah,mama pulang dulu" Ucap Sintia mengiyakan. Dia merasa tubuhnya memang sangat lelah. Karena mulai tadi pagi dia belum makan dan istirahat


Sintia meninggalkan Adam dan Sekretaris Bian yang sedari tadi setia mendampinginya.


"Saya akan membelikan anda makanan Tuan,sepertinya anda juga lapar" Ucap Sekretaris Bian perhatian

__ADS_1


"Hm.." Singkat Adam yang tampak tidak berselera


Sekretaris Bian pun keluar dari ruangan membeli makan siang untuk Adam.


Tak berapa lama Sekretaris Bian kembali dengan membawa bungkusan plastik berisi makanan.


"Makanlah dulu Tuan agar tubuh anda tetap bertenaga" Sekretaris Bian menyodorkan makanan itu pada Adam


"Taruh saja. Aku ingin menyegarkan diri dulu di kamar mandi" Pinta Adam


Setelah menyelesaikan kegiatannya dikamar mandi,Adam menyantap makanan yang tadi dibeli oleh Sekretaris Bian. Beberapa jam kemudian Sekretaris Bian membangunkan Adam yang sedang beristirahat di sofa.


"Tuan Surya sudah siuman Tuan!" Ucap Sekretaris Bian dengan girang


Adam langsung menghampiri Surya dan duduk disampingnya.


"Cepat panggil dokter" Pinta Adam pada Sekretaris Bian


Dokter datang dan memeriksa kondisi Surya.


"Dari pemeriksaan fisik,kondisi jantung Tuan Surya stabil. Kita tunggu dalam beberapa hari ini untuk melihat perkembangannya" Dokter menjelaskan


"Sebaiknya Tuan Surya tidak di ajak untuk berbicara dulu. Tuan Surya harus banyak-banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya lagi pasca operasi" Saran dokter kemudian


"Baik dokter"


"Baik,saya permisi dulu" Dokter pun keluar dari kamar Surya


"Adam,apa kamu sudah tahu semuanya? Tanya Surya yang tampak memaksakan diri untuk berbicara


"Papa jangan banyak bicara dulu. Papa istirahat saja dan jangan memikirkan apapun. Papa tadi dengar kan dokter menyarankan agar papa tidak banyak berbicara dulu" Pinta Adam pelan


"Aku telfon mama dulu. Mama pasti senang mendengar papa sudah siuman" Ucapnya lagi sambil mengeluarkan ponselnya di saku celana


Surya pun menurut. Surya diam dan tidak berbicara lagi karena kondisinya memang masih lemas pasca operasi.

__ADS_1


Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit,akhirnya Surya diperbolehkan pulang. Kondisinya semakin membaik tapi Surya harus tetap rutin kontrol.


Sintia dan Adam tersenyum ceria melihat Surya sudah pulih kembali. Setiap hari Surya harus minum obat yang sudah diresepkan oleh dokter.


Tidak ada pembicaraan lebih lanjut tentang pernikahan Adam dan Nesa. Surya fokus pada kesembuhannya dan Sintia sibuk merawat Surya. Sedangkan Adam sudah mulai kembali lagi bekerja di perusahaan karena banyak pekerjaannya yang terbengkalai selama dia menemani Surya di rumah sakit.


Lain halnya dengan Gunawan yang hilang kabar tak berani menemui Surya lagi setelah waktu itu Adam mengusirnya dari rumah sakit.


Gunawan dan Widia masih diselimuti rasa cemas karena hampir seminggu Nesa pergi dari rumah dan tidak ada kabar lagi. Ponselnya juga masih tidak bisa dihubungi. Widia dan Gunawan hanya menunggu kabar dari Nesa tanpa mencarinya karena mereka pikir Nesa memang tidak ingin diganggu dan pergi untuk menenangkan diri.


Rumah tampak sepi tanpa Nesa. Seperti suasana makan malam hari ini di meja makan. Gunawan maupun Widia memulai makan malamnya dalam hening. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.


Beberapa kali Widia terlihat menatap Gunawan seolah ada yang sedang ingin dia katakan.


"Apa papa masih marah sama Nesa?" Tanya Widia akhirnya


Gunawan diam sesaat tak langsung menjawabnya.


"Papa belum bisa terima atas apa yang terjadi pada kita semua dalam beberapa hari ini. Nesa kabur,mas Surya jatuh sakit dan kemarahan Adam pada papa. Itu semua diluar dugaan papa" Jawab Gunawan


"Pasti mas Surya maupun Adam sangat membenci papa sekarang" Sambung Surya


"Sudahlah pa jangan memikirkan keluarga mas Surya lagi. Mama bahkan sudah tidak tertarik untuk meneruskan perjodohan itu" Tegur Widia


Gunawan menatap Widia seakan meminta penjelasan atas apa yang dikatakan Widia barusan.


"Apa papa tidak ingat waktu Adam mengusir kita dari rumah sakit? Dia sangat tidak sopan pa. Laki-laki seperti itu yang akan papa nikahkan dengan Nesa?" Tanya Widia sambil berkomentar


"Adam pantas marah ma dan papa memakluminya" Gunawan menanggapinya dengan santai


"Sebagai laki-laki dewasa harusnya dia bisa menahan emosinya,bukan malah marah seenaknya begitu saja" Sanggah Widia dengan nada yang agak sinis


"Kemarahan Adam itu masih wajar ma,apalagi waktu itu nyawa papanya sedang terancam" Balas Gunawan memaklumi


"Ah sudahlah terserah papa saja. Tapi mama minta setelah Nesa memberi kabar nanti,papa tidak akan memarahinya dan papa harus ajak Nesa pulang lagi kerumah ini" Pinta Widia tegas seolah tidak ingin dibantah

__ADS_1


"Iya ma" Jawab Gunawan akhirnya


Bersambung....


__ADS_2