Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Adam merasa ada yang aneh dengan Nesa. Dia terus saja menebarkan senyum. Rona kebahagian terpancar jelas di wajahnya. Adam juga merasa kalau Nesa lebih cantik dari biasanya.


Nesa bahkan membantunya membuka jas dan kemejanya.


"Sayang..."


"Iya" Masih sibuk melucuti pakaian Adam


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Adam sambil merangkum wajah Nesa


"Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit" Jawabnya santai. Tangannya menyentuh tangan Adam,lalu menciumnya satu persatu. Adam jadi semakin bingung dibuatnya


"Tapi aku perhatikan kamu senyum-senyum terus daritadi?" Tanyanya lagi curiga


"Itu karena aku sangat bahagia" Jawab Nesa ringan


"Bahagia karena...?" Adam tidak puas dengan jawaban Nesa


"Rahasia..." Jawab Nesa sok misterius


Adam memicingkan mata memandang ke arah Nesa yang sudah enyah dari hadapannya. Nesa memasukkan baju kotor Adam ke dalam keranjang cucian. Adam mendekat dan bertanya lagi untuk memuaskan rasa penasarannya.


"Sayang,cepatlah mandi. Lihatlah kamu hanya memakai ****** ***** saja" Nesa memandanga Adam sambil tertawa kecil


"Katakan,apa yang kamu sembunyikan dariku?" Adam menarik tubuh Nesa hingga Nesa jatuh dalam pelukannya


"Aku tidak sedang menyembunyikan apapun"


"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan senyumanmu itu!" Seru Adam


Nesa justru tergelak.


"Kamu yang aneh" Nesa menutup mulutnya yang tak henti tertawa


"Aku? aneh?"


"Iya"


"Aku aneh kenapa?"


"Kamu seperti baru melihatku tersenyum saja. Memangnya aku tidak boleh bahagia ya?" Nesa mengalungkan tangannya di leher Adam


"Tapi alasannya apa? Perasaan, aku tidak memberi hadiah apapun hari ini!"


"Memangnya bahagia harus ada alasannya ya?" Nesa semakin bertele-tele


"Kamu ingin mengerjaiku ya? Cepat katakan,atau aku akan marah?" Ancam Adam. Wajahnya sudah mulai tidak enak dilihat


"Sebaiknya kamu mandi dulu. Papa dan mama pasti sudah menunggu kita di meja makan" Nesa mengelak


"Kau saja. Aku sudah tidak berselera makan" Adam kesal. Adam berjalan beberapa langkah menjauh dari Nesa


"Kamu marah?" Tanya Nesa lembut


"Tidak" Adam berlalu ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan agak kasar

__ADS_1


Nesa mengelus-elus perutnya sambil tersenyum. Sambil menunggu Adam mandi,Nesa mengambilkan baju Adam di lemari.


Saat Adam keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah,Nesa mengambil handuk kecil dan hendak membantu Adam untuk mengeringkan rambutnya tapi Adam justru menolak.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri" Adam mengambil alih handuk yang dipegang Nesa


Nesa hanya menghela nafas melihat Adam mengabaikannya.


"Kamu benar-benar marah?" Nesa terus memandangi Adam sambil duduk di pinggiran tempat tidur


Adam tidak menjawab. Sibuk sendiri menata rambutnya. Bahkan Adam tidak melirik Nesa saat mengambil baju yang sudah Nesa siapkan di atas kasur.


"Kita makan malam sekarang" Nesa menyentuh lengan Adam sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Adam yang lebih tinggi


"Tadi aku sudah bilang aku tidak lapar" Ucap Adam acuh


"Sayang kamu berpikir apa tentangku?" Tanya Nesa


Lagi-lagi Adam mengabaikannya. Sikap Nesa tadi sudah membuat Adam malas untuk menanggapinya.


"Jika aku hanya turun ke bawah sendirian,pasti mama dan papa akan curiga" Ucap Nesa lagi


"Kamu katakan saja pada mereka jika aku sedang tidak berselera makan"


"Itu tidak mungkin. Mereka akan semakin curiga. Ayolah cepat. Aku tahu kamu sudah lapar" Nesa menarik tangan Adam dengan wajah tanpa dosa


"Bagaimana bisa dia sesantai itu menanggapi kekesalanku" Adam bergumam sendiri dalam hati. Dengan agak terpaksa Adam menuruti kemauan Nesa untuk makan malam bersama papa dan mamanya


Mereka pun turun ke bawah menuju meja makan. Nesa tampak tersenyum cerah sambil menggandeng tangan Adam,sedangkan orang yang sedang digandeng tangannya tampak tidak bersemangat dan memasang wajah yang cemberut.


Selesai menghabiskan makanannya,Adam meninggalkan meja makan terlebih dulu.


"Aku ke ruang kerjaku dulu" Ucap Adam yang entah dia tujukan untuk siapa,karena pandangan matanya tidak tertuju ke siapapun


Saat Adam sudah menghilang dari sana,Sintia pun akhirnya terusik untuk bertanya.


"Apa kalian sedang bertengkar?"


"Tidak ma" Jawab Nesa sambil tersenyum


"Lalu ada apa dengan Adam? Sepertinya dia sedang kesal?" Tanya Sintia lagi


"Mas Adam tidak apa-apa ma. Dia hanya salah paham saja denganku" Jawabnya lagi santai


"Salah paham bagaimana?" Sintia terus mencecarnya


Nesa sudah tidak sabar untuk memberitahu papa dan mama mertuanya tentang kehamilannya.


"Hari ini aku sangat bahagia,dan sepertinya itu yang membuat mas Adam kesal karena dia pikir aku bahagia bukan untuk dia" Jawab Nesa


"Bahagia?" Surya yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara


"Iya pa. Sebentar lagi papa dan mama akan mempunyai cucu" Ucap Nesa sambil melihat ke arah Sintia dan Surya secara bergantian


"Apa? Kamu hamil?" Sintia langsung menyergahnya

__ADS_1


"Hussss....jangan keras-keras ma,nanti mas Adam dengar" Nesa menempelkan telunjuknya di bibir


"Memangnya kenapa jika Adam tahu? Bukankah Adam orang pertama yang harusnya tahu" Tanya Surya heran


"Besok itu ulang tahunnya mas Adam pa. Jadi aku beritahu besok saja" Jawab Nesa


"Sudah berapa minggu usia kehamilanmu? Sudah memeriksakannya ke dokter?" Tanya Sintia lirih


"Sudah 8 minggu ma. Dan apa papa dan mama tahu,aku sedang hamil anak kembar. Kembar 3" Nesa memperjelas sambil tersenyum sumringah


"Benarkah?" Sintia tampak antusias


"Tadi mamaku sudah memeriksanya"


"Papa sangat senang mendengarnya. Semoga bayi kalian sehat sampai dia dilahirkan nanti" Ucap Surya yang juga terlihat sangat antusias


"Sudah dulu ya ma pa. Aku mau menyusul mas Adam" Nesa pun pergi meninggalkan Sintia dan Surya yang masih hanyut dalam kebahagiaan mereka masing-masing


Nesa masuk ke ruangan Adam dengan langkah pelan. Dilihatnya Adam sedang sibuk dengan laptopnya.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Nesa


"Ada apa?" Adam bertanya balik


"Kamu sedang kesal?"


"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya" Adam masih sok sibuk dengan laptopnya


"Sayang,kamu berlebihan" Nesa duduk di pangkuan Adam tiba-tiba. Lalu menutup laptop Adam


"Sayang..." Nesa menatap Adam dengan penuh rasa cinta


"Jangan merayuku" Adam memalingkan wajah seolah tidak ingin luluh dengan tatapan Nesa


"Sayang,apa salah jika aku bahagia?" Tanya Nesa sambil menarik dagu Adam hingga menghadapnya


"Entahlah. Aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku" Jawabnya malas


"Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya bahagia mempunyai suami seperti kamu. Kamu saja yang berlebihan menafsirkannya" Nesa mencium bibir Adam sekilas


"Kamu tidak bohong?"


"Mana berani aku membohongimu" Nesa mencium bibir Adam sekali lagi


"Awas saja kalau sampai senyum kamu yang membuatku kesal itu bukan untuk aku" Ancam Adam sambil menarik hidung Nesa


"Kebiasaan. Sakit tau.." Nesa menyentuh hidungnya yang sudah merah


Sikap lembut Nesa selalu membuat Adam luluh seketika hingga kekesalannya pun lenyap begitu saja.


"Kamu harus membayar kekesalanku malam ini" Adam tersenyum jahil


Nesa ikut tersenyum seolah sudah mengerti dengan kemauan Adam.


Nesa juga sudah tidak sabar untuk memberitahu Adam tentang kehamilannya. Tapi Nesa harus menahannya sampai besok.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2