
Setelah papa dan mamanya pulang,Nesa membangunkan Sintia. Nesa menggoyang-goyangkan tubuh Sintia dengan pelan.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Sintia sambil mengusap matanya
"Iya"
"Ada apa kamu membangunkan ku?" Tanya Sintia lagi
"Ini sudah dini hari. Sebaiknya tante dan om pulang saja. Biar Nesa yang akan menjaga mas Adam disini" Jawab Nesa
"Baiklah. Besok kami akan kembali lagi" Ucap Sintia
Kemudian Sintia membangunkan Surya yang masih tertidur disana.
"Sebaiknya kamu juga istirahat. Jangan sampai kamu juga ikut sakit" Saran Surya perhatian
"Iya om"
"Kami pulang dulu. Jika terjadi apa-apa segera hubungi kami" Ujar Sintia berpamitan
"Baik"
Saat sudah tidak ada orang lagi disana. Nesa mendekat pada Adam yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Nesa menatap wajah Adam lekat,masih tak bisa dia percaya jika Adam akan mengalami kejadian seperti ini. Masih jelas dalam ingatannya peristiwa yang terjadi di cafe tadi. Dengan bersungguh-sungguh Adam memberikan bukti berupa surat perjanjian dengan menjaminkan seluruh harta kekayaannya untuk dirinya tapi dengan bodohnya Nesa menolak dan memberikannya syarat yang tak mungkin bisa Adam lakukan.
Apa yang sebenarnya membuat Adam kecelakaan? mungkinkah dia sangat kecewa dan sengaja mencelakai dirinya sendiri? Ah andai saja tadi dia tidak berkeras kepala,mungkin saja Adam masih selamat dan tidak harus mengalami kejadian tragis seperti ini. Sekarang semuanya sudah terlambat. Nesa menyesal,dia juga sangat takut jika saja terjadi hal-hal buruk pada Adam diluar dugaannya. Nesa tak kuasa membayangkan itu semua,Nesa berurai airmata.
"Aku ada disini. Aku janji setelah kamu sadar nanti,kita akan menikah. Aku tidak butuh surat perjanjian itu. Aku juga tidak akan memberikan mu syarat apapun. Aku mencintai mu. Bangunlah" Nesa berucap dengan penuh penyesalan sambil terisak di telinga Adam
"Bangun sayang. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hidupku akan seperti apa jika kamu tidak ada di samping ku. Aku minta maaf. Aku terlalu egois" Nesa mencium kening dan pipi Adam secara bergantian. Bulir airmatanya menetes di wajah Adam
Ditatapnya lagi wajah Adam. Tidak bereakasi apapun dan tubuhnya juga belum menunjukkan tanda-tanda dia akan sadar. Nesa menjatuhkan dirinya di kursi sambil terus memandangi wajah Adam. Hingga tanpa dia sadari,dia melewati waktu sampai pagi tanpa memejamkan matanya.
Sampai akhirnya Sintia datang lagi.
__ADS_1
"Apa semalaman kamu tidak tidur Nesa?" Tanya Sintia
Nesa menjawabnya dengan gelengan kepala. Tubuhnya juga melemah. Sintia yang melihatnya hanya menghela nafas dengan raut wajah prihatin.
"Pulanglah. Sebaiknya kamu mandi dan beristirahat. Wajah kamu pucat dan kantung mata mu sedikit menggelap" Ujar Sintia
"Tidak apa-apa tante" Balasnya dengan lirih sambil menatap Sintia dengan hampa
"Kamu sudah semalaman menjaga Adam. Sekarang gantian tante yang akan menjaganya. Lagi pula kamu itu sumber kekuatan Adam,kamu tidak boleh sakit karena jika Adam sudah sadar nanti,orang pertama yang akan dia cari itu pasti kamu" Ujar Sintia lagi dengan nada yang sedikit protes
"Baiklah aku pulang dulu tapi aku harus kembali karena aku juga harus bekerja"
"Tidak perlu. Selama Adam sakit,kamu tidak perlu bekerja" Ujar Sintia dengan santai
"Bagaimana bisa begitu. Aku harus bekerja. Aku tidak bisa seenaknya minta cuti" Balas Nesa dengan sedikit memaksa
"Kenapa tidak bisa? apa Adam tidak pernah mengatakan pada mu jika rumah sakit ini adalah milik kami" Tanya Sintia hingga membuat Nesa agak surprise
"Apa? mas Adam tidak pernah menyinggungnya" Nesa terkejut,karena selama ini dia memang tidak pernah mengetahui secara pasti siapa pemilik rumah sakit tempatnya bekerja
"Sudahlah,simpan dulu segala rasa penasaran mu. Sekarang pulang lah. Nanti aku yang akan menghubungi direktur rumah sakit terkait dengan cuti mu" Pinta Sintia akhirnya
"Baik" Balas Nesa pelan. Mau tidak mau Nesa harus memendam segala pertanyaannya tentang rumah sakit. Dia akan menanyakannya sendiri pada Adam saat Adam sudah sadar nanti. Apakah dirinya diterima bekerja di rumah sakit ini, ada hubungannya dengan statusnya sebagai pemilik rumah sakit.
Tepat pukul sembilan pagi,dokter Handoko bersama seorang suster datang ke ruangan Adam untuk memeriksa kondisinya.
"Selamat pagi Nyonya" Dokter Handoko menyapa Sintia dengan sopan
"Selamat pagi Dokter" Balas Sintia
"Saya akan memeriksa kondisi tuan Adam" Ujar dokter Handoko lagi
"Baik. Silahkan" Sintia memberikan ruang pada dokter Handoko untuk melakukan pemeriksaannya
__ADS_1
Dokter Handoko memulai pemeriksaannya dengan memberikan rangsangan pada mata Adam berupa cahaya. Setelah itu dokter Handoko juga memberikan ketukan dan tekanan pada bagian tubuh yang lainnya untuk merangsang respon. Lalu kemudian dokter Handoko memberikan cubitan pada tangan Adam yang bertujuan untuk merangsang nyeri. Dokter Handoko tersenyum tipis saat mulut Adam memberikan respon berupa erangan kecil.
"Bagaimana kondisi Adam dokter? kenapa barusan Adam seperti merasakan cubitan yang dokter lakukan?" Tanya Sintia penasaran
"Untuk pemeriksaan fisik,tidak ada masalah Nyonya. Saat dirangsang tadi,tuan Adam masih bisa merasakan nyeri di tubuhnya. Tidak ada ruam juga di kulitnya. Sering-seringlah mengajaknya mengobrol dan memberikannya semangat agar kesadarannya cepat kembali" Ujar dokter Handoko sambil memberikan saran pada Sintia
"Baik dokter"
Setelah itu dokter Handoko memasukkan nutrisi dan obat-obatan melalui selang infus.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya" Ucap dokter Handoko yang sudah selesai memeriksa kondisi Adam
"Terimakasih dokter" Ucap Sintia kemudian
Sementara Nesa di rumahnya tidak bisa tenang. Beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa. Pikiran buruk tentang kondisi Adam terus saja menghantuinya. Dia hanya terlelap sebentar,lalu setelah itu Nesa tidak bisa tidur lagi.
"Percuma saja pulang ke rumah,aku tetap saja tidak bisa beristirahat. Lebih baik aku kembali saja ke rumah sakit" Pikirnya
Setelah mandi dan mengisi perutnya dengan sedikit makanan,Nesa keluar dari kamar.
"Mau kembali lagi ke rumah sakit?" Tanya Widia yang melihat Nesa akan keluar dari rumah
"Iya ma" Jawab Nesa
"Bagaimana kondisi Adam?" Tanya Widia lagi
"Tidak ada perkembangan ma" Jawab Nesa dengan raut wajah sedih
"Mama juga terus mengkhawatirkan kondisi Adam. Karena dengan kondisinya yang seperti itu,membuat kamu juga ikut menderita. Kamu pasti sangat terpukul dengan komanya Adam" Ujar Widia prihatin
"Dia tidak koma ma. Dia hanya tidur panjang. Semoga saja dia segera bangun dari tidur panjangnya" Nesa berusaha menguatkan dirinya sendiri. Nesa harus yakin jika Adam akan segera sadar. Karena jika dirinya saja sudah berputus asa,bagaimana bisa dia menyalurkan kekuatan pada Adam untuk bisa sembuh
Bersambung....
__ADS_1
Sekarang giliran Nesa yang nyesel.