Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Nesa Kabur


__ADS_3

H-1 pernikahan Nesa semakin cemas. Dia gelisah tak karuan. Hari masih sangat pagi,bahkan matahari pun belum menampakkan dirinya tapi Nesa sudah terbangun karena gelisah memikirkan pernikahannya yang akan berlangsung besok. Nesa terlihat mondar mandir sambil mengepalkan kedua tangannya,lalu Nesa mencoba menangkan dirinya dengan duduk disofa kamarnya.


"*Jika aku menerima pernikahan itu sudah pasti hidupku akan seperti dineraka karena aku tidak mencintainya,aku akan menjalani hari-hariku dengan penderitaan. aku harus melayani dan mengabdi pada laki-laki itu. Lalu jika laki-laki itu menceraikanku aku akan jadi janda diumurku yang masih muda. Karena bagaimanapun dia pasti juga sangat terpaksa menerima perjodohan ini,besar kemungkinan setelah beberapa lama dia akan menceraikanku. Tapi jika aku menolak dan memilih pergi dari rumah ini hidupku akan terbebas. Mungkin papa memang akan murka tapi papa tidak mungkin sampai mencoretku dari daftar keluarga karena aku anak satu-satunya. Lagipula kesehatan papa tidak ada masalah,papa tidak akan terkena serangan jantung jika tau aku kabur. Mengenai hubungan papa dengan om surya,mungkin om Surya akan membenci papa tapi bukankah keluargaku masih bisa makan walaupun tanpa bantuan om Surya, iya jalan satu-satunya aku harus pergi dari rumah ini,keputusanku sudah bulat*" Nesa membatin


"Eh tunggu,tapi aku harus pergi kemana? aku tidak mungkin minta bantuan Dea,karena setelah papa tau aku tidak ada dirumah orang pertama yang akan papa tanyai pasti Dea karena dia satu-satunya teman terdekatku" Gumam Nesa


Lalu tiba-tiba saja Nesa teringat akan seseorang,dia mengambil ponselnya dan terlihat sedang melakukan paggilan telfon. Tak berapa lama orang yang berada diseberang sana mengangkat telfon Nesa.


"Hallo mas Firman"


Nesa menyapa dengan ragu


"Nesa. Apa kabar? sudah lama kamu tidak menelfon" Suara Firman terdengar serak,seperti baru bangun tidur


"Ahh iya mas maaf,aku sedang sibuk" Kilah Nesa


"Ada apa kamu menelfonku sepagi ini?" Tanya Fiman


"A-aku...." Nesa menggantung,dia bingung mau pergi ketempat Firman apa tidak


"Nesa... Ada apa denganmu? Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Firman curiga


"Ti-tidak mas,aku hanya merindukan mas Firman" jawab Nesa bohong

__ADS_1


Nesa mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin merepotkan Firman. Dia juga takut jika Firman belum bisa melupakannya. Jika Nesa kesana mungkin saja Firman akan berharap lagi dan Nesa tidak ingin Firman merasakan kecewa untuk yang kedua kalinya.


"Nesa,kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak sedang dalam masalah kan?" Firman mencecarnya dengan perasaan khawatir


"Ti-tidak mas" Jawab Nesa dengan terbata. Firman yang mendengarnya semakin menaruh rasa curiga. Firman yakin jika saat ini Nesa sedang dalam masalah yang besar


"Maaf mas,aku sudah mengganggu sepagi ini. Sebaiknya mas Firman kembali tidur. Aku akan menelfon lagi nanti" Tanpa menunggu tanggapan dari Firman,Nesa memutus panggilannya begitu saja


Waktunya tidak banyak. Nesa harus pergi sekarang juga karena semua orang yang ada di rumahnya mungkin masih tertidur. Agar tidak terlihat mencurigakan jika saja ada yang melihatnya nanti,Nesa tidak membawa apapun. Dia hanya membawa tas kecil yang biasa dia pakai yang di dalamnya hanya berisi dompet dan ponselnya.


Nesa keluar dari kamar mengendap-endap dengan langkah yang sangat pelan. Dia bahkan melepas sepatu heelsnya agar tidak menimbulkan suara.


Entah bagaimana caranya dia bisa lolos dari satpam yang sedang berjaga dipintu gerbang,dia akhirnya berhasil keluar dari rumahnya.


Nesa menaiki taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Nesa bingung tidak tahu harus pergi kemana. Sebenarnya Nesa anak yang mandiri karena dia sudah pernah hidup terpisah dengan papa dan mamanya saat dia menjadi dokter internship di luar kota tapi kondisi yang dia hadapi sekarang sangatlah berbeda. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi besok.


Nesa mengambil ponselnya lalu menon-aktifkan. Nesa tidak ingin keberadaanya bisa dilacak oleh Gunawan. Jika ponselnya masih tetap aktif sudah bisa dipastikan besok akan banyak yang menelfonnya.


Pagi sudah tiba. Jam menunjukkan pukul 08.00 wib. Gunawan maupun Widia memilih untuk tidak berkerja karena besok puterinya akan menikah. Mereka melakukan segala persiapan untuk acara besok karena sesuai kesepakatan,acara akad akan dilaksanakan di rumahnya besok.


Widia baru saja ingat jika dia belum mengantarkan gaun pengantin ke kamar Nesa. Gaun pengantin itu mama Adam sendiri yang memilihnya. Kemarin orang suruhan Surya yang mengantarnya ke rumah.


Widia mengetuk pintu kamar Nesa. Karena sudah beberapa kali tidak ada jawaban,Widia memutar gagang pintu dan langsung terbuka. Widia tampak heran karena pintu kamarnya tidak dikunci.

__ADS_1


Widia masuk. Mata widia menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan Nesa tapi dia tak menemukannya. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada sepucuk surat diatas nakas kamar Nesa. Ternyata sebelum meninggalkan rumah, Nesa terlebih dulu menulis surat yang ia tujukan pada papa dan mamanya.


Setelah membaca isi surat,tangan widia gemetar. Widia terlihat panik. Entah apa yang sudah Nesa tulis dalam suratnya. Buru-buru Widia turun kebawah dengan membawa surat ditangannya.


"Papa..." Widia berteriak histeris dengan langkah cepat menghampiri Gunawan


"Ada apa ma?" Gunawan beranjak dan terkejut


"Nesa pa..." Widia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya


Widia memberikan surat itu pada Gunawan,lalu Gunawan membacanya. Gunawan meradang,dia meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai.


Gunawan tidak menyangka Nesa berani meninggalkan rumah. Semua pelayan dan satpam tidak luput dari kemarahan Gunawan karena satu pun dari mereka tidak ada yang mengetahui perihal kaburnya Nesa.


"Bagimana ini pa?" Widia semakin cemas memikirkan nasib puterinya


"Papa akan suruh orang untuk melacak keberadaanya dan membawanya lagi kesini" Ucap Gunawan dengan suara berat


"Hentikan pa,jangan lakukan apapun. Mama tidak lagi memikirkan pernikahan itu. Yang mama pikirkan sekarang hanyalah kondisi Nesa. Dia pasti sangat tertekan sampai-sampai dia pergi dari rumah. Jika papa menyuruh orang untuk mencarinya,mama khawatir akan keselamatannya. Biarkan dia menenangkan diri dulu" Tegur Widia dengan agak membentak


"Apa mama sudah tidak waras? Bagaimana jika mas Surya tahu!" Sergah Gunawan


"Mama sendiri yang akan datang ke rumah mas Surya untuk memberitahunya langsung" Widia menatap Gunawan dengan tatapan tajam

__ADS_1


Gunawan terlihat pasrah. Yang dikatakan Widia tadi memang benar. Harusnya saat ini dia lebih mengkhawatirkan kondisi puterinya yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. Walaupun dalam hati, Gunawan sangat marah dan kecewa.


Bersambung...


__ADS_2