
Adam bangun lebih awal dari biasanya karena pagi ini ada meeting tahunan dengan para pemegang saham. Walaupun semalam pikirannya agak kalut dan susah untuk memejamkan matanya,tapi Adam harus tetap tampil prima di acara meeting nanti.
Adam melihat papa dan mamanya sudah duduk di meja makan. Sekretaris Bian yang terlihat sedang fokus dengan laptopnya juga sudah menunggunya di ruang tamu,menyiapkan beberapa keperluan meeting nanti.
Adam mengambil kursinya dan duduk disana untuk melakukan sarapan pagi terlebih dahulu. Pak Ngah dengan setianya melayani Adam,meletakkan sepotong roti yang sudah diolesi selai di piring.
"Sudah cukup" Ucap Adam dengan suara beratnya. Itu tandanya Pak Ngah boleh pergi
Mereka menghabiskan sarapannya tanpa bersuara,karena memang seperti itulah aturan dalam kelurga. Tidak boleh ada suara saat sedang di meja makan.
Setelah menghabiskan roti dan meneguk tehnya,Adam mengelap ujung bibirnya dengan tisu.
"Pa,acara Nesa tadi malam sangat memukau ya pa!" Sintia bersuara ketika dia juga sudah menghabiskan sarapannya
Adam tertegun. Dia agak terkejut karena ternyata papa dan mamanya juga menonton acara Nesa tadi malam. Sepertinya Sintia memang sengaja menanyakan hal itu pada Surya di depannya. Adam menampilkan raut wajah netral,berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pembicaraan Sintia.
"Apa kamu juga menontonnya Adam?" Tanya Sintia sambil menoleh pada Adam
"Hm.." Adam menjawab acuh
"Jadi kamu juga nonton?" Sintia memastikan
"Memangnya kenapa?" Adam bertanya balik
"Mama dan papa sangat kagum" Sintia memuji
"Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?" Tanyanya kemudian
"Tidak" Bohong Adam
"Kamu bohong Adam. Mulutmu bisa saja berkata tidak tapi wajahmu menampilkan sebaliknya. Pasti semalam kamu tidak bisa tidur memikirkan Nesa!" Sintia menggoda Adam sambil tertawa kecil
"Mama tidak usah ngawur. Aku harus pergi karena Bian sudah menunggu" Adam menyangkal dan terlihat ingin menghindar dari perbincangannya dengan Sintia
Saat Adam menarik kursinya dan hendak beranjak,suara Surya menahannya.
"Jika kamu masih mencintainya,temui dia"
Adam duduk kembali dan menatap Surya.
"Papa tidak usah khawatir,aku baik-baik saja dan aku juga sudah tidak mencintainya lagi" Bantah Adam tegas
"Baiklah,mungkin saat ini kamu masih berkeras kepala tapi lihat saja nanti" Surya mengalah dengan memberi sedikit peringatan
"Apa maksud papa?" Tanya Adam
__ADS_1
"Jika suatu saat nanti Nesa menggandeng pria lain,barulah kamu akan menyesal dan menyadari kebodohanmu. Perempuan seperti dia banyak yang mau" Surya kembali mengingatkan
"Papa jangan mengacaukan pikiranku" Ucap Adam kesal
"Katanya sudah tidak cinta,harusnya kamu tidak terpancing dengan ucapan papa" Surya menyindir Adam sambil tersenyum
"Sudahlah,aku sudah terlambat ke kantor" Ucap Adam ketus sambil menarik kursinya meninggalkan meja makan
Sepanjang perjalanan,Adam terus saja memikirkan ucapan Surya. Adam tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi,menyaksikan Nesa bersama dengan pria lain. Perasaan cemas mulai menyeruak dalam dadanya.
Adam mendengus kesal. Ucapan Surya tadi benar-benar merusak suasana hatinya. Wajah gelisah Adam terlihat oleh Seretaris Bian melalui kaca mobil di depannya.
"Anda baik-baik saja Tuan?" Tanya Sekretaris Bian
"Apa menurutmu aku terlihat baik-baik saja?" Adam balik bertanya dengan intonasi tinggi
"Saya melihat anda sedang kesal" Jawab Sekretaris Bian
"Ini semua gara-gara kamu Bian! Andai saja semalam kamu tidak menyuruhku menonton acara sialan itu,pasti hari ini aku akan baik-baik saja" Adam menegur Sekretaris Bian dengan marah
"Maafkan saya Tuan,tapi saya tidak menyuruh anda untuk menonton. Saya hanya memberitahu saja" Sekretaris Bian membela diri
"Diamlah,aku tidak ingin berdebat denganmu" Pinta Adam tegas
Mobil sampai dihalaman gedung mewah Nusantara Group. Adam berusaha mengendalikan emosinya karena sebentar lagi meeting akan dimulai. Tidak mungkin Adam menghadiri meeting penting itu dengan wajah kesalnya.
Adam memasuki ruangan meeting. Orang-orang penting dalam jajaran Nusantara Group sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Kemudian pandangan Adam bersirobok dengan seorang gadis yang dikenalnya. Gadis itu tampak rapi dengan pakaian kantor,jauh dari kesehariannya.
"Sabrina"
Memiliki total saham sebesar 10% tentu Tuan Anton harus hadir dalam meeting tersebut tapi sepertinya Tuan Anton berhalangan sehingga diwakilkan oleh puterinya Sabrina.
Mata Sabrina berbinar melihat laki-laki pujaannya lagi. Dia akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk menarik perhatian Adam dan menebus kesalahannya waktu itu.
Meeting dimulai. Para direksi menyampaikan beberapa laporan tahunan seperti laporan keuangan,berbagai masalah yang timbul serta gaji dan tunjangan. Setelah itu para pemegang saham memberikan hak suaranya termasuk Sabrina.
Sabrina menyampaikan hak suaranya,memberikan komentar dan masukan-masukannya terhadap kelangsungan perusahaan. Adam mengamati apa yang disampaikan Sabrina dengan serius. Adam terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sependapat dengan apa yang dilontarkan oleh Sabrina.
Adam juga tersenyum seolah dia sudah melupakan sikap kekurang ajaran Sabrina waktu itu. Hari ini Sabrina bersikap profesional dan tampil sebagai wanita berpendidikan.
Ketika meeting sudah selesai,Sabrina mencoba mendekati Adam lagi.
"Tuan Adam" Panggil Sabrina dengan sapaan formal
Adam menoleh.
__ADS_1
"Saya ingin minta maaf atas sikap saya waktu itu" Ucap Sabrina
"Tidak perlu dibahasnya lagi,aku sudah melupakannya" Balas Adam
"Apa Tuan Anton sedang tidak sehat,sehingga kamu yang menggantikannya?" Tanya Adam
"Tidak,papa baik-baik saja. Papa tidak bisa hadir karena sedang berada di luar kota" Jawab Sabrina
Saat Adam hendak melangkah pergi,Sabrina berbicara lagi.
"Apa anda ada waktu?" Tanya Sabrina sambil memiringkan kepalanya melihat ke arah Adam yang sudah membelakanginya
"Kenapa?" Tanya Adam
"Saya ingin mengajak anda makan siang" Ujar Sabrina berharap
Adam terlihat berpikir sebentar sebelum menjawabnya.
"Baiklah,lagipula ini sudah waktunya makan siang" Adam menerima ajakan Sabrina
"Terimakasih" Sabrina tersenyum puas
"Kita makan siang di restoran kantor saja,aku tidak punya banyak waktu" Pinta Adam
"Baiklah,terserah anda saja" Sabrina mengangguk setuju
Entah karena sudah mulai nyaman dengan Sabrina atau hanya sekedar ingin mengusir kegundahannya karena memikirkan ucapan Surya tadi,Adam menerima ajakan tersebut.
Akhirnya mereka makan siang dilantai dasar gedung Nusantara Group. Suasana menjadi hening,Sabrina tidak berani banyak bicara. Sabrina hanya mencuri-curi pandang saja pada Adam.
Saat Adam fokus menyantap makanannya,Sabrina memandangnya tapi saat Adam melihat ke arahnya sabrina malah menunduk. Sabrina tidak ingin kebersamaannya dengan Adam kembali buruk karena tindakan bodohnya.
"Aku harus kembali ke ruang kerjaku karena masih ada pekerjaan" Ujar Adam yang sudah menyelesaikan makan siangnya
"Silahkan Tuan Adam,saya juga harus pulang" Balas Sabrina mengiyakan
"Terimakasih banyak atas waktunya" Ucap Sabrina pada Adam yang hendak beranjak dari duduknya
Adam menoleh dan mengangguk pelan sambil tersenyum.
Hari ini sabrina harus berpuas diri dengan hanya makan siang bersama Adam. Karena sepertinya untuk mendekati Adam harus dengan pendekatan emosi bukan pendekatan fisik. Sabrina berharap akan ada kesempatan lagi nanti agar dirinya bisa semakin dekat dengan Adam.
"Perlahan tapi pasti" Batin Sabrina
Bersambung....
__ADS_1