
Beberapa hari belakangan Adam memikirkan cara untuk membuktikan kesungguhannya pada Nesa,karena segala upaya yang sudah dilakukannya belum juga membuahkan hasil. Nesa masih tetap bersikap sama. Tidak memberikan keputusan tentang ajakannya untuk menikah.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang dan memikirkannya dengan matang,Adam mengambil sebuah keputusan yang tidak main-main. Keputusan yang akan di ambilnya akan sangat berimbas pada nasibnya sendiri di kemudian hari.
Siang itu di ruang kerjanya,di lantai paling atas gedung Nusantara Group.
"Apa kamu sudah menghubungi pengacara ku?" Tanya Adam pada Sekretaris Bian
"Sudah tuan. Mungkin sebentar lagi beliau akan datang" Jawab Sekretaris Bian
"Bagus. Lebih cepat lebih baik" Balas Adam dengan penuh keyakinan
"Maaf tuan. Apa anda sudah yakin dengan keputusan anda?" Tanya Sekretaris Bian sambil menatap Adam dengan tatapan tak percaya
"Apa aku pernah main-main Bian?" Adam membalas tatapan Sekretaris Bian dengan tajam
"Tidak tuan tapi apa anda sudah mendiskusikannya dengan Tuan Surya?" Tanyanya lagi
"Tidak perlu. Aku sangat mencintainya Bian. Papa pasti akan mendukung keputusan ku" Jawab Adam tegas
"Baik tuan. Kita tunggu saja Tuan Robert untuk meminta surat yang akan anda tanda tangani bersama nona Nesa nanti"
Tuan Robert datang satu jam kemudian.
"Sudah saya siapkan surat perjanjian pra nikah yang anda minta tuan. Tinggal anda tanda tangani bersama pihak kedua. Silahkan anda baca dulu" Robert menyerahkan beberapa lembar kertas pada Adam
Adam menerima dan membacanya dengan teliti. Karena isi surat sudah benar sesuai dengan keinginannya,tanpa ragu Adam mengambil bolpoint dan menandatanganinya di atas materai yang sudah tertempel disana.
"Anda tinggal meminta pihak kedua untuk menandatanganinya juga dan setelah itu surat ini resmi di mata hukum" Ujar Robert lagi
"Ya baik"
"Apa ada yang anda butuhkan lagi tuan?" Tanya Robert sebelum pergi
"Tidak. Terimakasih" Singkat Adam
"Sama-sama tuan. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" Robert beranjak dari tempat duduknya sambil membungkuk hormat pada Adam
"Ya silahkan" Adam masih diam di tempat duduknya
"Dia pasti gadis yang sangat beruntung" Ujar Robert di akhir perbincangan nya
__ADS_1
Adam hanya menatap Robert sambil tersenyum. Setelah itu Robert melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Tunggu Robert. Saya melupakan sesuatu" Adam pergi ke meja kerjanya dan mengambil sesuatu
"Ambillah" Adam menyerahkan sebuah cek pada Robert
"Apa ini tuan?" Tanya Robert sambil terperangah melihat nominal yang tertulis di dalam cek tersebut
"Imbalan atas dedikasi mu selama ini" Jawab Adam tanpa basa basi
"Terimakasih banyak tuan. Semoga anda selalu diberikan kebahagiaan" Ujar Robert dengan senyum yang mengembang
...----------------...
Malam harinya Adam langsung berniat untuk menemui Nesa. Adam tidak ingin membuang-buang waktunya tanpa kepastian. Lalu Adam mengirim sebuah pesan pada Nesa.
'Temui aku di cafe Delia. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan'
Adam yang sudah mandi,langsung mengganti pakaiannya. Sesaat setelahnya Adam langsung pergi ke cafe yang sudah dia tentukan dengan membawa surat perjanjian yang tadi sudah dia tanda tangani.
Adam memesan ruang private untuk membicarakan tujuannya dan menunggu Nesa disana. 15 menit kemudian Nesa datang. Nesa mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Adam.
"Ada apa?" Tanya Nesa sambil menatap wajah Adam dengan serius
"Surat perjanjian?" Nesa mengulangi
"Bacalah. Nanti kamu akan mengerti" Pinta Adam
Nesa membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Nesa membaca isi surat dengan mata melebar. Semakin lama membaca,mimik wajahnya semakin sulit di jelaskan. Nesa menggeleng-gelangkan kepalanya seakan tidak percaya. Tak sampai habis Nesa membaca isi surat itu,segala macam pertanyaan sudah mengantri di kepalanya.
"Kamu jangan main-main. Surat ini sungguh tidak masuk akal" Ujar Nesa
"Aku tidak pernah main-main. Disitu tertulis jelas jika nanti kita sudah menikah,lalu aku menceraikan mu dengan alasan apapun,maka seluruh harta ku akan menjadi milik mu. Aku tidak mempunyai apa-apa lagi dan aku akan jatuh miskin" Adam menjelaskan isi suratnya
"Lalu bagaimana jika dalam pernikahan kita,aku tidak bisa memberikan mu anak? apa kamu akan tetap bersama ku?"
"Iya" Singkat Adam
"Oke. Selanjutnya,jika aku sakit keras dan aku tidak bisa memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri apa kamu juga masih ingin mempertahankan ku?"
"Iya" Adam kembali menjawab pendek tapi dengan penuh keyakinan
__ADS_1
"Yang terakhir,seandainya dalam pernikahan kita nanti aku berselingkuh. Apa kamu masih ingin menjadikan ku sebagai istri mu?" Tanya Nesa dengan sedikit ragu
"Sepertinya kamu belum membaca isi suratnya sampai akhir. Disitu tertulis,jika kamu mengkhianati aku dengan laki-laki lain,maka surat perjanjian ini tidak berlaku"
"Intinya. Aku akan mempertahankan pernikahan kita apa pun keadaan mu nanti tapi satu hal yang tidak bisa aku toleransi yaitu penghianatan" Ujar Adam lagi dengan bersungguh-sungguh
"Tapi aku menolak dan aku tidak mau menandatangani surat ini" Nesa meletakkan suratnya di meja
"Kenapa? bukankah kamu ingin sebuah bukti. dan inilah bukti yang aku berikan untuk kamu" Tanya Adam dengan wajah yang kecewa
"Tapi kenapa harus dengan bukti surat perjanjian seperti ini?" Nesa balik bertanya
"Tentu saja agar kamu percaya. Dengan dibuatnya surat ini,apa kamu masih meragukan kesungguhan ku?" Adam beralih tempat duduk di samping Nesa
"Apa kamu yakin? apa kamu sudah memikirkan ini matang-matang?" Tanya Nesa memastikan
"Aku sangat yakin"
"Aku akan menandatangani surat ini dan kita akan segera melaksanakan pernikahan kita tapi dengan satu syarat"
"Apa syaratnya?" Tanya Adam dengan cepat
"Aku mau kamu meminta maaf pada mas Firman" Ujar Nesa sambil memejamkan matanya
"Jangan mengada-ada?" Adam terkesiap sampai-sampai dia berdiri dari tempat duduknya
"Ganti syarat mu dengan yang lain. Mustahil aku melakukan syarat yang kamu minta barusan" Adam kembali duduk dengan sedikit merendahkan intonasi suaranya
"Tidak ada syarat yang lain. Aku hanya itu saja" Nesa tetap pada pendiriannya
"Kamu selalu saja melibatkan dia dalam masalah kita. Ini urusan kita berdua Nesa,tidak ada hubungannya dengan dia" Ujar Adam menanggapi dengan wajah yang mengeras
"Aku mengerti tapi kita tidak mungkin berbahagia di atas penderitaan orang lain. Setelah menikah nanti aku akan menjadi milik mu seutuhnya dan mungkin saja kamu akan melarang ku untuk berteman dengannya. Sekarang begini,apa kamu bisa hidup tenang bersama ku sedangkan kamu masih mempunyai kesalahan pada orang lain dan belum meminta maaf" Nesa mencoba memberi pengertian pada Adam
"Aku tidak pernah merasa mempunyai kesalahan dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah meminta maaf" Bantah Adam
"Sekarang kamu pikirkan dulu baik-baik. Setelah pikiran mu tenang,segera tanda tangani surat ini" Tambah Adam
"Tapi mas?"
"Aku pergi dulu. Aku tunggu keputusan kamu. Aku sangat mencintai mu. Jika kamu juga mencintai ku,kamu pasti akan menandatangani surat itu tanpa merasa berat pada siapa pun" Wajah Adam jelas mengisyaratkan jika saat ini dia sedang kecewa
__ADS_1
Bersambung....