
Waktu terus berlalu. Sudah dua bulan Nesa menjalani hari-harinya tanpa Adam. Hari-hari Nesa disibukkan dengan pekerjannya di rumah sakit. Jika mempunyai waktu libur Nesa mengisinya dengan berkunjung ke panti asuhan walaupun hanya sekedar menghibur anak-anak disana.
Nesa tetap menjadi donatur di panti-panti itu, walaupun jumlahnya tidak sebesar waktu dia menggunakan uang Adam. Perbuatan mulianya itu didukung penuh oleh Firman. Tak jarang juga Firman ikut menemaninya ke panti.
Perlahan Nesa bisa bangkit dan melupakan semua kekecewaannya pada Adam walaupun tak bisa dia pungkiri, jauh dari dalam lubuk hatinya masih tersimpan perasaan cinta yang hanya berusaha dia kubur selama ini.
Sedangkan Adam kembali menjadi sosok yang dingin. Adam menjalani hari-harinya tanpa gairah. Dia terlihat sangat sibuk dari sebelumnya. Entah itu memang karena perkerjaannya yang semakin banyak atau dia hanya sengaja membuat hari-harinya sesibuk mungkin agar dia tidak teringat pada sosok Nesa.
Adam melewatkan makan malam di rumah. Sepertinya banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan di kantor tadi.
Pak Ngah sudah setia menyambutnya di depan pintu,mengambil jas dan sepatunya,lalu pergi ke dapur membuatkan teh hijau Adam seperti biasanya.
Sekretaris Bian berdiri mematung diruang tamu. Seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Adam tapi berusaha dia tahan.
"Ada apa Bian? Apa kamu akan berdiri disitu sampai besok?" Tanya Adam yang melihat Sekretaris Bian tampak gelisah
Sekretaris Bian terlihat bingung sambil menundukkan pandangannya.
"Apa yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Adam lagi
"Malam ini nona Nesa menjadi tamu acara talk show di salah satu stasiun tv,Tuan" Sekretaris Bian menjawab dengan ragu
Wajah Adam seketika berubah mendengar Sekretaris Bian menyebut nama Nesa.
"Mungkin saja anda ingin mengikuti acaranya,begitu maksud saya Tuan" Ujar Sekretaris Bian lagi berusaha untuk tidak membuat Adam marah
"Pulanglah,sepertinya aku tidak tertarik dengan tawaranmu" Balas Adam ketus
"Baik Tuan. Tapi jika anda berubah pikiran, acaranya akan tayang pukul delapan di channel X. Itu berarti 10 menit dari sekarang" Sekretris Bian kembali mengingatkan sambil melihat jam ditangannya
"Saya permisi dulu" Sekretaris Bian pun berlalu
Adam masuk ke dalam kamar dan duduk didepan televisi besar yang ada di kamarnya. Adam ragu untuk menontonnya tapi entah kenapa rasa penasaran mendorongnya untuk menyalakan televisi itu. Adam menekan tombol diremot mencari channel yang tadi dimaksud oleh Sekretaris Bian.
__ADS_1
Sembari menunggu acaranya tayang,Adam memilih kekamar mandi untuk menyegarkan dirinya terlebih dahulu.
Acara dimulai sesaat setelah Adam menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Dengan masih menggunakan jubah handuk,Adam duduk ditepian tempat tidur sambil melotot ke arah tv.
Dilihatnya disitu pembawa acara sedang memberikan sambutan basa basi. Laki-laki yang berusia sekitar awal empat puluh tahunan tersebut tampil rapi dengan sedikit berewok didagunya. Pembawa acara itu menyebut namanya adalah Daniel
'Dikesempatan kali ini kita akan membahas sebuah tema tentang tokoh yang menginspirasi. Dan saya juga sudah mengundang tamu yang akan menginspirasi kita semua terutama anak-anak muda' Tuan daniel membawakan acaranya dengan santai
'Baiklah saya akan memanggil bintang tamu saya. Dia adalah seorang dokter muda yang sangat cantik dan berhati baik. Kita langsung saja sambut,dokter Nesa' Tuan daniel memanggil Nesa untuk naik ke podium
Adam semakin tak berkedip melihat Nesa disana. Nesa tampak cantik mengenakan celana jeans putih dipadukan dengan baju atasan berwarna pink. Tak lupa juga dia memakai jas putih berlengan pendek kebaggaannya,sebagaimana ciri khas seorang dokter.
Nesa terlihat menjabat tangan tuan Daniel sebelum akhirnya dia duduk di kursi yang sudah disediakan disana.
"Selamat malam dokter Nesa" Tuan Daniel menyapa
"Selamat malam Tuan Daniel" Nesa membalasnya sambil tersenyum
"Nesa Mazaya Hilmi,apa benar begitu nama lengkap anda?" Tanya Daniel sambil melihat kesebuah benda yang ada ditangannya,seperti sebuah buku kecil
"Anda cantik sekali dokter. Sepertinya pasien-pasien anda akan langsung sembuh dengan hanya melihat anda saja" Daniel melempar sebuah candaan sambil menatap Nesa dengan takjub
"Terimakasih Tuan Daniel. Anda juga sangat tampan" Nesa membalas pujian Daniel sambil tertawa kecil
"Sepertinya anda juga pintar berbohong dokter" Seloroh daniel membuat Nesa tergelak
"Kalau boleh tahu usia anda berapa saat ini?" Daniel melanjutkan tanya jawabnya
"21 tahun"
"Anda pernah dinobatkan sebagai lulusan dokter termuda dan terbaik kala itu. Bisa anda ceritakan bagaimana anda bisa meraih itu semua diusia anda yang masih sangat muda? Tanyanya lagi dengan sangat antusias
"Iya betul,waktu itu usia saya belum genap 18 tahun. Saya mendapatkan gelar sarjana kedokteran saya dengan menempuh waktu 3,5 tahun saja. Setelah itu saya juga harus mengikuti fase coas selama 2 tahun dan barulah saya diambil sumpah menjadi seorang dokter" Nesa menjawab dengan gaya anggunnya
__ADS_1
"Saya juga sangat penasaran,anda bisa masuk kuliah diumur anda yang masih 14 tahun? karena pada normalnya anak diusia itu masih duduk dibangku SMP?" Daniel bertanya lagi dengan serius
"Sejak kecil saya memang lebih banyak manghabiskan waktu saya dengan membaca,Nesa kecil tidak suka bermain. Saya masuk ke sekolah dasar disaat usia saya 5 tahun. Di bangku SMP dan SMA saya selalu duduk dikelas akselerasi. Tamat SMA waktu itu diusia 14 tahun dan saya langsung lanjut kuliah di fakultas kedokteran" Nesa menceritakan riwayat pendidikannya
Tuan Daniel tampak tertegun sesaat,lalu bertepuk tangan diikuti oleh semua penonton disana.
"Apa anda tidak merasa kesulitan waktu itu,mengingat usia anda masih sangat muda tapi sudah harus mengenyam materi perkuliahan?" Daniel bertanya lagi
"Kalau untuk materi pelajarannya saya tidak merasa kesulitan. Yang membuat saya agak tidak percaya diri waktu itu karena banyak teman seangkatan yang meragukan kemampuan saya. Mungkin karena umur saya yang jauh dibawah mereka"
"Mengapa anda tertarik untuk menjadi seorang dokter? Siapa yang menjadi motivasi anda ?" Daniel tampak penasaran
"Mama saya" Nesa menjawab yakin
"Mama anda? Apa mama anda sedang nonton disini?" Daniel melihat ke arah penonton
"Tidak Tuan Daniel. Mama tidak bisa hadir karena saat ini mama saya masih ada di rumah sakit"
Daniel tampak ingin bertanya lagi tapi Nesa buru-buru menjawabnya seolah dia bisa membaca isi pikirannya.
"Mama saya juga seorang dokter,Tuan Daniel"
"Mama anda seorang dokter? Wah hebat sekali. Apa papa anda juga seorang dokter?" Pertanyaan Daniel terdengar seperti sebuah candaan tapi wajahnya terlihat serius
"Tidak Tuan Daniel,papa saya seorang pengusaha"
Daniel kembali tertegun.
"Lalu bentuk motivasi seperti apa yang mama anda berikan pada anda,sehingga anda juga mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter?"
"Mama pernah berkata jika suatu saat kamu ingin bekerja,maka tujuan utamanya haruslah menolong sesama karena jika tujuanmu hanyalah uang,maka kamu tidak akan pernah merasa puas dan bahagia dengan pekerjaanmu. uang hanyalah kesenangan sesaat tapi bermanfaat bagi sesama,itulah kebahagiaan yang sesungguhnya" Nesa mengingat pesan mamanya dengan perasaan haru
Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa like komennya 😊