Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Tiga bulan berlalu. Pernikahan Adam dan Nesa berjalan dengan harmonis walaupun keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tapi malam ini sepertinya akan menjadi malam terberat bagi mereka karena cinta mereka akan kembali di uji dengan kejadian yang tak pernah mereka duga.


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Nesa tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena dia merasakan sakit pada bagian perutnya. Nesa meringis kesakitan dan berusaha bangkit dari tidurnya berganti posisi duduk. Nesa sangat terkejut saat melihat cairan keruh keluar dari bagian intimnya dan mengalir di pahanya. Tanpa membangunkan Adam yang sedang terlelap,Nesa berusaha bangkit untuk membersihkan cairan itu ke kamar mandi dengan tertatih-tatih. Belum sampai ke kamar mandi,cairan itu terus saja mengalir tanpa henti hingga berceceran di lantai.


Setelah sampai di kamar mandi,sakit di perutnya semakin menjadi. Nesa menyandarkan punggungnya di dinding sambil berusaha menahan sakitnya. Tapi sesaat kemudian rasa sakit di perutnya semakin parah dan tidak bisa lagi dia tahan. Bersamaan dengan itu juga keluarlah gumpalan seperti daging disertai dengan darah yang berwarna merah gelap.


"Astaga..apa ini? kok seperti janin. Apa aku keguguran?" Nesa masih sempat melihat apa yang keluar dari intimnya itu


Nesa berteriak memanggil Adam sambil merintih kesakitan. Sontak saja Adam terkejut dan langsung terbangun. Adam melihat ke sebelahnya tapi Nesa tidak ada disana. Nesa memanggilnya sekali lagi. Adam pun segera menuju ke kamar mandi tempat sumber suara Nesa. Adam agak cemas saat kakinya tidak sengaja menginjak cairan yang keluar dari tubuh Nesa tadi di lantai.


"Sayang...?" Adam mempercepat langkahnya dan mendapatkan Nesa sudah duduk lemas di lantai kamar mandi


Wajah Adam semakin panik melihat banyak darah di lantai.


"Sayang kamu kenapa? Kenapa banyak darah disini? Kamu membuatku sangat takut?" Adam merangkul tubuh Nesa yang sudah lemas


"Aku..." Tiba-tiba Nesa tidak sadarkan diri sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya


"Sayang...Sayang..." Adam menepuk pipi Nesa pelan dengan wajah yang sangat panik dan ketakutan


Adam membopong tubuh Nesa keluar dari kamarnya sambil berteriak-teriak memanggil papa dan mamanya. Surya dan Sintia keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk. Tapi kantuk mereka seketika hilang saat melihat Adam membopong tubuh Nesa yang berdarah-darah.


"Nesa kenapa?" Tanya Sintia panik


"Aku juga tidak tahu" Jawab Adam dengan wajah yang hampir menangis


"Papa panggilkan ambulance" Surya yang juga tak kalah terkejutnya hendak ke kamar untuk menelfon ambulance


"Tidak usah pa. Aku akan langsung membawa Nesa ke rumah sakit" Adam turun ke bawah menuju garasi dan membaringkan tubuh Nesa di kursi belakang mobil


Dengan cepat Adam mengemudikan mobilnya ke rumah sakit. Untung saja jarak rumah ke rumah sakit tidak begitu jauh. Sesampainya disana,Nesa langsung mendapatkan penanganan.

__ADS_1


Karena sudah dini hari,semua dokter spesialis tidak ada di rumah sakit. Untung saja masih ada dokter umum yang sedang berjaga malam. Dokter yang juga masih muda itu memeriksa kondisi Nesa. Sedangkan Adam menunggunya di luar.


Setelah beberapa saat dokter itu keluar bersamaan dengan datangnya Surya dan Sintia yang menyusul.


"Dokter Nesa masih tidak sadarkan diri Tuan,tapi sudah saya suntikkan obat agar pendarahannya berhenti" Ucap dokter itu sambil sedikit menunduk


"Apa yang terjadi? Kenapa dia mengalami pendarahan?" Tanya Adam dengan nada yang memburu


"Apa dokter Nesa sedang hamil?" Dokter itu bertanya balik karena ingin memastikan dugaannya


"Hamil?" Adam mengulangi


"Iya. Karena sepertinya dokter Nesa mengalami keguguran" Jawabnya


Adam kembali terkejut dengan pernyataan dokter itu. Adam tidak tahu menauh soal kehamilan Nesa karena selama ini Nesa tidak mengatakan apa-apa. Apa mungkin dia sengaja menyembunyikan kehamilannya? Lalu apa yang membuatnya mengalami keguguran? Beberapa pertanyaan negatif mulai merasuki otak Adam.


"Terimakasih banyak dokter" Ucap Sintia akhirnya


"Baik" Kata Sintia


"Kenapa Nesa tidak pernah mengatakan jika dirinya hamil?" Tanya Sintia pada Adam sedang termangu


"Aku sendiri tidak tahu ma. Untuk apa dia menyembunyikan kehamilannya?" Jawab Adam dengan wajah yang kecewa


"Kamu jangan berpikir buruk dulu. Kita tunggu Nesa sadar" Ujar Sintia menenangkan Adam


"Cepat hubungi direktur rumah sakit Adam. Suruh dokter bagian obgyn datang kesini. Kita tidak bisa menunggunya sampai pagi" Perintah Surya akhirnya


"Ya papa benar" Sintia menimpali


Adam pun menurut dan menghubungi direktur rumah sakit untuk meminta dokter spesialis kandungan agar segera datang dan memeriksa Nesa.

__ADS_1


"Mama dan papa tunggu disini sampai dokter datang. Aku akan pulang sebentar dan akan segera kembali" Ucap Adam terburu-buru tanpa sempat Sintia bertanya apa alasannya pulang


Sesampainya di rumah,Adam langsung menuju kamar mandi. Karena tadi panik,Adam jadi tidak sempat melihat dengan jelas apa yang keluar dari tubuh Nesa selain darah. Mata Adam melebar saat melihat sesuatu disana. Seperti daging berwarna merah tapi mempunyai bentuk menyerupai bayi. Ukurannya masih sangat kecil. Hanya seukuran jempol tangan Adam tapi sudah mempunyai bentuk yang lengkap. Ya itu jelas janin yang sudah tak bernyawa.


Adam terduduk di lantai sambil meneteskan airmata. Tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Dia sangat kecewa dengan apa yang dilihatnya.


"Calon anakku" Bibir Adam bergetar


Adam mengambil ponselnya dan membidik gambar janin itu dengan kamera ponselnya. Lalu dia mengambil kemeja putih di lemarinya dan mengguntingnya kecil. Dengan tangan yang agak gemetar,Adam mengambil janin itu dan membungkusnya dengan kain yang tadi dia gunting.


Tanpa berpikir panjang,Adam membawa janin itu ke taman belakang rumahnya. Menggali lubang kecil disana dan menguburkannya. Adam masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tidak mungkin istri yang sangat dicintainya itu tega membunuh bayinya sendiri. Tidak mungkin juga Nesa tidak menyadari jika dirinya sedang hamil,apalagi dia sendiri adalah seorang dokter. Segala pikiran buruk berusaha Adam tepis. Adam sangat membutuhkan penjelasan langsung dari mulut Nesa.


Matahari sudah terbit tapi Adam masih tak beranjak dari sana. Menatap kuburan janin tak berdosa itu. Pak Ngah yang melihatnya sedikit menautkan kedua alisnya.


"Apa yang Tuan Adam lakukan disini dan apa yang Tuan kubur?" Tanya pak Ngah heran melihat gundukan tanah disana


"Ini makam anakku. Aku baru saja menguburnya" Jawabnya tanpa menoleh pada pak Ngah


"Apa maksud Tuan muda? Saya tidak mengerti?" Tanya pak Ngah lagi dengan wajah yang sangat terkejut


Pak Ngah dan pelayan yang lain tidak ada yang tahu dengan kejadian itu karena kamar mereka ada di belakang jadi mereka sama sekali tidak mendengar.


"Nesa keguguran dan sekarang dia ada di rumah sakit" Jawab Adam menjelaskan


"Maaf Tuan saya tidak tahu" Balas pak Ngah dengan raut wajah masih tak percaya


"Bersihkan kamarku. Aku akan kembali lagi ke rumah sakit" Pinta Adam kemudian sambil berlalu meninggalkan pak Ngah


"Baik Tuan"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2