Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Apakah Ini Mimpi?


__ADS_3

Seminggu sudah Adam terbaring koma. Tak terlewat sehari pun Nesa menemani Adam di rumah sakit. Doa-doa selalu terselip dalam asa,jiwa dan raga juga selalu tercurahkan untuknya. Hingga akhirnya kata lelah mulai dirasakannya.


Hari ini Nesa mulai putus asa. Walau pun dia tahu orang yang mengalami koma ada yang sampai berbulan-bulan tapi dia tidak sanggup menunggu Adam sadar lebih lama lagi. Hatinya hancur setiap kali menatap tubuh Adam yang lemah tak berdaya. Pikiran buruk juga selalu merasuki kepalanya.


Nesa melangkahkan kakinya tanpa semangat. Entah kenapa hari ini Nesa seolah berat untuk masuk ke ruangan itu,ruangan yang belakangan ini menjadi rumah ke dua baginya. Air matanya lagi-lagi menetes tanpa bisa dia cegah saat menatap tubuh Adam. Hatinya terasa kosong,tak ada sosok yang bisa menghiburnya dikala sepi. Lebih baik Adam membencinya seperti waktu itu daripada dia harus melihat Adam tak bisa berbuat apa-apa.


"Apa kamu segitu marahnya pada ku,sampai-sampai kamu tidak mau bangun. Kamu sudah berhasil membuat ku seperti orang gila. Bangunlah,aku membutuhkan mu" Nesa mengguncang tubuh Adam dengan pelan sambil terisak di telinga Adam


"Kenapa mencintai mu rasanya harus sesakit ini. Aku baru sadar,jika aku sangat menderita tanpa kamu" Nesa membenamkan wajahnya di dada Adam,air matanya semakin mengalir deras.


Lalu Nesa mencium sudut bibir Adam. Karena banyaknya selang yang terpasang di mulutnya hingga Nesa tak bisa mencium tepat bibirnya. Bibir Nesa menempel cukup lama disana. Saat Nesa menarik bibirnya dari wajah Adam,Nesa begitu terkejut melihat setetes cairan bening jatuh dari sudut mata Adam. Dengan cepat Nesa menelfon dokter Handoko dan mengatakan apa yang baru saja dia lihat.


Tak berapa lama dokter Handoko datang. Dia kemudian memeriksa fisik Adam keseluruhan.


"Jika tuan Adam menangis,itu tandanya fungsi otaknya masih berjalan dengan normal dokter Nesa"


"Bukan tanda-tanda dia akan segera sadar?" Tanyanya agak putus asa


Dokter Handoko hanya menggeleng dengan wajah yang agak tertunduk.


"Saya permisi dulu dokter Nesa"


Nesa membenturkan punggungnya pada dinding. Lalu dengan perlahan dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Nesa menangis tersedu-sedu. Dari awal Adam koma,dokter Handoko mengatakan jika semua organ tubuhnya masih dalam keadaan normal tapi kenapa Adam belum juga sadar.


Nesa menarik rambutnya ke belakang,wajahnya terlihat sangat kacau. Nesa menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya disana.


Tiba-tiba Sintia datang. Dia agak terkejut melihat Nesa sedang duduk di lantai sambil menangis.


"Nesa,kamu kenapa?" Tanya Sintia panik


"Aku tidak apa-apa" Nesa berdiri dan melihat ke arah Adam

__ADS_1


"Malam ini aku akan tidur di apartemennya mas Adam. Mungkin aku tidak akan kembali sampai besok" Ucap Nesa sambil terisak-isak


Nesa meninggalkan Sintia begitu saja tanpa peduli dengan Sintia yang terlihat bingung melihat keadaannya. Dadanya seolah sesak jika terus berada di dalam. Nesa tak kuasa melihat air mata Adam jatuh tapi tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Dengan tertatih-tatih Nesa melewati lorong-lorong rumah sakit.


Sesampainya di apartemen Adam,Nesa menekan kode pintu menggunakan tanggal jadian mereka dulu dan pintu terbuka. Ternyata Adam tidak merubah passwordnya. Nesa masuk dengan perasaan yang campur aduk. Tapi sepertinya rasa sedih lah yang saat ini mendominasi perasaannya. Nesa rindu tapi tak bisa memeluk Adam. Nesa melihat ke sekeliling. Setiap sudut ruangan mengingatkannya pada Adam. Tempat dengan sejuta kenangan,dimana Nesa sering melepaskan kerinduannya pada Adam di tempat itu.


Saat memasuki kamar Adam,matanya kembali berkaca-kaca. Semua kenangannya bersama Adam menari-nari di kepalanya bak sebuah film yang diputar kembali. Tiba-tiba saja Nesa membeliak melihat sprei bernoda darah disitu. Ternyata sejak kejadian malam itu,Adam belum mengganti spreinya. Entah karena dia memang sengaja tidak ingin menghilangkan nya atau dia tidak kembali lagi ke apartemen semenjak kejadian itu.


Hari sudah sore,Nesa menanggalkan seluruh pakaiannya dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelah itu,Nesa membuka lemari Adam dan mengambil kemeja yang sering Adam pakai. Lalu Nesa mengambil atasan piyama Adam dan langsung memakainya. Kemudian Nesa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk kemeja Adam yang tadi dia ambil di lemari.


Nesa menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana. Dan nampaknya Nesa sangat lelah hingga akhirnya dia tertidur dalam waktu yang cukup lama.


Di sepertiga malam,Nesa tampak gelisah masih dalam kondisi tidur. Wajahnya basah dengan keringat.


"Mas Adam jangan tinggalkan aku" Nesa mengigau sambil menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan


Kalimat itu terus saja keluar dari mulutnya.


Tiba-tiba saja Adam mengusap kening Nesa yang basah dan memberikan satu kecupan disana. Seketika mata Nesa terbuka dan betapa terkejutnya dia melihat Adam mengenakan kemeja berwarna putih sedang duduk di sampingnya. Jantungnya seolah mau berhenti berdetak saat itu juga.


"Tidak mungkin. Jangan tinggalkan aku mas. Aku mencintai mu" Nesa meraung-raung masih tak berani menatap Adam


"Aku juga mencintai mu. Aku belum meninggal" Ucap Adam lirih. Sontak saja Nesa menoleh pada Adam dan menatapnya


"Apakah ini mimpi?" Nesa menepuk-nepuk pipinya dengan agak keras


"Auuwww sakit. Aku tidak sedang bermimpi kan?"


"Kamu tidak sedang bermimpi" Adam menarik tangan Nesa dan menciumnya


"Mas Adam. Ini benar kamu?" Nesa memandangnya tak percaya

__ADS_1


"Iya sayang ini aku. Aku sudah sadar" Bisik Adam di telinga Nesa


"Bagaimana bisa?" Nesa masih terperangah sambil terus menatap Adam tanpa berkedip


Flashback on


Beberapa saat setelah Nesa meninggalkan rumah sakit tadi. Adam sadar dari komanya. Matanya yang beberapa hari belakangan tertutup rapat,perlahan mulai terbuka. Sintia yang berjaga sendirian disana agak histeris dan langsung menelfon dokter Handoko. Tak lama kemudian dokter itu datang.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan,dokter Handoko mengajak Adam untuk berbicara. Adam meresponnya dengan baik walaupun badannya masih lemah. Setelah kondisi Adam dirasa cukup stabil dan Adam tidak mengeluhkan hal apapun,dokter Handoko membuka semua selang yang ada di tubuh Adam dan hanya menyisakan selang infusnya saja.


Sedikit-sedikit Adam juga mulai bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya. dokter Handoko menyatakan jika kondisi Adam sudah kembali normal.


"Akhirnya kamu sadar sayang,mama sangat bahagia" Ucap Sintia sambil menangis haru


"Nesa" Ucap Adam pelan. Benar saja orang pertama yang Adam cari pasti Nesa


"Nesa tidak ada disini. Tadi siang dia pamit pulang dan dia bilang akan tidur di apartemen kamu. Setiap hari dia menunggu kamu disini. Mungkin tadi dia sangat lelah dan memutuskan pulang" Sintia menjelaskan


"Aku harus menemuinya ma"


"Apa kamu yakin? kamu kan baru sadar dari koma. Lagi pula ini sudah tengah malam"


"Aku sudah baik-baik saja ma"


"Mama akan menghubungi Sekretaris Bian dulu. Biar dia yang mengantar mu"


"Suruh dia untuk membawa pakaianku juga"


Setelah Sekretaris Bian datang,Adam segera memakai bajunya dan bersiap untuk menemui Nesa. Akhirnya atas seizin dokter juga,Adam keluar dari rumah sakit ditemani oleh Sekretaris Bian.


Flashback off

__ADS_1


Bersambung....


Memangnya orang yang baru sadar dari koma bisa langsung beraktifitas ya. Maaf gak begitu paham soalnya othor gak pernah koma 😂 tapi mudah-mudahan masih enak untuk dibaca 😁


__ADS_2