Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Gombalan Pagi


__ADS_3

Nesa agak murung setelah makan malam tadi. Sepertinya Nesa masih memikirkan ucapan Adam yang melarangnya untuk bekerja,dan hal itu juga mendapat dukungan dari mama mertuanya.


"Kamu masih memikirkan ucapan mama tadi? Apa kamu tersinggung dengan ucapannya?" Adam menghampiri Nesa yang sudah lebih dulu naik ke tempat tidur


"Apa kamu serius dengan rencanamu?" Tanya Nesa


"Rencana apa?"


"Kamu tidak benar-benar menyuruhku untuk berhenti bekerja kan?" Nesa memperjelas pertanyaannya


"Kenapa? Bukankah sudah satu tahun kamu bekerja di rumah sakit? Sudah cukup kan untuk dijadikan syarat melanjutkan kuliahmu?" Jawab Adam dengan pelan. Adam melembutkan nada bicaranya agar bisa diterima dengan baik oleh Nesa


"Iya" Nesa tertunduk sedih. Nesa tidak menyangkal perkataan Adam


"Kamu mencintai aku kan?" Tanya Adam kemudian


Nesa mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan raut wajah sendu.


"Kamu juga menyayangi calon anak kita kan?" Tanyanya lagi sambil menyentuh perut Nesa


Lagi-lagi Nesa mengangguk sedih.


"Kamu ingin membuat aku bahagia bukan?" Adam tak hentinya bertanya seolah Adam sedang merayu Nesa agar dia menyetujui keputusannya


"Iya. Tentu saja" Nesa menjawab yakin


"Kalau begitu bisa kan turuti apa yang aku minta? Demi anak kita juga. Aku ingin kamu fokus dengan kehamilan kamu saja. Setelah kamu melahirkan nanti,kamu boleh mengejar impianmu lagi. Aku tidak akan melarangnya asal kamu tidak lupa dengan status kamu sebagai istri dan juga ibu"


"Iya aku akan melakukannya. Mulai besok aku tidak akan bekerja lagi" Dengan berat hati,akhirnya Nesa mengikuti apa yang sudah Adam putuskan


"Terimakasih" Adam membawa Nesa ke dalam pelukannya


Nesa segera menyeka airmatanya yang jatuh agar tidak terlihat oleh Adam. Nesa sedih karena Adam melupakan ucapannya. Sebelum menikah,Adam pernah berkata tidak akan melarang Nesa untuk tetap bekerja. Tapi mau tidak mau dia harus menghargai keputusan Adam tanpa harus merasa sakit hati. Apalagi Adam melakukan itu demi anak yang sedang dikandungnya.


"Kamu tidak perlu ke rumah sakit untuk mengurus surat pengunduran dirimu. Biar aku saja yang akan mengurusnya" Ucap Adam sambil mengurai pelukannya


"Setelah melahirkan nanti,aku bisa langsung melanjutkan kuliahku?" Tanya Nesa memastikan


"Iya boleh. Dengan syarat yang aku katakan tadi" Jawab Adam


"Iya aku tidak akan lupa dengan statusku sebagai istri dan juga ibu" Balas Nesa setuju

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu tidak usah memikirkan apapun selain kehamilanmu. Apa kamu mengerti?" Pinta Adam kemudian


"Aku mengerti. Tapi karena besok aku sudah tidak bekerja,apa boleh aku pergi ke rumah papa? Semenjak menikah,aku belum pernah pulang lagi" Tanya Nesa meminta izin


"Boleh sayang. Besok aku antar dan aku juga yang akan menjemputmu" Jawab Adam menyanggupi


Nesa bisa tenang untuk besok karena setidaknya dia tidak akan merasa bosan menunggu Adam pulang tanpa melakukan pekerjaan apapun. Walaupun mungkin di rumahnya dia juga akan tetap sendiri karena memang kedua orang tuanya juga bekerja tapi Nesa merasa lebih nyaman jika berada di rumahnya sendiri.


"Tapi sepertinya aku akan menjemputmu malam hari karena besok jadwalku agak padat. Tidak apa-apa kan?" Adam baru ingat dengan beberapa kesibukannya di kantor besok yang menyebabkan dia harus pulang malam


"Bagaimana kalau kita menginap saja di rumah papa. Jadi kamu tidak perlu bolak balik untuk menjemputku. Kamu bisa langsung beristirahat di rumah" Usul Nesa


"Iya boleh kok" Ucap Adam setuju


"Benar tidak apa-apa?" Tanya Nesa dengan antusias


"Iya sayang. Besok kita akan menginap di rumah papa Gunawan" Adam mengelus kepala Nesa yang sudah tampak kegirangan


Disaat matahari sudah terbit,Nesa memasukkan beberapa stel baju Adam ke dalam tas kecil yang akan dia bawa ke rumahnya sebagai baju ganti.


Adam yang sudah selesai bersiap lebih dulu,agak terpana melihat penampilan Nesa hari ini. Jika setiap pagi Adam melihat Nesa berpakaian formal,kali ini Adam melihat Nesa memakai dress selutut berwarna soft dengan flat shoes di kakinya yang menjadikan Nesa terlihat lebih muda dari usianya.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Nesa yang tengah diperhatikan oleh Adam


"Biasanya aku seperti apa?" Tanya Nesa dengan maksud menggoda Adam balik


"Biasanya itu pagi-pagi kamu sudah rapi dengan pakaian formalmu dan dengan hak tinggimu" Jawab Adam


"Ah itu kan karena tuntutan pekerjaan saja. Sebenarnya aku lebih nyaman seperti ini. Dan ini.." Nesa menunjuk kakinya


"Perempuan yang sedang hamil tidak boleh memakai alas kaki yang berhak tinggi" Sambung Nesa


"Oh ya? Begitu ya dokter Nesa!" Adam melingkarkan tangannya di pinggang Nesa


"Menyingkirlah. Ini masih pagi" Nesa mendorong tubuh Adam dengan pelan


Adam tergelak.


"Memangnya kamu pikir aku akan melakukan apa dengan pakaianku yang sudah rapi ini"


"Entahlah. Kemauan mu tidak bisa ditebak" Ucap Nesa dengan remehnya

__ADS_1


Lagi-lagi Adam tertawa dengan renyahnya. Sedangkan Nesa mengambil tasnya di meja nakas.


"Aku sudah siap. Bisa kita berangkat sekarang tuan Adam Nugraha?" Ucap Nesa sambil berdiri dihadapan Adam


"Oke" Bisik Adam di telinga Nesa


Nesa pun berlalu dari hadapan Adam. Tapi belum sempat dia mencapai pintu,Adam berusaha menggodanya lagi.


"Sayang,apa benar kamu sudah menjadi seorang istri dan sedang mengandung anakku?"


"Apa maksud kamu?" Sergah Nesa sambil menghentikan langkahnya


"Aku melihat kamu seperti seorang mahasiswi semester satu yang akan pergi kuliah" Jawab Adam dengan senyuman menggoda


"Jika aku tidak bertemu denganmu dan kamu tidak memaksaku untuk menikah,mungkin saat ini aku masih menjadi gadis perawan yang berkelana mencari pria idaman" Balas Nesa sambil mencibikkan bibirnya


"Jangan katakan kamu terpaksa menikah denganku sayang?" Tanya Adam dengan wajah tanpa senyuman lagi


"Aku memang sedikit terpaksa menikah denganmu" Jawab Nesa dengan entengnya


"Jadi kamu menyesal sudah menikah denganku?" Tanya Adam lagi dengan memasang wajah yang cemberut


"Menurutmu?"


"Kamu merusak mood ku sayang" Adam berbalik badan dan pura-pura kesal


"Hey kenapa jadinya ngambek?" Nesa menarik lengan Adam agar dia berbalik badan lagi untuk menghadapnya tapi Adam bergeming


"Sayang,aku hanya bercanda. Kenapa menanggapinya dengan serius?" Bujuk Nesa


"Maaf,aku sudah merampas masa mudamu" Ucap Adam masih dalam mode pura-pura ngambeknya


"Kamu tidak merampas masa mudaku. Justru kamu membuat masa mudaku lebih berharga. Lihat di usiaku yang masih muda aku sudah menjadi istri dari laki-laki tampan dan kaya raya. Dan saat ini aku sedang mangandung anaknya. Semua perempuan pasti iri denganku. Semua perempuan menginginkan berada di posisiku saat ini" Nesa membujuk Adam lagi dengan sedikit berseloroh


"Benarkah kamu se bahagia itu?" Tanya Adam tanpa menoleh pada Nesa


"Tentu saja. Aku tidak pernah menyesal sudah menikah denganmu. Kamu itu takdir terindah dalam hidupku sayang" Jawab Nesa sambil memeluk tubuh Adam dari belakang


"Kamu bisa membual juga sayang. Kamu sedang membuat gombalan pagi-pagi" Pertahanan Adam pun runtuh. Adam berbalik badan dan membalas pelukan Nesa


"Aku tidak sedang membual. Aku berbicara dari hati" Protes Nesa

__ADS_1


"Iya istriku" Adam mencium kening Nesa berulang kali


Bersambung....


__ADS_2