Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Datang Menyusul


__ADS_3

"Cepat hubungi HRD, cari tahu alamat Dea mahasiswi yang pernah magang dikantor kita. Aku tunggu kamu dirumah" Adam langsung memutus sambungan telfon nya. Adam memerintah dengan nada yang sedikit membentak


Adam sangat gelisah. Pikiran buruk mulai menyerangnya. Apalagi orangtua Nesa juga tidak mengetahui secara pasti dia pergi bersama siapa. Adam semakin cemas,takut saja jika Nesa pergi bersama dengan Firman.


"Jika benar kau yang *bersama N*esa di puncak,maka habislah kau" Adam memukul setir mobilnya degan raut wajah yang sangat kacau


Adam menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai dirumah. Beberapa saat kemudian Adam sampai dirumah bersamaan dengan Sekretaris Bian yang baru saja tiba dan menunggunya disana.


"Bagaimana,sudah kamu dapatkan alamatnya?" Adam bertanya dengan wajah yang serius


"Sudah tuan" Sekretaris Bian menjawab sambil menundukkan wajahnya


"Antar aku kerumahnya" Adam melempar kunci mobilnya pada Sekretaris Bian. Sontak saja tangan Sekretaris Bian gelagapan menerima kunci mobil yang dilempar tiba-tiba oleh Adam


"Baik tuan" Sekretris Bian membuka pintu belakang mobil,lalu Adam masuk


Lagi-lagi Sekretaris Bian dibuat penasaran. Apa yang membuat tuannya itu meminta alamat Dea dan apa pula yang akan dilakukannya pada Dea?


"Sepertinya menyangkut nona Nesa lagi"


Sudah bisa ditebaknya. Apa lagi yang bisa membuat Adam terlihat emosional jika bukan soal Nesa. kemarin dia menemui Firman,dan sekarang dia akan menemui Dea. Sepertinya orang-orang yang mempunyai hubungan dekat dengan Nesa,harus berhubungan juga dengannya.


Apapun itu,Sekretaris Bian harus bisa memenuhi segala kemauannya tanpa boleh banyak bertanya. Sekretaris Bian harus menempatkan kepentingan Adam diatas segalanya. Seperti janjinya waktu itu, saat Adam menolongnya dari segala kesulitan dalam hidupnya dan menjadikannya layak dipandang oleh semua orang.


Mobil mereka sampai. Dea yang sedang menyiram bunga-bunga dihalaman rumahnya terkesiap melihat siapa yang datang. Seketika tubuh Dea menjadi gemetaran,dan berbagai macam pertanyaan muncul dikepalanya.


Kecemasan Adam semakin menjadi-jadi tatkala melihat Dea berdiri disana. Sudah bisa dipastikan jika Nesa tidak pergi bersamanya ke puncak.


"Aa-ada apa kalian datang kesini?" Dea bertanya dengan gugup saat keduanya sudah berada dihadapannya


"Apa kamu tahu keberadaan Nesa saat ini?" Tanya Adam to the point


"Nesa...?" Dea terlihat bingung. Pasalnya sudah beberapa hari ini Dea tidak menghubunginya karena dirinya tengah sibuk


"Saya tidak tahu dimana Nesa berada karena akhir-akhir ini saya sedang sibuk dengan kuliah saya" Jawab Dea sejujurnya


"Kapan terakhir Nesa menghubungi mu?" Tanyanya lagi dengan tatapan yang menyelidik


"Tiga hari yang lalu"


"Apa yang terakhir Nesa katakan?" Adam tak berhenti bertanya seolah dia sedang menginterogasi Dea


"Tidak ada,hanya tanya kabar seperti biasa" Dea menjawab sebisanya

__ADS_1


"Kamu yakin tidak tahu keberadaan Nesa saat ini?" Tanya adam lagi


"Saya benar-benar tidak tahu" Dea kembali gugup mendapatkan pertanyaan Adam yang bertubi-tubi


Adam menatap Dea cukup lama,sebelum akhirnya dia percaya dengan semua ucapan Dea.


"Percuma berlama-lama berbicara dengannya,sudah jelas Nesa tidak sedang bersamanya. hanya membuang-buang waktu saja" Adam mendengus kesal dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Dea


"Terimakasih banyak nona. Maaf sudah mengganggu hari anda" Ucap Sekretaris Bian akhirnya dengan ramah


Dea agak heran melihat sikap Sekretaris Bian yang memperlakukannya dengan sopan,tidak seperti waktu itu yang sempat menegurnya dikantor. Apa karena dia sudah bukan karyawannya lagi,entahlah. Yang jelas saat ini juga Dea harus segera menghubungi Nesa untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Dea menghubungi Nesa tapi sampai sambungan yang kesekian kali,Nesa belum juga menjawabnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Tuan Adam terlihat cemas mencari Nesa, dan dimana Nesa berada saat ini?" Gumam-gumam Dea


Akhirnya Dea menaruh kembali ponselnya dengan putus asa. Dea berusaha menenangkan dirinya sambil berharap Nesa akan menelfonnya balik.


"Hubungi anak buahmu,suruh mereka menyusul kita ke puncak" Pinta Adam dengan meninggikan suaranya


"Baik tuan" lagi-lagi Sekretaris Bian tidak bisa membantah,dia menurut saja. Kemudian dia menghubungi seseorang sambil fokus menyetir


Sekretaris Bian merasa ketakutan,dia cemas seperti halnya Adam sekarang. Dia cemas memikirkan apa yang akan terjadi nanti. terlebih,Adam sampai menyuruhnya untuk memanggil pengawal


Sepanjang perjalanan Adam terlihat sangat gelisah sehingga dia tidak bisa duduk dengan tenang. Adam benar-benar terlihat emosional.


...----------------...


Nesa dan Firman berada di tengah-tengah kepulan asap yang melambung tinggi ke udara. Mereka membuat acara Barbeque kecil-kecilan sebagai penutup dari liburan mereka di puncak,karena besok pagi mereka sudah harus kembali untuk menjalankan rutinitas mereka.


Aroma daging dan seefood yang sudah terpanggang disana membuat perut mereka terasa sangat lapar dan tidak sabar untuk melahapnya. Dengan cepat mereka menghidangkannya di piring dan menyantapnya. Ditengah-tengah kegiatan makannya,Firman tersenyum menatap wajah Nesa yang terlihat sangat gembira


"Kenapa memandangku seperti itu?" Tanya Nesa yang melihat Firman sedang memandangnya sambil tersenyum cerah


"Aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas seperti ini" Jawab Firman


"Apa selama ini aku selalu menampakkan wajah sedih?" Tanya Nesa


"Tidak juga tapi malam ini kamu benar-benar terlihat sangat bahagia"


"Tujuan kita kan untuk berlibur. Jika aku membawa kesedihanku kesini,aku tidak mungkin bisa menikmati liburanku" Jawabnya polos


"Aku belum mengatakan sesuatu padamu" Ucap Firman tiba-tiba sambil menatap Nesa dengan serius

__ADS_1


"Mengatakan apa?" Tanya Nesa tanpa menoleh pada Firman


"Kemarin lusa,Tuan Adam menemuiku di cafe"


"Apa..? mas Adam datang ke cafe mas Firman?" Nesa terkejut seketika


"Iya" Firman menjawabnya dengan tenang


"Untuk apa?" Tanya Nesa penasaran


"Sepertinya dia masih mengharapkan kamu" Firman terdengar berat untuk mengatakannya


"Kenapa mas Firman bisa berkata seperti itu? Apa yang dilakukannya pada mas Firman?" Nesa mengalihkan pandangannya pada Firman dan wajahnya berubah menjadi sedih


"Dia marah melihat kedekatan kita dan dia memintaku untuk menjauhimu" Jawabnya kemudian


"Benarkah?" Nesa menatap Firman lagi dengan tatapan tidak percaya


"Kembalilah padanya Nesa,jika kamu juga masih mencintainya" Firman harus bersusah payah untuk mengatakannya. Walaupun berat tapi kalimat itu berhasil juga dia lontarkan


"Tapi mas Firman....?"


"Tidak usah menyiksa diri sendiri jika kebahagiaan sudah ada didepan mata" Firman menginterupsi


Seketika airmata Nesa menetes tanpa bisa dia cegah. Nesa menyentuh tangan Firman dan memandangnya dengan haru.


"Tidak usah memikirkanku. Aku lebih bahagia jika melihatmu bahagia" Airmata Nesa semakin deras hingga tanpa sadar dia mulai sesegukan


"Aku sangat menyayangi mas Firman. Tolong jangan pernah jauhi aku apapun keadaannya nanti" Ucap Nesa sambil terisak


"Itu tidak akan pernah terjadi" Balas Firman sambil menyeka airmata Nesa


"Sebaiknya kita segera tidur agar besok tidak bangun kesiangan" Firman terkesan menghindar seolah dia ingin menyembunyikan kesedihannya


"Mas Firman..." Nesa tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat


"Terimakasih banyak untuk semuanya. Kebaikan mas Firman tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih" Lirih Nesa dalam pelukan Firman


Firman membeku,tapi kemudian tangannya terulur dan membalas pelukan Nesa.


Tiba-tiba teriakan seseorang dari kejauhan sedang memanggil nama Nesa. Sontak saja mereka kaget dan saling melepas satu sama lain


"Mas Adam...."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2