Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Mencari Cara


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Adam selalu saja pulang malam. Entah karena urusan pekerjaan atau dia memang sengaja melakukannya untuk menghindari Nesa. Karena jika dia melihat wajah istrinya,otomatis dia juga akan teringat dengan calon anaknya yang harus gugur dan tidak bisa dilahirkan.


Nesa berdandan cantik untuk menyambut Adam pulang. Tapi sepertinya Nesa harus kecewa lagi karena orang yang ditunggunya tampak sedang menelfonnya di seberang sana. Ponsel Nesa berdering. Dengan cepat Nesa mengangkat telfon yang ternyata benar,dari Adam.


"Hallo..." Suara Nesa terdengar lemah


"Aku ada pekerjaan diluar kota. Mungkin akan pulang sampai larut malam,jadi tidak usah menungguku" Ucap Adam memberitahu tanpa basa basi


"Kenapa mendadak sekali?" Tanya Nesa dengan perasaan yang kecewa


"Sebenarnya tidak mendadak. Hanya saja aku lupa memberitahu mu" Jawab Adam dengan entengnya tanpa rasa bersalah sedikit pun


"Apa Sekretaris Bian ikut?" Tanya Nesa lagi


"Iya" Adam menjawab singkat. Antara dia sedang lelah atau malas berbicara


"Ya sudah hati-hati di jalan" Nesa pun ikut malas untuk berbicara lebih lanjut


"Jangan lupa makan" Adam masih sempat memberi perhatiannya sebelum telfonnya diputus walaupun nada biacaranya terdengar acuh


Ingin memastikan Adam tidak berbohong,Nesa kemudian mengirim sebuah pesan pada Sekretaris Bian.


'Apa mas Adam sedang bersama mu? Jangan beritahu dia tentang pesanku'


Nesa memberikan sedikit peringatan dalam pesannya karena dia tidak ingin jika Adam sampai tahu. Nesa takut Adam hanya akan berpikiran buruk terhadapnya seperti waktu berpacaran dulu. Adam sempat meragukan cintanya karena Nesa di anggap tidak pengertian dengan kesibukannya.


Beberapa menit kemudian pesan dibalas.


'Iya nona. Kami sedang dalam perjalanan untuk urusan meeting di luar kota'


Nesa membacanya dengan perasaan lega walaupun bibirnya tidak tampak sebuah senyuman. Tapi setidaknya Adam tidak berbohong.


Untuk ke sekian kalinya Nesa harus makan malam seorang diri di kamar. Karena jika Adam tidak pulang,Nesa enggan melakukan makan malam di meja makan. Tapi malam ini Nesa memutuskan untuk makan malam bersama papa dan mama mertuanya di meja makan karena dia merasa tidak enak hati jika terus-terusan membawa makanannya ke dalam kamar.

__ADS_1


Nesa turun dari kamar tanpa semangat. Kursi di meja makan belum terisi. Hanya beberapa pelayan saja yang sedang menyajikan menu makan malam di meja.


Nesa menarik kursi dan duduk disana.


"Tumben kamu makan malam bersama kami Nesa?" Suara Sintia tiba-tiba membuat Nesa kaget


"Ah iya ma. Nesa bosan makan malam sendirian terus di kamar" Nesa berdalih karena sepertinya Sintia sedang menyindirnya


"Apa Adam pulang malam lagi?" Surya juga ikut bertanya sambil menarik kursinya


"Iya pa. Tadi mas Adam memberitahu jika dia akan pulang larut malam karena ada meeting di luar kota" Jawab Nesa dengan wajah yang tertunduk sedih


"Pekerjaan apa yang membuat Adam harus pulang malam terus?" Surya seolah bertanya pada dirinya sendiri. Surya merasa heran dengan kesibukan Adam akhir-akhir ini


"Kenapa papa heran ? Dulu kan papa juga sering pulang malam" Ucap Sintia keberatan


"Aneh saja ma. Karena dari awal mereka menikah,Adam selalu menyempatkan pulang cepat" Balas Surya menanggapi


"Sudahlah pa tidak usah berpikir yang tidak-tidak. Dia sibuk kan demi masa depan perusahaan juga. Nesa pasti mengerti. Iya kan Nesa?" Tegur Sintia sambil menoleh pada Nesa


"Ya mudah-mudahan saja memang benar begitu,mengingat perubahan sikapnya terjadi semenjak dia kehilangan calon anaknya" Ucap Surya akhirnya


Sontak saja Sintia dan Nesa menoleh pada Surya secara bersamaan. Nesa merasa sependapat dengan Surya,sementara Sintia yang sedari awal menyadarinya tapi berusaha menganggapnya wajar hanya mampu terdiam. Sintia bingung harus menanggapinya seperti apa. Selama ini Sintia memang terlihat selalu berpihak pada puteranya,bahkan sebelum Nesa menjadi istrinya.


Jika diingat-ingat lagi,dulu waktu Surya ingin menjodohkan mereka,Sintia memang sempat ragu. Dan waktu Nesa kabur hingga membuat Surya masuk ke rumah sakit karena jantungnya kolaps,Sintia juga sempat marah pada Nesa. Saat Nesa menceritakan kesuciannya telah direnggut oleh Adam,Sintia juga tidak sepenuhnya menyalahkan Adam. Sintia justru berpikir,ada hal yang mendasarinya hingga Adam melakukan hal itu.


Jika saat ini Sintia menerima Nesa menjadi manantunya,itu karena Sintia berpikir Nesa memang sosok wanita yang pantas untuk puteranya. Selain karena ingin membalas budi baik Widia yang sudah menyelamatkan nyawa Adam di masa kecil,Sintia juga melihat besarnya cinta Nesa pada Adam. Nesa juga sosok pendamping yang sangat perhatian pada puteranya itu. Tapi tetap saja Sintia akan lebih berpihak pada Adam jika ada masalah yang menimpa mereka.


Tanpa banyak bicara,Nesa pun makan dalam suasana hening. Walaupun dia agak susah menelan makanannya tapi sebisa mungkin dia berusaha bersikap biasa didepan papa dan mama mertuanya.


Nesa segera kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malamnya. Nesa memainkan ponselnya dengan tujuan agar matanya segera mengantuk. Dia ingin segera tidur agar pikirannya tidak terpusat pada Adam. Nesa membuka aplikasi berwarna biru dan membaca kelanjutan novel favoritnya disana. Tapi sampai habis Nesa membacanya,matanya tak juga kunjung mengatup.


Kemudian Nesa bangkit dari tempat tidur dan membuka jendela kamar. Posisi balkon yang mempunyai view taman,tiba-tiba saja mengingatkan Nesa pada makam bayinya yang Adam kubur di taman belakang dan membuat Nesa ingin pergi kesana. Rumah belakang sudah tampak sepi dari aktifitas para pekerja.

__ADS_1


Nesa menatap nisan tanpa nama itu dengan wajah sedih. Beberapa hari yang lalu,Adam memang menyuruh pak Ngah untuk memberikan sebuah nisan di atas makam janin yang masih sangat kecil itu. Disampingnya juga terdapat lampu kecil sebagai penerangan.


Nesa duduk bersimpuh,membiarkan kakinya bersentuhan dengan rumput. Sepertinya dia akan melewati malam di makam bayinya.


...----------------...


Adam yang baru saja tiba merasa terkejut melihat pintu kamar terbuka,lampu kamar pun masih menyala. Rasa terkejutnya berubah menjadi panik saat melihat kamar dalam keadaan kosong. Tanpa membuka baju kantornya,Adam langsung menyusuri rumah mencari-cari keberadaan Nesa tapi orang yang dicarinya tidak juga ketemu.


Terakhir Adam mencarinya di taman belakang. Adam sangat terkejut melihat Nesa dalam posisi meringkuk di sebelah makam bayinya. Adam langsung membopong tubuh Nesa sampai ke kamar dan menidurkannya di atas kasur. Merasa tempat yang ditidurinya tidak lagi sama,akhirnya Nesa terbangun dan melihat Adam sedang duduk dihadapannya.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Nesa sambil mengganti posisinya dengan duduk


"Kenapa tidur di taman? Jika sakit bagaimana?" Adam langsung menghardiknya. Jelas terlihat di wajahnya jika Adam sedang marah


"Aku tidak sengaja" Jawab Nesa singkat


Adam tidak menanggapi. Adam langsung mengganti pakaiannya dengan piyama. Nesa pun sudah tidak tahan dengan sikap Adam. Dan akhirnya Nesa meluapkan segala isi hati yang dia pendam selama ini.


"Katakan yang sejujurnya. Apa mau kamu?" Tanya Nesa dengan amarah


Adam pun mendekat dengan wajah yang mengeras.


"Apa maksud kamu?" Adam bertanya balik dengan nada yang agak membentak


"Aku tahu selama ini kamu hanya berpura-pura baik di depanku. Tapi kenyataannya kamu masih menyalahkan aku atas keguguran yang aku alami. Iya kan?" Nesa memperjelas. Nada suaranya terdengar lebih keras


Adam berusaha tenang sambil menghela nafasnya pelan.


"Tidak" Jawab Adam singkat


"Jangan bersandiwara lagi" Sergah Nesa


"Aku tidak bersandiwara. Aku sangat lelah dan aku ingin tidur" Adam langsung mengambil posisi berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut

__ADS_1


Nesa sangat marah. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Tapi Nesa sudah lelah untuk berdebat. Nesa akhirnya mecari cara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Adam. Nesa tidak ingin berlarut-larut yang jika dibiarkan akan semakin membuatnya merasa tercekik.


Bersambung....


__ADS_2