Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Harapan Terbesar Adam


__ADS_3

Masih di malam yang sama. Sehabis dari pesta pernikahan Nesa,Firman tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia membawa Dea ke taman kota.


"Sepertinya mas Firman belum rela melihat Nesa menikah dengan Tuan Adam?" Tanya Dea pada Firman yang terlihat sedang melamun


"Iya kamu benar. Aku sudah berusaha melupakannya dan aku merasa aku sudah mulai berhasil tapi tadi ketika aku menyaksikan sendiri pernikahan mereka,aku merasa usaha aku sia-sia selama ini" Jawab Firman dengan putus asa


"Apa Nesa cinta pertama mas Firman?" Tanya Dea penasaran. Karena Dea merasa,Firman begitu sangat mencintai Nesa


"Bukan. Dulu aku pernah berpacaran tapi kami putus karena dia lebih memilih laki-laki yang lebih mapan" Jawab Firman jujur


"Tapi mulai malam ini,mas Firman harus mengubur cinta mas Firman pada Nesa" Ucap Dea mengingatkan


"Iya. Melihat dia bahagia,harusnya aku juga ikut bahagia" Balasnya kelu


"Mas Firman harus bisa membuka hati untuk perempuan lain" Ucap Dea lagi menyarankan tapi dengan nada yang agak menekan


Firman menatap Dea dengan tatapan penuh tanya. Dea yang mencurigai tatapan Firman,akhirnya agak salah tingkah dan mencoba meralat kata-katanya.


"Maksud aku,tidak mungkin kan mas Firman akan hidup seorang diri untuk selamanya. Suatu saat nanti mas Firman juga akan membutuhkan sosok seorang istri,atau keluarga lebih tepatnya"


Firman masih bergeming tanpa mengalihkan pandangannya. Firman mendengarkan setiap kata yang Dea lontarkan sambil memperhatikan raut wajah Dea. Sadar dengan tatapan selidik Firman,akhirnya Dea berusaha mencari alasan untuk menghindar dari Firman.


"Sepertinya aku sudah mengantuk. Sebaiknya kita pulang saja. Lagi pula udara dingin tidak bagus untuk kesehatan kita" Dea bangkit dari duduknya tapi Firman menarik tangan Dea


"Sebelum kita pulang,aku ingin bertanya sesuatu dan kamu harus menjawabnya dengan jujur" Seketika itu juga Dea menoleh pada Firman dengan perasaan takut. Takut jika saja Firman bertanya tentang perasaannya pada Firman


Dengan perasaan yang agak deg-degan,Dea duduk lagi di tempatnya yang semula.


"Mas Firman ingin bertanya apa?" Ucap Dea sambil menetralkan perasaannya


"Apa kamu menyukai ku?" Tanya Firman akhirnya tanpa basa basi


Benar saja. Firman mempertanyakan soal perasaannya.


"Aku...." Bibir Dea seolah kaku,tidak berani berterus terang


"Jawab saja dengan jujur. Aku tidak akan marah. Aku hanya ingin memastikan apa yang aku tangkap selama ini agar kedepannya aku tidak salah menyikapi kamu" Ujar Firman sambil mengangkat wajah Dea yang sedang tertunduk


"Ya. Aku menyukai mas Firman. Bahkan aku merasa aku sudah mulai jatuh cinta pada mas Firman" Jawab Dea dengan mata yang terpejam seolah tidak berani menatap wajah Firman saat mengatakannya


"Sejak kapan?" Tanya Firman lagi

__ADS_1


"Sudah lama. Bahkan sebelum aku bertemu dengan mas Firman" Jawab Dea


Firman menatap Dea dengan heran.


"Saat Nesa bercerita tentang mas Firman,sebenarnya aku sudah kagum dengan kepribadian mas Firman dan aku juga sangat penasaran dengan sosoknya. Tanpa sadar hati aku menyimpan harapan untuk bisa bertemu dengan mas Firman. Dan harapan aku terkabul,mulai hari itu lah aku semakin kagum dengan mas Firman" Dea menjelaskan


"Aku hargai perasaan kamu. Tapi untuk saat ini aku belum memiliki perasaan apa pun terhadap kamu" Balas Firman dengan sejujur-jujurnya


"Iya aku mengerti. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi" Ucap Dea dengan kecewa


"Tidak Dea. Bukan begitu maksud aku. Aku memang belum memiliki perasaan apapun pada kamu,tapi aku bersedia membuka hati aku untuk kamu"


Dea agak terkejut dengan perkataan Firman. Dia tidak menyangka jika Firman akan merespon kejujurannya dengan hati yang lapang. Selain baik hati dan lembut,ternyata Firman juga sosok yang bijaksana.


"Terimakasih" Dea sedikit lega. Setidaknya dia tidak begitu malu karena sudah berterus terang tentang perasaannya


...----------------...


Hari sudah pagi,Nesa yang baru saja melewati permainan panjangnya dengan Adam masih tertidur lelap. Adam yang lebih dulu bangun akhirnya memesan makanan untuk sarapan mereka.


Saat makanan sudah datang,Nesa belum juga bangun. Adam mengusap kening Nesa dan menciumnya.


"Sepertinya kamu sangat lelah setelah semalaman aku tidak memberikan kamu kesempatan untuk tidur" Adam tersenyum senang sambil terus menatap wajah Nesa


Nesa menggeliat dibalik selimut. Dengan sangat berat,dia mencoba membuka matanya yang masih mengantuk.


"Sudah pagi ya?" Tanya Nesa sambil mengusap matanya


"Iya. Maaf mengganggu tidur mu. Sebaiknya sarapan dulu,setelah itu kamu boleh tidur lagi" Ucap Adam perhatian


"Badan aku serasa tidak bisa digerakkan. Rasanya sakit semua" Nesa mendesis


"Maaf,itu semua karena ulah ku" Adam menatap wajah Nesa dengan perasaan bersalah


"Tidak apa-apa. Kamu bisa melakukan sebanyak yang kamu mau" Balas Nesa sambil memeluk Adam dengan manja


"Sayang,jika kamu seperti ini jangan salahkan aku jika aku menginginkannya lagi" Adam mulai terpancing


"Sayang,kamu menyimpan banyak tenaga untuk itu ya karena sepertinya tenaga mu tidak pernah habis. Aku bahkan tidak tahu berapa kali kamu menjamah ku tadi malam" Bukannya menolak,Nesa justru semakin mengeratkan pelukannya dan membangkitkan gairah Adam dengan mengecup dadanya berulang kali


"Sayang..." Adam menarik dagu Nesa hingga mereka saling tatap

__ADS_1


"Iya"


"Aku tidak bisa menahannya. Kita lakukan sekali lagi?" Bisik Adam di telinga Nesa


Nesa mengangguk mengiyakan.


Akhirnya mereka mengulangi lagi permainan mereka seperti semalam,hingga tubuh mereka kembali lemas dan ambruk di tempat tidur. Walaupun Nesa mengeluh sakit pada sekujur tubuhnya tapi bibirnya tidak berhenti mengulas senyum.


Mereka saling tatap dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Terimakasih sayang. Jangan pernah bosan dengan ulah ku karena aku akan sering-sering melakukannya" Ucap Adam sambil mengecup bibir Nesa sekali lagi


"Aku tidak akan pernah menolaknya. Aku justru senang jika kamu selalu bergairah pada ku" Balasnya nakal


Adam kemudian menyentuh perut Nesa yang masih langsing dan menggerakkan tangannya disana.


"Ada apa dengan perut ku?" Tanya Nesa heran


"Aku berharap setelah ini akan tumbuh calon anak kita disini. Itu harapan terbesar aku saat ini" Ucap Adam dengan penuh harap


"Kamu sangat menginginkannya?" Tanya Nesa haru


"Iya. Tentu saja. Apa kamu tidak menginginkannya juga?" Adam bertanya balik


"Melihat mu bahagia dengan hanya berharap saja,membuat aku ingin segera mengabulkan harapan kamu" Jawab Nesa dengan raut wajah yang ingin menangis


"Benarkah?"


Nesa mengangguk sambil menatap Adam dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Tapi aku ingin mempunyai anak banyak karena kita sama-sama tidak memiliki saudara. Jadi aku ingin rumah kita ramai nanti agar kita tidak merasa kesepian" Pintanya lagi sambil tertawa kecil


"Tapi apa kamu akan tetap mencintai aku, jika nanti tubuh ku tidak sebagus sekarang ini?" Protes Nesa sambil mencibikkan bibirnya


"Tentu saja. Sejelek apa pun tubuh kamu nanti aku akan tetap mencintai kamu" Jawabnya yakin


"Ah bohong"


"Aku tidak bohong. Aku tidak tertarik pada perempuan lain. Aku hanya mau kamu" Adam mengecup kening Nesa tanpa bosan


"Lagi pula aku tidak akan membiarkan tubuh mu menjadi jelek sayang. Kamu lupa ya jika suami mu ini mempunyai banyak uang. Kamu bisa melakukan perawatan apapun agar tubuh kamu kembali langsing"

__ADS_1


Nesa tersenyum bahagia mendengarnya. Nesa berharap dirinya segera mengandung anak Adam agar dia bisa memenuhi permintaan terbesar Adam.


Bersambung...


__ADS_2