Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 100


__ADS_3

Mentari pagi sudah menyapa orang-orang dengan cahayanya yang sedikit mengigit kulit. Amira masih tertidur lelap, bukan karena malas, tetapi sebenarnya ia tidak bisa memejamkan matanya semalam memikirkan perkataan Vincent dan ia baru bisa tidur setelah jam dua dini hari.


Vincent sudah bangun sejak tadi dan membersihkan diri terlebih dahulu ketika ia melihat kekasihnya masih terlelap. Setelah keluar kamar mandi, ia masih mendapati kekasihnya yang belum membuka matanya.


"Sayang …." panggil Vincent membangunkan Amira, tetapi gadis itu hanya menggeliat kecil.


"Sayang … bangun …." Kali ini Vincent mengambil ujung rambut gadis itu dan menggelitik pipinya, hingga akhirnya gadis itu membuka matanya perlahan.


"Sayang, kamu gak jadi pergi ke pantai?" tanya Vincent ketika Amira membuka matanya dan tersenyum padanya.


Amira membelalakan matanya kaget mendengarkan pertanyaan Vincent. Ia segera mendudukkan dirinya di tempat tidurnya dan melihat jam di atas nakas menunjukkan hampir pukul delapan pagi.


"Kamu kok gak bangunin aku?" protes Amira yang sudah kalang kabut.


"Tenang, Sayang …."


"Ups …!" Amira hampir terjatuh karena mendadak berdiri dari duduknya, pandangannya masih belum sepenuhnya fokus.


Vincent menahan tubuh Amira yang limbung dan memeluk pinggangnya erat, "Gak usah buru-buru, Sayang …."


"Tapi perjalanannya kan lumayan jauh, Vin. Kamu sih bukannya bangunin tadi," protes Amira kedua kalinya dan melepaskan pelukan Vincent di pinggangnya. Ia bergegas ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan menggosok gigi.


Vincent hanya menggeleng-geleng pelan dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.


"Emangnya kamu tidur jam berapa semalam? Kamu gak tidur?" tanya Vincent yang melihat kantong mata di bawah pelupuk mata Amira. Ia mengikuti kekasihnya ke kamar mandi dan berdiri di ambang pintu kamar mandi.


Amira menghentikan kegiatan menggosok giginya dan menatap kekasihnya tajam, "Itu kan karena kamu ngomong yang nggak-nggak, aku jadi gak bisa tidur," ucap Amira berbicara masih dengan sikat gigi yang bertengger di dalam mulutnya.


Vincent tertawa renyah dan berjalan meninggalkan Amira, sedangkan Amira mendengus kesal dan melanjutkan kegiatannya menggosok giginya.


°


°


°


°


°


Setelah bersiap-siap, Amira dan Vincent menuju ke lobby apartemen. Amira membawa satu set koper yang berukuran kecil, sedangkan Vincent hanya membawa tas ransel di punggungnya.


"Kamu bawa apa sih, Sayang? Emangnya kita mau liburan satu minggu?" goda Vincent lagi melihat koper dan tas ransel yang dibawa kekasihnya itu. Pasalnya mereka hanya liburan dua hari saja.


"Perlengkapan cewek kan emang banyak, gak kayak cowok yang tinggal bawa diri doang!" balas Amira sewot dan berjalan meninggalkan kekasihnya itu.


Vincent hanya menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Yah ... masih ngambek ternyata," gumamnya pelan.


Vincent mengejar langkah Amira dan menarik koper dari tangan gadis itu. Ia menampilkan senyumnya yang menawan kepada Amira dan berjalan mendahuluinya. Amira hanya pasrah dan memanyunkan bibirnya menatap punggung Vincent. Entah kenapa sejak semalam, Vincent selalu membuat perasaannya awut-awutan. Amira segera berlari kecil menyamakan langkah Vincent di depannya.


Lucas sudah menunggu mereka di depan mobil van berwarna hitam bersama Tiffany di sampingnya. Hari ini Lucas datang sebagai supir pribadi mereka atas perintah Vincent dan tentunya juga atas ajakan Tiffany.

__ADS_1


"Pagi Ami!"


Tiffany bergegas menghambur ke arah Amira dan merangkul lengannya. Sama seperti Amira, Tiffany juga membawa tas ransel di punggung dan koper kecil di genggamannya.


"Kamu nyari siapa?" tanya Tiffany heran melihat Amira menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Kata kamu mau ajak seseorang? Siapa? Kok gak kelihatan?" tanya Amira heran, karena hanya melihat Tiffany, Vincent dan Lucas saja.


"Itu …." Tiffany menunjuk ke arah Lucas yang sedang membantu atasannya membawa koper milik Amira ke dalam mobil.


"Ma-maksud kamu? Orang lagi kamu kejar itu Lu …."


Belum sempat Amira menyelesaikan omongannya, Tiffany segera menutup mulut Amira dengan salah satu tangannya, seperti seorang penculik yang membekap mulut tawanannya.


"Ssttt …! Suara kamu kecilin sedikit dong … kalau kedengaran sama dia, kan aku malu …" bisik Tiffany pelan.


"Mmm … mmm …." Amira memukul lengan Tiffany, karena sahabatnya itu masih menutup mulutnya. Tiffany memincingkan matanya, "Awas lho, jangan keceplosan!" ucap Tiffany memperingatkan. Amira mengangguk pelan.


Tiffany melepaskan tangannya dan mengelap tangannya di celananya, "Iiih … air liurmu kena tanganku nih …." protesnya jijik.


"Salah sendiri, wek!" balas Amira menjulurkan lidahnya.


"Gimana menurutmu cowok yang kali ini?" tanya Tiffany meminta pendapat Amira mengenai Lucas.


"Aku sih oke aja, tapi kasihan aja sama Kak Lucas," ledek Amira yang sudah tau semua kejelekan sahabatnya itu.


"Maksud kamu apaan, Ami? Sudah bisa berbalik mengejekku, hah?" balas Tiffany sebal dan menggelitik pinggang sahabatnya. Amira berusaha menghindari 'serangan' Tiffany dan hanya menanggapinya dengan tertawa puas.


"Ah iya, kami segera ke sana!" ucap Amira berlari kecil disusul Tiffany di belakangnya.


Amira segera masuk ke dalam mobil, duduk di belakang pengemudi dengan Vincent yang berada di sampingnya.


Tiffany menyerahkan koper miliknya kepada Lucas sambil menyunggingkan senyuman manis miliknya, "Terima kasih ya, Kak Lucas," ucapnya dengan suara yang dibuat semanis mungkin. Amira tertawa geli mendengar suara sahabatnya itu.


"Sama-sama Nona Kim," balas Lucas datar.


"Panggil aku Tiffany aja, Kak."


Lucas hanya tersenyum dan mengangguk pelan, kemudian membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Tiffany. Mereka berempat pun berangkat menuju lokasi tujuan liburan.


°


°


°


°


°


Perjalanan mereka memakan waktu sekitar dua jam dari pusat Kota Amigos. Sesampainya di sana mereka segera masuk ke hotel yang sudah dipesan oleh Lucas atas perintah atasannya.

__ADS_1


Amira dan Tiffany berada satu kamar, sedangkan Vincent dan Lucas berada di kamar yang berbeda.


Setelah meletakkan barang-barang mereka di kamar, Amira dan Tiffany segera turun menuju ke lobby. Ketika keluar dari lift, Amira tanpa sengaja menyenggol seorang wanita yang akan masuk ke dalam lift.


"Maaf," ucap Amira pelan kepada wanita itu tanpa melihat wajahnya.


"Ami?" panggil wanita itu.


"E-Eva?" sapa Amira kaget.


"Kak Eva?" Tiffany berada di samping Amira juga kaget melihat sosok wanita yang berdiri di depannya.


"Kalian kenal?" tanya Amira heran. Tiffany mengangguk cepat.


"Kenal, Ami. Kak Eva dan Kak Leon adalah teman baik. Dulu Kak Eva suka datang ke rumah bareng Kak Vincent," jelas Tiffany.


"Kok kamu gak pernah cerita," ucap Amira kaget dengan penjelasan Tiffany.


"Kamu gak pernah nanya," balas Tiffany.


"Kalian di sini lagi liburan?" tanya Eva menyela perdebatan di antara Amira dan Tiffany.


"Iya Kak. Kalau Kak Eva sendiri, liburan juga kah?" ucap Tiffany yang juga penasaran dengan kehadiran Eva di sana.


"Ah … iya," jawab Eva pelan hampir setengah berbisik.


"Sama siapa, Kak?" tanya Tiffany lagi.


"Hm … itu …." Belum sempat Eva menjawab sebuah suara di belakangnya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Mama!" teriak suara seorang gadis kecil.


Gadis kecil itu menghampiri Eva dan menggenggam erat gaun Eva dengan tangannya yang mungil, "Mama!" panggilnya lagi yang membuat Amira dan Tiffany melongo tak percaya, terutama Amira.


"Elaine?" panggil Amira kepada gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menoleh dan menatap Amira dengan mata berbinar-binar, "Kakak Cantik!" panggil Elaine dengan suaranya yang imut. Amira menjawab Elaine dengan tersenyum terpaksa. Ia sedikit bingung dengan keadaan saat ini.


To be continue ….


Halo readers...


Ini ada beberapa rekomendasi buat kalian yang suka dengan genre romance...


Istri Kedua Tercinta (Karya Author Herti Bilkis)



dan beberapa karya dari Author Vitamin A


__ADS_1


__ADS_2